Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu dari Masa Lalu
Keheningan malam di gubuk Mak Inah terasa lebih berat dari biasanya. Sejak pulang dari tukang sayur, pikiran kedua wanita itu seolah terpaku pada satu titik: sosok Mirasih. Di dalam keremangan cahaya lampu minyak, Mak Inah duduk termenung sambil memilin ujung jariknya. Di kepalanya, bayangan Mirasih yang menangis meraung-raung beberapa waktu lalu terus beradu dengan cerita ibu-ibu tentang "Ratu Desa" yang anggun dan bergelimang harta.
"Bu," bisik Siti, memecah kesunyian yang mencekam. "Siti masih tidak bisa membayangkan Mbak Mirasih jadi kaya raya seperti itu. Apa mungkin Paman Broto menang lotre? Atau memang benar kata orang-orang kalau Mbak Mirasih dapat warisan rahasia?"
Mak Inah menghela napas panjang, matanya menatap kosong ke arah pintu yang sudah terkunci. "Ibu juga tidak tahu, Nduk. Tapi rasanya tidak mungkin kalau hanya warisan biasa bisa mengubah seseorang jadi sehebat itu dalam waktu sekejap. Hati Ibu rasanya ganjil. "
Siti terdiam sejenak, lalu matanya berbinar mendapatkan sebuah ide. "Bagaimana kalau besok saat berangkat sekolah, Siti sengaja lewat depan rumah Mbak Mirasih, Bu? Siti mau lihat sendiri. Siti rindu juga sama Mbak Mirasih, sudah lama sekali kita tidak bicara."
Mak Inah menatap anak bungsunya itu dengan tatapan ragu, namun rasa penasarannya sendiri akhirnya mengalahkan rasa takutnya. "Iya, cobalah Nduk. Lihat dengan matamu sendiri, benarkah yang dibicarakan ibu-ibu tukang sayur itu. Tapi jangan datang dengan tangan kosong. Tidak sopan bertamu ke rumah orang tanpa membawa apa-apa, apalagi dia dulu sering main ke sini."
"Tapi kita tidak punya apa-apa yang mewah, Bu," ucap Siti pelan.
"Ibu masih punya sedikit sisa tepung dan sayuran di kebun. Besok pagi-pagi sekali Ibu buatkan risol sayur sama arem-arem kesukaan Mbakmu itu. Berikan sekalian sama dia. Bilang itu salam dari Ibu," pungkas Mak Inah.
-----------------
Keesokan harinya, aroma harum tumisan wortel dan buncis memenuhi dapur Mak Inah sejak sebelum fajar menyingsing. Dengan telaten, tangan-tangan tua itu membungkus arem-arem dengan daun pisang yang sudah dilemaskan di atas api. Mak Inah membuat makanan itu dengan penuh perasaan, seolah-olah ia sedang mengirimkan pesan kasih sayang kepada Mirasih melalui masakan sederhana itu.
Siti sudah rapi dengan seragam SMP-nya. Ia memasukkan bungkusan hangat itu ke dalam tas anyaman kecil yang ia gantungkan di stang sepeda jengkinya.
"Hati-hati, Siti. Ingat pesen Ibu, bicaralah yang sopan. Jangan terlalu lama di sana nanti kamu telat sekolah," pesan Mak Inah sambil mengantar Siti sampai ke depan pagar bambu.
Siti mengayuh sepedanya dengan semangat. Jalanan desa masih sepi, hanya ada beberapa petani yang berangkat ke sawah. Namun, saat ia mulai memasuki area di mana rumah Paman Broto berada, Siti mendadak mengerem sepedanya. Jantungnya berdegup kencang.
"Gusti..." bisik Siti tertahan.
Di depannya, berdiri sebuah bangunan yang sama sekali tidak mirip dengan rumah yang ia ingat. Rumah itu kini dikelilingi pagar besi hitam yang menjulang tinggi dengan ujung-ujung yang tajam dan berkilauan. Dinding rumah yang dulu kusam kini berwarna putih gading yang sangat bersih. Di halaman yang luas, tumbuh rumput hijau yang tertata rapi dengan bunga-bunga eksotis yang tidak pernah Siti lihat sebelumnya.
Siti menelan ludah. Ia merasa seperti debu di depan kemegahan itu. Namun, saat ia melihat ke arah teras rumah yang berlantai marmer mengkilap, ia melihat sesosok wanita sedang berdiri membelakangi sinar matahari pagi.
