Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telur Gosong
Hari itu rumah terasa lebih sepi dari biasanya
Aira berdiri di dapur dengan celemek pinjaman Tante Mala, menatap wajan dengan ekspresi serius seolah sedang menghadapi ujian hidup.
Tante Mala arisan…
Berarti aku yang masak.
Aira memecahkan telur dengan hati-hati.
“Tenang, Aira,” gumamnya pada diri sendiri. “Cuma telur ceplok.”
Minyak mendesis.
Aira tersenyum puas.
“Lumayan.”
Aira tidak tahu atau lebih tepatnya, lupa bahwa pagi itu Damar masih ada di rumah.
Di lantai atas, Damar terbangun dengan mata setengah terbuka.
Rumah terlalu sunyi.
“Mamah?” panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Ia mengerutkan kening, lalu turun ke bawah hanya mengenakan celana pendek bertelanjang dada, dia kebawah untuk mengambil minum. Pikirannya masih setengah sadar.
Saat itulah Damar turun kebawah, hendak membuka pintu kulkas dan berhenti.
Aira yang sedang menghadap wajan langsung menoleh,dua pasang mata bertemu.
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Aira membelalak.
"DAMAR?!"
Aira tidak siap, sama sekali, Damar juga tidak, keduanya berdiri kaku seperti patung.
Aira refleks menelan ludah dan… melotot terlalu lama.
Bukan karena apa-apa, Hanya..
Damar terlihat, memiliki badan yang atletis membuat seorang anak gadis menelan ludah.
Rambutnya sedikit berantakan, Ekspresinya bingung, ini terlalu pagi untuk kejadian aneh seperti ini.
“Eugh... Da...” Aira mencoba bicara.
Tapi...
“PSHHH...”
Bau gosong menyebar, Aira menoleh panik ke wajan.
“TELURNYA!”
Aira buru-buru mengangkat wajan,telur ceplok itu… hitam di pinggir.
“Yah…” Aira menunduk lesu.
Di saat yang sama, Damar akhirnya sadar penuh,Ia baru menyadari dua hal sekaligus:
Mamahnya tidak ada di rumah, dia berdiri di dapur tidak dalam kondisi siap dilihat orang
Wajahnya memanas.
“APA LIAT-LIAT?!
Damar refleks mundur satu langkah—
BRUK.
badannya mentok di tembok.
Ia panik, berbalik dan malah menuju arah yang salah.
Dan Itu tembok, bukan pintu.
“ADUH!”
Aira terkejut.
“KAMU NGAK APA-APA?!”
Damar akhirnya menemukan pintu, wajahnya merah padam.
“KAMU—”
Damar menunjuk Aira dengan gemetar.
“GADIS BODOH!”
Damar berhenti sejenak. lalu naik kekamarnya dengan terburu-buru.
“HAH?!” Aira spontan membalas. “YANG MASUK DAPUR TANPA BAJU SIAPA?!”
Setelah beberapa saat suasana rumah mulai kembali tenang Damar turun kembali dengan celana panjang dan Kaos longgar.
“…Kamu masak?”
“IYA!” jawab Aira pelan.
“Telurnya gosong.” Kata Damar lagi.
“Aku tau!” kata Aira kesal. “Itu karena kamu bikin kaget!”
Hening lagi.
Beberapa detik kemudian, Damar berdehem.
“Mamah ke mana?”
“Arisan.” jawab Aira singkat
“Oh.”
Sunyi.
“Maaf,” katanya pelan. “Aku nggak tau kamu masih di rumah.”
Damar mengalihkan pandangan.
“Aku juga lupa ada kamu di rumah,"
Hening lagi.
Canggung, sangat canggung.
“Aku… ambil minum,” kata Damar cepat.
Lalu membuka kulkas dan mengambil botol air.
“Aku ke atas."
Damar berbalik pergi tanpa menoleh lagi langkahnya cepat.
Aira berdiri sendiri di dapur, menatap telur gosong di wajan.
Pipinya terasa hangat.
“Pagi yang aneh,” gumamnya.
Di lantai atas, Damar menutup pintu kamarnya dan bersandar di belakangnya.
“Tenang,” katanya pada diri sendiri. “Tenang.”
Namun jantungnya masih berdetak cepat.
