Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan
Body Tempering
Qi Gathering
Qi Foundation
Core Formation
Soul Realm 2 pengikut nya
Earth Realm
Sky Realm cici
Nirvana Realm arkan
Dao Initiate
Dao Master Dao arkan& cici
Sovereign
Divine
Universal (Kaisar Drak)
Eternal Ruin (Puncak Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMUSNAHAN WANGSA TAN KUSUMA
Kota Naga Emas berdiri megah di cakrawala, sebuah metropolis perdagangan di mana arsitektur klenteng Tiongkok kuno berpadu dengan kemegahan candi-candi Nusantara. Aroma dupa, kemenyan, dan rempah-rempah pasar jamu memenuhi udara. Di depan gerbang utama yang dijaga ketat, Arkan berjalan dengan tenang. Jubah hitamnya berkibar pelan, menutupi sebagian rambut pirangnya yang mulai memudar, memberikan kesan misterius yang tak terlukiskan. Di sampingnya, Cici menggenggam ujung jubah Arkan, matanya yang bening menatap kagum pada keramaian pasar.
"Jangan jauh-jauh dariku, Cici," ucap Arkan datar. Suaranya rendah, namun memiliki otoritas yang membuat orang-orang di sekitarnya menyingkir secara naluriah. Di dalam batinnya, Dewi Qi Lin mulai bersuara, "Arkan, bahan pil 'Akar Langit Tujuh Warna' ada di distrik ini. Jangan sampai kau pulang dengan tangan hampa."
Tiba-tiba, sebuah keributan pecah di dekat pos penjagaan ilegal. Dua orang pengembara muda tampak sedang dikepung oleh penjaga kota berseragam Wangsa Tan-Kusuma. Seorang pria kacamata dengan gulungan kertas mantra di punggungnya, dan seorang gadis bercaping bambu dengan belati karatan di pinggangnya
"Heh! Liem-Banyu! Srikandi-Tan! Kalian pengkhianat Wangsa Tan-Kusuma! Kalau tidak bisa bayar pajak, nyawa kalian adalah jaminan!" teriak seorang perwira klan dengan congkak
Arkan berhenti melangkah. Tatapannya tertuju pada kedua orang itu. Lewat mata batinnya, dia melihat potensi yang tak biasa. Dewi Qi Lin membisikkan sesuatu, "Ambil mereka, Arkan. Si Ahli Formasi itu punya 'Mata Langit', dan si gadis bayangan itu punya 'Tulang Hampa'. Mereka bisa berguna menjaga Cici saat tanganmu sedang sibuk berdarah."
Tanpa kata, Arkan menghentakkan kakinya. Dua keping perak melesat secepat peluru, tertanam dalam di meja kayu penjaga hingga retak berkeping-keping. "Urusan mereka, selesai," ucap Arkan dingin. Penjaga itu hendak memaki, namun saat dia menatap mata Arkan yang mulai berubah menjadi Hitam-Perak, lidahnya mendadak kaku seolah baru saja melihat jurang kematian.
Liem-Banyu dan Srikandi-Tan terpaku. Mereka merasakan aura "Lubang Tanpa Dasar" dari pemuda di depan mereka. Tanpa ragu, keduanya berlutut dan mengikuti Arkan. "Anda menebus kami. Nyawa kami milik Anda sekarang," bisik Srikandi-Tan dengan dendam yang masih membara pada klannya sendiri.
[Bagian 2: Provokasi di Toko Mustika Qi]
Rombongan kecil itu memasuki Distrik Naga Emas, menuju Toko Jamu "Mustika Qi". Di sana, Cici menemukan bahan yang dicari. Namun, saat dia hendak membayar, sebuah tangan kasar merampas kotak kayu itu. Itu adalah Tan-Kusuma Muda, putra mahkota klan yang terkenal sebagai predator di pasar ini
Barang sebagus ini tidak pantas di tangan rakyat jelata," ucapnya sambil tertawa remeh. Dia melirik Cici dengan tatapan mesum. "Atau mungkin, kau bisa membayar kotak ini dengan cara lain, Gadis Kecil?"
Tuan Muda itu mengangkat tangan, bersiap menampar Cici yang mencoba mempertahankan kotaknya. Di belakangnya, puluhan kroco klan bersenjata lengkap tertawa sombong
Deg.
Udara di distrik itu mendadak beku. Lampion-lampion merah di langit-langit pasar pecah secara bersamaan. Arkan berjalan maju, setiap langkahnya membuat batu ubin jalanan hancur menjadi debu halus. Rambut pirangnya luntur total, berubah menjadi Putih Perak yang menyilaukan dengan helai Hitam Pekat di ujungnya—seperti rasi bintang yang sekarat
"Aku sudah pernah mengatakannya..." Suara Arkan kini bukan lagi suara manusia, melainkan gema dari kedalaman kehampaan. "...siapa yang menghalangiku, akan kuhancurkan sampai ke akarnya."
