NovelToon NovelToon
Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:123k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.

Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masuk ke Dalam Pagoda

Sha Nuo memandang pagoda kecil di tangan Boqin Changing beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara.

“Bagaimana kita masuk ke dalamnya?”

Pertanyaan itu sederhana, namun mengandung rasa penasaran yang tidak disembunyikan sedikit pun. Sebuah dunia kecil yang mampu memutar waktu… tetapi hanya berbentuk artefak sebesar telapak tangan.

Boqin Changing tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis. Tanpa berkata apa pun, ia berjalan menuju salah satu batu datar yang menonjol dari lantai goa. Permukaannya cukup luas dan rata, seolah memang menunggu sesuatu untuk diletakkan di atasnya.

Boqin Changing menurunkan tangannya.

Klik.

Pagoda kecil itu kini berdiri di atas batu tersebut.

Sha Nuo mengamati dengan seksama. Tidak ada perubahan. Tidak ada aura melonjak. Tidak ada fenomena aneh.

Sampai Boqin Changing berkata pelan,

“Nanti kau akan tahu.”

Sha Nuo mendengus kecil, namun tidak protes. Ia sudah terbiasa dengan cara Boqin Changing menjelaskan sesuatu… tepat saat waktunya tiba.

Boqin Changing kemudian berlutut sedikit dan menempelkan satu telapak tangannya ke lantai goa.

Hening. Lalu sesuatu terjadi.

Srrr…

Seberkas cahaya tipis muncul dari titik di bawah telapak tangannya. Cahaya itu merambat seperti tinta bercahaya yang mengalir di permukaan batu, bergerak cepat membentuk garis melingkar.

Garis itu terus meluas. Menyusuri lantai. Memanjat dinding. Melingkari seluruh ruangan. Sha Nuo menyipitkan mata.

“Formasi pelindung…”

Bisiknya hampir tanpa suara. Ia menoleh pada Boqin Changing, lalu tertawa kecil.

“Kau benar-benar sangat berhati-hati. Di luar ada dinding tak kasat mata, dan di sini kau menambahkan formasi pelindung lagi.”

Boqin Changing bangkit berdiri. Ia menatap lingkaran cahaya yang kini telah menyatu sempurna, membentuk kubah tak terlihat yang menyegel seluruh goa. Lalu ia tertawa ringan.

“Itu adalah rumus panjang umur.”

Sha Nuo terdiam sejenak. Kemudian ia ikut tertawa.

Tawa dua orang yang sepertinya telah terlalu lama hidup di dunia berbahaya, hingga kehati-hatian bukan lagi pilihan, melainkan insting.

Boqin Changing berbalik menghadapnya.

“Paman. Pegang pundakku.”

Sha Nuo tidak bertanya. Ia melangkah mendekat dan meletakkan tangannya di pundak Boqin Changing.

Hangat. Stabil. Namun tepat setelah itu, Sha Nuo melihat sesuatu. Boqin Changing mengangkat tangan kirinya. Tanpa ragu, ia menggigit ujung telunjuknya. Setetes darah pekat muncul.

Darah itu tidak jatuh. Tidak mengalir. Ia menggantung di ujung jari seperti permata merah gelap yang berdenyut pelan.

Boqin Changing mengambil pagoda kecil itu kembali. Lalu meneteskannya. Darah menyentuh ukiran pintu kecil pada permukaan pagoda. Dalam detik yang sama sesuatu terjadi.

Hummm!!!!!

Seluruh ruangan bergetar halus. Bukan getaran keras. Melainkan getaran lembut yang terasa lebih seperti gema ruang daripada getaran fisik. Sha Nuo menegang.

Ukiran-ukiran pada pagoda mulai bersinar. Bukan cahaya terang. Melainkan cahaya merah seperti bara yang baru saja ditiup.

Boqin Changing membuka mulut. Ia mulai melafalkan mantra. Bahasanya asing. Bukan bahasa manusia modern. Bukan pula bahasa kuno yang pernah Sha Nuo dengar.

Setiap suku kata terdengar berat, dalam, dan bergetar, seolah berasal dari zaman yang telah terkubur sebelum sejarah pertama dituliskan. Suaranya tidak keras, namun bergema di ruang batin seperti lonceng yang memanggil sesuatu dari kejauhan.