Wanita itu mengenakan daster sutra panjang berwarna ungu tua yang melambai ditiup angin. Rambutnya hitam legam, berkilau, dan tersampul rapi dengan tusuk konde emas. Dari kejauhan saja, aura wanita itu sudah sangat berbeda; ia tampak sangat tinggi, sangat anggun, dan sangat berkuasa.
Itu adalah Mirasih.
Siti memberanikan diri mendekati pagar besi yang terkunci itu. Tangannya yang gemetar menyentuh besi yang dingin, lalu ia mengetuk-ngetuk pagar itu dengan ragu. Teng... teng... teng...
Mirasih, yang sedang menatap taman dengan pandangan kosong, menoleh. Matanya yang tajam dan jernih menangkap sosok remaja berseragam sekolah di depan pagarnya. Mirasih tidak bergerak dari tempatnya, ia hanya memberi isyarat kecil kepada seorang wanita paruh baya yang mengenakan pakaian simbok-simbok ,yang Siti kenali sebagai salah satu warga desa yang biasanya bekerja sebagai buruh cuci.
"Mbok, bukakan pagarnya. Itu Siti," perintah Mirasih dengan suara yang tenang namun berwibawa.
Siti merasa terpaku saat gerbang besi yang berat itu terbuka secara otomatis dengan suara derit yang halus. Mbok pelayan itu tersenyum ramah pada Siti. "Mari, Cah Ayu... masuklah. Mbak Mirasih sudah menunggu di teras."
Siti menuntun sepedanya masuk dengan langkah yang sangat canggung. Setiap kali sepatunya menyentuh lantai teras yang mengkilap, ia merasa takut akan mengotorinya. Begitu ia sampai di depan Mirasih, Siti hampir saja tidak bisa berkata-kata.
Mirasih kini berdiri tepat di hadapannya. Perubahan fisik itu... benar-benar seperti sihir. Mirasih tidak lagi tampak seperti gadis yang sedang sekarat. Pipinya kini merona sehat, tubuhnya berisi dan memiliki lekukan yang indah, kulit lehernya tampak sangat halus tanpa ada setitik pun debu. Dan yang paling menusuk indra penciuman Siti adalah aromanya. Wangi bunga melati dan kantil yang sangat segar, seolah-olah Mirasih baru saja keluar dari kolam sari bunga.
Siti mendongak, menatap mata Mirasih yang kini tampak lebih dalam dan misterius. "M-mbak Mirasih..."
Mirasih hanya tersenyum kecil. Sebuah senyuman yang tipis, sopan, namun memiliki jarak yang sangat lebar. "Siti. Sudah lama ya tidak bertemu. Kamu mau berangkat sekolah?"
"Nggih, Mbak," jawab Siti gagap. Ia segera teringat bawaannya. "Ini, Mbak... Ibu membuatkan risol sayur dan arem-arem. Ibu bilang ini salam buat Mbak Mirasih."
Mirasih menerima tas anyaman itu. Ia menghirup aromanya sejenak. "Sampaikan terima kasih pada Ibu. Masakan Ibu memang selalu yang terbaik."
Mirasih kemudian mengajak Siti duduk di kursi rotan yang empuk di teras. Siti duduk dengan kaku, matanya liar melihat sekeliling melihat lampu gantung kristal yang menggantung di plafon teras, melihat guci-guci besar yang tampak mahal, dan melihat betapa mewahnya kehidupan Mirasih sekarang.
"Mbak... Mbak Mirasih kok bisa jadi seperti ini?" tanya Siti akhirnya, rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya. "Semua orang di desa bicara tentang Mbak. Katanya Mbak Mirasih sekarang sudah jadi orang paling hebat di sini."
Mirasih menyandarkan tubuhnya, menatap ke arah jalanan desa yang tampak kecil dari terasnya yang tinggi. "Hidup itu berputar, Siti. Kadang kita di bawah diinjak-injak, kadang kita diberikan kesempatan untuk naik. Aku hanya mengambil kesempatan yang diberikan Tuhan padaku."
Siti memperhatikan jemari Mirasih yang kini dihiasi cincin permata kecil yang berkilauan. "Tapi Mbak... kemarin Mbak nangis-nangis di rumah Siti. Mas Adit... apa Mbak masih ingat Mas Adit?"
Mendengar nama itu, raut wajah Mirasih yang tadinya tenang mendadak membeku sejenak. Sebuah kilatan dingin muncul di matanya sebelum kembali menghilang di balik topeng ketenangannya.
