Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 - Harga yang Tidak Bisa Ditunda
Keputusan itu datang tanpa dramatis. Tidak ada ledakan. Tidak ada teriakan. Hanya selembar kertas tipis di tangan Nadira, dan satu kalimat yang membuat seluruh tubuhnya terasa lebih berat dari sebelumnya.
Rehabilitasi intensif... minimal enam bulan. Tanpa aktivitas profesional berat. Tanpa perjalanan. Tanpa proyek lapangan.
Nadira membaca ulang. Sekali. Dua kali. Tangannya mengepal.
"Enam bulan?" Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
Dokter di depannya tidak menghindar. "Enam bulan awal."
"Aku tidak minta sembuh total." Nadira memotong cepat. "Aku minta cukup."
"Tubuhmu tidak hidup dari kata 'cukup'." Jawab dokter itu datar. "Ia hidup dari batas."
Batas... Kata itu lagi.
"Aku punya proyek." Kata Nadira. "Aku baru mulai bangun ulang hidupku."
"Dan kalau kamu lanjut sekarang." Dokter itu mencondongkan badan. "kamu akan mengakhiri semuanya lebih cepat. Permanen."
Nadira tertawa pendek. Suara itu kering. "Jadi pilihannya... hidup tapi hilang atau mati pelan-pelan sambil terlihat kuat?"
Dokter tidak tersinggung. "Pilihannya... menunda ambisi atau kehilangan kemampuan untuk memilih sama sekali."
Hening.
Nadira menunduk. Dadanya terasa ditekan dari dalam. Dia membenci tubuhnya. Ia membenci fakta bahwa semua yang ia bangun dengan darah, harga diri, dan kebencian yang terkelola. Harus dihentikan oleh sesuatu yang tidak bisa dia lawan.
"Kalau aku menolak?" Tanyanya.
"Tubuhmu akan menolakmu duluan."
Nadira mengangguk pelan.
Tangannya gemetar ketika menandatangani persetujuan rehabilitasi lanjutan. Setiap goresan pena terasa seperti memotong dirinya sendiri dari masa depan yang ia incar.
***
Arvin menerima email itu saat makan siang.
Subjeknya sederhana... Penempatan permanen disetujui.
Ia menatap layar lama.
Penempatan permanen berarti stabil. Berarti jalur karier jelas. Berarti kehidupan yang akhirnya tidak ditunda oleh kontrak sementara.
Dan berarti satu hal lain yang tidak tertulis... Ia tidak akan bisa kembali sesering itu.
Ia menutup laptop.
Di ruang staf, seorang rekan menepuk bahunya. "Selamat. Kamu layak."
Arvin tersenyum tipis. "Terima kasih."
Kata layak terasa ganjil.
***
Malamnya, ia menelpon Nadira. Nada sambung panjang.
Diangkat.
"Aku dapat penempatan permanen." Katanya tanpa pembukaan.
Di seberang, Nadira diam beberapa detik. "Selamat."
"Dan kamu?"
"Aku masuk fase rehabilitasi penuh."
Arvin menghela napas. "Enam bulan?"
"Minimal."
Hening.
"Arvin." Suara Nadira pelan, tapi tajam. "Aku tidak bisa jadi siapa pun sekarang. Aku bahkan tidak bisa jadi versi kuat dari diriku sendiri."
"Aku tidak minta itu."
"Tapi hidupmu akan jalan."
"Ya."
"Dan hidupku... berhenti."
Arvin menutup mata. "Hidupmu tidak berhenti. Ia menyelamatkan dirinya sendiri."
"Dengan mengorbankan semua yang aku kejar."
Arvin tidak langsung menjawab. Ada sesuatu di dadanya yang bergerak, keinginan lama untuk berkata aku akan menunggu, aku akan bertahan, aku tidak pergi.
Tapi ia ingat batas.
"Kalau aku ambil penempatan ini." Katanya pelan, "aku tidak akan ada secara fisik seperti sebelumnya."
"Aku tahu."
"Dan kalau aku menolaknya." Lanjut Arvin, "aku akan mulai membencimu dalam diam."
Nadira terdiam. Napasnya terdengar tidak stabil. "Aku tidak mau jadi alasan kamu membenci hidupmu sendiri." Katanya.
"Aku juga tidak mau jadi alasan kamu memaksakan tubuhmu."
Keduanya diam. Ini bukan perpisahan. Tapi juga bukan janji.
"Ambil." Kata Nadira akhirnya. "Jangan korbankan hidupmu untuk menemaniku sakit."
Arvin menelan ludah. "Dan kamu?"
"Aku akan bertahan." Jawab Nadira. "Dengan atau tanpa siapa pun."
Panggilan ditutup tanpa kalimat penutup.
Arvin duduk lama di ruang gelap. Untuk pertama kalinya, cinta tidak terasa romantis. Ia terasa seperti keputusan permanen yang menyisakan kehilangan di kedua sisi.