Sha Nuo merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia tidak memahami satu kata pun. Namun instingnya berteriak. Mantra itu… sangat tua. Lebih tua dari kerajaan mana pun. Lebih tua dari sekte mana pun. Lebih tua dari legenda apa pun yang pernah ia dengar.

Begitu mantra selesai.

Brammmm!!!!!

Huruf-huruf di permukaan pagoda menyala terang seperti bara hidup. Cahaya merah menyebar dan berputar. Membentuk lingkaran-lingkaran energi yang saling bertaut dan berotasi cepat.

Angin meledak keluar. Rambut Sha Nuo berkibar. Jubahnya berdesir keras. Namun telapak tangannya tetap menggenggam pundak Boqin Changing.

Boqin Changing berkata tenang,

“Pegang erat.”

Sha Nuo memperkuat cengkeramannya.

Detik berikutnya, cahaya menelan mereka. Dunia saat ini seakan lenyap. Tubuh mereka memudar, berubah menjadi partikel cahaya yang terurai seperti debu bintang.

Tidak ada waktu untuk berbicara. Tidak ada waktu untuk bertanya. Partikel-partikel itu tersedot masuk ke dalam ukiran pintu kecil pada pagoda.

Sunyi. Formasi pelindung masih berdiri. Goa tetap ada. Pagoda kecil kini berdiri berada di atas batu. Namun dua sosok itu… telah menghilang. Masuk ke dalam Pagoda Serpihan Surga.

...*******...

Tubuh Sha Nuo terasa seperti dihempaskan ke dalam pusaran angin tak terlihat. Segalanya berputar, memanjang, lalu menyusut seperti ditarik dan diperas sekaligus. Ia ingin berteriak, namun suara tidak keluar. Ia ingin membuka mata, tetapi kelopak matanya seperti tertahan oleh tekanan yang tidak bisa dijelaskan oleh nalar mana pun.

Sensasi itu aneh. Bukan sakit, bukan pula nyaman. Lebih seperti keberadaannya sendiri sedang dilipat, dipadatkan, lalu dirangkai ulang oleh tangan raksasa yang tak terlihat.

Hingga akhirnya ia merasakan sentuhan. Kakinya menginjak sesuatu yang padat. Ia yakin itu adalah tanah.

Tekanan yang menekan kesadarannya perlahan surut seperti gelombang yang kembali ke laut. Sha Nuo masih memejamkan mata, namun satu hal ia sadari dengan jelas. Tangannya masih berada di pundak seseorang.

Hangat. Stabil. Tidak bergerak. Ia tahu siapa itu tanpa perlu melihat. Boqin Changing jelas masih berada sedikit di depannya.

Sha Nuo menarik napas perlahan. Udara yang masuk ke paru-parunya terasa berbeda. Lebih ringan. Lebih bersih. Setiap tarikan napas seperti membawa aliran energi lembut yang menyusup ke dalam meridian dan menyapu kotoran tak kasat mata yang selama puluhan tahun menumpuk di tubuhnya.

Pandangannya buram saat ia membuka mata. Segala sesuatu seperti tertutup kabut tipis. Warna-warna melebur tanpa batas. Sha Nuo mengusap matanya dengan satu tangan, berkedip beberapa kali, lalu fokusnya perlahan kembali.

Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, ia membeku. Tempat itu bukan lagi goa. Bukan pula dunia luar yang ia kenal.

Sha Nuo berdiri di hamparan daratan luas yang tertutup rumput hijau berkilau, setiap helainya seperti dilapisi embun mutiara yang memantulkan cahaya lembut. Angin berhembus perlahan, membuat lautan rumput itu bergoyang seperti permukaan air yang hidup.

Di kejauhan, gunung-gunung menjulang tinggi menembus awan putih yang bergerak lambat. Puncaknya bersinar samar, seolah berada di antara langit dan sesuatu yang lebih tinggi lagi. Langit di atas mereka biru jernih.

Namun jauh di ketinggian, Sha Nuo melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup lebih keras. Aliran energi spiritual. Mengalir seperti sungai cahaya yang melintang di langit, berkelok lembut, berpendar dalam warna yang tidak bisa sepenuhnya ia namai.

