Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.
Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.
Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin yang Terbentuk
🕊
Masuknya Wendy hari itu terasa seperti perubahan cuaca yang tiba-tiba.
Pagi yang semula berjalan biasa saja—bahkan nyaris tenang—langsung berubah berat sejak langkah sepatu itu terdengar di pintu belakang restoran. Alea yang sedang merapikan meja kasir refleks menegang. Tangannya berhenti sesaat, punggungnya lurus tanpa sadar.
Dia masuk…
Wendy berdiri di dekat loker, wajahnya datar, tapi sorot matanya tajam seperti biasa. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan. Hanya tatapan sekilas ke arah Alea—tatapan yang bukan sekadar melihat, tapi menilai. Mengukur. Menyimpan sesuatu.
Hari itu langsung terasa panjang.
Wendy mulai dengan hal-hal kecil. Memerintah Alea dengan nada dingin. Menyindir pekerjaannya di depan orang lain. Mengalihkan tugas berat ke Alea dengan alasan “biar kamu belajar lebih cepat”. Tidak ada yang terlalu mencolok—cukup rapi untuk tidak terlihat salah, tapi cukup menusuk untuk membuat siapa pun lelah.
Dulu, Alea mungkin akan terdiam lebih lama. Menunduk. Menelan semua sendirian. Tapi hari itu… ada yang berubah.
Alea tetap diam, tapi bukan diam yang rapuh. Diamnya dingin. Matanya tidak lagi menghindar, tapi mengamati. Ia mencatat dalam kepala—cara Wendy bicara, siapa saja yang disasar, kapan tekanan itu diberikan.
“Ini bukan cuma tentang aku,” pikir Alea. “Ini tentang mereka juga.”
Ia melihat Sarah beberapa kali terdiam lebih lama dari biasanya. Melihat rekan kerja lain salah tingkah setiap Wendy lewat. Ada yang bahunya menegang, ada yang suaranya mendadak pelan. Alea menahan diri. Menarik napas. Mengingat pesan Bu Rina—tentang menjaga diri, tentang tidak gegabah. Tapi ada batas antara menjaga diri dan membiarkan orang lain dihancurkan.
Dan batas itu… dilewati Wendy siang itu.
Saat briefing singkat para karyawan dilakukan di tengah shift, Wendy berbicara dengan nada merendahkan. Menyebut kesalahan kecil dengan suara cukup keras. Mengulang-ulang nama beberapa orang—termasuk Sarah—hingga wajah mereka memucat.
“Kalian ini kerja pakai hati atau cuma numpang capek?” ucap Wendy tajam. “Kalau nggak sanggup, pintu keluar masih ada.”
Suasana menegang. Tidak ada yang berani bicara. Alea merasakan dadanya panas.
Ia berdiri. Gerakannya membuat beberapa kepala menoleh. Wendy berhenti bicara, menatap Alea dengan senyum tipis yang menantang. “Ada apa?” tanya Wendy, sinis. “Mau nambah ceramah?”
Alea menatap lurus. Suaranya tenang, tapi keras. “Ka Wendy,” ucapnya. “Kalau cara kamu memimpin cuma dengan menekan, merendahkan, dan mengancam, itu bukan kepemimpinan.”
Ruangan hening.
Wendy tertawa kecil. “Kamu siapa berani ngomong gitu?”
“Aku karyawan,” jawab Alea tanpa ragu. “Sama seperti yang lain. Tapi aku juga manusia.” Nada Alea mulai naik, bukan meledak—tapi penuh kendali.
“Kamu bilang kami harus hormat, tapi kamu nggak pernah menghargai. Kamu bilang kami harus kuat, tapi setiap hari mental kami kamu injak. Kalau ada yang salah, kamu teriak. Kalau ada yang benar, kamu diam.” Wendy melangkah mendekat. “Jaga mulut kamu.” Alea tidak mundur.
“Justru karena aku jaga mulut selama ini,” lanjut Alea, suaranya kini bergetar tipis—bukan karena takut, tapi karena emosi yang terlalu lama ditahan, “kamu pikir semua orang di sini bisa kamu perlakukan seenaknya.” Sarah menatap Alea dengan mata berkaca-kaca.
