NovelToon NovelToon
Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas dendam pengganti / Dunia Lain
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: indri sanafila

Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.

Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".

Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.

Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Frekuensi yang Tertinggal

Suasana di perkebunan teh Malabar nggak pernah sesunyi ini. Biasanya, suara angin yang nabrak daun teh kedengeran kayak bisikan yang nenangin, tapi sekarang, angin itu cuma bawa sisa-sisa bau logam terbakar dan debu perak yang masih melayang pelan.

Langit di atas sana udah biru lagi, bersih dari kabel-kabel raksasa alien, tapi buat Sekar, langit itu kelihatan kayak penjara besar yang barusan nelan Adrian bulat-bulat.

Sekar berdiri di pinggir tebing, matanya sembab tapi tatapannya nggak kosong. Di tangannya, dia megang Jantung Emas milik Adrian. Benda itu ukurannya nggak lebih gede dari buah mangga, tapi beratnya kerasa kayak manggul seluruh beban dunia. Jantung itu nggak diem. Dia berdenyut. Deg... deg... deg... suaranya pelan banget, tapi tiap detakannya ngirim getaran anget yang nembus sampai ke tulang sumsum Sekar.

"Lu mau berdiri di situ terus sampai jadi fosil, atau lu mau bantuin gua?" suara parau Aris mecah lamunan Sekar.

Aris lagi jongkok di deket reruntuhan gubuk tua yang dulu jadi tempat persembunyian mereka. Kondisinya berantakan banget. Setengah badan mekaniknya udah gosong, kabel-kabel di tangan kirinya keluar-keluar kayak mi instan tumpah, dan oli item netes dari pelipisnya. Tapi Aris tetep Aris; dia nggak mau kelihatan lembek.

"Gua lagi mikir, Ris," jawab Sekar pendek sambil jalan nyamperin Aris.

"Mikir nggak bakal bikin si bos balik, Kar. Kita butuh alat. Kita butuh tenaga. Dan yang paling penting, kita butuh otak itu jantung buat ngomong," Aris nunjuk Jantung Emas di tangan Sekar pake dagunya.

Sekar duduk di sebelah Aris, naruh jantung itu di atas meja kayu yang kaki-kakinya udah miring. Anehnya, begitu jantung itu nyentuh meja, debu-debu perak di sekitar meja langsung kedorong menjauh, seolah-olah benda itu punya zona perlindungan sendiri.

"Lu liat ini?" Aris nunjuk ke sebuah layar hologram kecil yang dia keluarin dari lengan mekaniknya. Layarnya kedap-kedip, nampilin grafik yang naik turun nggak beraturan. "Pas Adrian ngebom portal itu, dia nggak cuma ngerusak sistem mereka. Dia ngirim satu paket data terakhir lewat frekuensi low-band. Gua sempet nangkep dikit sebelum semuanya ilang."

"Maksud lu... Adrian masih hidup?" mata Sekar langsung nyala. Harapan itu muncul lagi, lebih kenceng dari sebelumnya.

"Gua nggak bilang dia lagi santai sambil minum kelapa muda di sana, Kar. Tapi sinyal ini... ini sinyal biologis. Jantung yang lu pegang itu sebenernya transmitter dua arah. Adrian di sana bertindak sebagai beacon atau mercusuar, dan jantung ini adalah penerimanya."

Aris batuk, ngeluarin sedikit asap dari sela-sela lehernya. "Masalahnya, portal itu udah ketutup total. Secara hukum fisika yang gua tahu, dia udah nggak ada di dimensi kita. Kalau kita mau jemput dia, kita nggak bisa pake pesawat roket biasa. Kita harus bangun kembali teknologi Malabar, tapi bukan buat pamanen energi... melainkan buat ngebuka lubang jarum antar dimensi."

Sekar ngelihat sekeliling. "Gimana caranya? Malabar udah hancur. Laboratorium bawah tanah Bokap Adrian udah ketutup reruntuhan. Kita cuma berdua, Ris."

