NovelToon NovelToon
Serpihan Yang Patah

Serpihan Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:908
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Ariel tidak mau membuang waktu lagi dan segera ia keluar dari kamar Relia.

Ia memanggil Dokter Rendy dan perawat Maya yang sedang di ruang perawat.

"Rendy, Maya. Tolong siapkan ruang atas untuk pernikahan ku. Dan kamu Ren, tolong Carikan penghulu secepat mungkin. Sebelum Markus kembali dengan pengacaranya." ucap Ariel.

Rendy dan Maya sedikit terkejut ketika mendengar perkataan dari Ariel.

"Kamu mau menikah dengan Relia?" tanya Rendy.

Ariel menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.

Rendy sempat terpaku beberapa detik, mencoba mencerna kegilaan yang baru saja ia dengar.

Menikahi pasien trauma yang baru beberapa jam ditemukan pingsan di rumah sakit.

Ini bukan hanya melanggar protokol medis biasa, tapi ini adalah langkah nekat yang bisa mempertaruhkan reputasi Ariel. Namun, melihat sorot mata Ariel yang sedingin es namun setegas baja, Rendy tahu sahabatnya tidak sedang menerima saran.

"Riel, kamu sadar kan ini akan jadi berita besar?" Rendy berbisik

"Iya, Ren. Aku sadar. Dan sekarang cepat panggil penghulu sebelum Markus datang membawa pengacara."

Rendy menganggukkan kepalanya dan segera menuju ke lantai dua dimana ada keluarga pasien yang merupakan seorang penghulu.

Sementara itu Suster Maya membantu Relia mengganti gaun rumah sakitnya dengan sebuah setelan tunik putih bersih yang disediakan oleh staf rumah sakit.

Meski gerakan Maya sangat lembut, Relia sesekali meringis saat kain itu bergesekan dengan luka cambukan di punggungnya yang masih basah oleh salep medis.

"Pelan-pelan, Nona. Kamu sangat cantik," bisik Maya mencoba menenangkan.

Relia menatap pantulan dirinya di cermin kecil wastafel.

Wajahnya yang pucat, matanya sembap, dan ada lebam keunguan di sudut bibirnya.

Ia merasa seperti seorang pengantin yang paling tidak layak di dunia.

"Suster, apakah ini nyata? Apakah malaikat benar-benar mengirim Dokter Ariel untukku?"

Maya tersenyum haru sambil merapikan rambut Relia yang baru saja disisir rapi.

"Dokter Ariel bukan cuma malaikat, Relia. Dia adalah bentengmu sekarang. Percayalah padanya."

Kemudian Maya meminta Relia untuk duduk di kursi roda dan membawa ke lantai atas dimana acara akan diadakan.

Di dalam lift, jantung Relia berdetak kencang dan sesekali ia menggenggam erat tangannya.

Ia takut jika tiba-tiba ia pingsan dan banyak orang yang melihat keanehan Relia.

Pintu lift terbuka di lantai paling atas, sebuah area penthouse rumah sakit yang biasanya digunakan untuk pertemuan privat direksi.

Di sana, ruangan telah disulap secara sederhana namun khidmat.

Beberapa staf kepercayaan Ariel berdiri sebagai saksi, termasuk Dokter Rendy yang sudah berhasil membawa seorang penghulu yang kebetulan sedang berada di lingkungan rumah sakit.

Ariel berdiri di ujung ruangan, telah menanggalkan jas putih dokternya dan kini mengenakan kemeja biru navy yang pas di tubuhnya yang tegap.

Saat melihat Relia didorong masuk oleh Suster Maya, tatapannya melembut.

Ia melangkah maju, lalu berlutut di depan kursi roda Relia agar tinggi mereka sejajar.

"Relia, napas yang teratur," bisik Ariel pelan, menyadari jemari gadis itu memutih karena mencengkeram pegangan kursi roda.

"Tidak akan ada orang asing di sini. Hanya kita."

Relia mengangguk pelan, meski ketakutan masih membayangi matanya.

Kemudian Ariel membantu Relia untuk berdiri dan berjalan ke arah penghulu yang sudah menunggu mereka.

"A-aku takut, Dok." ucap Relia

Ariel menghentikan langkahnya, ia memutar tubuh menghadap Relia sepenuhnya.

Di depan semua saksi yang hadir, Ariel meraih kedua tangan Relia yang dingin dan bergetar, lalu mencium punggung tangan gadis itu dengan sebuah penghormatan yang membuat Relia terpaku.

"Jangan panggil aku 'Dokter' lagi di ruangan ini, Relia," bisik Ariel dengan suara yang dalam namun menenangkan.

"Panggil namaku, Relia. Mulai detik ini, aku bukan lagi psikiater yang mengobatimu, tapi pria yang akan menjadi tamengmu. Markas atau siapa pun harus melangkahi mayatku sebelum mereka bisa menyentuhmu."

Relia menelan salivanya dan setetes air mata jatuh di pipinya yang lebam.

Keberanian Ariel seolah mengalir ke dalam nadinya.

Dengan kaki yang masih lemas, ia melangkah maju mendekati meja kayu kecil di mana kitab suci dan berkas-berkas telah disiapkan.