Wendy hendak membalas, tapi suara lain memotong. “Ada apa ini?” Bu Rina berdiri di ambang pintu. Suasana langsung berubah. Wendy menarik napas, mencoba kembali tenang. Alea menoleh, tapi tetap berdiri di tempatnya.
Bu Rina memandang satu per satu wajah karyawan. Lalu menatap Wendy. “Kamu,” ucap Bu Rina dingin. “Ke ruang saya.” Wendy terlihat ingin membantah, tapi sorot mata Bu Rina membuatnya mundur satu langkah.
Namun Alea belum selesai. “Bu,” katanya tegas. “Kalau sikap seperti ini terus dibiarkan, bukan cuma satu orang yang akan pergi.” Bu Rina menoleh padanya.
“Banyak dari kami bertahan bukan karena takut,” lanjut Alea. “Tapi karena butuh kerja. Tapi kami juga punya batas. Kalau Ka Wendy tidak mengubah sikapnya… kami semua bisa cabut.” Kejujuran itu jatuh berat.
Bu Rina diam lama. Lalu berkata pelan, tapi tegas, “Wendy, kamu libur satu minggu. Wajib. Gunakan waktu itu untuk berpikir.” Wendy membeku. “Bu—”
“Ini keputusan saya.” Wendy terdiam. Wajahnya menegang, lalu ia berbalik pergi tanpa berkata apa-apa.
Satu minggu setelah itu, suasana berubah drastis.
Alea tidak bersantai. Ia justru bergerak lebih banyak. Membantu Sarah, mengajarinya sistem kerja, berbagi catatan kecil, memberi kepercayaan. Ia sengaja melibatkan Sarah dalam keputusan kecil—melatihnya untuk percaya diri.
“Kamu bisa,” kata Alea suatu sore. “Jangan kecilkan diri kamu sendiri.” Sarah tersenyum, pelan tapi tulus.
Dalam minggu itu, Bu Rina melihat sesuatu. Bukan hanya Alea yang kuat—tapi Alea yang membangun orang lain. Dan ketika Wendy kembali, posisinya tidak lagi sepenuhnya sama. Sarah kini punya peran yang setara. Suaranya didengar. Keputusannya dihargai.
Alea berdiri sedikit ke belakang, mengamati.
Ia mungkin tidak akan selamanya di sini. Tapi sebelum ia pergi… ia memastikan temannya bisa bertahan. Dan untuk pertama kalinya, Alea menyadari; kedewasaan bukan tentang bertahan diam-diam—tapi tentang tahu kapan harus berdiri, dan untuk siapa.
–
Seminggu berlalu sejak Wendy dipaksa libur.
Dan dalam seminggu itu, Alea menyaksikan perubahan yang nyata—bukan perubahan besar yang dramatis, melainkan perubahan kecil yang terasa di dada. Ruang kerja yang biasanya tegang kini lebih lapang. Suara orang-orang kembali terdengar normal. Tawa kecil muncul lagi di sela jam sibuk. Tidak ada lagi bahu yang menegang setiap kali langkah sepatu tertentu mendekat.
Sarah berubah paling terlihat.
Ia kini berdiri lebih tegak di balik meja kasir. Suaranya terdengar jelas saat memberi arahan. Orang-orang mulai mendengarkannya—bukan karena takut, tapi karena percaya. Ketika ada kebingungan di dapur atau jadwal yang bertabrakan, nama Sarah disebut pertama kali.
“Aku ambil alih ya,” katanya suatu siang, tenang. Dan semua mengangguk. Alea berdiri sedikit menjauh, menyeka meja, mengamati dari sudut matanya. Ada rasa lega yang sulit dijelaskan. Bukan lega karena menang. Tapi lega karena sesuatu yang ia perjuangkan… berhasil berdiri sendiri.
“Dia bisa sekarang,” pikir Alea. “Dia nggak butuh aku terus.”
Hari Wendy kembali bekerja, suasana memang berubah—tapi tidak seperti sebelumnya.
Wendy tetap dingin. Tetap minim senyum. Tetap menyimpan tatapan yang menilai, menakar, seperti sedang menghitung sesuatu di dalam kepala. Namun satu hal berbeda: ia diam.
