Alisa Putri adalah seorang guru TK yang lembut dan penuh kasih, sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk keceriaan anak-anak.
Namun, dunianya yang berwarna mendadak bersinggungan dengan dunia dr. Niko Arkana, seorang dokter spesialis bedah yang dingin, kaku, dan perfeksionis.
Niko merupakan cucu dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja dan memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga reputasi keluarganya.
Pertemuan mereka bermula lewat Arka, keponakan Niko yang bersekolah di tempat Alisa mengajar.
Niko yang semula menganggap keramahan Alisa sebagai hal yang "tidak logis", perlahan mulai tertarik pada ketulusan sang guru.
Sebaliknya, Alisa menemukan bahwa di balik dinding es dan jubah putih Niko, tersimpan luka masa lalu dan tanggung jawab berat yang membuatnya lupa cara untuk bahagia.
Bagaimana kelanjutan???
Yukk baca cerita selengkapnya!!!
Follow IG: @Lala_Syalala13
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter Es
Berbeda dengan orang-orang di rumah sakit yang selalu menatapnya dengan rasa segan atau ketakutan, guru itu menatapnya dengan binar mata yang jernih.
Bahkan setelah ia bersikap dingin, wanita itu tetap tersenyum tulus.
'Senyum yang tidak masuk akal.' batin Niko ketus dan berusaha mengusir bayangan itu.
Baginya keramahan yang berlebihan sering kali terasa palsu tapi entah kenapa senyum Alisa tadi terasa sangat... nyata.
Siang harinya saat jam pulang sekolah hujan deras tiba-tiba mengguyur.
Alisa sedang sibuk membantu murid-muridnya memakai jas hujan ketika ia melihat sedan hitam yang sama kembali parkir.
Niko turun dari mobil dengan membawa payung besar berwarna hitam.
Niko berjalan menembus hujan, ia tidak melihat ke arah lain pandangannya terkunci pada pintu masuk sekolah.
Saat ia sampai di lobi yang mulai sepi, ia melihat Alisa sedang berjongkok sedang mengikat tali sepatu Arka yang lepas.
Pemandangan itu sangat domestik dan lembut membuat langkah Niko terhenti sejenak.
“Sudah siap?” tanya Niko dengan suaranya yang mengagetkan Alisa.
Alisa mendongak dengan beberapa helai rambutnya yang lepas dari ikatan tampak sedikit basah karena tempias hujan.
Ia berdiri dan merapikan rambutnya dengan gerakan yang bagi Niko terlihat sangat anggun tanpa disengaja.
“Eh Pak Niko, iya Arka sudah siap. Ini tasnya,” Alisa menyerahkan tas ransel bergambar pahlawan super itu kepada Niko.
Niko mengambil tas itu namun secara tidak sengaja jarinya bersentuhan dengan jari Alisa.
Hanya satu detik tapi itu cukup untuk mengirimkan sensasi aneh yang membuat Alisa langsung menarik tangannya dengan cepat dan wajahnya merona merah.
Niko juga tampak sedikit terkejut, namun ia jauh lebih ahli menyembunyikan emosinya, ia tetap diam dengan wajahnya sedatar papan tulis.
“Terima kasih Bu Alisa.” ucap Niko pendek.
Ia kemudian membuka payungnya menggandeng tangan Arka dan berjalan menuju mobil.
Hujan masih turun dengan derasnya, Alisa berdiri di lobi memeluk kedua tangannya sendiri karena hawa dingin mulai menusuk.
Ia menatap mobil Niko yang perlahan menghilang di balik gerbang sekolah.
Ada sesuatu yang aneh dalam dirinya, ia merasa takut namun juga penasaran secara bersamaan.
Alisa tahu pria seperti Niko yang kaya, dingin, dan memiliki posisi tinggi biasanya bukan tipe pria yang mudah didekati.
Namun ada satu hal yang Alisa sadari pagi itu adalah di balik jubah putih dan sikap dinginnya Dokter Niko Arkana berhasil membuat seorang Alisa Putri merasa penasaran untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun.
Dan bagi Niko meski ia tidak akan mengakuinya aroma parfum melati dari Alisa seolah menempel di kemejanya sepanjang sisa hari itu dan mengganggu fokus logikanya yang biasanya tak tergoyahkan.
Pertemuan singkat di bawah hujan itu menjadi babak awal dari sebuah cerita panjang yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Sebuah cerita di mana kehangatan akan mencoba mencairkan es dan di mana keheningan akan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Jika rumah sakit adalah sebuah kerajaan, maka Dokter Niko Arkana adalah pangeran mahkota yang paling disegani sekaligus paling dihindari jika seseorang tidak memiliki kepentingan medis yang mendesak.
