NovelToon NovelToon
Jerat Sumpah Sang Mantan

Jerat Sumpah Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Menikahi tentara / Ibu susu / Mantan
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.

Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.

Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.

Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.

Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?

"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Sisa Kasih yang Masih Ada

     ​Pagi itu, udara Depok masih menyisakan sisa-sisa embun yang dingin. Di dalam kamar bawah, Saliha masih terbaring lemah. Meski demamnya sedikit turun berkat kompresan Daviko semalam, badannya masih terasa linu dan dadanya masih sangat nyeri.

     Namun, ketenangan pagi itu terusik oleh suara deru mobil yang berhenti di depan gerbang, diikuti oleh suara langkah kaki dan suara bariton yang sangat mirip dengan Daviko.

     ​"Assalamualaikum! Daviko, di mana kamu?"

     ​Daviko yang baru saja selesai mandi dan mengenakan kaos hitam santai, segera bergegas menuju ruang tamu. Matanya membelalak melihat dua sosok yang sangat ia hormati berdiri di sana.

     ​"Wa'alaikumsalam. Mama? Papa?"

     ​Mama Davira langsung memeluk putra satu-satunya itu dengan erat, sementara Papa Arkaffa, pria dengan tubuh tegap yang masih aktif di kesatuan TNI di kota lain itu, menepuk bahu Daviko dengan bangga sekaligus prihatin.

     ​"Maafkan Papa dan Mama baru bisa datang sekarang, Dav. Kamu tahu sendiri, sehari sebelum almarhumah Amara melahirkan, pamanmu meninggal dunia. Papa tidak bisa meninggalkan tugas keluarga di sana," ucap Papa Arkaffa dengan suara berat yang berwibawa.

     ​"Tidak apa-apa, Pa. Davi mengerti," jawab Daviko tenang.

     "Lalu, gimana sekarang keadaan cucu papa. Apa dia sehat, terus ASInya gimana? Dia bisa minum susu formula?" cecar Papa Arkaffa penasaran, sebab sejak datang, ia dan istrinya belum melihat penampakan bayi Daviko.

     ​Namun, belum Daviko menjawab, sesosok wanita dengan langkah gontai keluar dari arah dapur menuju kamar mandi bawah.

     Saliha, dengan wajah pucat dan kain yang tersampir di bahunya, tidak menyadari kehadiran tamu di ruang tamu. Langkahnya terhenti, seketika matanya bertabrakan dengan mata Mama Davira.

     ​Gelas di tangan Mama Davira hampir saja terlepas. "Saliha?" Mama Davira masih mengenali wajah Saliha.

     ​Suasana mendadak beku. Papa Arkaffa pun ikut menatap wanita muda yang tampak sangat kuyu itu dengan dahi berkerut.

     Mereka tentu tidak lupa. Saliha adalah wanita yang dulu hampir menjadi menantu mereka. Wanita yang fotonya pernah dikenalkan pada mereka sebagai calon istri Daviko, dan wanita yang dulu sempat membuat Daviko kehilangan semangat hidup saat pernikahan itu gagal.

     ​"Lho, kenapa ada Saliha di sini, Dav?" tanya Mama Davira dengan nada bingung, bukan marah.

     ​Daviko menghela napas panjang. Ia sudah menduga momen ini akan datang. Ia pun menceritakan semuanya, tentang kondisi Kaffara yang menolak susu formula, tentang lowongan ibu susu, hingga kondisi medis Saliha yang secara tak sengaja membuatnya kembali ke rumah ini.

     "Dia melamar lowongan pekerjaan yang kamu sebar di media online tanpa tahu siapa yang membuat berita lowongan itu?" sentak Mama Davira.

     "Iya, Ma. Dia melamar pekerjaan itu. Davi juga tidak sangka kalau dia datang ke sini untuk melamar pekerjaan menjadi ibu susu Kaffara," jelas Daviko.

     ​"Jadi, dia menyusui Kaffara?" Papa Arkaffa bertanya untuk memastikan.

     Daviko mengangguk pelan.

​Berbeda dengan reaksi Bu Ratna dan Tari kemarin yang penuh kebencian, Mama Davira justru terdiam lama. Ia menatap Saliha yang kini berdiri mematung di dekat pintu dapur, menunduk dalam seolah ingin ditelan bumi.