***
Raka mengemas barangnya dalam dua tas kain. Tidak banyak yang ia punya. Beberapa baju. Laptop tua. Buku catatan lusuh.
Pemilik ruko berdiri di pintu. "Aku kasih waktu sampai malam."
"Terima kasih."
"Bukan terima kasih." Balas pria itu. "Ini urusan bisnis."
Raka mengangguk.
Ia menutup pintu kamar. Menguncinya lalu menyerahkan kunci itu.
Di luar, panas siang memukul kepalanya. Ia berjalan tanpa arah, sampai duduk di trotoar, punggung bersandar ke tembok.
Ponselnya bergetar. Nomor tidak dikenal.
"Raka?" Suara perempuan. Tegas. Profesional.
"Ya."
"Kami dari tempat wawancara kemarin. Kami mau lanjut ke tahap berikutnya."
Dada Raka mengencang. "Kapan?"
"Besok pagi."
Ia tertawa pendek. "Saya... tidak punya tempat tinggal malam ini."
Hening di seberang.
"Kamu aman?" Tanya perempuan itu.
"Aman." Jawab Raka cepat. "Hanya... tidak nyaman."
"Kami bisa atur jadwal ulang."
"Tidak." Potong Raka. "Saya akan datang."
Telepon ditutup.
Raka menatap langit. Dadanya berat, tapi ada sesuatu yang bertahan, keras kepala yang tersisa.
Ia berdiri.
Malam itu, ia tidur di mushola kecil dekat terminal. Karpet tipis. Lampu redup. Ia berbaring, menatap langit-langit. Tidak ada siapa pun yang bisa ia hubungi tanpa kembali ke pola lama. Dan untuk pertama kalinya, ia memilih tidak diselamatkan.
***
Aluna duduk di kamar sempitnya, menatap layar laptop. Puluhan pesan masuk.
Bukan ancaman. Bukan hinaan. Pengakuan. Nama-nama. Cerita. Kronologi.
Ia membaca satu per satu.
Setiap kalimat menggerogoti sesuatu di dalam dirinya.
[Dulu aku percaya kamu.]
[Kamu bilang aman.]
[Kamu bilang tunggu proses.]
Tangannya gemetar. Kepalanya berdenyut. Ia menutup laptop, lalu membukanya lagi. Menolak membaca tidak menghapus apa pun.
Ia merekam suara, tanpa kamera. "Aku Aluna." Suaranya serak. "Dan aku akan bicara tanpa pembenaran."
Ia berhenti. Menarik napas.
"Tidak ada kalimat yang cukup untuk menutup apa yang aku lakukan. Tapi aku tidak akan sembunyi di balik sistem lagi."
Ia mematikan rekaman.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa lega setelah jujur. Kejujuran tidak menyelamatkan. Ia hanya membuka luka lebih lebar.
***
Nadira jatuh untuk ketiga kalinya hari itu.
Bukan jatuh dramatis. Hanya lutut menyentuh matras. Nafasnya tersengal. Keringat membasahi pelipis.
"Berhenti." Kata fisioterapis.
Nadira menggeleng. "Lima menit lagi."
"Tubuhmu tidak setuju."
"Aku tidak tanya tubuhku."
Ia mencoba bangkit. Kakinya bergetar hebat. Dunia berputar. Ia terduduk kembali, kali ini lebih keras. Tangannya menutup wajah.
"Aku benci ini." Katanya pecah. "Aku benci harus berhenti saat aku baru mulai."
Fisioterapis itu duduk di depannya. "Apa yang paling kamu takutkan?"
Nadira tertawa getir. "Dilupakan."
"Kamu tidak akan." Jawabnya tenang.
"Aku akan." Nadira membalas cepat. "Dunia tidak menunggu orang yang berhenti."
"Tubuhmu bukan dunia."
"Aku hidup di dunia, bukan di tubuhku."
Hening.
"Kamu salah." Kata fisioterapis. "Kamu hidup melalui tubuhmu."
Air mata Nadira jatuh tanpa suara. Ia tidak menghapusnya. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan kehancuran kecil itu terjadi tanpa melawan.
***
Malam itu, Arvin menandatangani kontrak. Tangannya stabil. Hatinya tidak.
Raka bangun subuh di mushola, punggungnya nyeri, tapi pikirannya jernih.
Aluna mengirim rekaman pengakuannya ke pengacaranya sendiri tanpa diedit.
Dan Nadira berbaring, menatap langit-langit rehabilitasi, tubuhnya sakit, egonya remuk, ambisinya ditunda.
Tidak ada yang menang hari ini. Tapi semua berhenti lari. Dan itu, di dunia mereka adalah perubahan paling berbahaya sekaligus paling jujur.
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚
𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁
𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