"Aditya?" Mirasih tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat asing di telinga Siti. "Tentu aku ingat. Dia adalah laki-laki yang mengajariku bahwa janji manusia itu semurah debu di jalanan. Tapi itu tidak penting lagi sekarang, Siti. Lihatlah sekelilingmu. Apakah aku tampak seperti orang yang sedang bersedih karena laki-laki?"
Siti menggeleng pelan. "Mbak tampak... sangat cantik. Dan sangat kaya."
"Benar," sahut Mirasih sambil bangkit berdiri. Ia berjalan menuju pinggiran teras, membelakangi Siti. "Kekayaan ini memberiku suara. Memberiku kekuatan. Sekarang, tidak ada lagi yang berani menghinaku. Tidak ada lagi yang berani menganggapku tidak suci atau dekil. Aku adalah penguasa di sini, Siti. Dan itu jauh lebih berharga daripada cinta yang hanya manis di bibir."
Siti merasa ada sesuatu yang mengerikan di balik kata-kata Mirasih yang tenang itu. Meskipun Mirasih bersikap baik padanya, Siti merasa seperti sedang berbicara dengan orang asing yang memakai wajah Mirasih. Kehangatan yang dulu selalu ia rasakan saat bersama Mirasih, kini telah lenyap, digantikan oleh hawa dingin yang tak kasat mata.
"Siti, minumlah dulu sebelum pergi," ucap Mirasih sambil memberi kode pada pelayannya untuk membawakan sirup jeruk dingin.
Siti meminum sirup itu dengan cepat karena ia mulai merasa tidak betah. Atmosfer di rumah itu terasa sangat berat. Dari dalam rumah, ia sesekali mendengar suara Paman Broto yang sedang batuk-batuk kecil, namun paman yang biasanya galak itu tidak berani menampakkan diri.
Setelah menghabiskan minumannya, Siti berpamitan. "Siti berangkat sekolah dulu ya, Mbak. Terima kasih sirupnya. Jangan lupa arem-aremnya dimakan."
Mirasih mengangguk. "Hati-hati di jalan, Siti. Katakan pada Ibumu, kalau butuh apa-apa, datanglah kemari. Aku tidak akan pernah lupa pada orang-orang yang pernah memberiku makan saat aku susah.Ini untuk jajanmu di sekolah" Mirasih memberikan uang kepada Siti.
Siti menuntun sepedanya keluar pagar. Begitu pintu besi itu tertutup rapat di belakangnya, Siti merasa seolah-olah ia baru saja keluar dari dunia lain. Ia mengayuh sepedanya dengan kencang, napasnya memburu. Pikirannya kalut. Ia ingin segera sampai di sekolah, namun ia lebih ingin segera pulang untuk menceritakan segalanya pada Mak Inah.
Mirasih yang ia temui tadi bukan lagi Mirasih Calok mbak iparnya. Wanita itu adalah seseorang yang memiliki mata sedingin es dan hati yang sekeras batu berlian.
Di teras rumahnya, Mirasih menatap tas anyaman berisi arem-arem dari Mak Inah. Ia mengambil satu buah arem-arem, membukanya, dan memakannya sedikit. Air mata hampir saja menetes di sudut matanya saat merasakan rasa yang sangat ia kenali rasa kasih sayang seorang ibu yang tulus. Namun, ia segera menyeka matanya dengan kasar.
"Kasih sayang tidak akan melindungiku, Mak Inah," bisiknya pada angin pagi. "Hanya kekuatan ini yang bisa menjagaku agar tidak hancur lagi."
Ia membuang sisa arem-arem itu ke piring perak, lalu masuk ke dalam rumahnya yang megah, bersiap untuk meninjau beberapa pembangunan di desa nya dan desa sebelah.
Ia tidak tahu bahwa jauh di pinggiran kota Jakarta, Aditya sedang mengemas barang-barangnya yang sedikit, bersiap untuk kapanpun mendapat ijin mandor nya,dia akan langsung melakukan perjalanan pulang yang akan mengubah segalanya.
membawa Ningsih ke desa adalah
kehancuran mu
sampai kapan kau biarkan keadaan bgini
bahkan kau pun tak kan bisa membawa Mirasih kembali menemukan jiwa nya yg tergadai iblis
menarik kembali Mirasih yg dlu Aditya
selama kemewahan dari iblis dinikmati Mirasih yg dgn sukarela menggadaikan nyawa nya
semua kepalsuan itu di tanganmu sendiri Mirasih ...
mata hati mu tertipu iblis yg dulu kau benci
jodoh ngga ya sama mas Budi
kabut ghoib genderuwo tak akan membiarkan Mirasih lepas darinya
mungkin kah Budi penawar luka Mirasih setelah kehilangan Aditya