[Bagian 3: Manifestasi Dao Reruntuhan dan Black Hole]
Arkan tidak mengeluarkan pedang. Dia hanya berdiri dengan tenang, namun aura Dao Reruntuhan Abadi mulai memancar dari tubuhnya. Di depannya, lima elemen—Tanah, Api, Air, Angin, dan Petir—mulai berkumpul. Arkan mengangkat kaki kanannya, memusatkan energi itu menjadi satu titik.
"Petir Hitam... menyatu!" bisik Arkan.
Seketika, kilatan Petir Hitam Pekat menyambar dari udara kosong, membungkus pusaran lima elemen tersebut menjadi sebuah Bola Black Hole seukuran bola kaki. Bola itu berdenyut, mengeluarkan suara vakum yang menyerap semua cahaya matahari di sekitar mereka. Siang hari berubah menjadi malam dalam sekejap
"Luluh," ucap Arkan singkat sambil menendang bola hitam itu tepat ke arah Markas Besar Wangsa Tan-Kusuma yang berdiri megah di ujung jalan.
Bola itu melesat tanpa suara. Saat menyentuh gerbang naga klan, tidak ada ledakan yang membahana. Yang ada hanyalah kesunyian yang mengerikan. Seluruh kompleks bangunan, ribuan murid klan, dan harta karun yang mereka kumpulkan selama ratusan tahun terhisap masuk ke dalam bola itu. Struktur bangunan runtuh menjadi partikel debu sebelum sempat menyentuh tanah.
Jeritan Tan-Kusuma Muda terhenti seketika saat tubuhnya terdistorsi dan tersedot masuk ke dalam kegelapan bola kaki Arkan. Melalui Dao Reruntuhan, petir hitam Arkan menjalar melewati Garis Darah. Di penjuru kota, siapa pun yang memiliki darah Tan-Kusuma mendadak melihat petir hitam keluar dari tubuh mereka, menghancurkan eksistensi mereka hingga ke tingkat sel.
[Bagian 4: Kemunculan Shunya dan Akhir dari Wangsa]
Dari dalam kawah raksasa yang tersisa, bayangan raksasa muncul. Shunya, Harimau Ekor 10, menampakkan kepalanya sejenak dari dimensi Black Hole Arkan. Aumannya yang sunyi meruntuhkan sisa-sisa mental para kultivator lain yang menonton dari kejauhan. Shunya menjilat sisa-sisa energi petir hitam di udara sebelum kembali masuk ke dalam bayangan Arkan.
Arkan berjalan ke arah reruntuhan, mengambil satu keping emas dan menaruhnya di atas meja toko jamu yang tersisa. "Ambil kembaliannya. Pembayaran karena aku sudah membersihkan hama di sini."
Srikandi-Tan menangis bahagia melihat musuh besarnya lenyap tanpa sisa. Liem-Banyu gemetar hebat, menyadari bahwa dia baru saja bersumpah setia pada sosok yang lebih ngeri dari dewa mana pun.
Arkan menoleh ke arah Cici, tatapan matanya kembali melunak sejenak. "Sudah bersih, Cici. Mari masuk ke dalam Black Hole. Dewi tidak suka menunggu pilnya terlalu lama."
Arkan memeluk pinggang Cici, sementara Liem-Banyu dan Srikandi-Tan diperintahkan untuk berdiri dekat dengannya. Dalam sekejap, sebuah portal hitam menelan mereka berempat, meninggalkan kawah besar sebagai satu-satunya bukti bahwa Wangsa Tan-Kusuma pernah ada.
[Bagian 5: Di Dalam Rahim Kehampaan]
Portal hitam itu menutup dengan suara dentuman halus yang menggetarkan dimensi. Begitu mereka melangkah masuk, dunia luar yang kacau dan berdebu hilang seketika, digantikan oleh hamparan galaksi hitam-perak yang tak berujung. Liem-Banyu dan Srikandi-Tan terjatuh bertelut, napas mereka tersengal. Oksigen di sini terasa berbeda—lebih padat, lebih murni, dan mengandung esensi Qi yang sangat kuno.
"Di mana kita...?" gumam Liem-Banyu sambil membetulkan kacamatanya yang retak. Matanya yang memiliki bakat 'Mata Langit' melihat aliran energi yang begitu masif berputar di tengah ruangan, membentuk pusaran yang menyerupai janin semesta.
"Selamat datang di duniaku," ucap Arkan dingin. Suaranya bergema tanpa batas.
Tiba-tiba, cahaya perak meledak di tengah kehampaan. Sosok wanita anggun dengan mahkota tanduk rusa ilahi dan jubah cahaya muncul. Dewi Qi Lin memanifestasikan sisa jiwanya. Kehadirannya begitu menekan hingga Srikandi-Tan tidak berani mengangkat kepala.
"Arkan, kau membawa serangga baru?" Dewi Qi Lin melirik Liem dan Srikandi dengan tatapan meremehkan, namun sedetik kemudian dia tersenyum sinis. "Ah, si kutu buku dan si bayangan kotor. Baiklah, mereka bisa berguna untuk membersihkan debu di istanamu nanti."
