Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan Dua Alam
Homestay Ibu Wayan, Ubud, Pukul 07.00
Kabut pagi masih menggantung rendah di atas sawah ketika Ferdy bangun. Tubuhnya terasa ringan, pikiran jernih setelah tidur nyenyak dan pencerahan kecil di Besakih. Dia sudah menunggu-nunggu pertemuan hari ini dengan Pak Ketut. Pesan singkat malam sebelumnya memberi tahu sebuah lokasi:
"Temu di jalan setapak sebelum jembatan bambu Campuhan, yang menuju ke hutan kecil di tepi Sungai Oos. Saya tunggu pukul 08.00."
Ferdy mengenakan celana training dan kaos oblong hitam, plus jaket tipis untuk menahan angin pagi. Dia meninggalkan kamera besarnya di kamar, hanya membawa ponsel dan botol air. Ini bukan hari untuk memotret pemandangan. Ini hari untuk memotret jiwa.
Jalan Setapak Menuju Sungai Oos, Pukul 07.45
Udara sejuk dan lembap. Jalan setapak berliku menuruni tebing, dikelilingi oleh vegetasi tropis yang lebat: pohon-pohon tinggi, pakis, dan tanaman merambat.
Suara gemericik air sungai mulai terdengar dari bawah, bercampur dengan kicauan burung yang bersahutan. Ferdy berjalan dengan tenang, menikmati kesunyian yang hanya sesekali pecah oleh suara monyet di kejauhan.
Di sebuah tikungan, dia melihat Pak Ketut sudah menunggu. Penjaga pura tua itu hari ini mengenakan kain kamben polos warna putih dan udeng putih, sebuah tanda kesucian. Di tangannya ada sebuah tas kecil anyaman daun lontar.
"Selamat pagi, Mas Ferdy," sapa Pak Ketut dengan senyum ramah. Matanya yang tajam memandang Ferdy, lalu tanpa sengaja, melirik ke sebelah kanan Ferdy—ke ruang kosong di sampingnya—dan senyumnya berubah menjadi senyum kecil yang penuh pengertian dan… hormat. Dia mengangguk pelan, seolah menyapa seseorang.
Ferdy tahu. Pak Ketut bisa merasakan—atau bahkan melihat—Dasima yang berdiri di sampingnya.
"Pagi, Pak Ketut. Terima kasih sudah mau menemani lagi."
"Sama-sama. Mari kita lanjutkan." Pak Ketut berbalik dan memimpin jalan menyusuri jalan setapak yang semakin sempit, menuju ke sebuah ceruk kecil di tepi sungai.
Tempat itu tersembunyi di balik batu-batu besar dan akar-akar pohon beringin yang menjuntai ke air. Suara sungai di sini lebih keras, menciptakan white noise yang menenangkan.
"Mari duduk di sini," kata Pak Ketut, duduk bersila di atas batu datar yang sudah licin oleh waktu. Ferdy duduk di depannya.
Dasima, seperti biasa, memilih posisi di samping Ferdy, duduk di atas batu lainnya, wujudnya samar-samar dalam sorot cahaya matahari pagi yang menembus daun.
Pak Ketut kembali menatap ke arah Dasima, lalu menutup matanya. "Hari ini, kita tidak akan memaksa. Kita hanya akan mendengarkan. Dengarkan suara sungai. Dengarkan suara angin. Dan dengarkan… suara dari dalam diri."
Dia mulai melantunkan sebuah mantra Bali dengan suara rendah dan monoton, seperti gumaman yang menyatu dengan gemuruh air.
Ferdy menutup mata, mengikuti instruksi. Napasnya mulai sinkron dengan mantra Pak Ketut. Kali ini, prosesnya lebih cepat. Pikiran yang biasanya ribut, kini lebih mudah diam.
Dia bisa merasakan energi tempat itu mengalir melalui tubuhnya: energi hidup dari air yang mengalir, energi tua dari batu dan akar pohon beringin, dan energi lain yang lebih halus dan personal—energi Dasima yang seperti bunga melati yang mekar di tengah hutan.
Lalu, Pak Ketut berhenti bermantra. Dalam keheningan yang hanya diisi suara alam, dia berbicara dengan suara normal, namun terdengar sangat jelas.
"Ada banyak dunia yang berlapis, Mas Ferdy. Dunia kita yang kasar, dunia halus, dunia para leluhur, dunia para dewa. Dan kadang, jiwa-jiwa dari satu dunia terikat dengan jiwa dari dunia lain. Ikatan itu bisa karena cinta, karena janji, atau karena hutang."
