Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sah
"Aku yang akan menikahimu," ulang Jetro lagi membuat Anggareksa terbelalak. Febi yang awalnya menunduk karena malu mendapat tatapan dan bisik bisik para tamu, mendongak kaget mendengar suara yang sudah di hapalnya.
Jetro? Tatapnya dengan pupil mata membesar.
Jetro membalasnya dengan sorot sangat meyakinkan. Jangan lupa dengan senyum simpatiknya yang membuatnya semakin tampan.
Seruan seruan dan suit suit terdengar heboh dan juga tepuk tangan dari para sepupunya. Tapi kehebohan itu menular hingga para tamu juga ikut bertepuk tangan, berseru dan bersuit yang diiringi dengan derai tawa bahagia.
Teman teman Febi juga ikut bertepuk tangan. Mereka tertawa dengan mata basah.
"Do'a kita terkabul," ucap Cica sambil mengusap matanya.
"Iya." Juwita menyahut lega. Ternyata kata kata jahatnya tidak berlaku untuk Febi. Dia sangat bersyukur.
Hana dan Nashwa terus menatap ke arah Febi yang kini sudah berdiri berhadap hadapan dengan Jetro. Bibir mereka menyunggingkan senyum haru.
Padahal tadi hampir saja mereka kehilangan harapan. Ngga disangka di detik detik menentukan Jetro mendekat dengan sikap gentle.
Flashback on
"Lho, ngga jadi datang calon suaminya? Gimana, sih," omel Adriana sambil melihat ke arah pintu.
"Kasian anaknya Anggareksa." Kamila-istri Emir menatap ngga tega pada Febi yang berdiri dengan kepala tertunduk.
"Jet, berani, nggak, kamu nikah sekarang?" tantang Adriana. Sebenarnya dia asal bicara saja akibat gemas karena calon suami Febi membiarkannya menunggu begitu lama.
Mana ada lagi kesalahan saat mengenali orang lain sebagai pengantin pria tadi.
"Iya, Jet. Mending kamu aja yang maju, gantiin pengantinnya. Kamu, kan, jomblo. Kalo kamu ngga mau, tante suruh Baim aja yang maju," sambung Kamila juga asal bicara, menyahuti omongan Adriana. Dia juga sama gemasnya dengan kerabatnya itu.
Kalandra dan Emir tertawa pelan mendengar cuitan istri istri meraka.
"Kamu mau kemana?" tanya Adriana-Mami Jetro ketika melihat anak lelakinya tiba tiba bangkit dari kursinya.
Kalandra tersenyum samar, sedangkan Emir mencoba menebak apa yang akan dilakukan keponakannya.
Serius kamu mau menggantikan peran calon suami yang ngga datang datang itu?
"Mau ngasih mantu ke mami," ucapnya dengan tatapan penuh makna pada maminya.
Haaa? Serius? Adriana tercengang. Ngga menyangka kata kata asbunnya tadi dianggap titah oleh Jetro.
"Minta restunya, mam," ucap Jetro sambil merapikan jasnya yang agak terlipat ketika duduk tadi.
"Semangat Jetro." Kamila berseru antusias.
"Terimakasih, tante," senyum Jetro.
"Gitu, dong, om dukung sejuta persen," timbrung Emir.
"Mami restui. Mami restui. Sana cepat pergi, sebelum Baim dipaksa maminya maju ke depan," tukas Adriana yang baru tersadar kalo putranya serius.
Kalandra tertawa pelan mendengar ucapan istrinya. Begitu juga Kamila dan Emir.
"Siap, mam. Pi, om, tante, bantu do'a, ya."
"Tentu kita do'akan," sahut Emir antusias.
Keren kamu, Jet. Rencana kamu sukses, ya, batin Emir tertawa. Dia tidak sengaja mendengar obrolan Fadel dan Fathir yang akan membantu Jetro menikung Cakra.
"Setengah saham papi dari opa buat kamu kalo kamu berhasil," ucap Kalandra membuat Jetro makin bertambah rasa percaya dirinya.
"Siap, pi." Setelah mengatakannya Jetro melangkah maju ke depan. Mendekat ke tempat akad dimana calon pengantinnya sudah menunggu.
"Jetro ngapain, tuh?" cetus Kiara sambil menatap suaminya-Emra.