Tidak ada sindiran.
Tidak ada bentakan.
Tidak ada perintah yang sengaja menjatuhkan.
Ia bekerja, memberi instruksi seperlunya, lalu mundur. Tatapannya masih menusuk, tapi tidak lagi melukai secara langsung. Alea menyadarinya sejak jam pertama. Dan anehnya… ia tidak lagi gentar.
Ia bekerja seperti biasa. Fokus. Tenang. Jika Wendy menatap, Alea tidak menghindar. Tidak menantang juga. Hanya netral—seperti seseorang yang sudah selesai dengan ketakutannya. “Biarkan dia menilai,” pikir Alea. “Aku sudah selesai membuktikan.”
Bu Rina konsisten. Itu yang paling Alea syukuri.
Setiap aturan yang ditegakkan minggu lalu, tetap berlaku. Tidak ada yang dilonggarkan diam-diam. Tidak ada yang diubah tanpa penjelasan. Ketegasan Bu Rina terasa jelas—dan keadilan itu memberi rasa aman yang selama ini hilang.
Hari gajian tiba dengan tenang.
Amplop itu terasa hangat di tangan Alea. Bukan karena jumlahnya besar, tapi karena maknanya. Ini gaji satu bulan penuh dari tempat yang mengajarkannya banyak hal—bukan hanya tentang kerja, tapi tentang batas, keberanian, dan harga diri.
Di ruang ganti, Alea duduk sebentar, membuka amplop itu perlahan. Ia menghitung sekali, lalu menutupnya kembali. Tidak ada lonjakan emosi. Tidak ada keinginan membeli sesuatu. Hanya satu kalimat yang muncul di benaknya:
Cukup sampai sini.
Keputusan itu tidak datang tiba-tiba.
Ia sudah memikirkannya sejak beberapa hari lalu—sejak suasana membaik, sejak Sarah berdiri lebih kuat, sejak Alea tidak lagi dibutuhkan sebagai penyangga. Ia tahu dirinya bisa bertahan lebih lama. Tapi ia juga tahu… ia tidak harus.
Bukan mundur.
Bukan kalah.
Tapi berhenti sejenak.
Sore itu, Alea menemui Bu Rina. “Bu,” katanya pelan tapi mantap, “saya mau bicara.” Bu Rina menatapnya, mengangguk. Mereka duduk di ruang kecil belakang. “Apa kamu mau pindah shift?” tanya Bu Rina.
Alea menggeleng. “Saya mau berhenti, Bu. Setelah bulan ini.” Bu Rina tidak langsung bereaksi. Ia hanya mengamati wajah Alea—wajah yang tidak terlihat ragu, tidak juga emosional. “Alasannya?” tanya Bu Rina akhirnya.
Alea menarik napas. “Saya capek. Tapi bukan capek yang kalah. Saya cuma… ingin berhenti sebentar. Mengatur ulang arah.” Bu Rina tersenyum kecil. “Kamu tahu, kamu bisa jadi apa saja kalau mau.”
“Iya, Bu. Justru itu,” jawab Alea. “Saya ingin melihat dunia yang saya cari. Belajar. Tapi saya nggak mau meninggalkan tempat-tempat awal hidup kerja saya dengan rasa pahit.” Bu Rina mengangguk pelan. “Kamu anak yang tahu diri. Itu jarang.”
Malamnya, Alea berjalan pulang lebih pelan dari biasanya. Jalanan terasa akrab. Lampu-lampu restoran menyala hangat. Ada rasa haru kecil—bukan sedih, tapi penuh.
Ia menoleh sebentar ke arah restoran. “Terima kasih,” ucapnya dalam hati. “Untuk pelajaran yang tidak semuanya manis, tapi jujur.” Alea tahu hidupnya masih panjang. Masih banyak tempat yang akan ia singgahi. Masih banyak peran yang akan ia coba. Tapi ia juga tahu satu hal penting:
Ia tidak lagi berjalan dengan kepala tertunduk. Ia tidak meninggalkan apapun hari itu. Ia hanya memberi jeda—untuk bernapas, untuk melihat, untuk tumbuh dengan caranya sendiri. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Alea melangkah ke depan tanpa rasa takut.
☀️☀️