Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.
Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."
Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?
Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.
Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: TEROR MENINGKAT
Hari ke-1.590. Malam. Sekitar jam 2 dini hari.
"PA! PA! KAKAK! KAKAK!"
Jeritan Budi memecah malam. Aku sedang di dapur, ambil air minum. Darahku langsung berdesir. Keringat dingin keluar sekonyong-konyong. Gelas jatuh. Pecah. Aku tak peduli.
Aku berlari ke kamar Risma. Kakiku gemetar. Pincangku terasa lebih parah malam ini. Tapi aku paksakan.
Begitu pintu terbuka, aku lihat pemandangan yang membuat jantungku copot.
Jendela pecah. Kaca berserakan di lantai. Ada batu besar di tengah ruangan. Tapi bukan itu yang paling mengerikan.
Di dekat tempat tidur Risma... seekor ular.
Hitam. Besar. Melilit di kaki kursi tempat Risma terbaring. Lidahnya bercabang keluar masuk. Bergerak. Mencari mangsa.
Risma diam. Tak bisa berteriak. Tak bisa lari. Tak bisa apa-apa. Hanya matanya yang terbelalak ketakutan. Matanya besar. Bulat. Basah. Menatap ular itu. Menatapku. Memanggil tanpa suara.
Napasnya cepat. Cepat sekali. Seperti orang habis lari marathon. Dada kecil itu naik turun, naik turun, nggak berhenti.
Aku ambil sapu di pojok. Satu-satunya senjata yang ada. Kuterjang ular itu. Berulang kali. Sampai ia menggeliat kesakitan. Sampai ia lemas. Mati.
Bangkainya kulempar ke luar jendela.
Lalu aku gendong Risma. Tubuhnya ringan. Terlalu ringan. Tapi kali ini dingin. Sangat dingin. Seperti es.
Aku bawa dia ke kamar Budi. Gendong erat. Tubuhnya gemetar. Gemetar hebat.
"Udah, Nak... udah... ularnya mati. Bapak bunuh. Bapak lindungin kamu."
Risma diam. Tapi napasnya... napasnya seperti mau berhenti. Cepat, dangkal, nggak beraturan. Seperti orang kehabisan oksigen.
Dewi lari masuk. Wajahnya pucat pasi. Matanya merah habis bangun tidur. Begitu lihat Risma di gendonganku, ia langsung tahu ada yang salah.
"MAS, ADA APA?!"
Aku tunjuk jendela pecah. Bangkai ular di halaman. Risma yang pucat pasi di gendonganku.
Dewi jatuh duduk. Nangis. Nangis tanpa suara. Mulutnya terbuka, tapi suaranya nggak keluar. Hanya air mata yang mengalir deras.
Budi ikut nangis. "KAKAK! KAKAK!"
Aku lihat mereka bertiga. Dewi pingsan di lantai. Budi nangis di sampingnya. Risma di gendonganku, napas makin berat.
Malam itu, Joko tak hanya lempar batu. Ia kirim ular. Ke kamar anakku yang lumpuh. Yang tak bisa lari. Tak bisa berteriak. Tak bisa minta tolong.
Aku genggam kayu. Mau ke luar. Cari Joko. Bunuh dia. Rasakan bagaimana ular itu masuk ke perutnya.
Tapi Dewi—yang baru sadar—pegang kakiku. Lemah. Tapi cukup untuk membuatku berhenti.
"Mas... jangan... Risma butuh kamu... Budi butuh kamu..."
Aku lihat dia. Wajahnya pucat. Matanya sembab. Tangannya masih gemetar.
Aku lihat Risma. Di gendonganku, napasnya makin sesak. Matanya mulai sayu.
Aku lihat Budi. Ia pegang celanaku. Nangis. "Pa... jangan pergi... Budi takut..."
Kayu di tanganku jatuh. Aku jatuh duduk di lantai. Nangis. Nangis sejadi-jadinya.
Di kamar, Risma terbaring. Tubuhnya masih gemetar. Tapi matanya... matanya ke arahku. Basah. Lalu tangannya bergerak. Meraih.
Aku pegang tangannya. Dingin. Tulang-tulang kecil terasa di balik kulit tipis.
"Nak... maaf... maafin Bapak... Bapak belum bisa lindungin kamu..."
Risma diam. Tapi genggamannya... genggamannya erat. Kuat. Seperti dulu, saat ia masih bayi. Saat pertama kali ia pegang jariku di inkubator.