Dia berhenti, membuka mata, dan menatap langsung ke arah Ferdy—atau lebih tepatnya, ke arah ruang di samping Ferdy.
"Dan kadang, ikatan itu begitu kuat, sehingga melampaui batas kematian dan kelahiran kembali."
Ferdy membuka mata, melihat Pak Ketut yang sedang tersenyum lembut ke arah 'kekosongan' di sampingnya.
"Apakah… Pak Ketut bisa melihatnya?" tanya Ferdy pelan.
"Tidak dengan jelas. Hanya seperti bayangan kabur di balik tirai air terjun. Tapi energinya sangat kuat, dan sangat… murni. Dia adalah jiwa yang sangat tua, dan sangat setia."
Pak Ketut mengangguk hormat. "Dan dia… sangat mencintaimu. Cinta yang telah dimurnikan oleh waktu yang sangat panjang."
Ferdy menelan ludah. Mendengar orang lain—seorang yang ia hormati—mengatakan hal itu dengan yakin, membuat perasaannya menjadi nyata dalam cara yang baru.
"Apa yang harus saya lakukan, Pak? Saya… saya juga mencintainya. Tapi saya juga hidup di dunia ini, dengan tanggung jawab dan… orang lain."
Pak Ketut menghela napas. "Itulah tantanganmu, Nak. Kau bukan orang pertama dengan keadaan seperti ini. Dalam tradisi kita, ada cerita tentang seseorang yang dinikahkan dengan roh penjaga leluhur, atau yang memiliki pasangan gaib. Tapi hidupmu di dunia nyata juga harus dijalani."
Dia menatap Ferdy tajam. "Kau sudah bertemu dengan 'cahaya dari kehidupan sekarang'-mu, bukan?"
Ferdy terkejut. "Bagaimana Pak Ketut tahu?"
"Energimu, saat kau menyebutnya atau memikirkannya, berbeda. Lebih… manusiawi. Lebih hangat dan sekaligus lebih gelisah. Itu adalah energi dari ikatan yang masih hidup, yang masih mungkin tumbuh."
"Jadi saya harus memilih?"
"Tidak harus memilih satu dan meninggalkan yang lain. Pikirkanlah seperti ini: kau memiliki dua tangan. Satu tangan memegang pusaka dari masa lalu, sebuah janji yang harus kau tepati. Tangan yang lain memegang benih dari masa kini, yang bisa kau tanam dan pelihara untuk masa depan. Bisakah kau memegang keduanya? Mungkin. Tapi berat. Dan kau harus sangat kuat, dan sangat jujur pada keduanya."
Pak Ketut kemudian menoleh lagi ke arah Dasima. "Dan yang terutama, kau harus jujur padanya. Dia telah menunggu lama. Dia layak mengetahui kebenaran dari hatimu, semua kebenaran. Termasuk tentang perasaanmu pada wanita di dunia nyata itu."
Ferdy merasa dadanya sesak. "Tapi saya tidak bisa berbicara dengannya secara langsung. Hanya melalui perasaan."
"Di tempat ini, dengan energi yang mendukung, dan dengan bantuan… mungkin kau bisa mencoba." Pak Ketut berdiri.
"Saya akan memberi kalian ruang. Saya akan duduk di balik batu besar itu, menjaga agar energi negatif tidak mengganggu. Cobalah. Bicaralah padanya. Tidak dengan mulut, tapi dengan hati. Dan dengarkanlah jawabannya. Dengarkan dengan perasaanmu yang paling jernih."
Pak Ketut pergi, menghilang di balik bongkahan batu besar, meninggalkan Ferdy sendirian—atau hampir sendirian—di tepi sungai yang riuh.
Ferdy menutup matanya kembali. Dalam hatinya, ia memanggil, "Dasima."
"Aku di sini, Raden." Jawabannya datang lebih jelas dari sebelumnya, seolah-olah suara itu terdengar di telinga batinnya, bukan hanya sebagai perasaan.
"Pak Ketut… dia bisa merasakanmu."
"Aku tahu. Dia orang baik. Energinya bersih."
"Dasima… tentang Kirana…" Ferdy berhenti, mencari kata-kata di dalam jiwanya.
"Aku… tidak bisa menyangkal bahwa dia berarti bagiku. Dia baik, tulus, dan dia… ada di sini. Di dunia yang sama denganku."
Ada keheningan panjang. Ferdy bisa merasakan kesedihan yang dalam dari energi di sekitarnya.
"Kau mencintainya?" tanya Dasima, suara batinnya bergetar.
