Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu
Siang itu, koridor Akademi Sakura tidak lagi berbisik; ia mulai berteriak. Provokasi Kaito Shindo di pagi hari ternyata hanyalah hulu ledak pertama. Saat jam istirahat tiba, papan pengumuman klub sastra dan beberapa loker siswa telah dipenuhi oleh selebaran gelap. Itu bukan coretan tangan amatir, melainkan salinan artikel berita lama dan dokumen akademik dari sebuah sekolah elit di Tokyo.
Judulnya mencolok: "Tragedi Sang Jenius: Bagaimana Satu Orang Menghancurkan Masa Depan Satu Kelas demi Peringkat Pertama."
Aku berjalan menuju ruang klub dengan langkah yang tetap tenang, meski tatapan di sekitarku kini bukan lagi berisi kecurigaan, melainkan ketakutan. Mereka melihatku seolah-olah aku adalah monster yang sedang menyamar menjadi tutor.
[Keahlian Analitis: Master]
[Status: Serangan Reputasi Tingkat Tinggi]
[Bahasa Sistem: Integritas Sosial Menurun ke Titik Kritis]
Saat aku membuka pintu ruang klub, suasananya begitu berat. Kelima gadis Nakano sudah ada di sana. Di tengah meja, tergeletak satu lembar selebaran yang sama. Ichika tampak memijat pelipisnya, sementara Nino berdiri dengan napas memburu, wajahnya menunjukkan kemarahan yang tertahan.
"Ren," Miku memanggil namaku, suaranya kecil namun stabil. "Kaito Shindo menyebarkan ini ke seluruh sekolah. Dia bilang... di sekolah lamamu, kau memanipulasi nilai teman-sekelasmu agar mereka gagal, supaya kau tetap menjadi satu-satunya aset yang dianggap berharga oleh universitas."
Aku menutup pintu di belakangku, menguncinya perlahan. Aku berjalan menuju meja dan duduk di kursi biasaku, menatap selebaran itu tanpa rasa terkejut. "Itu adalah interpretasi media atas kejadian tersebut. Namun, fakta bahwa sepuluh siswa mengundurkan diri karena tekanan yang aku ciptakan... itu adalah kebenaran."
"Kenapa?!" Itsuki bertanya, suaranya bergetar antara kecewa dan bingung. "Kau yang mengajari kami tentang kejujuran dan keberanian. Kenapa kau di masa lalu melakukan hal seperti itu?"
Aku menyandarkan punggungku, menatap langit-langit ruangan yang mulai temaram. Sifat dewasaku memberitahuku bahwa ini adalah momen di mana aku harus "telanjang" secara mental di depan mereka. Jika aku ingin mereka tetap percaya padaku dalam menghadapi Maruo, aku tidak bisa lagi menyembunyikan variabel tergelap dalam diriku.
"Karena dulu, aku tidak memiliki 'sistem' yang peduli pada kemanusiaan," ujarku dengan nada yang sangat jujur dan dingin. "Dulu, aku percaya bahwa hidup adalah kompetisi eliminasi. Aku melihat teman sekelasku bukan sebagai manusia, melainkan sebagai variabel pengganggu yang harus disingkirkan dari jalur suksesku. Aku memberikan mereka materi belajar yang salah, aku memanipulasi persaingan internal mereka... aku menang, tapi aku menghancurkan segalanya."
Nino melangkah maju, tangannya memukul meja dengan keras. "Dan sekarang? Apakah kami juga hanya variabel bagimu? Apakah kau membantu kami hanya untuk membuktikan pada Ayah bahwa kau lebih hebat darinya, lalu membuang kami setelah ujian selesai?!"
Ruangan itu menjadi sangat sunyi. Pertanyaan Nino adalah variabel paling berbahaya dalam hubungan kami. Aku menatap matanya yang basah karena amarah dan rasa takut akan dikhianati.
"Dulu, ya," jawabku jujur, membuat mereka tersentak. "Saat pertama kali aku bertemu kalian di pinggir jalan itu, kalian hanyalah target pekerjaan. Tapi..." aku berhenti sejenak, membiarkan emosi manusiaku mengambil alih protokol sistem. "Naskah yang kalian tulis, keberanian Miku di atas panggung, kemarahan Nino yang melindungi saudaranya... itu adalah variabel yang tidak ada dalam kalkulasi lamaku. Kalian bukan lagi sekadar target. Kalian adalah alasan mengapa aku memilih untuk tetap menjadi Ren Saiba, bukan mesin nilai yang diinginkan Kaito."
Aku berdiri, berjalan mendekati mereka. "Kaito Shindo menyebarkan ini karena dia ingin aku kembali menjadi monster itu. Dia ingin aku merasa terisolasi sehingga aku tidak punya pilihan selain menyerah pada cara-cara lamaku untuk menang. Tapi dia lupa satu hal."
Aku menatap Miku, lalu beralih ke yang lain. "Aku bukan lagi penulis yang bekerja sendirian. Jika kalian ingin membenciku karena masa laluku, aku menerimanya. Tapi jangan biarkan masa laluku menghancurkan masa depan yang sedang kalian perjuangkan."
Miku adalah yang pertama bergerak. Ia tidak menjauh; ia justru melangkah mendekat dan memegang ujung lengan kemejaku, persis seperti biasanya.
"Ren yang aku kenal tidak akan membuatkan smoothie cokelat hanya untuk memanipulasi nilai," bisik Miku, sebuah senyum tipis yang tulus muncul di wajahnya yang pucat. "Ren yang aku kenal adalah orang yang percaya pada suaraku saat aku sendiri tidak memilikinya. Masa lalu itu... biarlah menjadi draf yang buruk. Aku lebih suka bab yang sedang kita tulis sekarang."
[Bahasa Sistem: Kepercayaan Subjek (Miku Nakano) Berhasil Dipulihkan]
[Variabel Keberanian Kelompok: Meningkat]
Yotsuba mengusap air matanya dan mengangguk semangat. "Benar! Saiba-san yang sekarang adalah pahlawan kami! Dan pahlawan pasti punya masa lalu yang kelam sebelum jadi keren, kan?"
Nino mendengus, membuang muka untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. "Sialan... kau benar-benar pandai bicara. Baiklah, aku akan memegang kata-katamu. Tapi jika kau berani memanipulasi kami lagi, aku sendiri yang akan menghancurkan kepalamu dengan buku kalkulus ini."
Aku merasakan beban berat di pundakku sedikit terangkat. Dukungan mereka adalah "buffer" yang tidak diprediksi oleh Kaito atau Maruo. Namun, aku tahu Kaito tidak akan berhenti di sini. Dia akan mencoba menyerang titik terlemah dalam struktur belajar kami.
"Terima kasih," ujarku tulus. "Sekarang, buang semua selebaran itu. Kita punya sepuluh bab biologi yang harus diselesaikan sebelum matahari terbenam. Dan jika Kaito Shindo mencoba mendekati kalian lagi, biarkan aku yang menanganinya dengan cara yang... sedikit lebih analitis."
Sore itu, sesi belajar kami berlangsung dengan intensitas yang berbeda. Ada rasa solidaritas yang lebih dalam. Kami bukan lagi sekadar tutor dan murid; kami adalah sekutu dalam perang melawan persepsi dunia.
Namun, di balik jendela ruang klub, aku melihat sosok Kaito Shindo yang sedang berdiri di gerbang sekolah, menatap ke arah ruangan kami dengan senyum sinis. Ia memegang ponselnya, seolah sedang menunggu instruksi selanjutnya dari Maruo Nakano.
Badai yang sebenarnya baru saja akan mencapai daratan.