NovelToon NovelToon
Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duda / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19: Ujian Kehamilan

Kebahagiaan itu seperti aliran sungai. Kadang tenang, kadang deras, kadang harus melewati batu-batu tajam sebelum sampai ke muara.

Aira merasakan itu. Dua minggu setelah kabar gembira, ia harus menghadapi kenyataan pahit.

Semuanya berawal dari rasa sakit yang tiba-tiba.

Pagi itu, Aira bangun dengan perasaan tidak enak. Perutnya sedikit kram. Ia pikir itu biasa, efek kehamilan. Tapi ketika ke kamar mandi, ia melihat bercak darah di pakaian dalamnya.

Darah.

Aira terpaku. Tangannya gemetar.

"Tidak... jangan..."

Ia keluar kamar dengan wajah pucat. Raka baru selesai mandi, melihat ekspresi Aira langsung panik.

"Aira, kenapa? Kau pucat sekali."

Aira tak bisa bicara. Hanya menunjukkan pakaian yang ia pegang.

Raka melihat bercak darah itu. Wajahnya berubah.

"Aira, kita ke rumah sakit. Sekarang."

Tanpa menunggu lebih lama, Raka menggendong Aira. Bi Inah yang melihat, cepat-cepat mengambil tas.

"Tuan, ada apa?"

"Bi, jaga Arka. Aira harus ke rumah sakit."

Arka yang baru bangun, berlari. "Mama kenapa? Mama sakit?"

Aira berusaha tersenyum meski sakit. "Mama baik-baik aja, Nak. Mama pergi ke dokter sebentar. Arka di rumah sama Bi Inah ya?"

Arka mengangguk, tapi matanya cemas.

Raka sudah di pintu dengan Aira di gendongannya. "Aira, kita pergi."

---

Di rumah sakit, suasana tegang. Aira dibawa ke ruang UGD. Dokter datang cepat. Pemeriksaan demi pemeriksaan dilakukan.

Raka menunggu di luar. Tangannya gemetar. Ia tak bisa duduk tenang. Bolak-balik di koridor.

"Hanya ini yang aku bisa? Hanya menunggu?" gumamnya frustrasi.

Satu jam berlalu. Terasa seperti satu tahun.

Akhirnya pintu terbuka. Dokter keluar dengan wajah serius.

"Pak Raka?"

Raka segera mendekat. "Iya, Dok. Bagaimana istri saya?"

Dokter menghela nafas. "Ibu Aira mengalami pendarahan. Ada indikasi ancaman keguguran. Kami sudah memberikan penanganan awal. Tapi beliau harus rawat inap, bed rest total setidaknya dua minggu ke depan."

Raka merasa dunianya berhenti. "Ancaman keguguran? Jadi anak saya...?"

"Janin masih selamat, Pak. Tapi kondisinya lemah. Ibu Aira harus benar-benar istirahat. Tidak boleh banyak bergerak, tidak boleh stres. Kami akan pantau terus."

Raka menghela nafas lega. Tapi kekhawatiran masih membayangi.

"Boleh saya lihat istri saya?"

"Silakan. Tapi jangan lama. Beliau butuh istirahat."

Raka masuk. Aira terbaring di tempat tidur, wajahnya pucat. Infus terpasang di tangannya. Begitu melihat Raka, air matanya jatuh.

"Raka... maaf... aku..."

Raka mendekat. Meraih tangannya. "Kamu nggak salah apa-apa, Sayang. Ini bukan salahmu."

"Aku takut, Raka. Takut kehilangan anak kita."

Raka mengecup keningnya. "Kita akan lawan ini bersama. Dokter bilang janin masih selamat. Kita harus kuat. Kamu harus istirahat total."

Aira mengangguk lemah. "Arka... bagaimana kabarnya?"

"Aku sudah telepon Bi Inah. Arka nanti mau ke sini, katanya mau lihat Mama."

Aira tersenyum tipis. "Anak itu... manis sekali."

Mereka diam beberapa saat. Saling menggenggam tangan.

---

Sore harinya, Arka datang dengan Bi Inah. Begitu melihat Aira terbaring, Arka langsung menangis.

"Mama... Mama sakit? Mama kenapa?"

Aira meraih tangan kecil Arka. "Mama cuma capek, Nak. Dokter suruh istirahat."

"Arka takut Mama... Mama..."

"Tenang, Sayang. Mama baik-baik aja. Lihat, Mama masih bisa senyum kan?"

Arka mengangguk, meski air matanya masih jatuh.

Raka menggendong Arka, mendekatkan ke Aira. Arka mencium pipi Aira.

"Mama, Arka doain Mama cepet sembuh. Arka juga doain adek sehat."

Aira terharu. "Makasih, Nak. Mama sayang Arka."

"Arka juga sayang Mama."

Malam itu, Arka tidur di rumah sakit, di sofa kecil dekat tempat tidur Aira. Raka duduk di kursi, menemani sepanjang malam.

