Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-Bangun di Tanah Deli.
Gelas kristal di tangan gue pecah, sama hancurnya kayak harga diri gue malam itu. Di depan mata, orang yang paling gue percaya tertawa di atas penderitaan gue tanpa rasa bersalah sedikit pun. Pandangan gue mengabur, napas gue sesak, dan hal terakhir yang gue ingat adalah sumpah yang gue bisikkan dalam hati: ‘Kalau ada kesempatan kedua, gue nggak akan jadi cewek naif lagi.’
Lalu, dunia mendadak gelap.
Gue terbangun bukan oleh suara mesin rumah sakit, melainkan oleh suara bising knalpot yang memecah keheningan pagi. Aroma udara Medan yang khas (campuran debu dan sisa hujan semalam) masuk lewat jendela yang terbuka sedikit. Gue terlonjak, menatap sekeliling. Ini kamar lama gue. Gue melihat kalender di meja rias... jantung gue hampir copot seolah kaya berhenti berdetak sesaat. Tahun 2020. Gue kembali ke enam tahun yang lalu.
Gue menatap pantulan cewek di cermin kusam itu. Ini adalah gue versi umur 19 tahun. Wajah yang belum mengenal kerasnya pengkhianatan, tapi juga wajah yang masih terlalu 'polos' dan mudah dibohongi. Di kehidupan sebelumnya, semester ini adalah awal mula gue terjebak dalam lubang hitam yang menghancurkan masa depan gue.
Gue meraba almamater kampus yang tersampir di kursi. Di masa depan, gue mati sebagai pecundang. Tapi sekarang? Gue punya waktu enam tahun untuk menjadi predator sebelum mereka sempat memangsa gue. Medan bukan lagi tempat kuliah yang membosankan, tapi medan perang.
Gue mengusap pipi gue yang masih kenyal, menyeringai tipis. Hari ini adalah hari pertama gue menyusun peti mati buat mereka. Dan kali ini, gue yang akan jadi pemenangnya.
...
Gue melangkah masuk ke ruang kelas. Aroma parfum citrus mahal langsung menyerbu indra penciuman gue. Gue tahu itu dia bahkan tanpa harus menoleh. Aroma yang dulu bikin gue mabuk kepayang, sekarang cuma bikin lambung gue mual.
"Hai, gue Gavin. Lo yang namanya Memey, kan?"
Gue berhenti, lalu perlahan menoleh. Di sana dia berdiri, bersandar di meja dengan gaya sok keren yang dulu selalu berhasil bikin gue salah tingkah. Matanya menatap gue intens—tatapan yang dulu gue pikir adalah kekaguman, tapi sekarang gue tahu itu adalah tatapan seorang predator yang baru menemukan mainan baru.
"Gue perhatiin dari tadi pas forum diskusi, argumen lo berani banget. Gue suka energi lo. Pinter dan... beda," katanya sambil tersenyum manis, memamerkan deretan gigi rapinya yang menjijikkan.
Dia menunjuk poni rata gue dengan ujung pulpennya. "Poni lo lucu, persis karakter Memey. Gue panggil Memey aja ya biar akrab?"
Di kehidupan dulu, gue pasti sudah tersipu malu, menunduk, dan merasa spesial karena dikasih nama panggilan "imut" oleh sang pangeran kampus. Tapi sekarang?
Gue menatap matanya dalam-dalam, tanpa ada keraguan sedikit pun. "Oh ya? Makasih, Gavin," jawab gue pendek. Suara gue datar, dingin, dan penuh percaya diri—nada bicara yang nggak seharusnya dimiliki oleh cewek 'udik' yang dia remehkan.
Gue bisa lihat kilat kebingungan di matanya selama satu detik. Gavin nggak terbiasa diabaikan secepat itu.
"Satu kelompok, kan? Mau bahas tugas bareng nanti sore di kafe depan?" tanyanya lagi, mencoba mengambil kendali.
Gue membetulkan posisi kacamata kotak gue, lalu tersenyum tipis—senyum yang nggak sampai ke mata. "Sori, gue sibuk. Kirim aja bagian lo di grup, nanti gue koreksi kalau ada yang salah. Gue duluan ya."
Gue melenggang pergi gitu aja, meninggalkan Gavin yang mematung sendirian. Ini baru pemanasan, Vin. Lo suka cewek pinter dan percaya diri, kan? Gue bakal kasih lo versi terbaik dari itu, sampai lo bertekuk lutut... sebelum akhirnya gue hancurkan berkeping-keping.