NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Kisah cinta masa kecil / Kencan Online / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:18
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Jum'at pagi

Jumat pagi datang dengan langit yang pucat, seolah matahari masih enggan untuk benar-benar bangun. Raka berdiri di depan cermin kamar mandinya, merapikan kerah kemeja biru tua yang baru saja ia setrika. Ada sedikit kerutan di bagian bahu yang luput dari panas setrikaan tadi malam. Biasanya, Raka akan melepaskan kemeja itu, menyalakan setrika kembali, dan memastikan permukaannya licin sempurna—sebuah kebiasaan lama untuk menghindari komentar remeh dari seseorang di masa lalu yang selalu menuntut kesempurnaan visual.

Namun pagi ini, Raka hanya menatap kerutan itu selama dua detik, lalu menghela napas pendek. Ia membiarkannya. Kerutan itu tidak akan membunuh siapa pun. Ia meraih tas kerjanya dan melangkah keluar apartemen.

Perjalanan menuju kantor terasa sedikit berbeda. Mungkin karena *playlist* lagu baru yang ia temukan semalam masih terngiang di kepalanya, atau mungkin karena ia tahu hari ini adalah hari Jumat, gerbang menuju dua hari kebebasan. Di dalam kereta yang padat, Raka tidak lagi terlalu sibuk menunduk menghindari tatapan orang. Ia sesekali memperhatikan sekeliling: seorang ibu yang membetulkan dasi seragam anaknya, seorang bapak yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka, dan aroma samar parfum murah bercampur bau AC kereta yang khas.

Sesampainya di kantor, suasana terasa lebih ringan. Bayu sudah duduk di kubikelnya, sedang memutar-mutar pulpen di antara jari-jarinya.

"Tumben lo nggak pake kemeja abu-abu kalau Jumat," sapa Bayu tanpa menoleh, matanya masih tertuju pada layar monitor.

Raka menaruh tasnya di atas meja. "Lagi dicuci. Kenapa? Aneh?"

Bayu menoleh sebentar, lalu menyeringai. "Nggak. Lebih hidup aja. Biru tua cocok sama lo. Bikin muka lo nggak kayak orang kurang darah."

Raka hanya mendengus pelan, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia menyalakan komputernya, bersiap menghadapi tumpukan *email*. Sekitar pukul sepuluh, Rini, anak magang itu, muncul di balik partisi kubikel Raka dengan wajah antusias yang sedikit berlebihan untuk jam kerja.

"Mas Raka, Mas Bayu," panggilnya dengan suara setengah berbisik. "Nanti pulang kantor ada rencana nggak?"

Raka refleks ingin menggeleng. Rutinitas Jumat malamnya selama dua tahun terakhir adalah pulang cepat, memesan makanan cepat saji, dan menonton film lama sampai ketiduran. Itu adalah zona nyamannya. Zona amannya.

"Gue kosong," jawab Bayu cepat. "Kenapa, Rin? Mau ngajak karokean? Suara Mas Raka bagus lho kalau lagi stres."

Raka melempar gumpalan kertas kecil ke arah Bayu yang langsung ditepis sambil tertawa.

"Bukan karoke," kata Rini. "Ada *coffee shop* baru buka di belakang gedung sebelah. Katanya tempatnya enak banget, *aesthetic* gitu, Mas. Kopi mereka *roastery* sendiri. Mau nggak? Sekalian ngerayain laporan magang saya yang udah Mas Raka revisi kemarin."

Raka terdiam. *Coffee shop* baru. Tempat asing. Orang-orang asing. Dulu, mantan kekasihnya memiliki satu kafe langganan yang selalu mereka kunjungi. Mereka selalu duduk di meja yang sama, memesan menu yang sama. Raka tidak pernah berani mencoba tempat baru karena takut merusak "tradisi" itu. Ketakutan itu entah kenapa masih menyisakan residu, seolah mencoba tempat baru adalah bentuk pengkhianatan terhadap kenangan.

"Mas Raka?" panggil Rini, membuyarkan lamunan Raka.

Bayu menatap Raka, alisnya terangkat sedikit seolah memberi kode: *Coba aja, nggak ada ruginya.*

Raka menarik napas panjang, menghirup aroma pengharum ruangan kantor yang berbau lemon sintetis. Ia teringat donat cokelat yang ia pilih kemarin. Ia teringat lagu asing yang ia dengarkan. Garis waktu bergerak maju, dan ia tidak bisa terus-menerus berjalan di tempat.

