NovelToon NovelToon
Penjara Suci

Penjara Suci

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Perjodohan / Romansa pedesaan
Popularitas:95.7k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.

Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.

Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.

Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.

Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Foto Hanin

Langit sore di rumah sederhana itu biasanya terasa teduh. Halaman luas dengan pohon mangga tua di sudut kiri, suara burung gereja, dan angin yang suka membawa aroma tanah basah dari kebun belakang. Rumah Ustaz Rahmat dikenal orang sebagai rumah yang damai. Tempat orang datang mencari nasihat, menumpahkan gelisah, pulang dengan dada lebih lapang.

Ustaz Rahmat sangat terkenal di desa kecil ini. Siapa yang tak tahu dengan namanya.

Hari itu seharusnya tidak berbeda. Namun, damai kadang runtuh bukan oleh badai, tapi oleh satu gambar. Satu foto.

Ponsel itu bergetar di atas meja kayu jati ruang tamu. Getarnya pendek, hanya sekali, lalu diam. Ustaz Rahmat yang baru saja selesai mengajar tafsir sore di serambi masjid mengambilnya sambil melepas peci. Keningnya masih sedikit berkeringat. Notifikasi WhatsApp masuk dari nomor yang tak ia simpan.

Tanpa curiga, ia buka. Pesan pertama hanya satu kalimat. “Mohon maaf, Ustaz. Saya rasa Anda perlu melihat ini.”

Di bawahnya, ada satu foto. Jempolnya menyentuh layar.

Tubuhnya tidak langsung bereaksi. Justru terlalu diam. Seolah semua ototnya lupa cara bergerak.

Foto itu menampilkan seorang gadis tanpa hijab. Rambut panjangnya tergerai, sedikit tertiup angin. Wajahnya terlihat jelas, terlalu jelas untuk bisa disangkal. Di dalam pelukan seorang pemuda. Lengan pria itu melingkar di bahunya. Wajah mereka dekat. Senyum mereka, bukan senyum basa-basi.

Itu bukan foto kebetulan. Foto itu menampilkan wajah anaknya Hanin.

Jari Ustaz Rahmat mengencang di sisi ponsel sampai buku-buku jarinya memutih. Napasnya berhenti di dada. Untuk beberapa detik ia bahkan lupa cara menarik udara.

“Abi?”

Suara istrinya, Bu Salma, muncul dari arah dapur. “Teh hangatnya sudah ....”

Kalimatnya terpotong saat melihat wajah suaminya. "Ada apa, Abi? Kenapa wajah Abi terlihat pucat?” tanyanya pelan. Pria itu tidak dijawab.

Ustaz Rahmat masih menatap layar, seolah berharap kalau ia menatap cukup lama, gambar itu akan berubah. Menghilang. Menjadi salah kirim. Menjadi orang lain. Menjadi rekayasa.

Tapi tidak. Itu tetap Hanin. Gadis yang setiap pagi mencium tangannya sebelum berangkat sekolah.

Gadis yang hafal tiga juz dan selalu ia banggakan di depan jamaah. Gadis yang ia sebut dalam doa dengan suara bergetar.

“Astaghfirullah …,” ucap Ustaz Rahmat pelan, hampir berbisik.

Bu Salma mendekat. “Abi, ada apa?” Kembali istrinya bertanya.

Tanpa kata, ponsel itu disodorkan. Bu Salma melihat.

Reaksinya berbeda. Tangannya langsung menutup mulut. Bahunya jatuh. Wajahnya pucat seperti kertas.

“Bukan …,” ucapnya cepat. “Ini bukan Hanin. Pasti hanya mirip saja ....”

“Ini Hanin.” Suara Ustaz Rahmat terdengar pelan. “Itu bajunya. Itu jam tangannya. Itu gelang dari Umrah kemarin.”

Bu Salma duduk pelan di kursi. Lututnya lemas.

“Siapa yang kirim?” tanya Bu Salma.

“Nomor tidak dikenal.”

“Bisa jadi editan.”

“Kalau editan kenapa hati saya langsung tahu ini nyata?” tanya Ustaz Rahmat.

Suasana ruang tamu terasa sunyi. Kedua orang tua Hanin tampak terdiam karena syok.

Nama Ustaz Rahmat bukan nama kecil di kota itu. Ceramahnya sering diundang ke mana-mana. Suaranya tenang, dalilnya rapi, hidupnya terlihat lurus. Orang-orang menyebut keluarganya sebagai contoh. Rumah tangganya, anaknya, cara mendidiknya.

Ia tidak pernah memamerkan. Tapi reputasi kadang tumbuh sendiri. Dan reputasi bisa hancur oleh satu foto.