Udara di tempat itu harum. Bukan aroma bunga biasa. Lebih seperti aroma kehidupan itu sendiri. Setiap napas membuat tubuh terasa ringan, seolah tulang dan darahnya sedang dimurnikan oleh energi tanpa batas. Meridian yang selama ini terasa seperti sungai tua kini berdesir dan hidup.

Bibir Sha Nuo bergerak pelan.

“Tempat… apa ini…?”

Suaranya terdengar kecil di tengah keluasan dunia yang asing namun menenangkan itu.

Di antara rerumputan, bunga-bunga bermekaran. Ada bunga berkelopak perak yang berkilau seperti logam hidup. Ada pula bunga yang memancarkan cahaya biru lembut, denyutnya sinkron dengan aliran energi di udara.

Burung-burung berwarna emas terbang melintas di langit. Setiap kepakan sayap meninggalkan jejak cahaya panjang seperti lukisan yang digoreskan oleh kuas tak terlihat.

Semua terlalu indah. Terlalu sempurna. Terlalu damai.

Sha Nuo menelan ludah, lalu kembali berbisik dengan nada nyaris tak percaya.

“Ini… ini… surga…?”

Angin lembut berdesir. Rumput bergoyang.

Dari depan Sha Nuo, terdengar suara seseorang. Tepat di tempat Sha Nuo masih menaruh tangannya di pundak pria itu.

Suaranya santai dan tenang. Namun sedikit mengandung ejekan ringan.

“Sebelum aku menjawab… bisakah kau singkirkan tanganmu ini?”

Sha Nuo berkedip sedikit kebingungan. Pria itu melanjutkan dengan nada datar.

“Aku memintamu memegang pundakku. Bukan mencengkeramnya keras-keras seakan ingin menghancurkannya.”

Sha Nuo menunduk refleks. Baru sekarang ia menyadari jari-jarinya mencengkeram erat bahu Boqin Changing, bahkan sampai membuat kain jubahnya terlipat.

“Ah... ini...”

Ia segera menarik tangannya. Gerakannya cepat, hampir panik. Lalu tawa pecah dari mulutnya. Tawa lepas, panjang, penuh rasa malu yang tidak ia sembunyikan.

“Hahaha… maaf… maaf… aku benar-benar tidak sadar.”

Sha Nuo menggeleng sambil masih tertawa kecil, mengusap tengkuknya sendiri.

“Kalau pundakmu retak gara-gara ini, kau bisa jadi bahan tertawaan dunia persilatan.”

Boqin Changing berdiri di depannya, menatap hamparan dunia itu dengan tenang seperti seseorang yang melihat sesuatu yang sudah lama ia kenal. Namun di sudut bibirnya, terselip senyum tipis. Di mata Sha Nuo, senyum itu jauh lebih misterius daripada dunia luas yang kini terbentang di hadapan mereka.

1
Adek Darmansyah
sikit x la thorrr😭😭
Zainal Arifin
joooooooosssss 🤲🤲🤲
Akhmad Baihaki
semangat untuk lebih kuat💪💪💪
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
ayo kita masuk ke dalam goa!!
Akhmad Baihaki
lanjut💪💪💪
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
yaaah.... gagal sahur pakai daging naga
Eko
persiapan yang mantap
tariii
semoga berhasil, bang boqin, paman nuo...💪💪💪💪
Asmulyadi
apakah ngk terlalu tergesa-gesa untuk kedunia lain thor,
Eko
kerjasama yang baik
Zul Fiandi
biar samasama di pendekar lagik brangkat nya torr😄
Nanik S
Bantulah Chang"er... siapa tau dg menyerap batu Pelangi Surga bisa menerobos ke Pendekar langit
tariii
tetap semangat, bang boqiiiinn..💪💪💪😍😍😍
Rinaldi Sigar
lnjut
Zainal Arifin
joooooooosssss 😍😍😍
Megs Kitchen
Iyaaaàaaaaaaaaa .... Om Hantu bantu Babang Boqin yah 😍😍💕💕
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor
Nazam Roni
macet thor
Ipung Umam
lanjutkan terus menerus Thor 👍👍
Megs Kitchen
1 tip for Babang Boqin n 1 tip again for om Hantu yah 🥰🥰💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!