"Lu lupa ya? Gua ini produk gagal yang paling pinter yang pernah dibikin Dirgantara Group," Aris nyengir sombong, meski mukanya kelihatan nahan sakit. "Dan lu... lu punya memori asli 'The Ancients' di kepala lu. Kita punya bahan bakunya, kita punya kuncinya. Kita cuma butuh ngebangun ulang pemancar utama di puncak gunung."

Hari-hari berikutnya jadi hari yang paling melelahkan buat mereka berdua. Nggak ada waktu buat sedih-sedihan atau ngeratapi nasib. Sekar bener-bener berubah. Dia nggak lagi jadi cewek yang cuma ngikutin instruksi. Dia jadi mandiri, tangguh, dan sangat teliti.

Dia yang manjat-manjat tiang transmisi yang miring buat nyambungin kabel-kabel optik, sementara Aris jadi otak di balik layar monitor darurat mereka.

Mereka mulai ngebongkar sisa-sisa raga mekanik Cleaners yang jatuh di sekitar kebun teh. Logam perak dari alien itu ternyata sangat lentur kalau dipanasin pake energi dari Jantung Emas. Sekar belajar gimana caranya ngalirkan sedikit energi dari jantung itu ke tangannya buat ngelas komponen-komponen mikro.

"Lu tahu nggak, Kar?" Aris ngomong sambil nyolder sirkuit. "Adrian itu sebenernya orang paling keras kepala yang pernah gua temuin. Dia itu 'The Shark' bukan karena dia kejam, tapi karena dia nggak pernah berhenti berenang. Sekalinya dia berhenti, dia mati. Dan gua yakin, di sana, dia lagi berenang ngelawan arus buat nyari jalan balik."

Sekar senyum tipis sambil ngelap keringat di jidatnya. "Gua tahu. Makanya gua nggak mau kalah sama dia. Kalau dia bisa nahan ledakan portal, gua harus bisa ngebangun jalan buat dia pulang."

Minggu kedua, mereka berhasil ngaktifin kembali menara komunikasi rahasia di bawah air terjun emas. Tempat itu nggak tersentuh ledakan karena dilindungin sama formasi batuan purba. Begitu sistemnya nyala, Jantung Emas di tengah ruangan mulai bersinar lebih terang.

Ting... ting... ting...

Suara itu muncul dari speaker tua di pojokan ruangan.

"Itu apa?" tanya Sekar cepet.

"Itu koordinat, Kar! Tapi... jauh banget. Di luar sistem tata surya kita. Bahkan di luar galaksi Bima Sakti. Dia ada di pusat nebula yang sistemnya bener-bener beda," Aris ngetik cepet di keyboard-nya. "Sinyalnya lemah, tapi stabil. Adrian pake sisa-sisa energi di badannya buat ngejaga frekuensi ini tetep nyala."

Sekar ngedekat ke arah Jantung Emas itu. Dia nyoba nyentuh permukaannya yang anget. "Adrian... kalau lu bisa denger gua... tahan sebentar lagi. Kita lagi nyari cara."

Tiba-tiba, jantung itu ngeluarin proyeksi hologram kecil. Bukan gambar Adrian, tapi barisan kode-kode rumit yang terus muter. Sekar ngerasa kepalanya mendadak pening. Memori 'The Ancients' di otaknya mulai bereaksi. Dia ngerasa kayak ngelihat peta jalan tol antar bintang yang sangat kompleks.

"Ris, gua tahu gimana caranya," kata Sekar tiba-tiba. Suaranya dalem, kayak bukan suara dia yang biasa.

"Gimana? Lu jangan bilang mau loncat pake payung ya."

"Kita nggak butuh pesawat besar. Kita butuh ngerubah seluruh area Malabar ini jadi lensa raksasa. Menara-menara teh yang masih ada itu... mereka sebenernya adalah antena penerima energi kosmik.

Kalau kita bisa sinkronisasiin semua menara itu pake Jantung Emas sebagai porosnya, kita bisa bikin Einstein-Rosen Bridge lubang cacing langsung ke koordinat Adrian."

Aris berenti nyolder. Dia natap Sekar kayak ngelihat hantu. "Lu sadar kan apa yang lu omongin? Itu butuh energi yang gede banget. Kalau gagal, satu pulau Jawa bisa ilang dari peta."