Seperti bilang, "Bapak sudah cukup, Pa. Bapak sudah hebat."
Tapi aku tak merasa hebat. Aku merasa gagal. Gagal total.
Dua jam kemudian. IGD rumah sakit.
Risma di ranjang. Monitor terpasang di mana-mana. Kabel menjalar dari dadanya. Selang oksigen di hidung. Suara tit... tit... tit... menemani malam.
Dokter jaga—dokter muda dengan kacamata tebal—memeriksa Risma. Wajahnya serius.
"Pak, ini serangan panik akut. Karena trauma berat."
Aku nggak paham. "Maksud Dokter?"
Dokter itu menjelaskan, "Anak Bapak tak bisa bicara. Tak bisa lari. Tak bisa berteriak. Jadi saat ketakutan, tubuhnya bereaksi dengan cara ini. Napas cepat, jantung berdebar, keringat dingin. Ini seperti... seperti ia terperangkap dalam ketakutannya sendiri."
Aku lihat Risma. Matanya terbuka. Menatapku. Tak mau terpejam. Takut kalau terpejam, ular datang lagi. Takut kalau terpejam, aku pergi.
Aku pegang tangannya. "Bapak di sini, Nak. Bapak nggak ke mana-mana."
Risma pegang balik. Erat. Sangat erat. Jari-jarinya yang biasanya lunglai, kali ini menggenggam dengan kuat.
"Pa... Pa..." panggilnya lirih. Hampir tak terdengar.
Aku nangis. "Iya, Nak. Pa di sini."
Matanya masih terus menatapku. Tak berkedip. Seperti takut kalau ia berkedip, aku akan hilang. Seperti ular itu akan datang lagi.
Dokter bilang, "Biarkan ia pegang Bapak. Itu membuatnya tenang. Kontak fisik penting untuk anak CP yang trauma."
Aku nggak kemana-mana. Duduk di sampingnya. Pegang tangannya. Sepanjang malam.
Pagi harinya, aku pulang sebentar. Risma di jaga Dewi.
Tapi begitu sampai rumah, aku lihat pemandangan aneh.
Dewi duduk di kursi Risma. Di depan jendela. Memandang kosong ke luar. Bibirnya komat-kamit. Bicara sendiri.
"Ri, aku pulang. Bawa nasi bungkus."
Dewi tak jawab. Masih memandang kosong. Bibirnya masih bergerak.
Aku dekati. "Ri? Dewi?"
Ia menoleh. Matanya kosong. Seperti nggak kenal aku.
"Mas, ular itu masuk lagi. Bunuh."
Aku kaget. "Ri, ular sudah mati. Semalam aku bunuh. Ini aman."
Dewi geleng. "Belum. Masih ada. Di kolong tempat tidur."
Ia berdiri. Ambil sapu. Berjalan ke kamar. Mencari ular di kolong tempat tidur.
Aku pegang dia. "Ri, nggak ada ular. Tenang. Udah nggak ada."
Dewi lepas. "ADA! KAU TAK LIHAT?!"
Ia berteriak. Matanya liar. Tangannya menunjuk ke kolong yang kosong.
Aku peluk dia. Erat. "Udah, Ri... udah... nggak ada ular. Aku di sini. Risma di rumah sakit. Budi di kamar. Semua aman."
Dewi nangis. Nangis histeris di pelukanku. Tubuhnya gemetar. Tangannya mencengkeram bajuku.
"Mas... aku takut... aku takut... ular itu terus datang... setiap aku pejam mata..."
Aku usap punggungnya. "Udah, Ri. Udah. Besok kita ke dokter. Ibu butuh istirahat."
Dewi diam. Tapi matanya masih kosong. Masih mencari ular yang nggak ada.
Aku tahu. Istriku mulai goyah.
Sejak malam ular, Budi berubah.
Ia nggak mau lepas dari aku. Ke mana pun aku pergi, Budi ikut.
Ke kamar mandi, ia nunggu di depan pintu. Ke dapur, ia duduk di kursi sambil pegang ujung bajuku. Ke luar rumah jemur baju, ia ikut. Kalau aku mau ke rumah sakit jenguk Risma, Budi nangis histeris.
"PA JANGAN PERGI! BUDI TAKUT!"
Aku gendong dia. "Nak, Pa jenguk Kakak. Kakak sakit."
"BUDI IKUT! BUDI TAKUT SENDIRI!"
Nggak ada pilihan. Aku gendong Budi ke mana-mana.