     Sebagai seorang ibu, Mama Davira melihat sesuatu yang lain. Meskipun dulu sempat kecewa oleh Saliha, tapi ia tidak melihat kebencian yang dalam pada perempuan muda yang kini terlihat sangat memprihatinkan itu.

     ​"Saliha, kemarilah!" panggil Mama Davira lembut.

     ​Saliha melangkah mendekat dengan ragu. Ia bersimpuh dan meraih tangan Mama Davira. "Maafkan saya, Tante... Om... saya hanya...." Tenggorokan Saliha tercekat.

​ Mama Davira meraih tangan Saliha dan terkejut merasakan suhu tubuh Saliha yang masih hangat.

     "Ya Tuhan, kamu demam?"

     ​"Dia sakit, Ma. Payudaranya bengkak karena ASInya terlalu banyak semalam," jawab Daviko dengan nada sedatar mungkin, seolah ia tidak peduli.

     ​Mama Davira menatap putranya dengan pandangan menghakimi. Namun, dalam hati Mama Davira memaklumi sikap Daviko. Ia melihat sang anak seperti masih menyimpan luka lama ketika menatap Saliha.

     "Dan kamu membiarkannya hanya diam di kamar sempit itu? Daviko, dia sedang menghidupi anakmu! Dia memberikan nyawa untuk cucu Mama!"

     ​Tanpa mempedulikan tatapan dingin Daviko, Mama Davira menuntun Saliha kembali ke kamarnya. Papa Arkaffa hanya mengangguk pelan pada istrinya, lalu duduk di sofa bersama Daviko.

     Pria paruh baya itu menatap putranya dengan bijak.

     ​"Dav, Papa tahu lukamu masih ada. Tapi, jangan biarkan kebencian itu membutakan matamu dari rasa kemanusiaan. Saliha mungkin pernah salah, tapi lihatlah dia sekarang. Dia datang di saat anakmu membutuhkan nyawa. Bukankah itu sebuah rencana Tuhan yang tidak bisa kamu bantah dengan pangkatmu?" ucap Papa Arkaffa tenang.

     Daviko diam, seolah tidak ada kata-kata untuk bicara.

     Sementara ​di dalam kamar bawah yang sempit, Mama Davira duduk di tepi ranjang Saliha. Ia meminta Bi Tita yang baru saja kembali dari urusannya untuk menyiapkan air hangat dan handuk baru.

     ​"Biar tante yang lakukan, Saliha. Kamu berbaringlah," ucap Mama Davira saat Saliha mencoba menolak.

     ​"Tapi Tante... ini tidak pantas. Saya hanya pekerja di sini," isak Saliha pecah. Ia merasa tidak pantas menerima kelembutan ini setelah apa yang ia lakukan pada Daviko dulu.

     ​"Sstt... diamlah. Tante melakukan ini demi Kaffara, dan juga demi kamu. Tante tahu, kamu menolak Daviko dulu karena tidak ingin melangkahi kakakmu, kan? Tante tahu beban yang kamu rasakan saat itu," ucap Mama Davira sangat memahami.

    Kemudian, Mama Davira mulai mengompres dada Saliha dengan sangat telaten dan lembut. "Dunia ini memang sempit Saliha. Kalau Tuhan sudah menakdirkan pertemuan ini, maka secara tidak diduga, kita dipertemukan lagi, meskipun dengan keadaan yang berbeda."

     ​Saliha menangis sesenggukan. Kelembutan Mama Davira adalah hal yang paling ia butuhkan setelah berhari-hari dihujani hinaan oleh keluarga Amara dan sikap dingin Daviko.

     Rasa hangat dari kompresan itu perlahan meredakan nyeri yang menyiksa, tapi kehangatan dari kata-kata Mama Davira-lah yang menyembuhkan batinnya.

     "Terimakasih banyak Tante. Saya sungguh tidak pantas mendapat kebaikan dari Tante...." Tangis Saliha kembali pecah.

     Sebagai orang yang pernah melukai putranya, rasanya ia tidak pantas mendapat perlakuan lembut seperti itu.

