Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Motor sewaan itu berhenti di sudut jalan, cukup jauh dari gerbang pabrik. Kirana mematikan mesin, lalu duduk diam beberapa detik. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tangannya terasa dingin meski matahari sudah naik cukup tinggi.
Ini pertama kalinya Kirana melakukan hal seperti ini. Dia mengikuti suaminya karena mencurigai orang yang selama ini ia percaya sepenuh hati.
“Hanya melihat,” gumam Kirana pelan. “Aku hanya ingin memastikan.”
Kirana menarik napas dalam, lalu membuka face shield helm. Pandangannya menyapu area pabrik sepatu tempat Rafka bekerja. Bangunan itu tampak sama seperti biasanya, ramai, bising, dan penuh aktivitas.
Kirana merasa perutnya melilit. Ia memarkir motor sewaan di tempat aman, lalu berpura-pura duduk di warung kecil dekat pabrik. Dari sana, gerbang pabrik terlihat jelas.
Ada satu hal yang langsung membuat Kirana tertegun. Saat Motor Rafka baru memasuki pintu gerbang pabrik.
Kirana mengerjap, memastikan penglihatannya tidak salah. Ia menoleh ke jam di pergelangan tangannya. Sebentar lagi waktunya jam masuk kerja.
“Mas Rafka berangkat lebih dulu, tadi” gumam Kirana. “Tapi, kenapa aku yang sampai duluan?”
Bagi Kirana segalanya terasa janggal.
“Ke mana Mas Rafka sebelum ke sini?”
“Kenapa tidak langsung ke pabrik seperti biasanya?”
Pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk tanpa jawaban.
Jam makan siang tiba. Kirana masih di tempat yang sama, berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Ia sudah hampir memutuskan untuk pulang ketika melihat Rafka keluar dari gerbang pabrik, membawa kantong plastik putih di tangannya. Bukan bekal dari rumah.
Kirana mengenali logo rumah makan itu.
“Kenapa Mas Rafka beli makan?” gumamnya.
Kirana refleks mengenakan helm dan menyalakan motor sewaan. Menjaga jarak, ia mengikuti Rafka dari belakang.
Semakin jauh motor itu melaju, semakin pucat wajah Kirana. Arah yang diambil Rafka bukan arah pulang. Bukan juga arah menuju rumah orang tuanya.
Motor itu justru berbelok ke jalan yang sangat Kirana kenal. Ke arah bank tempat Kinanti bekerja.
“Tidak mungkin ....” Napas Kirana tercekat.
Tangan Kirana mencengkeram setang motor lebih erat. Jalanan terasa lebih panjang dari biasanya, sementara dadanya sesak oleh firasat buruk yang perlahan menjadi nyata.
Rafka berhenti di depan sebuah gedung perkantoran. Bank swasta tempat Kinanti bekerja.
Kirana mematikan motor agak jauh, berlindung di balik deretan motor karyawan lain. Dari sana, ia melihat jelas bagaimana Rafka turun, merapikan bajunya, lalu berjalan masuk ke halaman samping.
Tak lama kemudian, seorang perempuan keluar.
Ya, dia adalah Kinanti.
Kirana merasa dunia di sekelilingnya mendadak sunyi. Kakaknya itu tersenyum ketika melihat Rafka. Senyum yang terlalu hangat untuk sekadar ipar.
Rafka menyerahkan kantong plastik itu, dan Kinanti menerimanya dengan wajah berbinar.
Mereka berbincang dan saling tertawa. Hubungan mereka terlihat sangat dekat.
Tidak ada sentuhan berlebihan. Tidak ada adegan mencurigakan secara kasat mata. Namun, jarak di antara mereka terlalu sempit untuk hubungan yang seharusnya dijaga.
Suara Kirana nyaris tak terdengar. “Sedekat itukah hubungan Mas Rafka dan Mbak Kinanti?”
Dada Kirana berdenyut nyeri. Ia melihat Kinanti tertawa kecil, lalu mengatakan sesuatu yang membuat Rafka ikut tersenyum. Senyum yang jarang Kirana lihat belakangan ini.