"Aku… aku sayang padanya. Tapi cintaku padamu… itu berbeda. Itu seperti… bagian dari jiwaku yang hilang akhirnya kembali. Seperti rumah. Cinta untuk Kirana… itu seperti melihat taman yang indah dari jendela rumah. Aku mengaguminya, aku ingin menjaganya, tapi… rumahku adalah kamu."
Metafora itu keluar dengan sendirinya, polos dan jujur.
Dasima tidak langsung menjawab. Ferdy bisa merasakan gejolak energinya: sedih, lega, cemburu, penerimaan.
"Aku telah menunggu lima ratus tahun," akhirnya suara Dasima terdengar, penuh air mata yang tak terlihat.
"Aku rela menunggu lima ratus tahun lagi jika itu untuk kebahagiaanmu. Jika wanita itu… jika Kirana bisa memberimu kebahagiaan yang tidak bisa aku berikan—sentuhan nyata, percakapan di siang hari, kehidupan bersama di dunia ini—maka… aku harus belajar melepaskan."
"Tidak!" protes Ferdy dalam hati, keras. "Aku tidak mau kau pergi. Aku tidak mau melepaskanmu. Kamu adalah alasan aku mencari jawaban ini. Kamu adalah bagian dari diriku yang baru aku temukan."
"Lalu apa yang kau inginkan, Raden? Kau tidak bisa memiliki kami berdua. Itu tidak adil untuk kami, dan akan menyiksamu."
"Aku… aku tidak tahu. Tapi aku janji, apapun yang terjadi, kamu akan selalu menjadi bagian dari hidupku. Aku akan menemukan cara. Aku akan mengambil keris itu, aku akan menyelesaikan hutang jiwa kita, dan kemudian… kita akan lihat. Mungkin ada jalan. Pak Ketut bilang, aku punya dua tangan."
Keheningan lagi. Lalu, Ferdy merasakan sebuah sensasi yang aneh: seperti ada tangan yang sangat halus dan dingin menyentuh pipinya. Sebuah sentuhan nyata, meski sangat samar.
"Kau masih sama, Raden. Selalu mencari jalan ketiga ketika dihadapkan pada dua pilihan yang sulit."
Suara Dasima terdengar seperti tersenyum kecil. "Baiklah. Aku percaya padamu. Lakukan apa yang harus kau lakukan. Ambil kerisnya.
Bawa ke sini."
"Dan kita akan menghadapi apapun yang datang, bersama-sama. Tentang Kirana… kita akan berpikir nanti. Setelah kau tahu seluruh kebenaran tentang siapa dirimu… siapa kita."
Keputusan itu membuat Ferdy lega. Dia tidak harus memilih sekarang. Dia punya misi yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
"Terima kasih, Dasima. Untuk segalanya."
"Terima kasih untuk kejujuranmu, Raden. Itu yang paling kuhargai."
Pak Ketut kembali muncul, seolah tahu percakapan batin mereka sudah selesai.
"Sudah selesai?"
"Sudah, Pak. Terima kasih."
"Bagus. Sekarang, kau harus kembali ke dunia nyata untuk sementara. Jalankan misimu. Ambil pusaka itu. Dan ketika kau kembali ke Bali, kita akan bertemu lagi di Besakih. Untuk langkah berikutnya."
Mereka berjalan kembali menyusuri jalan setapak. Di perjalanan, Pak Ketut sesekali masih melirik ke samping Ferdy dan tersenyum hormat. Saat mereka sampai di pertigaan jalan, Pak Ketut berhenti.
"Perjalananmu panjang, Nak. Tapi ingat, kau tidak sendirian. Kau punya penjaga dari masa lalu, dan… kau punya teman-teman di masa kini. Jangan lupakan mereka."
Dia menjabat tangan Ferdy. "Selamat jalan. Sampai jumpa lagi."
Ferdy berpamitan, hati dipenuhi dengan resolusi baru. Dia akan pulang ke Banyuwangi, mengambil keris yang tersembunyi, dan membawanya kembali ke Bali. Dan untuk Kirana… untuk sekarang, dia akan jujur tentang perasaannya yang masih mencari bentuk, dan berterima kasih atas kesabarannya.
Perjalanan spiritual di Bali mungkin belum selesai, tapi hari ini, di tepi sungai yang tersembunyi, dia telah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga daripada penglihatan atau wangsit: sebuah komunikasi yang jujur dengan cinta masa lalunya, dan sebuah rencana untuk maju ke depan—dengan kedua tangannya terbuka, siap memegang warisan dari dua waktu yang berbeda.