Penghulu meminta Ariel untuk menjabat tangannya dimana prosesi akad nikah akan dimulai.

Prosesi dimulai dengan suasana yang begitu hening, hingga suara rintik hujan di luar jendela kaca besar lantai atas itu terdengar seperti iringan musik yang melankolis.

Ariel menjabat tangan sang penghulu dengan mantap.

Telapak tangannya terasa hangat dan kering, sangat kontras dengan tangan Relia yang dingin dan berkeringat.

"Saya terima nikah dan kawinnya Relia Shabrina binti Almarhum Febian dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

Kalimat itu diucapkan Ariel dalam satu napas yang tenang dan penuh otoritas.

"Sah?" tanya penghulu kepada saksi.

"Sah!" jawab Dokter Rendy dan para saksi lainnya serentak.

Relia memejamkan mata erat-erat dan menangis sesenggukan.

"Ssshhh....,"

Ariel mencium kening istrinya dan Relia mencium punggung tangan suaminya.

Setelah itu Ariel menandatangani buku pernikahan mereka berdua.

Setelah prosesi akad nikah yang singkat Dokter Rendy menyalami Ariel dengan tepukan mantap di bahu, sebuah isyarat dukungan tanpa kata atas keputusan besar sahabatnya.

"Selamat, Riel. Aku akan memastikan rekam medis dan berkas administrasinya disinkronkan dengan status barunya agar tidak ada celah bagi Markus," bisik Rendy serius.

Ariel mengangguk, lalu beralih kepada Relia yang masih tampak seperti dalam mimpi buruk yang perlahan berubah menjadi nyata.

Wajahnya masih pucat, namun genggaman tangan Ariel yang tak terlepas sejak tadi menjadi satu-satunya kekuatannya untuk tetap berdiri.

"Terima kasih semuanya," ucap Ariel kepada para saksi yang hadir.

"Saya mohon izin untuk membawa istri saya kembali ke ruang perawatan. Dia membutuhkan istirahat total."

Ariel kembali membantu Relia duduk di kursi roda.

Dengan lembut, ia mendorongnya menuju lift privat yang langsung terhubung ke bangsal eksekutif.

Di dalam lift yang berdinding cermin, Relia menatap pantulan mereka berdua.

Ia melihat dirinya yang hancur bersanding dengan pria sempurna yang kini menjadi suaminya.

"Ariel..." panggil Relia lirih.

"Ya?" Ariel menunduk, mendekatkan wajahnya ke arah Relia.

"Apakah ini berarti Mas Markus benar-benar tidak bisa mengambilku lagi? Meski Mbak Sarah yang memintanya?" tanya Relia dengan mata yang mencari kepastian.

Ariel menghentikan kursi roda tepat saat pintu lift terbuka.

Ia berjongkok di depan Relia, menatap langsung ke dalam manik mata gadis itu yang penuh ketakutan.

"Relia, dengarkan aku baik-baik. Secara hukum, mulai hari ini, akulah wali sahmu. Aku memiliki hak penuh atas keselamatanmu. Jika kakakmu atau suaminya datang, mereka harus berhadapan dengan tim pengacara Arkatama. Dan di negara ini, tidak ada yang berani melawan perlindungan kami."

Ariel mengusap pipi Relia yang tidak lebam dengan ibu jarinya.

"Kamu bukan lagi adik ipar yang bisa mereka injak-injak. Kamu adalah Nyonya Arkatama. Kamu punya kekuasaan sekarang, meski kamu belum menyadarinya."

Mereka sampai di kamar perawatan yang baru dan bukan lagi ruang Kenanga yang standar, melainkan sebuah VVIP Suite yang lebih mirip apartemen mewah dengan keamanan berlapis.

"Malam ini, tidurlah dengan tenang," ucap Ariel sambil membimbing Relia ke ranjang yang jauh lebih empuk.

"Aku akan ada di sofa itu. Aku tidak akan pergi ke mana-mana."

Relia berbaring miring, menghindari tekanan pada luka cambukan di punggungnya.

Ia menatap punggung Ariel yang sedang menelepon seseorang untuk memerintahkan tim keamanan untuk memperketat penjagaan rumah sakit.

1
Uthie
Awal cerita yg sudah sangat mengerikan 😰
Mundri Astuti
lagi napa ngga diborgol si, kan dah bahaya banget ...dari kemarin nafsu banget mau bunuh relia juga ..
Mundri Astuti
si Markus bener" ya, masih belum jera..miskinin sekalian dia biar ngga bnyk gaya ma ga berkutik
Mundri Astuti
usut sampe tuntas Ariel, siapa" aja dibelakang Markus yg ngebantu melrikan diri ..ringkus juga si Sarah.
mudah"an relia selamat
Herdian Arya
mungkin itu lebih baik, kalaupun lahir juga akan menderita punya bapak kelainan mental seperti Markus.
Mundri Astuti
lah relia kan belum nikah sama Markus, jatuhnya anak diluar nikah calon bayi relia, dan itu nasabnya pada ibu
my name is pho: iya kak.
total 1 replies
Herdian Arya
saking bencinya dengan Markus dan sarah pengen tak kremasi hidup hidup tuh 2 manusia iblis.
my name is pho: sabar kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!