Ia menekan tombol panggil. Nama di layar, Hanin. Berdering. Beberapa kali di coba, tak juga diangkat.

Darah di pelipisnya terasa berdenyut. Ia mencoba lagi. Masih tidak diangkat.

Ustaz Rahmat lalu mengirim pesan singkat. “Pulang sekarang.”

Terkirim. Centang dua. Biru. Tapi, tidak dibalas.

“Astaghfirullah .…” Ustaz Rahmat tampak menarik napas berat. Ia berdiri, berjalan mondar-mandir. Tangannya di belakang punggung, langkahnya keras. Bu Salma memperhatikan dengan cemas.

“Abi … kita dengar dulu penjelasannya.”

“Penjelasan apa?” Potong Ustaz Rahmat cepat. “Penjelasan foto berpelukan tanpa hijab?”

“Dia anak kita.”

“Karena dia anak kita, maka harusnya dia lebih tahu.”

Nada suaranya masih rendah, tapi tajamnya terasa.

Bu Salma menunduk. Ia kenal suaminya. Jika sudah begini, kemarahan bukan di permukaan, tapi di dalam. Membara tanpa api terlihat.

Sementara itu, di sebuah kafe kecil dekat sebuah pantai, Hanin sedang tertawa.

Tangannya memegang gelas es kopi susu. Di depannya, Fahmi bercerita dengan gaya lebay tentang dosen killer yang salah masuk kelas. Hanin menutup mulut menahan tawa.

“Aku sumpah, itu kelas Teknik Mesin. Aku masuk bawa proposal syariah,” kata Fahmi. “Mereka lihat aku kayak lihat ustaz nyasar.”

Hanin menggeleng. “Kamu memang magnet masalah.”

“Kamu magnetnya aku.”

“Gombal.”

“Bukan gombal, tapi itu kenyataannya."

Hanin memutar mata, tapi senyumnya tidak hilang.

Hari itu ia memang tidak memakai hijab. Sudah direncanakan. Ia bilang di rumah ada tugas kelompok khusus perempuan. Bohong kecil, pikirnya. Sekali-sekali. Ia ingin merasa bebas. Ingin merasa normal seperti gadis lain. Angin sore menyentuh rambutnya, perasaan yang dulu terasa biasa, sekarang terasa seperti rahasia.

“Foto lagi?” tanya Fahmi sambil mengangkat ponsel.

“Jangan aneh-aneh.”

“Biasa aja.”

Hanin mendekat. Bahu mereka bersentuhan. Lalu, tanpa banyak pikir, Fahmi merangkulnya. Refleks. Hanin tidak menolak.

Tidak sadar bahwa beberapa meja di belakang, seseorang juga mengangkat ponsel. Bukan untuk selfie. Untuk mengambil gambarnya dan mengirimkan ke abinya.

Ponselnya Hanin bergetar. Ada pesan masuk dari abinya.

Alis Hanin sedikit mengernyit. Jarang ayahnya mengirim pesan sependek itu. Biasanya panjang, ada salam, ada doa.

“Kenapa?” tanya Fahmi.

“Abi nyuruh pulang sekarang.”

“Ya sudah, nanti balik lagi.”

Hanin mengangguk, tapi ada rasa aneh di hatinya. Seperti firasat kecil yang tidak nyaman.

Ia tidak tahu, dunianya sudah retak, hanya belum mendengar bunyinya.

Maghrib lewat sepuluh menit saat Hanin membuka pintu rumah. Biasanya rumah terasa hangat di jam seperti ini. Ada suara piring, aroma tumisan, lantunan murattal dari ruang tengah. Tapi sekarang terlalu sepi.

“Assalamu’alaikum …,” ucap Hanin.

“Wa’alaikumussalam.” Jawaban abinya datang dari ruang tamu.

Hanin melepas sepatu. Langkahnya melambat. Ada sesuatu berbeda. Terasa tegang dan kaku. Ia melihat ibunya duduk dengan tangan saling menggenggam. Wajahnya cemas.

Ayahnya duduk tegak di kursi. Tidak bersandar. Ponsel berada di tangannya.

“Hanin,” ucap abinya dengan nada datar.

“Iya, Bi.”

“Mendekatlah!”

Nada suara abinya tak seperti biasa. Hanin merasa sesuatu pasti telah terjadi.

Hanin duduk di tepi kursi seberang. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

“Apa ada yang mau kamu jelaskan?” tanya abinya.

Tentang apa? Hampir itu terucap dari bibirnya, tapi ia tahan. Naluri menyuruhnya diam dulu.

“Tidak ada, Abi."