“Apakah Mas Rafka sering membelikan dan mengantarkan makan siang untuk kakakku? Padahal tempat kerja mereka berjauhan dan berbeda arah.”
Air mata menggenang, namun Kirana menahannya. Ia tidak boleh menangis di sini.
Beberapa menit kemudian, Rafka pamit. Kinanti melambaikan tangan sebelum masuk kembali ke gedung.
Kirana menunduk, menahan gemetar di bahunya.
Kalau ini bukan apa-apa, batinnya, kenapa hatiku seperti sedang dihancurkan pelan-pelan?
Setelah itu Kirana pulang lebih dulu. Ia mengembalikan motor sewaan, lalu berjalan pulang dengan langkah berat. Setiap sudut rumah terasa asing, seolah bukan lagi tempat yang aman.
Dia menjemput Gita di tempat les. Lalu memasak dan membersihkan rumah, semua dilakukan dengan gerakan otomatis.
Pikiran Kirana dipenuhi oleh kejadian tadi. Ketika suami dan kakaknya bertemu.
Langit sudah gelap ketika suara motor Rafka terdengar di depan rumah. Kirana berdiri di dapur, memasak untuk makan malam keluarganya.
Rafka masuk dengan wajah lelah. “Yang.”
“Baru pulang, Mas?” tanya Kirana, suaranya terdengar tenang, berbaring terbalik dengan hatinya. Dia meletakan segelas air teh hangat di meja, untuk suaminya.
“Jalanan macet,” jawab Rafka sambil melepas sepatu.
“Ada kecelakaan ?”
“Iya.”
Kirana mengangguk pelan. “Semoga saja berita itu tidak benar.”
Rafka menoleh, seolah heran dengan reaksi istrinya yang tidak seperti biasanya. “Kamu kenapa?” tanya pria itu dengan tatapan heran.
“Enggak,” Kirana tersenyum kecil. “Cuma kepikiran berita-berita akhir-akhir ini.”
“Berita apa?”
“Kemarin tetangga sebelah cerita,” Kirana menuang air ke gelas. “Banyak kasus perselingkuhan. Rumah tangga hancur, anak jadi korban.”
Rafka terdiam.
Kirana bisa melihat jelas bagaimana rahang suaminya mengeras.
“Aku sih ....” Kirana melanjutkan, menatap lurus ke depan, “tidak akan pernah memaafkan yang namanya perselingkuhan.”
Sunyi. Kalimat itu menggantung di udara seperti ancaman yang tidak diucapkan.
Rafka tertawa kecil, terdengar kaku. “Kamu kenapa ngomong gitu?”
“Kepikiran saja,” jawab Kirana ringan. “Kalau suatu hari itu terjadi di rumah tanggaku, aku nggak tahu apa aku bisa tetap hidup seperti biasa, atau tidak.”
Rafka menelan ludah. “Yang, jangan mikir aneh-aneh.”
Kirana menoleh, menatap wajah suaminya. Seringai pun tercipta dari bibir ranum itu.
“Kenapa? Mas takut?”
Pertanyaan itu lembut, nyaris bercanda. Namun mata Kirana tajam, menembus.
“Enggak,” jawab Rafka cepat. “Ngapain aku takut?”
Kirana tersenyum tipis. “Syukurlah.”
Kirana berbalik, meninggalkan Rafka berdiri sendiri di ruang depan dengan napas yang tidak lagi teratur.
Malam itu, Kirana kembali berbaring di samping suaminya. Sama seperti kemarin, ia tidak memejamkan mata.
Di dalam gelap, ia mengambil keputusan yang tidak bisa ditarik kembali. Ia tidak akan berhenti setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Kirana tahu, ia harus siap menanggung sakitnya, ketika kebenaran dari prasangkanya itu terungkap.
“Mulai besok aku harus mengumpulkan bukti-bukti,” batin Kirana.
***
Baca juga karya temanku ini, ya.
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