Sementara di dapur, Aira membuang telur gosong dan mengambil telur baru.
“Kali ini,” katanya tegas, “Aku fokus ke telur.”
Tapi entah kenapa…
bayangan kejadian itu terus muncul di kepalanya.
Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, rumah Tante Mala terasa terlalu kecil untuk dua orang yang sama-sama gugup.
***Tatapan yang Salah***
Meja makan terasa sunyi, terlalu sunyi.
Aira duduk berhadapan dengan Damar. Di antara mereka ada sepiring nasi goreng, dan telor ceplok, dengan suasana yang… canggung.
Damar makan tenang, terlalu tenang, Aira menusuk-nusuk nasinya tanpa fokus.
Entah kenapa, pikirannya melayang ke kejadian pagi tadi di dapur, cara Damar panik, cara dia salah jalan. dan stop.
Aira menggeleng pelan, tapi sialnya, matanya tidak ikut berhenti.
Tatapannya jatuh ke arah Damar,bukan sengaja Aira melamun, senyum kecil muncul tanpa sadar.
Damar mengangkat kepala, dia berhenti mengunyah.
“Apa?” tanya Damar dingin.
Aira tersentak.
“Hah? A-apa?”
“Kamu ngapain senyum-senyum sendiri sambil ngeliatin aku?”
Aira refleks menoleh ke piringnya
"Aku cuman lagi mikir,"
“Mikir apa sambil ngeliatin gue?”
Nada Damar agak meninggi.
Aira panik.
“Aku nggak ngeliatin kamu!”
“Dari tadi lu ngeliatin gue.”
Aira mengangkat wajah.
“Ke mana?”
“Ke Gue.”
Hening.
Aira ingin menjelaskan. Tapi otaknya kosong.
“Aku cuma teralihkan,” katanya asal. “Kamu… rame.”
“Rame?”
Damar menyipitkan mata. “Aku makan.”
“Itu maksudku.”
Damar meletakkan sendoknya pelan.
“Jangan ngelamun sambil ngeliatin orang.”
Aira ikut meletakkan sendok.
“Aku nggak niat! Kamu GR!”
Damar tertawa pendek, bukan lucu lebih ke sinis.
“Kamu sadar nggak dari tadi senyummu aneh?”
“Aneh kenapa?”
“Ganggu.”
Aira memerah.
“Ya maaf! Aku cuma nggak fokus”
Damar mencondongkan badan sedikit.
“Nggak fokus itu bikin kamu menatap orang sambil senyum-senyum?”
Aira membeku.
“Bukan gitu—”
“Bodoh,” potong Damar cepat.
Aira terkejut.
“Eh!”
“Dan tidak sopan,” lanjutnya. “Kalau mau melamun, lihat piringmu.”
Aira berdiri setengah emosi.
“Aku nggak ngelakuin apa-apa!”
“Kamu ngeliatin,” kata Damar dingin. “Dan itu tidak pantas.”
“Pantas menurut siapa?!”
“Menurut aku.”
Aira tertawa kecil, getir.
“Kamu ini selalu menganggap orang lain salah.”
“Karena kamu sering salah,” balas Damar cepat.
“Dan kamu sering membesar besarkan masalah, menyebalkan!”
Damar berdiri.
“Kamu tahu kelihatannya seperti apa barusan?” tanyanya tajam.
Aira menelan ludah.
“Seperti apa?”
“Bodoh,” katanya tegas, “Dan mesum.”
Kata-kata itu terdengar kejam.
Aira terdiam.
Wajahnya panas, bukan karena malu tapi karena kesal.
“Aku nggak seperti itu,” katanya pelan tapi tegas.
Damar mengambil gelasnya.
“Kalau begitu, jaga sikap.”
Damar berjalan pergi dari meja makan.
Aira duduk kembali perlahan.
Sendoknya bergetar kecil di tangannya.
“Aku cuma… melamun,” gumamnya kesal. “Kenapa selalu jadi salahku…”
Di tangga, Damar berhenti sejenak.
Rahangnya mengeras.
“Gadis aneh,” katanya pelan lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri.
Hari itu, bukan cinta yang tumbuh,bukan juga rindu.
Hanya kesal, yang makin menebal di antara dua orang yang terpaksa berbagi meja makan.