Ponsel itu diletakkan di meja. Lalu didorong pelan ke arahnya. “Kamu lihat sendiri!"

Hanin meraih ponsel abinya. Dia melihat foto itu. Sangat jelas, potret dirinya dan Fahmi.

Wajahnya kehilangan warna. Tenggorokannya jadi kering. Tangannya dingin. Ia merasa seperti jatuh dari ketinggian tanpa bergerak.

Foto itu, foto yang barusan diambil. Foto yang seharusnya hanya ada di ponsel Fahmi.

“Ab ... Abi .…” Suaranya terdengar terbata.

“Siapa pria itu?” tanya Abi masih dengan suara datar. Tapi bagi Hanin sudah seperti petir menyambar.

Hanin tidak langsung menjawab. Otaknya mencoba mencerna foto itu. Bagaimana foto ini sampai ke ayahnya? Siapa yang kirim? Kenapa? Apa maksud mereka? Banyak pertanyaan bermain di pikirannya.

“Jawab!" Suara abinya sedikit lebih keras.

“Teman kampus, Bi .…”

“Teman kampus yang bisa merangkulmu seperti itu?”

Air mata langsung memenuhi mata Hanin. Refleks tanpa bisa ditahan.

“Abi, dengar dulu ....”

“Tanpa hijab.” Potong abinya. “Bahu dipeluk dengan wajah begitu dekat? Apakah itu yang kamu sebut teman?”

Bu Salma menunduk, ikut menangis pelan. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya.

“Aku … aku salah, Bi …,” bisik Hanin.

Pengakuan paling jujur, kadang sering paling mematikan. Ustaz Rahmat menutup mata sebentar. Bukan lega. Tapi seperti ditusuk lebih dalam.

1
Teh Euis Tea
yg datang pasti di fahri nih
Teh Euis Tea
syukurlah hanin sudah berdamai dgn hatinya, memaafkan arsen wlu tdk terucap tp dari tingkahnya udah membuktikan klu hanin memaafkan arsen, tinggal emaknya di fahri nih yg blm jujur, berani ga dia jujur sm hanin?
ken darsihk
Lupakan masa lalu mu yng menyakitkan Hanin , ambil sisi baik nya sajah sekarang saat nya meniti hari bersama Arsenio suami mu
Eka ELissa
Hanin udh berdamai dgn. knyataan Fahmi dan dia udh bahagia..
jdi kini giliran kmu bhgia...dn bhgiain gania clon bini mu
vania larasati
lanjut kak
Ida Nur Hidayati
saling memaafkan itu membawa kita kekedamaian
Ilfa Yarni
alhamdulillah udah berdamai semuanya ske hanin tinggal menara masa sekarang apan dgn kluarga kecilnya nanti dan bahagia
Radya Arynda
semangaaat hanin,,arsen,,,selalu ber sama dalam suka duka,,,biar kan orang orang yang sudah jahat sama kamu mendapat karma ya sepadan...
Maulana ya_Rohman
lanjut lagi thor
Lela Angraini
uuhhh so sweet 😍😍🥰🥰. semga kebahagiaan sellu berlimpah utk mu haniin amiinnn 🙏🙏
Ayu Ayuningtiyas
Suka sama Hanin yg sdh ikhlas dan sdh bisa move on dgn masa lalunya.
Nani Rahayu
sudah saatnya Hanin bahagia setelah kesakitan yg dilewati nya♥️..semoga ghania juga bisa menemukan kebahagiaan nya
Rieya Yanie
bagus hanin..berdamia dengan masa lalu dan memaafkan semua takdir..
semoga bahagia selalu..
Hikari_민윤기
aihhh thorrr, kebalik..

masak orang hidup minta do'a sama yg udah almarhum, Pak Ustadz lihat author ini Pak Ustadz... 🤭
Hikari_민윤기: iyupss itu nyata,
but, keliru...
total 3 replies
Retno ataramel
kaya si weni udah ngaku kefahmi makanya dia kemakam
Eka ELissa
mo ngapain....kmu Fahmi...
GK usah bikin huru hara...
lah.... ribet bgt....
Ida Nur Hidayati
pasti Fahmi....
ken darsihk
Fahmi kah ??
Ilfa Yarni
loh fahmi ngapain datang ke kuburannya orangtua hanin apa tujuannya
ken darsihk: Mungkin Fahmi mau minta maaf ke makam abi da umi nya Hanin
Karena secara tidak langsung penyebab kematian orang tua nya Hanin ya dia dan mama nya Fahmi
total 1 replies
Oma Gavin
ngapain fahmi datang ngga ngaruh sama hanin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!