---

Tiga hari berlalu. Aira masih di rumah sakit. Pendarahan berhenti, tapi dokter tetap waspada. Janin mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Detak jantungnya kuat.

Tapi tantangan lain datang.

Suatu siang, Raka menerima telepon dari kantor. Masalah besar. Proyek yang sedang berjalan terancam batal karena kesalahan teknis. Partner bisnisnya marah besar. Ia harus ke kantor.

Raka bingung. Antara pekerjaan dan keluarga.

Aira melihat kebingungannya. "Raka, kau pergi saja. Aku baik-baik di sini. Ada dokter, ada suster."

"Tapi Aira—"

"Aku ngerti. Ini penting. Kau pergi, urus itu. Aku di sini sama Arka nanti."

Raka menghela nafas. "Aira, maaf."

"Nggak usah maaf. Kau suamiku, kau juga punya tanggung jawab di kantor. Jangan tinggalkan semua karena aku."

Raka mencium kening Aira. "Aku akan kembali secepat mungkin."

---

Raka pergi. Aira sendirian di ruangan itu. Suster masuk sesekali. Tapi kesepian mulai terasa.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Maya.

"Mba, gimana kabarnya? Aku jenguk ya besok?"

Aira membalas:

"Baik, May. Tapi jangan ramai-ramai. Aku masih istirahat."

Maya membalas:

"Iya, Mba. Aku sama tim butik doa terus buat Mba."

Aira tersenyum. Tim butik, keluarga kecilnya yang lain.

Pesan lain masuk. Dari ibu kos.

"Neng, ibu dengar kabar. Semoga cepet sembuh ya. Ibu kirimkan doa."

Aira terharu. Banyak yang peduli padanya.

Tapi di balik itu, ada satu pesan yang tak terduga. Dari nomor asing. Tapi ia tahu siapa.

"Nona Aira, saya dengar kabar. Semoga lekas sembuh. Saya doakan yang terbaik untuk Nona dan bayi. - Lita"

Aira menatap layar ponsel lama. Lita. Wanita yang pernah menyakitinya, kini mengirim doa.

Ia membalas singkat:

"Terima kasih, Lita. Semoga kau baik-baik saja di sana."

Balasan masuk cepat:

"Saya baik. Ibu saya jaga. Saya... saya sedang belajar jadi orang baik. Sekali lagi, maaf untuk semuanya."

Aira tak membalas. Tapi hatinya hangat. Mungkin perubahan itu nyata.

---

Seminggu kemudian, Aira diperbolehkan pulang. Tapi tetap harus bed rest total di rumah. Tak boleh banyak bergerak, tak boleh kerja, hanya berbaring.

Di rumah, Raka menyiapkan segalanya. Tempat tidur Aira dipindah ke ruang tamu dekat jendela, biar bisa lihat pemandangan. Arka jadi asisten pribadi, mengambil air minum, membawakan buku, dan bercerita setiap hari.

"Mama, Arka bacain buku ya. Biar adek denger juga."

Arka membacakan buku cerita dengan gaya kocak. Aira tertawa.

Raka yang pulang kantor, ikut tertawa.

"Anak kita hebat ya?" bisik Raka.

Aira mengangguk. "Dia akan jadi kakak yang baik."

Malam itu, saat Aira tidur, Raka duduk di sampingnya. Ia memegang perut Aira yang mulai membesar.

"Halo, Nak. Ini Bapak. Bapak sayang kamu. Tolong sehat ya, jangan buat Mama sakit. Mama sudah berjuang banyak buat kita."

Ia mencium perut Aira. Lalu tertidur di kursi samping tempat tidur.

---

Dua minggu kemudian, Aira mulai diperbolehkan duduk dan berjalan pelan. Pemeriksaan menunjukkan janin sehat, kuat. Ancaman keguguran berlalu.

Aira menangis bahagia. Raka memeluknya.

"Kita lewati ini, Sayang."

"Iya. Terima kasih sudah menemani."

Arka ikut memeluk. "Mama, Arka boleh peluk perut Mama? Mau bilang halo ke adek."

Aira mengangguk. Arka memeluk perutnya.

"Halo, Adek. Ini Kakak. Cepet besar ya. Kakak tunggu."

Semua tertawa. Kebahagiaan kembali.

---

Di kampung, Lita duduk di teras. Ponselnya bergetar. Kabar dari ibunya.

"Aira sudah pulang, janin selamat. Syukur ya."

Lita tersenyum. Senyum tulus pertama dalam waktu lama.

Ia mengetik balasan:

"Iya, Bu. Syukur."

Lalu ia menatap sawah di depan rumah. Padi mulai menguning. Waktu panen sebentar lagi.

Mungkin, pikirnya, hidup juga seperti padi. Pernah jatuh, pernah terpuruk, tapi bisa bangkit lagi. Asal mau berubah.

Mungkin.

---

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Pena Biru: terimakasih tapi yang ini sudah tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!