     "Sudah, jangan terlalu berpikir yang tidak-tidak. Apa yang tante lakukan adalah bentuk kemanusiaan. Kamu tenang saja, kamu juga harus sembuh, sebab cucu saya butuh asupan ASI yang sehat darimu."

     Tidak mereka sadari, di balik pintu kamar itu, Daviko menyaksikan isakan tangis Saliha dan kelembutan hati sang mama. Harusnya Mama Davira berhak marah atas perbuatan Saliha dahulu, tapi yang ditunjukkan justru kelembutan dan merangkul Saliha.

​ ​ Pikiran Daviko kembali kacau. Ia menatap Kaffara yang sedang terlelap di box bayi di ruang tengah. Ia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah dia benar-benar membenci Saliha karena pengkhianatan itu, atau dia membenci dirinya sendiri karena masih memiliki sisa-sisa rasa setiap kali melihat Saliha menderita?

     ​Daviko berbalik, berjalan menuju teras rumah dengan langkah berat. Ia butuh udara segar. Ia butuh menjauh dari aroma Saliha yang mulai memenuhi kembali paru-parunya, aroma yang secara perlahan mulai meruntuhkan dinding es yang ia bangun selama empat tahun ini.

1
Arin
Takut banget harta Daviko benar-benar jatuh ke tangan Saliha😁😁😁. Padahal kepikiran aja gak Saliha. Dia udah sakit hati banget ke Daviko, Tari. Berarti dirimu yang berusaha deketin kakak iparmu demi hartanya, biar gak jatuh ke orang lain. Kalau bisa ya dirimu yang dilirik Daviko, jadi hartanya aman....
Farid Atallah
di tunggu up selanjutnya 🤪
Farid Atallah
maksih up nya Thor, ceritanya bagus sekali ☺️
semangat ya😚
Farid Atallah: semoga hari ini bisa up lagi 🤭
total 2 replies
Oki Rulianti
alhamdulillah,,up nya bnyak banget..cpet2 di sah kan aja..🤭🤭
Nasir: Ditunggu ya.
total 1 replies
Ai Oncom
Makasi kak dah up banyak, tpi ttp berasa kurang..🤭 ttp semangat di tunggu up selanjutnya..😄
Nasir: Mksh ya Kak... 🥰🥰🥰
total 3 replies
Pipit Rahma
penasaran keluarga saliha kemnh. bukannya ada kakaknya?
Nasir: Orang tuanya sudah meninggal, kakak Saliha yg perempuan setelah menikah, dibawa merantau oleh suaminya ke Pulau Sulawesi. Kisahnya sudah saya selipkan sedikit di bab2 awal. Tapi gak dijabarkan secara gamblang. Begitu Kak... lanjut ya.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
Alhamdulillah.. Terima kasih up nya kak..
Nasir: Sama2 Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Pipit Rahma
lanjut semangat....
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
koq blm up kak..?
Farid Atallah
kok blm up sih Thor 😥
Nasir: Besok aja ya Kak. Jam segini idenya msh ngambang.. 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Farid Atallah
semangat selalu 🤭
Farid Atallah
di tunggu up selanjutnya ya Thor 😚
Nasir: Siap Kak... mksh dukungannya.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Mama lilik Lilik
nah,mentingin ego sama kemakan omongan mantan mertua nya,tinggal penyesalan,rasain tuh🤭
Dini Hidayani
lanjut dong lagi ramai nih
Nasir: Iya Kak... nanti ya....
total 1 replies
Ai Oncom
lanjut donk kak..🙏
Nasir: Hehe... nanti sore ya....
total 1 replies
Tini Uje
lanjott thor..tpi ntar dlu deh masih ngos ngosan 😅🫰
Nasir: Hehheeh.... tenang Kak.... 🙏🙏
total 1 replies
Ai Oncom
makin seru ceritanya..
Nasir: Mksh Kak..
total 1 replies
Tini Uje
dipinggirin dlu duo dajjal npa thor..pokus salihah sama daviko aja dlu 🤭
Nasir: Hehehh..... 👍👍👍👍
total 1 replies
Arin
Makanya hati-hati dengan mulut.... Sekali terucap hal yang menyakitkan hati akan terus terasa dan diingat....
Nasir: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Afternoon Honey
sudah saya kirim ☕ tambah 🌹
Nasir: Wahhhh.... mksh byk Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!