"Boleh," jawab Raka singkat. "Tapi saya nggak bisa lama-lama."

Wajah Rini langsung cerah. "Oke! Nanti jam lima kita langsung jalan ya, Mas."

***

Kafe itu bernama "Seduh Senja". Desain interiornya bergaya industrial dengan dinding semen ekspos yang belum diaci halus, pipa-pipa langit-langit yang dibiarkan terlihat, dan meja-meja kayu solid yang berat. Suara mesin *espresso* yang mendesis nyaring beradu dengan musik *indie folk* yang diputar cukup kencang.

Bagi Raka, tempat ini terlalu berisik. Terlalu ramai. Namun, ada energi hidup yang berdenyut di sini.

Mereka bertiga berdiri di depan meja kasir. Raka memandang papan menu yang ditulis dengan kapur tulis. Tulisan sambung yang artistik itu justru membuatnya pusing. *V60, Aeropress, Cold Brew, House Blend, Single Origin*. Istilah-istilah itu terasa asing. Dulu, pilihannya hanya dua: kopi hitam atau kopi susu gula aren. Mantannya selalu memesan *latte* panas, dan Raka selalu memesan *americano* dingin.

"Mas Raka mau apa?" tanya Rini.

"Samain aja kayak kamu," jawab Raka, memilih jalan aman.

"Oke, V60 *beans* Ethiopia ya, Mas. Biar seger, *fruity* gitu rasanya."

Raka mengangguk saja, meski ia tidak paham apa hubungannya kopi dengan rasa buah. Setelah membayar—Raka bersikeras mentraktir Rini sebagai balasan karena anak magang itu sudah membantunya merapikan arsip minggu lalu—mereka mencari tempat duduk di sudut ruangan, dekat jendela kaca besar yang menghadap jalanan macet Jakarta.

Saat pesanan datang, Raka menatap gelas kaca bening berisi cairan hitam kemerahan di hadapannya. Tidak ada susu, tidak ada gula. Ia menyesapnya sedikit.

Rasanya aneh. Asam, sedikit pahit, dan ada aroma yang mengingatkannya pada teh bunga, bukan kopi yang biasa ia minum.

"Gimana, Mas? Enak kan? Ada *notes* berinya," tanya Rini antusias.

Raka menelan cairan itu perlahan. "Unik. Asem, tapi... bersih rasanya."

"Itu namanya *clean aftertaste*, Mas," timpal Bayu yang sedang menikmati *cappuccino*-nya. "Gaya banget lo, Rin, ngajak orang tua minum kopi asem begini."

Mereka tertawa. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Raka ikut tertawa di tempat umum tanpa merasa bersalah. Ia melihat pantulan dirinya di kaca jendela. Kemeja biru tuanya terlihat agak kusut setelah seharian bekerja, rambutnya tidak lagi rapi, tapi ekspresinya terlihat lebih rileks.

Di tengah obrolan Bayu dan Rini tentang gosip divisi HRD, Raka mengedarkan pandangan ke seluruh kafe. Ia melihat sepasang kekasih di meja seberang. Si wanita sedang sibuk memotret makanan, sementara si pria menunggu dengan sabar.

Dulu, Raka yang selalu menunggu. Mantannya harus mengambil setidaknya sepuluh foto sebelum mereka bisa makan. Dulu, Raka akan merasa kesal dalam diam, perutnya lapar tapi harus menahan diri demi "konten" pasangannya. Sekarang, melihat pasangan itu, Raka tidak merasakan nyeri yang biasanya muncul. Ia hanya merasa seperti penonton yang melihat adegan film lama yang sudah ia hafal alurnya, tapi tidak lagi memengaruhi emosinya.

"Mas Raka, bengong lagi," tegur Bayu sambil menyenggol lengan Raka pelan.

Raka tersentak, lalu tersenyum tipis. "Sori. Lagunya lumayan enak."

"Nah, kan! Ini *playlist* andalan saya, Mas," sahut Rini.

Raka kembali menyesap kopinya. Rasa asam yang awalnya mengejutkan lidah kini mulai terasa familiar. Ia menyadari sesuatu yang sederhana namun penting: selera bisa berubah. Kebiasaan bisa dibentuk ulang. Ia tidak harus menyukai apa yang dulu ia sukai, dan ia tidak harus membenci hal baru hanya karena itu asing.