Di rumah sakit, Budi duduk di pangkuanku. Sambil pegang tangan Risma. Tiga bersaudara. Berdesakan di kursi kecil. Tapi hangat.
Risma lihat Budi. Matanya berbinar. Tangannya bergerak, menyentuh pipi Budi. Lembut.
"Kak... Budi takut," bisik Budi. "Tapi Budi jagain Kakak."
Risma tersenyum. Senyum tipis. Tapi itu cukup. Cukup buat Budi tenang.
Aku lihat mereka. Air mataku jatuh. Dua anakku. Satu berjuang dengan tubuhnya. Satu berjuang dengan ketakutannya. Tapi mereka saling menguatkan.
Malam ketiga setelah kejadian ular.
Aku jaga di rumah. Dewi tidur—dengan obat penenang dari puskesmas. Budi tidur di sampingku. Risma masih di rumah sakit, dijaga perawat.
Tiba-tiba, aku lihat bayangan di luar jendela.
Hitam. Sendirian. Joko.
Darahku mendidih. Amarah yang kupendam selama ini meledak.
Aku ambil parang di dapur. Lari ke luar. Tanpa pikir panjang.
"JOKO!"
Joko menoleh. Tersenyum. Senyum puas. Seperti sudah menunggu.
"Wah, Pak Aryo mau bunuh? Silakan."
Aku hantam parang. Tapi ia menghindar. Lari. Aku kejar. Lari sekencang-kencangnya. Kaki pincangku sakit. Tapi aku tak peduli.
Sampai di ujung gang, Joko berhenti. Di belakangnya, dua preman muncul. Badan besar. Muka garang. Satu bawa kayu, satu bawa celurit.
Joko tertawa. "Kau pikir gampang bunuh aku, Pak? Silakan. Tapi ingat, anakmu yang cacat itu masih di rumah sakit. Sendirian. Istrimu di rumah, pake obat penenang. Anakmu yang kecil, tidur di kamar. Kalau aku mati, anak buahku akan habisin mereka semua."
Aku berhenti. Parang di tangan gemetar. Gemetar hebat.
Aku ingat Risma. Di ranjang rumah sakit. Sendirian. Tanpa perlindungan.
Aku ingat Dewi. Di rumah. Pikun. Nggak sadar apa-apa.
Aku ingat Budi. Tidur di kamar. Tak tahu bahaya mengintai.
Parang jatuh. Bunyinya nyaring di aspal.
Aku kembali ke rumah. Langkah gontai. Berat. Seperti berjalan di lumpur.
Sampai di rumah, aku duduk di lantai. Nangis. Nangis seperti anak kecil.
Aku hampir jadi pembunuh. Demi Joko yang nggak berharga. Yang akan menghancurkan keluargaku kalau aku mati.
Budi bangun. Turun dari tempat tidur. Duduk di sampingku.
"Pa, kenapa nangis?"
Aku pegang dia. "Nggak papa, Nak. Pa cuma capek."
Budi diam. Lalu berkata, "Pa, Budi doain Pa kuat. Kayak Kakak."
Aku peluk dia. Erat. "Makasih, Nak. Makasih."
Pagi harinya, Pak RT datang.
Wajahnya tegang. Tapi matanya... matanya berbeda. Ada tekad di sana.
"Pak Aryo, maafkan kami."
Aku bingung. "Maaf apa, Pak?"
Pak RT duduk di kursi. Helaan napas panjang.
"Warga sini takut. Makanya diam. Preman, teror, api... kami cuma orang biasa. Takut kena imbas."
Aku diam. Nggak bisa nyalahin mereka. Aku juga takut.
"Tapi setelah lihat ular itu... setelah tahu Joko tega kirim ular ke anak Bapak yang cacat... kami nggak bisa diam."
Pak RT keluarkan flashdisk. Letakkan di meja.
"Ini rekaman CCTV dari rumah Pak Heru. Merekan semua teror Joko. Lempar batu. Coret pagar. Bahkan saat mereka masuk kirim ular."
Aku ambil flashdisk itu. Tanganku gemetar.
"Pak RT... ini..."
"Bukti, Pak. Lengkap. Wajah Joko jelas. Anak buahnya juga."
Aku nangis. Nangis di depan Pak RT. Nggak malu.
"Pak RT... makasih... makasih banyak..."
Pak RT pegang pundakku. "Kami akan jadi saksi, Pak. Joko harus dihukum. Nggak bisa dibiarkan."
