Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Andreas tertegun di tepi ranjang. Matanya terpaku pada noda merah yang kontras di atas seprei putih mahal milik Sera. Kesadaran menghantamnya seperti godam, itu adalah bukti kesucian yang diserahkan Sera padanya, sebuah hadiah yang tak ternilai yang baru saja ia balas dengan sebuah pengkhianatan lisan yang menjijikkan.
"Brengsek kau, Andreas," desisnya pada diri sendiri. Tangannya gemetar saat ia mulai bergerak.
Dengan rasa bersalah yang menghimpit dada, Andreas tidak membiarkan dirinya diam. Ia segera menarik seprei itu, menggantinya dengan yang baru dari lemari Sera yang pernah ia lihat sebelumnya. Ia membereskan botol wiski, merapikan bantal, dan menghapus setiap jejak pertempuran malam itu seolah-olah dengan membersihkan ruangan, ia bisa membersihkan dosa yang baru saja ia perbuat.
Saat pintu kamar mandi terbuka, uap air hangat menyeruak keluar bersama sosok Sera yang terbalut jubah mandi sutra. Rambutnya basah, dan matanya masih kemerahan, meski ia telah berusaha menyembunyikannya.
Sera terpaku di ambang pintu, matanya menyapu kamar yang kini sudah rapi dan bersih. Ia mengira Andreas sudah pergi karena malu, namun pria itu masih di sana.
Sebelum Sera sempat bersuara, Andreas melangkah cepat dan menariknya ke dalam pelukan yang sangat erat. Andreas membenamkan wajahnya di ceruk leher Sera yang masih lembap, menghirup aroma sabun yang menenangkan.
"Terima kasih, Sera... Terima kasih," bisik Andreas, suaranya parau dan sarat dengan penyesalan yang mendalam.
Pelukan itu terasa berbeda. Bukan pelukan penuh gairah seperti sebelumnya, melainkan pelukan penuh permohonan maaf dan penghargaan. Andreas menyadari bahwa darah di seprei itu bukan hanya tanda fisik, tapi simbol bahwa Sera telah memberikan segalanya, hatinya, kehormatannya, dan kepercayaannya, kepada pria yang bahkan belum sepenuhnya sembuh.
Sera diam mematung dalam pelukan itu. Tangannya perlahan terangkat, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyentuh punggung Andreas. Ia ingin marah, ia ingin berteriak bahwa ucapan terima kasih tidak cukup untuk menghapus nama Veris yang keluar dari bibir Andreas.
Namun, merasakan detak jantung Andreas yang berdegup kencang melawan dadanya, Sera hanya bisa menghela napas panjang.
"Jangan katakan itu karena kau merasa berhutang budi, Andreas," ucap Sera pelan, suaranya bergetar.
Andreas mempererat pelukannya, seolah takut jika ia melepaskannya, Sera akan menghilang dari hidupnya selamanya. "Bukan karena itu. Aku hanya... aku tidak pantas mendapatkannya, tapi kau memberikannya. Aku akan memperbaikinya, Sera. Aku janji."
Di malam yang sunyi itu, di tengah apartemen Tribeca yang saksi bisu kehancuran sekaligus penyatuan mereka, Andreas bersumpah dalam hati. Nama Veris mungkin adalah masa lalunya yang menyakitkan, tapi Sera adalah realita yang takkan pernah ia biarkan pergi, bahkan jika ia harus menghabiskan sisa hidupnya untuk meminta maaf.
Cahaya matahari pagi New York menyusup malu-malu melalui celah tirai penthouse Tribeca, menyinari dua tubuh yang masih terlelap dalam dekapan yang erat. Andreas masih memeluk Sera seolah gadis itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut. Namun, kedamaian itu pecah saat ponsel Andreas di atas nakas bergetar hebat, merusak kesunyian pagi dengan nada dering yang mendesak.
Andreas melenguh, tangannya meraba nakas dengan mata setengah terpejam. Di sampingnya, Sera mulai terusik.
"Halo?" suara Andreas berat khas bangun tidur.
"Andreas! Akhirnya kau angkat juga!" Suara melengking itu milik manajernya. "Dengar, ini kabar terbesar bulan ini. Kontrak campaign musim gugur untuk L'Aurore baru saja turun. Ini brand baju tidur kelas dunia, Andreas! Nilainya fantastis, dan mereka menginginkanmu sebagai wajah utamanya."
Andreas mengusap wajahnya, mencoba mengumpulkan kesadaran. "Oke, Atur saja jadwalnya."
"Tunggu, ada satu hal lagi," Marcus menjeda kalimatnya, terdengar antusias. "Pihak L'Aurore menginginkan konsep The Perfect Couple. Mereka sudah menandatangani satu model wanita untuk mendampingi mu. Dan tebak siapa? Veris Cloth. Dia membatalkan semua jadwalnya di Paris dan terbang kembali ke New York pagi ini khusus untuk proyek ini!"
Deg.
Dunia seakan berhenti berputar bagi Andreas. Pelukannya pada Sera tanpa sadar mengencang, namun matanya membelalak menatap langit-langit kamar. Veris kembali? Dan mereka akan melakukan pemotretan baju tidur bersama?
Sera, yang sejak tadi sudah terjaga karena suara bising telepon itu, mendengar semuanya. Kata Veris dan baju tidur seperti sembilu yang menyayat luka yang baru saja mengering semalam. Dia perlahan membuka matanya, mendongak untuk menatap langsung ke dalam manik mata Andreas yang tampak kacau.
