NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Keriuhan di aula serbaguna SMA Cakrawala sore itu bisa disamakan dengan pasar kaget menjelang lebaran. Suara palu beradu dengan paku, gesekan tangga besi di lantai parket, hingga teriakan koordinator divisi yang saling sahut-sahutan menciptakan simfoni kekacauan yang memekakkan telinga.

Keyra baru saja meletakkan tasnya di sudut tribun ketika sebuah papan jalan mendarat tepat di depan wajahnya. Pelakunya adalah Siska, wakil ketua pelaksana yang terlihat seperti belum tidur tiga hari.

"Keyra! Syukurlah lo hidup. Divisi dekorasi krisis personel. Dua orang kena diare massal gara-gara seblak kantin, satu orang izin neneknya sakit. Lo bantuin pasang *backdrop* panggung, ya?"

Belum sempat Keyra menolak atau sekadar bernapas, Siska sudah berbalik dan berteriak ke arah pintu masuk. "Raka! Woy, Raka! Jangan kabur lo!"

Keyra menoleh cepat. Di ambang pintu, Raka terlihat hendak memutar balik badan, jelas berniat melarikan diri dari kerja paksa. Namun, teriakan Siska yang menggunakan frekuensi ultrasonik itu membuat langkah cowok itu terhenti. Dengan wajah datar yang seolah memprotes eksistensi alam semesta, Raka berjalan mendekat.

"Gue bukan seksi dekorasi," protes Raka malas, tangannya dimasukkan ke saku celana abu-abunya.

"Gue nggak peduli. Lo tinggi, lo punya tenaga, dan lo nganggur. Sekarang lo partner sama Keyra. Pasang kain hitam dan lampu gantung di rangka atas panggung. *Deadline* dua jam lagi sebelum *check sound*," perintah Siska mutlak, lalu menghilang di balik tumpukan kardus properti.

Keyra dan Raka saling pandang. Ada kilatan geli di mata Raka yang membuat Keyra ingin melempar gulungan selotip ke wajahnya.

"Nasib," gumam Raka, mengambil gulungan kabel lampu hias yang tergeletak di lantai. "Setidaknya ini mempermudah misi kita. Gue bisa cek kabel *sound system* di atas tanpa ada yang curiga."

Keyra mengangguk, menyadari keuntungan situasi ini. "Oke. Tapi lo yang manjat. Gue yang pegangin tangga."

"Ya kali gue suruh lo yang manjat. Nanti lo pingsan di ketinggian dua meter, gue lagi yang repot nge-reset," sindir Raka pelan, memastikan hanya Keyra yang mendengar bagian terakhir kalimatnya.

Mereka mulai bekerja. Raka menaiki tangga lipat tinggi di sisi kanan panggung, sementara Keyra berdiri di bawah, memegangi kaki tangga sambil mengoper kain hitam dan rangkaian lampu. Situasi itu seharusnya serius mengingat ancaman kebakaran yang menghantui mereka, tapi dinamika mereka justru jauh dari kata tenang.

"Tarik dikit kainnya ke kiri, Key! Itu miring!"

"Kiri lo apa kiri gue?!"

"Kiri panggung, Astaga! Lo buta arah ya?"

Keyra mendengus kesal, menarik kain beludru hitam itu dengan sentakan kasar. "Sabar dong! Ini berat tau! Lagian lo ngapain sih lama banget di atas situ?"

"Gue lagi benerin soket lampu sorot yang hampir lepas. Lo mau ini jatuh nimpa kepala kepala sekolah pas pidato pembukaan?" balas Raka dari ketinggian, tangannya sibuk memutar obeng kecil yang entah sejak kapan dia bawa.

"Alasan! Bilang aja lo takut ketinggian terus gemeteran!"

"Gue? Takut ketinggian?" Raka menunduk, menatap Keyra dengan tatapan meremehkan yang menyebalkan. "Gue pernah loncat dari lantai dua gedung ini di putaran ke—lupakan. Intinya, gue nggak takut."

Keyra terdiam sejenak mendengar potongan kalimat Raka. *Loncat dari lantai dua?* Berapa banyak hal gila yang sudah dilakukan cowok ini di garis waktu sebelumnya? Namun, Keyra memilih untuk tidak memperkeruh suasana dengan pertanyaan eksistensial.

"Udah cepetan! Tangan gue pegel nahan kain ini!"

Drama berlanjut saat mereka harus memasang lampu hias *tumblr* yang panjangnya bermeter-meter. Kabel itu kusut parah, membentuk bola benang raksasa yang tampak mustahil diurai.

"Lo pegang ujung sana, gue tarik dari sini," instruksi Raka setelah turun dari tangga. Mereka duduk bersila di lantai panggung, berusaha menaklukkan kekusutan itu.

"Ini siapa sih yang gulung kemaren? Pasti anak TK," gerutu Keyra, jari-jarinya berjuang mencari ujung kabel.

"Mungkin lo di masa depan yang gulung," celetuk Raka asal.

"Enak aja! Gue orangnya rapi!"

"Rapi?" Raka mengangkat sebelah alis. "Kamar lo berantakan, meja belajar lo penuh kertas coretan fisika, dan lo sering lupa naro iket rambut."

Keyra membelalak. "Kok lo tahu?! Lo ngintip gue?!"

"Gue udah bilang, Key. Gue punya banyak waktu. Di salah satu putaran waktu, kita pernah..." Raka tiba-tiba berhenti. Wajahnya berubah sedikit kaku, seolah dia baru saja hampir membocorkan rahasia negara. "...pernah kerja kelompok di rumah lo."

