🩸 HEI YING TUN TIAN(Bayangan Hitam Yang Menelan Langit)⚠️ Han Xuan Sang Penelan Takdir Itu Sendiri
Sinopsis:
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah monster yang ditakuti dunia dan Dao itu sendiri.
Ia mencapai Law Devouring Realm, melahap Dao para genius, menghancurkan sekte besar, dan hampir menantang Langit itu sendiri.
Namun Langit tidak membunuhnya.
Langit menghukumnya.
Jiwanya dipecah dan dilempar kembali ke masa lalu, terlahir sebagai anak klan kecil dengan meridian retak dan akar spiritual cacat. Di mata dunia, ia hanyalah sampah kultivasi yang tak akan pernah melangkah jauh.
Mereka salah.
Tubuh barunya menyimpan Void Devouring Constitution, konstitusi terkutuk yang hanya bangkit setelah kehancuran total. Dengan ingatan penuh dari kehidupan sebelumnya, ia memilih jalan yang lebih sunyi dan lebih kejam.
Ia tidak lagi membantai secara terang terangan.
Ia membangun bayangan nya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Pelayaran Menuju Ujung Dunia
...Bab 22: Pelayaran Menuju Ujung Dunia...
Kapal terbang milik Wei bukanlah kapal mewah milik sekte besar. Itu hanyalah sebuah kapal pengangkut barang bekas yang telah dimodifikasi berkali-kali dengan tumpukan kayu Ironwood dan pelat besi tipis. Mesin penggeraknya berderit protes setiap kali sayap-sayap kayunya mencoba membelah awan yang tebal oleh debu sisa ledakan Ibukota.
Han Xuan duduk di dek belakang, membelakangi kabin. Rambut putihnya yang panjang tertiup angin kencang, namun ia tidak bergeming. Di matanya yang hitam-putih, ia tidak melihat langit yang indah, melainkan garis-garis energi yang mulai menipis saat mereka menjauh dari pusat Benua Cangyuan.
"Tuan..." suara Wei terdengar ragu-ragu di belakangnya. "Teh herbal ini... Xiao Mei menyiapkannya. Dia bilang ini mungkin bisa membantu sedikit meredakan panas di meridian Anda."
Han Xuan menoleh sedikit. Ia mengambil cangkir tanah liat itu. Ia tidak bisa merasakan panasnya air di tangannya, dan ia tahu ia tidak akan bisa mengecap rasa herbalnya. Namun, ia meminumnya sebagai bentuk penghormatan pada usaha mereka.
"Berapa lama lagi sampai kita menyentuh Lautan Kabut?" tanya Han Xuan. Suaranya terdengar parau dan memiliki gema ganda yang samar—satu suaranya sendiri, satu lagi bisikan Han Zhao yang masih terperangkap di dalam jiwanya.
"Jika angin tetap stabil, sekitar dua hari lagi, Tuan," jawab Wei. "Tapi... The Wandering Sage itu... dia menghilang begitu saja setelah memberikan koordinat. Apakah kita benar-benar bisa mempercayainya?"
Han Xuan menatap cangkir kosong di tangannya. "Di dunia ini, kepercayaan adalah kemewahan yang tidak bisa aku beli, Wei. Tapi dia tidak memiliki niat membunuh saat itu. Baginya, aku mungkin hanya sebuah eksperimen menarik."
Malam itu, Han Xuan mencoba bermeditasi. Ia masuk ke dalam batinnya sendiri, sebuah ruang gelap yang kini dipenuhi oleh retakan perak yang memancarkan cahaya ungu.
Di sudut terjauh ruang itu, sesosok bayangan yang sangat mirip dengannya sedang duduk bersila, dirantai oleh ribuan benang kilat ungu. Itu adalah Han Zhao.
“Kau merasa lemah, Xuan?” bisik Han Zhao di dalam pikirannya. “Tubuhmu ini seperti bangunan yang hampir runtuh. Kau memaksa kekuatan 'Spirit Severing' masuk ke dalam wadah 'Core Condensation'. Itu bodoh.”
"Diamlah, Zhao," sahut Han Xuan dingin. "Kau adalah bagian dari wadah ini sekarang. Jika aku runtuh, kau juga akan musnah."
“Maka lepaskan segelnya sedikit!” raung Han Zhao. “Biarkan aku membantumu mengolah energi Inti Dunia itu. Aku tahu cara menstabilkannya. Kita adalah satu sekarang, ingat?”
