Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Sisa-Sisa Kemanusiaan yang Tercecer(fix)
Suara gesekan dedaunan dan kicauan burung di kejauhan terasa sangat kontras dengan pemandangan di depan mata Fang Yuan.
Di tanah yang becek oleh darah dan lumpur, Liu Shen sedang bertarung nyawa.
Zirah ringannya sudah hancur, dan beberapa bagian tubuhnya robek akibat terjangan taring tajam Chi Yan Zhu.
Babi hutan iblis itu mendengus, uap panas keluar dari hidungnya, sementara Liu Shen gemetar hebat.
"Sialan! Kenapa babi ini tidak mati-mati?!" teriak Liu Shen panik. Keringat dingin mengucur deras, bercampur dengan darah yang mengalir dari pelipisnya.
Ia menyadari bahwa ia tidak akan menang. Dengan sisa tenaga, Liu Shen mengeluarkan sebuah pedang pendek—sebuah artefak terbang tingkat rendah—dan berniat melesat ke langit untuk melarikan diri.
Namun, Fang Yuan tidak membiarkan mangsanya pergi begitu saja.
Dengan satu hentakan kaki yang menghancurkan permukaan batu, Fang Yuan melesat.
Tubuhnya bergerak seperti bayangan hitam yang memotong udara.
"Mau lari ke mana, 'Tuan Muda' Liu?"
BUGH!
Sebuah hantaman lutut mendarat tepat di dagu Liu Shen saat ia baru saja akan terangkat dari tanah.
Tubuhnya terpelanting ke belakang, jatuh berdebam ke tanah. Fang Yuan dengan tenang menangkap pedang artefak yang terjatuh.
"Bagus juga ini. Harganya pasti bisa memberiku makan untuk satu tahun." gumam Fang Yuan sambil memutar-mutar pedang itu.
Liu Shen berusaha membuka matanya yang bengkak. Hal pertama yang ia lihat adalah moncong Chi Yan Zhu yang berada hanya beberapa senti dari wajahnya. Napas makhluk itu berbau daging busuk dan belerang.
"Jangan bunuh dia sekarang." perintah Fang Yuan dingin.
Ajaibnya, babi hutan itu mundur selangkah, seolah patuh. Liu Shen terbelalak, wajahnya yang penuh luka tampak semakin pucat. "A-apa ini? Kenapa ... kenapa monster ini menurut padamu?!"
Fang Yuan berjalan perlahan, langkah kakinya tidak mengeluarkan suara. "Peliharaan yang kenyang tidak akan menyerang tuannya, Liu Shen. Kau baru saja memberinya 'makan' dengan energi dan rasa takutmu."
"T-tidak mungkin! Hewan iblis seperti ini tidak mungkin dijinakkan oleh sampah sepertimu!" Liu Shen berteriak histeris, ia mencoba menyerang Fang Yuan dengan pukulan liar.
Fang Yuan hanya memiringkan kepala sedikit, membiarkan tinju itu lewat, lalu dengan satu gerakan sapuan kaki, ia mematahkan keseimbangan Liu Shen.
KRAK!
Hantaman kaki Fang Yuan mengirim Liu Shen menabrak pohon besar hingga batangnya retak.
"Berisik sekali," desis Fang Yuan. "Orang yang sedang berjalan menuju liang lahat tidak berhak mengajukan banyak pertanyaan."
Fang Yuan melesat maju, menusukkan pedang pendek tadi tepat ke telapak tangan Liu Shen, memaku pria itu ke batang pohon.
"ARRRRGHHHH!"
"Sakit?" Fang Yuan tersenyum tipis. "Sekte Angin Biru? Aku tidak peduli jika seluruh sektemu mengejarku. Bagiku, mereka hanya seribu mangsa lainnya yang menunggu untuk dijatuhkan."
Fang Yuan kemudian menginjak kaki Liu Shen yang sudah terluka, menekan tulang yang patah dengan tumitnya. "Kau suka menyakiti orang lain karena kau merasa kuat. Sekarang, mari kita lihat seberapa kuat kau saat menjadi yang terlemah."
Fang Yuan mengeluarkan buku kosong dan alat tulis dari balik jubahnya. "Sekarang, tuliskan teknik tebasan angin yang kau gunakan tadi. Cepat!"
"Lakukan saja ... sampai mati pun aku tidak akan—"
BUGH!
Satu tendangan keras ke arah rahang membuat Liu Shen terdiam. Darah segar menyembur dari mulutnya.
"Kau keras kepala, ya?" Fang Yuan mendekat, jemarinya yang kasar mencengkeram rahang Liu Shen. Tanpa peringatan, ia menarik salah satu gigi taring Liu Shen hingga copot.
"Ugh! Aghhh! Bangsat! Dasar yatim piatu gila!" Liu Shen meludah darah ke wajah Fang Yuan. "Pantas keluargamu mati! Sifatmu memang seperti iblis!"
Aura di sekitar Fang Yuan seketika berubah. Hawa dingin yang mematikan meledak dari tubuhnya, membuat Chi Yan Zhu pun mundur ketakutan.
SHING!
Dengan satu gerakan cepat, Fang Yuan menebas lengan kiri Liu Shen hingga putus.
"Ulangi kata-katamu tentang keluargaku," bisik Fang Yuan tepat di telinga Liu Shen yang menjerit histeris. "Ayo, ulangi lagi."
Teriakan Liu Shen menggema di seluruh hutan, memecah kesunyian malam dengan nada yang paling menyayat hati.
Namun bagi Fang Yuan, itu adalah musik yang menenangkan. Ia meninju wajah Liu Shen berulang kali—satu, sepuluh, lima puluh kali—hingga wajah itu tidak lagi berbentuk manusia. Hidung patah, gigi berceceran, dan mata yang tertutup bengkak.
Fang Yuan mengambil kantong penyimpanan milik Liu Shen, memeriksa beberapa koin perak dan botol pil kultivasi di dalamnya.
Ia lalu berdiri, melompat dengan lincah ke atas punggung Chi Yan Zhu yang besar.
Liu Shen tergeletak di bawah pohon, napasnya tersengal-sengal, Dantiannya hampir retak sepenuhnya akibat tekanan Qi Fang Yuan yang liar.
"Anggap saja aku memberimu kehidupan kedua, Liu Shen," Fang Yuan menatap sosok hancur itu dari atas punggung babi hutan. "Aku ingin kau tetap hidup agar kau bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi sampah yang kau hina selama ini. Kau tidak akan pernah bisa menjadi kultivator lagi. Kau hanyalah seonggok daging yang menunggu busuk."
Fang Yuan mengelus leher kasar babi hutan itu. "Ayo pergi. Masih banyak yang harus kita lakukan."
Babi hutan itu berbalik dan berlari menembus hutan, meninggalkan Liu Shen dalam kesunyian yang mematikan.
Fang Yuan tidak membunuhnya, bukan karena kasihan, tapi karena ia tahu bahwa bagi seseorang yang angkuh seperti Liu Shen, hidup sebagai orang cacat adalah siksaan yang jauh lebih berat daripada kematian.
Fang Yuan kini telah memiliki modal pertama: artefak, pil, dan sedikit uang.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.