Bagi Niko hidup adalah rangkaian algoritma yang presisi, segala sesuatu harus memiliki sebab, akibat, dan solusi yang efisien.
Tidak ada ruang untuk basa-basi dan tentu saja, tidak ada ruang untuk perasaan yang meluap-luap.
Pagi itu di lantai atas Rumah Sakit Medika Utama yaitu rumah sakit swasta bergengsi milik keluarganya, Niko baru saja menyelesaikan operasi appendectomy yaitu 'prosedur operasi untuk mengangkat usus buntu yang meradang atau terinfeksi (apendisitis).'
Ini merupakan tindakan darurat medis umum yang bertujuan mencegah pecahnya usus buntu yang dapat berakibat fatal, yang sebenarnya tergolong rutin bagi dokter sekelas dirinya.
Namun ia tetap melakukannya dengan ketelitian yang nyaris gila, ia melepaskan masker bedahnya memperlihatkan wajah yang tampak lelah namun tetap memiliki ketajaman yang mengintimidasi.
Niko melangkah menuju ruang sterilisasi, suara sepatu pantofelnya yang beradu dengan lantai marmer menciptakan irama yang teratur seolah memberi peringatan bagi siapa pun di lorong itu bahwa sang "Dokter Es" sedang lewat.
“Dokter Niko ini laporan pasien dari bangsal VIP nomor 402.” seorang perawat muda menghampirinya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Semua orang tahu, Dokter Niko tidak menyukai kesalahan sekecil apa pun dalam laporan.
Niko mengambil map itu tanpa bicara, matanya memindai barisan angka dan istilah medis di sana dengan kecepatan yang luar biasa.
“Dosis antibiotiknya terlalu tinggi untuk pasien dengan riwayat ginjal seperti beliau, koreksi dan berikan padaku sepuluh menit lagi.” ucapnya dingin, lalu menyerahkan kembali map tersebut tanpa memandang wajah perawat itu.
Ia terus berjalan menuju ruang pribadinya yang terletak di pojok lorong, sebuah ruangan yang lebih mirip perpustakaan medis daripada ruang kantor.
Di dindingnya, tidak ada foto keluarga atau pajangan seni yang mencolok tapi hanya ada deretan buku-buku kedokteran tebal dan beberapa sertifikat penghargaan internasional.
Niko menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja yang ergonomis, ia memijat pangkal hidungnya.
Kelelahan fisik bukanlah masalah baginya, ia sudah terbiasa dengan jadwal operasi yang padat.
Namun sejak kemarin ada sesuatu yang "tidak logis" yang terus mengganggu fokusnya.
Bayangan seorang wanita dengan senyum lembut di gerbang sekolah.
Niko adalah pria yang tumbuh dalam lingkungan yang sangat menuntut.
Kakeknya adalah pemilik tunggal rumah sakit ini, mendidiknya dengan keras.
Sejak kecil Niko diajarkan bahwa kelemahan terbesar seorang pria adalah emosinya.
Ia melihat bagaimana ayahnya hancur secara emosional setelah kepergian ibunya dan sejak saat itu Niko bersumpah tidak akan membiarkan dirinya dikendalikan oleh perasaan yang tidak bisa ia ukur dengan stetoskop.
Namun, Alisa... guru itu adalah sesuatu yang tidak terduga.
Niko teringat bagaimana Alisa menatapnya kemarin, tatapan itu tidak mengandung rasa takut juga tidak mengandung ambisi terselubung yang biasanya ia temui pada wanita-wanita yang mencoba mendekatinya karena status sosialnya.
Mata Alisa hanya mencerminkan ketulusan yang murni dan itu membuatnya sangat tidak nyaman.
"Sangat tidak penting." gumam Niko pada diri sendiri.
Ia meraih cangkir kopinya yang sudah dingin, ia benci sesuatu yang mengalihkan perhatiannya dari pekerjaan namun ia mendapati dirinya justru sedang memikirkan jadwal jemput Arka nanti sore.
Ponselnya bergetar di atas meja, sebuah pesan masuk dari kakaknya yaitu ibu dari Arka.
“Niko, maaf ya merepotkanmu terus. Kami masih harus di Singapura seminggu lagi. Tolong pastikan Arka tidak hanya makan nugget. Dan oh ya... bagaimana kabar Ibu Guru Alisa? Arka bilang kau mengantarnya kemarin.”
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...
ayo lanjut lagi