"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: MASUK KE SARANG SERIGALA
Udara di dalam gudang tua di pinggiran dermaga itu terasa apek, berbau garam busuk dan oli mesin. Julian membawaku ke sini—sebuah tempat yang ia sebut sebagai "kantor cadangan"—setelah kami meninggalkan rumah sakit. Ia melempar sebuah laptop tua ke atas meja kayu yang sudah lapuk, lalu menyandarkan tubuhnya di dekat jendela, memantau jalanan dengan pistol yang kini ia letakkan di pinggang celananya.
Aku duduk di kursi besi yang dingin, membuka buku catatan bersampul kulit hitam yang tadi kucuri dari brankas kantorku sendiri. Jemariku yang masih sedikit tremor mulai membalik halaman demi halaman. Di dalamnya bukan hanya terdapat diagnosa psikologis, melainkan sebuah peta jalan menuju pembusukan moral kota ini.
"Kau tahu apa yang kau pegang itu?" suara Julian memecah kesunyian. "Itu adalah surat kematian jika ada orang lain yang melihatnya."
"Ini adalah daftar riwayat hidup mereka, Julian," balasku tanpa menoleh. "Setiap manusia punya celah. Bahkan predator yang paling haus darah sekalipun memiliki ketakutan yang mereka sembunyikan di ruang terapi. Walikota, Kepala Jaksa, hingga pengusaha real estat—semuanya tercatat di sini dengan kode '0,1%'."
Aku berhenti pada sebuah nama yang digarisbawahi dua kali dalam catatanku: Adrian Vane.
"Adrian Vane," gumamku. "Pemilik klub malam The Abyss. Di sinilah pusat operasional mereka. Di buku ini, aku mencatat bahwa Adrian memiliki kecenderungan paranoia akut. Dia tidak percaya pada siapa pun, bahkan pada rekan-rekannya di Klub 0,1%. Dia mengumpulkan 'jaminan' dari setiap anggota agar mereka tidak mengkhianatinya."
"Dan kau ingin menemuinya?" Julian mendekat, raut wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan yang nyata. "Zura adalah salah satu aset kesayangannya. Jika kau masuk ke sana sekarang dengan kondisi seperti ini, dia akan segera menyadari kau bukan bonekanya yang penurut. Kau hanya akan berakhir di dasar pelabuhan dengan kaki terikat semen."
"Itu sebabnya aku tidak akan masuk sebagai Zura yang penurut," kataku sambil berdiri. Aku menatap bayanganku di monitor laptop yang gelap. "Aku akan masuk sebagai Zura yang memegang rahasia paling berbahaya bagi Adrian. Aku akan menggunakan ketakutannya untuk menghancurkan aliansi mereka dari dalam."
Malam itu, kota tampak seperti sirkus cahaya yang kejam. The Abyss terletak di sebuah bangunan industrial yang telah direnovasi, tersembunyi di balik dinding beton polos namun dijaga oleh pria-pria berjas dengan earpiece.
Aku mengenakan gaun merah tua yang disediakan Julian—salah satu pakaian lama Zura yang tertinggal di apartemen rahasianya. Gaun itu sangat terbuka, memperlihatkan tato ular di lenganku dengan jelas. Aku memakai riasan tebal untuk menutupi pucatnya wajahku akibat sakau yang terus menyerang. Setiap langkahku menuju pintu masuk terasa seperti berjalan di atas paku, namun otak Valerie yang dingin memaksa tubuh ini untuk tetap tegak.
"Ingat," suara Julian bergema di earpiece kecil yang kusembunyikan di balik rambut bob kasarku. "Aku ada di van di seberang jalan. Jika dalam tiga puluh menit kau tidak keluar, aku akan memanggil unit pembersih dan menganggapmu sudah mati."
"Tiga puluh menit sudah lebih dari cukup untuk membakar tempat ini," jawabku pelan sebelum melangkah masuk.
Suara dentum musik techno menghantam dadaku begitu aku melewati pintu kedap suara. Bau alkohol, asap rokok elektrik, dan keringat memenuhi udara. Ruangan itu remang-remang, dipenuhi oleh orang-orang kaya yang mencari pelarian dari moralitas. Di tengah lantai dansa, aku melihat beberapa wanita yang penampilannya sangat mirip denganku—aset-aset lain milik Adrian.
Aku tidak membuang waktu. Aku berjalan langsung menuju tangga di pojok ruangan yang menuju ke lantai mezanin, area pribadi sang pemilik. Dua penjaga bertubuh besar menghalangi jalanku.
"Zura?" salah satu dari mereka mengernyit. "Adrian bilang kau sedang 'beristirahat' di hotel. Bagaimana kau bisa di sini?"
Aku menatapnya dengan tatapan merendahkan yang biasanya kuberikan pada saksi ahli yang berbohong di pengadilan. "Katakan pada Adrian bahwa hotel itu sudah menjadi TKP pembunuhan, dan jika dia tidak ingin namanya menjadi tajuk utama besok pagi, dia harus menemuiku sekarang."
Penjaga itu ragu sejenak, namun nada bicaraku yang penuh otoritas membuatnya menyingkir. "Masuklah. Tapi dia sedang tidak dalam suasana hati yang baik."