Han Xuan mengabaikannya. Ia tahu bahwa setiap kali ia memberikan celah pada Han Zhao, saudaranya itu akan mencoba mencuri kendali atas saraf motoriknya. Ia mulai menjalankan teknik Devouring Breath untuk menyerap energi alami dari udara, namun prosesnya sangat lambat. Benua Cangyuan kini sudah "kering" akibat ulahnya sendiri.
Keesokan harinya, kapal itu tiba di batas pandangan yang mengerikan. Di depan mereka, langit biru menghilang, digantikan oleh dinding kabut raksasa yang berwarna kelabu tua. Kabut ini dikenal sebagai The Veil of Oblivion, sebuah fenomena alam yang telah menelan ribuan kapal selama berabad-abad.
"Tuan, instrumen navigasi kita mulai gila!" teriak Wei dari ruang kemudi.
Han Xuan berdiri. Ia bisa merasakan energi di dalam kabut itu. Itu bukan sekadar uap air, melainkan Hukum Ruang yang kacau balau. Kabut itu seolah-olah mencoba memutarbalikkan arah dan waktu siapa pun yang masuk ke dalamnya.
"Teruslah maju," ucap Han Xuan.
Ia melangkah ke haluan kapal. Ia memejamkan matanya yang putih murni. Karena ia tidak bisa mendengar suara luar, ia fokus pada denyut energi dunia. Ia melepaskan sedikit aura perak dari Inti Dunia di dadanya.
Sreett...
Aura perak itu bertindak seperti mercusuar. Kabut di depan kapal mulai membelah diri, memberikan jalan sempit yang hanya cukup untuk satu kapal lewat. Namun, saat mereka masuk lebih dalam, Han Xuan melihat sesuatu di bawah permukaan kabut.
Bangkai-bangkai kapal raksasa melayang tanpa arah. Dan di atas bangkai-bangkai itu, terlihat sosok-sosok transparan yang mengenakan zirah kuno. Mereka adalah The Lost Souls of the Veil—para kultivator masa lalu yang gagal menembus perbatasan.
Salah satu sosok itu, yang membawa pedang besar yang retak, mendongak dan menatap ke arah kapal Han Xuan. Matanya yang kosong mendadak menyala dengan api biru.
"Energi... Inti... Hidup..." bisik ribuan suara yang masuk langsung ke dalam pikiran semua orang di kapal.
"Wei, percepat kapalnya!" perintah Han Xuan.
Sosok-sosok hantu itu mulai melompat dari bangkai kapal mereka menuju kapal Wei. Mereka bukan hantu biasa; mereka adalah residu energi yang sangat lapar akan vitalitas.
Han Xuan tidak mencabut pedangnya. Ia hanya menghentakkan kakinya ke dek kapal. Sebuah lingkaran bayangan hitam melebar dari bawah kakinya, menutupi seluruh kapal.
"Kalian sudah mati," ucap Han Xuan datar. "Kembalilah ke ketiadaan."
Ia menggunakan Hukum Devour bukan untuk menyerap mereka, tapi untuk menghapus eksistensi energi mereka. Namun, setiap kali ia menggunakan kekuatannya, dadanya terasa seperti dihantam palu besar. Meridiannya mulai retak kembali, mengeluarkan darah perak yang membasahi bajunya.
"Tuan! Anda terluka!" Xiao Mei berlari keluar, wajahnya penuh kekhawatiran.
"Jangan mendekat, Xiao Mei!" bentak Han Xuan. Aura ungu di sekitarnya menjadi tidak stabil, percikan listrik mulai menyambar-nyambar dek kapal.
Di tengah kekacauan itu, sesosok hantu raksasa yang tampaknya adalah jenderal di masa lalunya, mendarat di depan Han Xuan. Pedang birunya terayun, memotong sebagian tiang kapal.
Han Xuan menangkap pedang hantu itu dengan tangan kosong. Kekosongan bertemu dengan kehampaan.
Pertarungan di tengah kabut ini hanyalah ujian pertama bagi Han Xuan. Ia baru menyadari bahwa untuk keluar dari Benua Cangyuan, dunia ini akan menuntut setiap tetes kekuatan yang tersisa dari tubuhnya yang sudah sekarat.
Dapatkan Han Xuan menahan serangan para hantu penjaga kabut ini tanpa menghancurkan kapal satu-satunya yang ia miliki, atau ia harus meminta bantuan berbahaya dari Han Zhao di dalam jiwanya?
<>Cerita Bersambung