Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Sore itu langit masih mendung. Sisa-sisa hujan membuat udara di sekitar mess karyawan terasa lembap. Angin membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan bau obat dan masakan sederhana dari dapur Kayla.
Sebuah mobil hitam berhenti pelan di depan mess. Pintu terbuka. Pak Zaenal turun lebih dulu, diikuti oleh Bu Zahra yang membawa beberapa kantong berisi buah, susu, dan makanan bergizi. Wajah keduanya tampak penuh perhatian.
“Kasihan sekali Nayla, semoga Allah beri kesembuhan,” gumam Bu Zahra lirih sambil menatap bangunan sederhana di hadapannya.
Pak Zaenal mengangguk. “Kayla anak yang kuat, tapi beban hidupnya terlalu berat untuk seusianya.”
Mereka melangkah mendekati pintu yang terbuka sebagian.
“Assalammualaikum,” ucap Pak Zaenal dengan lembut, penuh sopan santun.
Dari dalam, suara langkah kaki tergesa terdengar. Kayla tampak berdiri di sana dengan wajahnya tegang, pucat, matanya sembab, jelas baru saja menangis.
“Pak Zaenal ... Bu Zahra,” ucap Kayla dengan suaranya bergetar.
Bu Zahra langsung melangkah maju, memeluk Kayla dengan hangat. “Kayla, kamu baik-baik saja, kan?” tanyanya lembut, tangannya mengusap punggung Kayla.
Kayla mengangguk pelan, senyum tipis kini menghiasi wajahnya. “Alhamdulillah, Bu. Nayla juga sudah lebih sehat dan ceria lagi.”
Pak Zaenal hendak melangkah masuk dan pada saat itulah matanya menangkap sosok di ruang tamu kecil mess itu. Tubuhnya berhenti mendadak.
Di dalam, duduk Pak Ramlan dan Bu Aisyah. Tidak jauh dari mereka berdiri Dalfa, wajahnya tegang, rahangnya mengeras.
Langkah Pak Zaenal tertahan. Ekspresinya berubah dari khawatir menjadi terkejut, heran, dan waspada.
“Ramlan…? Aisyah…?” ucap Pak Zaenal pelan, hampir tidak percaya.
Suara itu membuat semua orang di dalam ruangan menoleh.
Pak Ramlan berdiri perlahan. “Zaenal ...?”
Wajahnya ikut berubah. Ada rasa terkejut, canggung, dan sedikit gelisah.
Bu Aisyah ikut berdiri, tangannya refleks merapikan kerudungnya. “MasyaAllah, Zaenal ... Zahra.”
Bu Zahra menatap mereka bergantian, matanya menyipit penuh tanda tanya. “Kalian, sedang apa di sini?”
Suasana mendadak kaku. Udara seperti menegang. Kayla berdiri di tengah, bingung, merasakan ketegangan yang tak terlihat tetapi sangat nyata.
Pak Zaenal melangkah masuk perlahan, tatapannya tajam tetapi terkendali. “Aku tidak menyangka akan bertemu kalian di sini,” katanya dengan nada tenang, tetapi sarat makna.
Pak Ramlan menarik napas panjang. “Kami datang untuk menjenguk Nayla juga.”
Pak Zaenal mengangguk pelan, tetapi jelas ia tidak puas dengan jawaban itu. Matanya beralih ke Dalfa yang berdiri agak menjauh. Tatapannya semakin dalam.
“Kalau boleh tahu apa urusan kalian dengan Kayla sampai datang ke mess-nya?” tanya Pak Zaenal langsung, tanpa basa-basi.
Hening. Kayla menunduk, jemarinya gemetar memegang ujung bajunya.
Bu Zahra menatap Kayla dengan penuh kelembutan, lalu menoleh kembali ke Pak Ramlan dan Bu Aisyah.