Dewi Qi Lin melayang mendekat, mengambil kotak Akar Langit Tujuh Warna dari tangan Cici. "Waktunya tidak banyak. Energi dari klan yang baru saja kau telan, Arkan... sudah saatnya diolah menjadi pondasi yang abadi."
[Bagian 6: Proses Pembuatan Pil dan Kultivasi Gila]
Dewi Qi Lin menjentikkan jari. Api ungu-perak muncul dari kehampaan, mulai membakar bahan-bahan obat yang tadi dibeli Arkan. Dalam hitungan detik, api itu mengkristal menjadi dua butir pil berwarna hitam dengan guratan emas yang
"Pil Reruntuhan Langit," ucap Dewi. "Satu untukmu Arkan, satu untuk gadis cahayamu."
Arkan dan Cici duduk bersila di tengah pusaran energi. Begitu pil itu tertelan, sebuah ledakan energi elemen pecah di dalam tubuh mereka. Bagi Arkan, lima elemennya—Tanah, Api, Air, Angin, dan Petir—mulai mengamuk, mencoba menghancurkan pembuluh darahnya. Namun, Black Hole di pusat energinya berputar lebih cepat, menyedot semua amukan itu dan memadatkannya menjadi satu inti yang jauh lebih keras dari berlian.
"Argh—!" Arkan mengerang. Rambut Putih-Hitam-nya berdiri kaku. Arus Petir Hitam keluar dari pori-porinya, menyambar ke segala arah.
Di sisi lain, Cici tampak lebih tenang. Cahaya perak dari Dewi Qi Lin membungkus tubuhnya. Karena sistem Sync Level yang unik, setiap tetes keringat Arkan yang berubah jadi energi langsung terserap ke dalam tubuh Cici. Mereka berdua beresonansi dalam frekuensi yang sama.
[Bagian 7: Breakthrough — Menembus Batas Dunia]
Waktu di dalam Black Hole ini terdistorsi. Di luar mungkin hanya lewat beberapa menit, tapi di dalam sini, Arkan dan Cici sudah bertapa selama berbulan-bulan di bawah bimbingan sadis Dewi Qi Lin.
BOOM!
Sebuah ledakan aura hitam-perak menghantam dinding dimensi.
Arkan membuka matanya. Pupil mata kirinya kini memiliki pola spiral Black Hole yang sempurna. Ranah kultivasinya tidak lagi berada di Early Qi Foundation. Dia melompati Middle, melompati Late, dan langsung mendarat di Puncak Qi Foundation (Half-Step Core Formation). Kekuatan fisiknya kini setara dengan monster tingkat tinggi.
Sesuai dugaan, Cici juga membuka matanya di saat yang sama. Cahaya di tubuhnya begitu terang hingga Liem-Banyu harus menutup mata. Ranahnya ikut terkunci di posisi yang sama dengan Arkan. Puncak Qi Foundation. Dua remaja ini kini memiliki kekuatan yang sanggup meratakan satu kota besar sendirian.
"Luar biasa..." gumam Liem-Banyu. "Bahkan jenius dari Sektan Pusat butuh 50 tahun untuk mencapai tahap ini, tapi mereka... mereka melakukannya hanya dalam satu tarikan
[Bagian 8: Kebangkitan Shunya]
Merasakan tuannya menguat, Shunya (Harimau Ekor 10) keluar dari balik bayangan Arkan. Kali ini ukurannya tidak mini lagi. Dia berdiri setinggi lima meter, dengan sepuluh ekor yang masing-masing membawa hukum kehancuran yang berbeda. Shunya mengaum pelan, membuat Liem dan Srikandi hampir pingsan karena tekanan mental.
"Tenang, Shunya," Arkan mengelus kepala harimau itu. Aura dinginnya kini berkali-kali lipat lebih ngeri. Dia berdiri, jubah hitamnya kini tampak memiliki pola retakan bintang-bintang yang hancur.
Arkan menatap Liem-Banyu dan Srikandi-Tan yang masih gemetar. "Kalian sudah melihat rahasia terbesarku. Jika kalian berkhianat, tidak ada tempat di semesta ini yang bisa menyembunyikan kalian dari petir hitamku."
"Kami bersumpah setia sampai maut menjemput, Tuan Arkan!" teriak keduanya serempak.
Arkan mengangguk dingin. Dia menoleh ke arah portal keluar yang mulai terbuka kembali. "Wangsa Tan-Kusuma hanyalah awal. Sekarang, mari kita tunjukkan pada dunia luar... apa yang terjadi ketika seorang Kultivator 5 Elemen bangkit dari reruntuhan."
Arkan melangkah keluar portal, diikuti oleh Cici yang kini memancarkan aura dewi cahaya, dan dua bawahan setianya. Di belakang mereka, Shunya mengintai di dalam bayangan, siap menerkam siapa pun yang berani menghalangi jalan Arkan.