"Tapi kalau berhasil, Adrian balik," jawab Sekar mantap. "Dan bumi bakal punya perlindungan permanen dari serangan mereka selanjutnya."

Aris diem sebentar, terus dia ngehela napas panjang. "Oke. Gua emang udah bosen hidup normal. Mari kita bikin sejarah gila ini."

Persiapan dimulai. Mereka berdua kerja kayak robot. Sekar pake kemampuannya buat "ngomong" sama tanah Malabar. Dia nanem kembali benih-benih teh yang udah dimodifikasi pake energi emas. Pohon-pohon teh itu tumbuh dalam hitungan jam, tapi warnanya bukan hijau lagi, melainkan hijau keemasan yang bersinar tiap kali malem tiba.

Akar-akar pohon teh ini berfungsi sebagai kabel alami yang ngehubungin satu menara ke menara lain di bawah tanah. Malabar pelan-pelan berubah jadi sebuah mesin organik raksasa yang sangat cantik sekaligus sangat kuat.

Sambil kerja, Sekar sering ngerasa ada yang merhatiin dia dari kegelapan hutan. Tapi itu bukan perasaan takut. Itu kerasa kayak... perlindungan. Seolah-olah sisa kesadaran ibunya Adrian atau Wak Haji masih ada di sana, ngebantu dia nemuin jalur kabel yang bener atau ngasih tahu bagian mana yang rusak.

"Semuanya udah siap, Ris?" tanya Sekar di hari ke-21.

Mereka sekarang berdiri di puncak tertinggi gunung Malabar. Di depan mereka, sebuah konsol kendali yang dibuat dari rongsokan kapal alien dan kayu teh purba udah berdiri tegak. Jantung Emas ditaruh di tengah-tengah konsol itu, terhubung sama ribuan urat tanaman yang merambat ke bawah tanah.

"Sirkuit udah stabil. Frekuensi udah di-lock ke sinyal Adrian. Lensa magnetik di atmosfer udah sejajar," Aris ngelap kacamata mekaniknya. "Begitu gua neken tombol ini, nggak ada jalan balik, Kar. Kita bakal narik apa pun yang ada di koordinat itu. Entah itu Adrian, atau malah pasukan alien yang lebih marah."

"Adrian yang bakal dateng," kata Sekar dengan keyakinan yang nggak bisa diganggu gugat. "Gua bisa ngerasain dia. Dia lagi nunggu."

Aris ngangguk. Dia narik napas dalem-dalam, terus tangannya yang mekanik neken tombol eksekusi utama.

HUMMMMMMMMMMM...

Suara dengungan rendah mulai kedengeran dari perut bumi. Seluruh perkebunan Malabar mendadak bersinar emas terang. Dari setiap pohon teh, muncul seberkas cahaya tipis yang nembus ke langit, semuanya fokus ke satu titik di atas puncak gunung.

Cahaya-cahaya itu ngumpul dan ngebentuk sebuah pusaran awan yang muter-muter. Langit yang tadinya cerah mendadak jadi gelap gulita, tapi di tengah kegelapan itu ada lubang cahaya yang warnanya ungu keemasan portal dimensi buatan mereka sendiri.

"Berhasil! Portalnya terbuka!" teriak Aris sambil nahan angin kenceng yang mulai narik barang-barang di sekitar mereka.

Sekar megang konsol itu kuat-kuat. "Adrian! Sekarang!"

Di dalem lubang cahaya itu, mereka mulai ngelihat bayangan. Awalnya cuma titik kecil, tapi makin lama makin gede. Bayangan itu bentuknya kayak raga manusia yang lagi melayang, tapi di sekelilingnya banyak kilatan listrik hitam yang nyoba buat narik dia balik ke dalem kegelapan.

"Itu dia! Itu Adrian!" Sekar teriak kegirangan.

Tapi, ada yang aneh. Di belakang bayangan Adrian, muncul tangan-tangan raksasa dari bayangan hitam yang jauh lebih gede. Sosok-sosok raksasa dari The Harvester ternyata nggak ngelepasin Adrian gitu aja. Mereka ikut nahan Adrian supaya portalnya nggak bisa narik dia sepenuhnya.