"Mungkin mau ngegantiin calon pwngantin pria?" sahut Emra santai dengan nada bertanya.
"Wow.... Harus kita dukung."
Baru saja Kiara berkata begitu, seruan seruan heboh dari keponakan keponakannya yang berkumpul di tengah ruang pesta berkumandang. Juga tepuk tangan mulai terdengar. Awalnya hanya ada satu dua orang. Tapi kemudian berlanjut dengan tamu tamu yang lain.
"Maju, Jet. Pantang mundu!" Sean, si biang masalah berseru kencang. Dia dan Abiyan barusan berkumpul dengan sepupu sepupu yang lain.
Setelah berteriak kalo calon pengantin pria datang, kemudian dia bersama Abiyan segera bersembunyi sampai pengantin perempuan datang.
"Semangat, Jet." Abiyan juga ikut berteriak mendukung.
Quin dan Deva bahkan bersuit suit. Sementara yang lain bertepuk tangan sambil mulutnya berteriak heboh.
"Go, go, go.....!"
Endflashback
"Jetro?" ucap Anggareksa dengan lidah kelu. Di hadapannya ada laki laki yang dicintai oleh kedua putrinya.
"Om, ijinkan saya menikahi Febi. Saya dan Febi saling mencintai."
Ucapan Jetro membuat Febi terperangah. Rona merahnya tampak di pipinya yang berselimutkan make up tipis.
Suitan, seruan dan tepuk tangan terdengar makin keras saat ucapan Jetro bergema di liang telinga mereka.
Anggareksa terpaku. Belum lagi dia menjawab, dia melihat Kalandra dan istrinya yang mulai berjalan mendekat.
"Angga, kalo kamu ngga keberatan, kami melamar putrimu Febi untuk Jetro," ucap Kalandra tenang membuat suasana sempat hening sebelum heboh lagi.
"Terima!"
"Terima!"
"Terima."
Bukan hanya sepupu sepupu Jetro saja yang membuat heboh ruang resepsi, om om dan tante tantenya juga ikut memberi dukungan dengan ikut berdiri.
Tamu tamu yang lain juga ikut ikutan berdiri memberi semangat. Suasana yang sempat kaku dan canggung kini sudah berubah penuh tawa lepas.
Fiola terbelalak melihatnya. Dia masih ngga percaya dengan apa yang ada di depannya.
Dia ingin segera berlari tapi kedua kakinya terasa lumpuh. Dia pun tidak bisa melihat papanya karena tertutup oleh tubuh Jetro dan orang tuanya.
Mengapa? Proteanya dalam hati.
Papa harus tolak.
Tolak, pa!
Dada Fiola hampir meledak karena ngga sabar menunggu jawaban papanya. Dia yakin kalo papanya tidak akan mengecewakannya.
Anggareksa memejamkan matanya. Mungkin inilah yang seharusnya terjadi.
Fiola, maafkan, papa.
Setelah menarik nafas dalam dalam, dia menatap Jetro yang berdirinya diapit oleh kedua orang tuanya.
"Jetro, kamu sudah hapal kalimat akad?"
Jeteo tersenyum agak lebar mendengarnya. Sedangkan Febi menahan nafas menunggu jawaban Jetro.
"Hapal, om."
Anggareksa memegang lembut pundak Jetro. Kemudian dia menatap Kalandra dan Adriana bergantian.
"Terimakasih," ucapnya dengan mata yang berkaca kaca. Keharuan begitu saja memenuhi rongga dadanya.
*
*
*
"Sah!"
"Sah!"
"Sah"
Danu Sumirat mematung ketika melihat ada laki laki lain yang menggantikan tempat putranya.
Dia terlambat untuk mencegah. Tapi dia juga tidak merasa berhak karena putra bodohnya sudah mengacaukan segalanya.
Jetro masih dengan senyum andalannya menatap wajah Febi yang.kini tersenyum kikuk padanya.
"Ci um!"
"Ci um!"
"Ci um!"
Jetro tanpa ragu mengecup sekilas kening Febi.
Fiola menatap dengan mata basah. Bukan karena terharu dan bahagia. Tapi yang dia rasakan sebaliknya.Marah dan kecewa berkumpul jadi satu.
Papa, papa tega sekali, jeritnya dalan hati. Air matanya mulai mengalir.
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,
jalan bareng aja jetro enggan ini malah berharap jadi istri keduanya 😂