Di dalam hati Sera, sebuah pertanyaan besar muncul dan bergaung dengan menyakitkan, Apa dia kembali untukmu, Andreas?
"Andreas?" bisik Sera, suaranya parau.
Andreas segera mematikan sambungan teleponnya. Dia menatap Sera dengan tatapan bersalah yang begitu pekat. "Sera, aku... aku tidak tahu soal ini. Aku bersumpah."
Sera melepaskan diri dari pelukan Andreas, duduk di tepi ranjang sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. "Dia kembali, Andreas. Setelah memberikanmu pesan putus, setelah membuatmu hancur di bar, sekarang dia kembali dan mengambil proyek yang mengharuskan kalian bersentuhan di atas tempat tidur di depan kamera."
"Aku bisa menolaknya," kata Andreas cepat, suaranya mendesak.
"Kau tidak bisa menolaknya, Andreas," Sera menoleh, senyum getir terukir di bibirnya yang masih sedikit bengkak sisa ciuman mereka semalam.
"Itu L'Aurore. Kontraknya sudah ditandatangani oleh agensimu. Jika kau menolak karena alasan pribadi, reputasi mu sebagai aktor profesional yang sedang berada di puncak akan hancur. St. Clair tidak pernah lari dari pekerjaan."
Sera berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menampilkan pemandangan kota. Pikirannya melayang. Veris Cloth bukan sekadar mantan bagi Andreas, dia adalah sosok keibuan, sosok rumah yang selalu dirindukan Andreas. Dan sekarang, saat Andreas baru saja mulai membuka hatinya untuk Sera, Veris muncul kembali dengan segala kemewahan dan sejarah mereka.
Apakah penyatuan mereka semalam hanya akan menjadi kisah yang tragis?
Andreas menghampiri Sera, memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu gadis itu. "Sera, dengarkan aku. Apa yang terjadi semalam... nama yang kusebut itu adalah kesalahan fatal. Tapi aku di sini sekarang, bersamamu."
"Kau menyebut namanya di puncak gairahmu, Andreas," Sera memejamkan mata, membiarkan setetes air mata jatuh.
"Dan sekarang, takdir atau mungkin Veris sendiri menarik mu kembali ke pelukannya lewat pekerjaan. Bagaimana aku bisa bersaing dengan wanita yang kau anggap sebagai rumah?"
"Kau bukan saingannya, Sera. Kau adalah realitaku sekarang," Andreas membalikkan tubuh Sera agar menghadapnya. "Pemotretan itu hanya akan berlangsung satu hari. Aku akan bersikap profesional, lalu aku hanya akan pulang padamu."
Sera menatap mata Andreas, mencari kejujuran di sana. Dia melihat ketulusan, tapi dia juga melihat sisa-sisa kegelisahan. Sera tahu, di kalangan elit New York, kembalinya Veris bukan sebuah kebetulan. Veris pasti tahu tentang kesuksesan film Andreas dan Sera. Dia pasti tahu bahwa Andreas sedang menjadi perbincangan hangat.
Hari-hari menuju pemotretan itu terasa seperti siksaan bagi Sera. Dia berusaha tetap kuat di depan Andreas, tapi setiap kali dia melihat papan iklan atau majalah yang menampilkan wajah Veris, hatinya mencelos.
Sementara itu, Andreas terjepit di antara rasa bersalah pada Sera dan kewajiban kontraknya. Dia tahu bahwa publik tidak tahu tentang hubungannya dengan Veris, dan publik juga belum tahu secara resmi tentang hubungannya dengan Sera. Bagi dunia, ini adalah reuni epik antara sang aktor dan sang supermodel.
Malam sebelum pemotretan, Andreas memegang tangan Sera di ruang tamu.
"Jangan tonton beritanya besok, Sera. Jangan buka media sosial. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat."
Sera hanya mengangguk pelan, meski dia tahu dia akan tetap melihatnya. Dia akan tetap merasakan perih itu.
"Andreas," panggil Sera saat pria itu hendak beranjak. "Jika saat pemotretan itu dia memintamu kembali... jika dia menangis dan mengatakan dia menyesal... apa kau masih akan mengingat jalan pulang ke apartemen ini?"
Andreas terdiam. Dia menarik Sera ke dalam pelukan yang sangat erat, seolah-olah jika dia tidak memeluknya dengan kuat, Sera akan hancur menjadi abu. "Aku sudah menghapus seprei berdarah itu semalam, Sera. Aku tidak akan membiarkan pengorbananmu menjadi sia-sia hanya untuk masa lalu yang sudah membuangku."
Namun, di dalam hati Sera, keraguan itu tetap ada. Veris Cloth adalah wanita yang tenang, anggun, dan penuh kasih, kebalikan dari Sera yang liar dan meledak-ledak. Sera takut bahwa saat Andreas kembali melihat tatapan lembut Veris di bawah lampu lampu studio, Andreas akan menyadari bahwa Gadis Manis yang sesungguhnya adalah Veris, bukan dirinya yang hanya berpura-pura.
Sera hanya bisa menatap punggung Andreas yang menjauh, bertanya-tanya apakah pria itu akan kembali sebagai kekasihnya, atau kembali sebagai pria yang telah menemukan rumahnya lagi.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