Ia berdiri. Pamit. Tapi sebelum pergi, ia berkata, "Pak Aryo, Bapak nggak sendiri lagi. Warga di belakang Bapak."
Aku pegang flashdisk itu erat. Bukti. Akhirnya bukti.
Dua hari kemudian.
Polisi datang ke rumah. Dengan surat penangkapan.
"Pak Aryo, Joko sudah kami amankan. Dengan bukti CCTV dan kesaksian warga, dia nggak bisa mengelak."
Aku lihat Joko di dalam mobil polisi. Wajahnya merah. Matanya penuh kebencian. Tapi kali ini, tangannya diborgol.
Ia menatapku. Lama. Lalu tersenyum. Senyum aneh. Seperti masih punya as.
Mobil polisi pergi. Membawa Joko ke sel tahanan.
Aku berdiri di depan rumah. Lihat mobil itu hilang di ujung jalan. Lega. Tapi belum sepenuhnya.
Seminggu kemudian. Joko masih ditahan.
Tapi dari dalam sel, ia tetap kirim ancaman. Lewat pengacaranya, ia minta damai.
"Pak Aryo, klien saya tawarkan damai. Bapak cabut laporan, ia berhenti teror. Dan... ia kasih ganti rugi 30 juta."
Aku lihat pengacara itu. Jas rapi. Dasi mahal. Tapi matanya... matanya penuh tipu.
"30 juta? Untuk apa?"
"Untuk biaya pengobatan istri Bapak. Saya dengar Ibu Dewi sakit. Butuh biaya besar."
Aku diam. Ia tahu. Mereka tahu semua.
"Aku nggak butuh uangnya. Aku mau Joko dihukum."
Pengacara itu tersenyum. "Tapi Pak, proses hukum bisa lama. Bertahun-tahun. Sementara Ibu Bapak... butuh biaya sekarang."
Ia tinggalkan amplop. "Pikirkan, Pak. Damai atau lanjut. Tapi ingat, klien saya punya banyak uang. Banyak cara. Kalau Bapak tolak, lain kali bukan ular lagi."
Ia pergi. Meninggalkan aku dengan amplop di meja dan ancaman di kepala.
Di rumah, kondisi Dewi makin parah.
Ia sering bicara sendiri. Kadang tertawa sendiri. Kadang nangis tanpa sebab. Dokter bilang depresi berat. Butuh terapi rutin. Butuh obat mahal. Butuh psikiater.
Biaya 5 juta per bulan. Aku nggak punya.
Aku duduk di samping Risma. Risma di kursi, di rumah—sudah boleh pulang seminggu lalu. Matanya ke arahku. Menatap lama.
"Pa... Pa..." panggilnya.
Aku pegang tangannya. "Iya, Nak."
Ia lihat aku. Matanya bertanya. "Pa, kenapa sedih?"
Aku diam. Lalu kutanya dia. Pertanyaan yang nggak seharusnya kutanya ke anak 5 tahun.
"Nak, Bapak harus pilih. Hukum Joko atau rawat Ibu."
Risma diam. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia mengerti. Ia selalu mengerti.
Lalu tangannya bergerak. Meraih wajahku. Menyentuh pipiku. Lembut. Hangat. Seperti kapas.
"Pa... Ibu... Ibu..." bisiknya. Susah payah. Tapi jelas.
Aku nangis. Risma pilih ibunya. Ia rela Joko bebas, asal ibunya sembuh.
Aku peluk dia. "Makasih, Nak. Makasih."
Tapi di dalam hati, aku tak tahu. 30 juta bisa rawat Dewi berapa bulan? Setahun? Dua tahun? Sementara Joko bebas, bisa kapan saja balas dendam.
Malam itu, aku duduk di teras. Kursi kayu Mbah Kar. Pandangi amplop di tangan. 30 juta. Uang damai.
Di dalam, Dewi tidur dengan obat penenang. Budi di sampingnya. Risma di kursi, menungguku.
Di sel tahanan, Joko tersenyum. Ia tahu, ia akan menang lagi.
Aku harus putuskan. Besok pagi. Joko atau Dewi. Dendam atau keluarga.
Angin malam berhembus. Dingin.
Kursi di sampingku kosong. Tapi rasanya... seperti ada yang duduk. Mbah Kar. Menunggu jawabanku.
"Le, pilih yang benar," bisik angin.
Tapi mana yang benar?
Aku nggak tahu.
Sungguh nggak tahu.
[BERSAMBUNG KE BAB 30: KEPUTUSAN TERAKHIR]