"Energinya nggak cukup, Ris! Portalnya mulai nggak stabil!" Aris panik pas liat indikator di layarnya merah semua. "Kita butuh dorongan tambahan dari sisi sebelah sana!"

Tiba-tiba, dari dalem portal, suara Adrian kedengeran. Tapi suaranya nggak lewat telinga, melainkan langsung lewat Jantung Emas yang ada di konsol.

"Sekar... Aris... jangan paksa portalnya buat narik gua. Gua nggak bisa balik sebagai manusia biasa lagi."

"Apa maksud lu, Adrian?! Lu harus balik!" teriak Sekar sambil nangis.

"Gua udah jadi bagian dari inti mereka, Kar. Kalau gua masuk ke bumi sekarang, energi gua bakal ngebakar atmosfer kalian. Gua udah ngebajak sistem mereka dari dalem, tapi gua terjebak di antara dua dunia."

Hologram Adrian muncul di atas Jantung Emas. Wajahnya kelihatan lebih dewasa, lebih tangguh, tapi matanya bener-bener kayak galaksi yang luas. Badannya bukan lagi daging, tapi udah nyatu sama energi kosmik.

"Tapi gua bisa ngirim sesuatu buat kalian. Sesuatu yang bakal bikin bumi aman selamanya, dan sesuatu yang bakal jadi jalan gua buat tetep 'ada' di samping kalian."

Tiba-tiba, dari dalem portal itu, Adrian ngelempar sebuah benda. Benda itu melesat keluar dengan kecepatan tinggi dan mendarat tepat di pelukan Sekar.

Portal itu meledak kecil dan langsung nutup dengan suara dentuman yang sangat keras. Cahaya emas di Malabar perlahan padam, nyisain Sekar yang terduduk lemes di tanah sambil meluk benda yang dikasih Adrian.

Aris lari nyamperin Sekar. "Dia... dia ilang lagi?"

Sekar nggak jawab. Dia ngebuka pelukannya. Benda itu adalah sebuah tabung kristal kecil yang di dalemnya ada setetes cairan warna emas murni yang berdetak. Dan di samping cairan itu, ada sebuah memori chip kuno milik Dirgantara Group.

"Dia nggak ilang, Ris," bisik Sekar sambil ngelihat ke arah langit malam yang sekarang ditaburi jutaan bintang. "Dia baru aja ngasih kita 'benih' buat ngebangun kembali raga dia yang baru. Tapi..."

Sekar berhenti ngomong pas dia ngerasain getaran aneh dari tanah di bawah kakinya.

Dari arah kegelapan hutan teh, suara langkah kaki yang sangat berat mulai kedengeran. Bukan langkah kaki manusia, tapi langkah kaki logam yang sangat besar. Dan dari balik kabut, muncul sosok raksasa setinggi sepuluh meter yang bentuknya mirip banget sama zirah perang Adrian, tapi badannya terbuat dari akar teh yang diperkuat logam perak.

Mata raksasa itu menyala biru terang, dan dia berlutut di depan Sekar.

"Protokol Pelindung Aktif. Menunggu instruksi dari Komandan Sekar,"suara raksasa itu... adalah suara Adrian.

Siapakah sosok raksasa akar logam yang memiliki suara Adrian tersebut? Apakah itu adalah raga baru yang dikirim Adrian dari dimensi lain, ataukah itu hanya sebuah mesin tanpa jiwa yang diprogram dengan memorinya?

Dan apa sebenarnya isi dari setetes cairan emas dan memori chip yang ditinggalkan Adrian? Saat Sekar mulai menyadari bahwa musuh lama dari langit ternyata sudah mengirimkan "penyusup" dalam bentuk yang tidak terduga ke bumi, siapakah yang bisa dia percaya sekarang?

1
Arifa
menarik ceritanya bisa di bilang mind blowing.
semangat update terus tor..
indri sanafila: terima kasih semangatnya dan sudah setia mengikuti perjalanan Adrian🙏
total 1 replies
~($@&)~%
bang,ga di kontrak kah ,novel nya
indri sanafila: lagi proses pengajuan kontrak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!