“Ramlan, Aisyah… kalian berdua orang yang aku hormati sejak dulu,” ucapnya pelan, tetapi tegas. “Tapi aku perlu tahu… kenapa kalian ada di sini, di saat Kayla sedang berada dalam kondisi seperti ini?”
Bu Aisyah menunduk, air mata kembali berkaca di matanya. “Zahra, kami datang ke sini tidak dengan niat buruk.”
Pak Zaenal menyilangkan tangan di dada, bukan sebagai bentuk marah, tetapi sebagai sikap protektif. “Kalau begitu, jelaskan,” katanya tenang, tetapi ada tekanan di setiap kata.
Dalfa melangkah maju. “Pak Zaenal…” suaranya rendah.
Namun, sebelum ia sempat melanjutkan, Pak Zaenal menatapnya tajam. “Sebentar,” katanya tegas. “Aku ingin mendengar dulu dari Ramlan dan Aisyah.”
Pak Ramlan menghela napas panjang, wajahnya tampak semakin tua dalam sekejap.
“Kami datang karena Dalfa ingin bertanggung jawab atas sesuatu yang terjadi di masa lalu,” ucapnya berat.
Mata Pak Zaenal menyipit. “Tanggung jawab seperti apa?” tanyanya tajam.
Ruangan kembali sunyi. Kayla menggigit bibirnya, tubuhnya bergetar.
“Dahulu, Dalfa sudah merenggut kesucian Kayla. Dia ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya itu,” jawab Pak Ramlan dengan lirih.
“Apa?! Brengsek kau, Dalfa!” teriak Pak Zaenal.
Bu Zahra melirik Kayla dengan penuh iba. Di saat itulah ketegangan terasa semakin memuncak bukan hanya antara dua keluarga, tetapi juga di dalam hati Kayla yang terjepit di tengah semuanya.
Begitu mereka mengetahui kebenarannya, wajah Pak Zaenal berubah tegang.
“Aku ingin menikahi Kayla, Om,” kata Dalfa.
Ashabi mengepalkan tangannya. Dia tidak terima jika kakaknya menikahi Kayla.
Bu Zahra menutup mulutnya, air mata mengalir.
Sebagai wali Kayla, Pak Zaenal berdiri tegak menghadap Dalfa.
“Saya tidak menerima pinangan ini.”
Dalfa menatapnya. “Pak Zaenal—”
Pak Zaenal mengangkat tangan, memotong. “Kayla sedang membangun kembali hidupnya. Dia sedang menata masa depannya. Dia tidak boleh dipaksa menikah karena rasa bersalah siapa pun.”
Ashabi menatap Pak Zaenal dengan lega.
Kayla menangis semakin keras.
Pak Zaenal menoleh lembut pada Kayla. “Kayla, kamu akan sekolah lagi. Kamu akan kuliah. Dan suatu hari nanti, kamu akan mengelola kembali perusahaan ayahmu.”
Kalimat itu membuat Kayla terisak. “A-apa maksud Bapak?” tanyanya terbata.
Pak Zaenal menatapnya dengan penuh kasih. “Aku sudah berhasil mengambil kembali perusahaan milik almarhum ayahmu dari tangan pengusaha licik yang merampasnya dulu.”
Kayla menutup mulutnya, tubuhnya bergetar hebat.
Air matanya mengalir deras, kali ini bukan karena sakit, tetapi karena haru.
“Pak, itu perusahaan milik Papa,” kata Kayla terisak.
Pak Zaenal mengangguk. “Dan sekarang, itu milikmu. Besok kita urus dokumennya.”
Kayla jatuh berlutut, menangis sejadi-jadinya. Fattan dan Fattah berlari memeluknya. Nayla yang masih lemah menatap kakaknya dengan mata polos.
Ashabi menatap Kayla dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bangga, haru, dan perih.
Dalfa berdiri terdiam, menyadari bahwa penebusan dosanya tidak sesederhana menikahi Kayla.
tp apa iya ya
tahan dlu dong
aduh gimna ini
dan ahh masih bikin bgg