"Minggu depan kontrak magang Rini abis ya?" tanya Raka, mencoba masuk ke dalam percakapan.

Rini mengangguk, wajahnya sedikit murung. "Iya, Mas. Sedih juga sih, udah mulai betah digalakin Mas Raka."

"Saya nggak pernah galak," protes Raka.

"Mas Raka nggak galak di mulut, tapi tatapannya itu lho, Mas. Tajem banget kalau liat *typo*," canda Rini.

Bayu tertawa terbahak-bahak. "Itu namanya *judging silence*, Rin. Senjata andalan Raka."

Raka menggelengkan kepala, tapi ia tidak menyangkal. Ia menyadari bahwa interaksi-interaksi kecil ini—candaan Bayu, antusiasme Rini, rasa kopi yang aneh—adalah jangkar yang menahannya di masa kini. Mereka menariknya keluar dari lumpur masa lalu yang selama ini menghisap kakinya.

Pukul tujuh malam, mereka memutuskan untuk pulang. Hujan rintik-rintik mulai turun saat mereka melangkah keluar dari kafe. Aroma aspal basah dan debu kota menyeruak.

"Mas Raka balik naik kereta?" tanya Bayu sambil membuka payung lipatnya.

"Iya. Kalian duluan aja, arah kita beda," kata Raka.

"Oke, hati-hati Mas. *Thanks* traktirannya!" seru Rini sambil berlari kecil menembus gerimis menuju halte busway, melambaikan tangan.

Bayu menepuk bahu Raka sekilas. "Jangan terlalu banyak mikir, Ka. *Happy weekend*." Lalu ia pun berjalan menjauh.

Raka berdiri sendirian di depan kafe sejenak. Ia tidak langsung berjalan menuju stasiun. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, dan memasang *earphone*. Alih-alih memutar lagu kenangan yang biasanya menjadi teman perjalanannya saat hujan, Raka membuka aplikasi musik dan mengetik nama band yang tadi ia dengar di dalam kafe.

Musik baru mengalun di telinganya. Temponya sedikit cepat, liriknya tentang kota dan mimpi, bukan tentang patah hati.

Raka melangkah menembus gerimis tanpa payung. Kemeja biru tuanya terkena titik-titik air, membuatnya semakin kusut dan lembap. Tapi Raka tidak peduli. Ia merasakan dinginnya air hujan di kulitnya, mendengar suara klakson mobil yang bersahutan, dan merasakan sisa rasa kopi buah di pangkal lidahnya.

Semuanya nyata. Semuanya terjadi sekarang, di detik ini.

Di dalam kereta yang membawanya pulang, Raka melihat pantulan wajahnya di kaca pintu otomatis. Ia terlihat lelah, kantung matanya masih ada, tapi tatapan kosong yang biasa menghuni matanya perlahan mulai terisi. Bukan oleh kebahagiaan yang meluap-luap, melainkan oleh penerimaan.

Ia belum sepenuhnya lupa. Bayangan masa lalu itu masih ada, tersimpan di sudut-sudut pikirannya seperti buku tua di rak perpustakaan. Tapi malam ini, Raka memilih untuk tidak membacanya. Ia memilih untuk menulis halaman baru, meski hanya berisi tentang kopi asam dan obrolan receh kantor.

Garis waktu terus berjalan, dan Raka akhirnya memutuskan untuk ikut berjalan bersamanya, selangkah demi selangkah.

***

Raka melangkah lebih jauh dari zona nyamannya dengan menerima ajakan Rini dan Bayu untuk pergi ke sebuah *coffee shop* baru yang bergaya industrial dan bising—sangat kontras dengan preferensi lamanya. Di sana, Raka mencoba kopi *manual brew* dengan rasa asam (fruity) yang asing baginya, berbeda dari selera mantannya. Meskipun awalnya merasa terasing, Raka mulai menikmati momen tersebut dan menyadari bahwa ia bisa membentuk selera serta kenangan baru di masa kini. Bab ini ditutup dengan Raka yang pulang mendengarkan musik baru di tengah hujan, merasa lebih terhubung dengan realitas saat ini dan memilih untuk tidak tenggelam dalam nostalgia masa lalu, menandakan penerimaan yang semakin kuat terhadap hidupnya yang sekarang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!