Aku membuka pintu ruang kantor Adrian. Ruangan itu sangat kontras dengan hiruk-pikuk di bawah; sunyi, dingin, dan dipenuhi dengan karya seni mahal yang tampak ganjil. Adrian Vane duduk di balik meja kaca besar, sedang menuangkan wiski ke dalam gelas kristal. Ia adalah pria berusia empat puluhan dengan wajah yang terlalu halus, hasil dari berbagai prosedur kosmetik.
"Zura," katanya tanpa menoleh. "Kau punya bakat unik untuk tidak mematuhi perintah. Harusnya kau sudah menjadi mayat yang cantik di samping walikota sekarang. Kenapa kau merusak naskahnya?"
Aku berjalan mendekat, menarik kursi di depan mejanya, dan duduk dengan kaki menyilang. Aku tidak menunjukkan ketakutan. "Naskahmu terlalu amatir, Adrian. Mengirim Julian untuk membersihkanku? Kau tahu sendiri dia bisa dibeli."
Adrian akhirnya mendongak. Matanya yang tajam memindai wajahku. Ia berhenti pada mataku. "Kau... ada yang salah denganmu. Kau tidak menangis. Kau tidak memohon. Sejak kapan kau punya nyali untuk bicara seperti ini padaku?"
"Sejak aku menyadari bahwa aku memegang kunci brankas Dr. Valerie," kataku tenang. Aku meletakkan sebuah foto hasil fotokopi dari buku catatan hitamku di atas meja kacanya.
Adrian meraih kertas itu. Saat ia membaca isinya—detail tentang transaksi gelapnya dengan kartel pelabuhan yang ia ceritakan dalam sesi terapi rahasia—wajahnya yang halus mulai menegang. Gelas di tangannya bergetar sedikit.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan ini?" desisnya.
"Dr. Valerie adalah wanita yang teliti, Adrian. Dia mencatat setiap dosa yang kalian ceritakan. Dan tebak apa? Dia memberikanku akses itu sebelum dia 'bangun' dengan jiwa yang berbeda," aku berbohong dengan lancar, menciptakan narasi yang masuk akal bagi logikanya yang paranoia. "Sekarang, Klub 0,1% mengira aku adalah masalah kecil yang bisa dibuang. Tapi sebenarnya, aku adalah bom waktu yang sedang berdetak di tanganmu."
Adrian berdiri, amarah terpancar dari wajahnya. "Kau mengancamku? Di tempatku sendiri?"
"Aku menawarkan aliansi," koreksiku. "Walikota sedang mencoba mencuci tangannya dan menjadikanmu kambing hitam atas kematian pria di hotel itu. Dia mengirim polisi ke sini dalam dua jam untuk melakukan 'penggeledahan rutin'. Jika kau membunuhku sekarang, rahasia ini akan otomatis terkirim ke biro investigasi federal melalui sistem dead-man switch yang sudah kusiapkan."
Ini adalah gertakan murni, tapi bagi pria sepertinya, ini adalah kenyataan yang masuk akal.
Adrian terdiam. Paranoianya mulai bekerja, persis seperti diagnosa yang kutulis di buku hitamku. Ia mulai meragukan rekan-rekannya sendiri. "Apa yang kau inginkan, Zura?"
"Aku ingin kau membawaku ke pertemuan rahasia Klub 0,1% malam ini di kediaman walikota. Aku ingin kau memperkenalkanku sebagai orang yang memegang 'jaminan' mereka. Kita akan menguasai mereka bersama, atau kita hancur bersama."
Aku bisa merasakan keringat dingin mengucur di punggungku saat Adrian berjalan mengitariku. Ia menyentuh bahuku dengan jari-jarinya yang dingin. "Kau berubah menjadi monster yang menarik, Zura. Atau haruskah aku memanggilmu dengan nama lain?"
"Panggil aku sebagai orang yang akan menyelamatkan lehermu," jawabku dingin.
"Baiklah," Adrian tersenyum tipis, senyuman seorang sosiopat. "Kita lihat seberapa jauh nyalimu ini akan membawamu. Tapi ingat satu hal, jika kau mencoba mengkhianatiku, aku tidak akan membunuhmu. Aku akan menyerahkanmu kembali ke dokter bedah yang melakukan 'pertukaran' itu padamu. Dia punya cara yang lebih menyakitkan daripada kematian."
Aku menelan ludah. Dokter bedah? Jadi benar, ada pihak ketiga yang melakukan eksperimen ini.
"Aku mengerti," kataku sambil berdiri.
Saat aku keluar dari ruangan Adrian, aku mendengar suara Julian di earpiece. "Kau masih hidup? Kau gila, Valerie. Kau baru saja masuk ke sarang serigala dan meyakinkan mereka bahwa kau adalah serigala yang lebih besar."
"Aku bukan serigala, Julian," bisikku sambil berjalan melewati lantai dansa yang riuh. "Aku adalah pawang yang sedang menggiring mereka semua menuju kandang yang akan kubakar."
Malam ini, rencana besar dimulai. Aku akan menghadapi "diriku sendiri" dan seluruh arsitek konspirasi ini dalam satu meja. Valerie mungkin telah kehilangan raganya, tapi ia tidak pernah kehilangan taringnya.l