Keyra menyipitkan mata, curiga. "Mencurigakan. Jangan-jangan lo sebenernya stalker."

Saat Keyra menarik satu untaian kabel dengan keras karena kesal, dia tidak menyadari bahwa ujung kabel itu tersangkut di kancing seragam Raka. Tarikan itu membuat Raka tersentak ke depan, dan karena refleks, Raka menarik balik kabel tersebut.

Akibatnya fatal. Gulungan kabel yang belum terurai sepenuhnya itu melenting, membelit lengan Keyra, lalu entah bagaimana—mungkin karena hukum fisika sedang ingin bercanda—melilit leher dan bahu Keyra bersamaan dengan Raka yang mencoba menahannya.

Dalam hitungan detik, mereka berdua terjerat dalam satu kepompong kabel lampu LED berwarna-warni. Jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. Hidung Keyra hampir bersentuhan dengan dagu Raka.

Hening sejenak.

Keyra mengerjap, mencoba mencerna posisi absurd ini. Raka menatapnya dengan ekspresi bingung yang langka.

"Lo..." Raka memulai, suaranya tertahan.

"Diem. Jangan ngomong," potong Keyra panik, wajahnya memanas. "Ini konyol banget."

Alih-alih marah atau menjauh, bahu Raka mulai berguncang. Awalnya pelan, lalu suara tawa lolos dari bibirnya. Tawa yang renyah, lepas, dan sama sekali tidak terdengar sinis seperti biasanya. Cowok itu tertawa terbahak-bahak melihat betapa konyolnya mereka terikat seperti paket hadiah natal yang gagal.

"Muka lo..." Raka mencoba bicara di sela tawanya. "Muka lo panik banget, sumpah."

Keyra yang awalnya malu, melihat Raka tertawa sepuas itu, akhirnya tidak bisa menahan diri. Situasi ini memang terlalu bodoh. Keyra pun ikut tertawa. Tawa mereka menggema di sudut panggung, menarik perhatian beberapa siswa lain yang menatap bingung.

"Ini gara-gara lo narik kekencengan!" tuduh Keyra sambil tertawa, berusaha melepaskan lilitan di tangannya.

"Lo yang narik duluan, Nona Jenius!" balas Raka, membantu melepaskan kabel yang menyangkut di rambut Keyra dengan gerakan yang—tanpa sadar—cukup lembut.

Untuk sesaat, beban tentang kebakaran, kematian, dan putaran waktu yang menyiksa itu lenyap. Hanya ada dua remaja SMA yang terjebak dalam kekonyolan tugas festival.

Namun, momen ringan itu tidak bertahan lama. Suara langkah kaki yang berat dan tepuk tangan pelan dari arah bawah panggung menghentikan tawa mereka.

"Wah, wah. Kompak banget. Kayaknya tim dekorasi dapet *chemistry* yang bagus tahun ini."

Keyra dan Raka menoleh serempak. Julian berdiri di sana, kedua tangannya bersedekap, senyum sopan terukir di bibirnya namun tidak mencapai matanya yang dingin.

Suhu udara di sekitar mereka rasanya turun drastis. Raka yang tadinya tertawa lepas, dalam sekejap kembali ke mode siaga. Wajahnya kembali datar, topeng ketidakpeduliannya terpasang sempurna.

"Cuma kecelakaan kerja, Jul," jawab Raka santai sambil berhasil melepaskan lilitan terakhir dari tubuhnya. Dia berdiri, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Keyra berdiri. Keyra menerima uluran tangan itu, merasakan genggaman Raka yang sedikit lebih erat dari biasanya—sebuah kode.

"Kecelakaan yang menyenangkan, kelihatannya," komentar Julian. Tatapannya beralih ke Keyra. "Keyra, gue nggak tahu lo deket sama Raka. Biasanya lo sibuk di perpustakaan."

"Dia butuh nilai tambahan buat mapel Seni Budaya, gue butuh tenaga buat angkat barang. Simbiosis mutualisme," potong Raka cepat sebelum Keyra sempat menjawab. Alasannya begitu mulus dan masuk akal.

Julian mengangguk-angguk pelan, seolah menerima alasan itu. Tapi Keyra, yang kini sudah mengaktifkan mode 'mata-mata' sesuai instruksi Raka, bisa melihat bagaimana mata Julian menyapu ke arah panel listrik di belakang mereka, lalu kembali ke wajah Raka dengan tatapan menyelidik.

"Baguslah kalau gitu. Oh ya, Raka, gue denger lo tadi nanya-nanya soal denah kelistrikan ke Pak Bon? Ada masalah?" tanya Julian, nadanya terdengar ringan tapi penuh intimidasi terselubung.

Jantung Keyra berdegup kencang. Raka ketahuan?

"Cuma mastiin colokan buat *sound system* cukup. Lo nggak mau kan pas band utama main, listriknya *anjlok*?" Raka membalas tatapan Julian tanpa gentar. "Sebagai ketua panitia, harusnya lo yang paling khawatir soal itu."

Julian terkekeh pelan. "Tentu. *Safety first*. Makanya gue seneng ada lo yang... peduli."

Julian melangkah mendekat, menepuk bahu Raka dua kali—cukup keras. "Lanjutin kerjanya. Gue pantau dari jauh."

Setelah Julian pergi menjauh menuju pintu keluar aula, Keyra menghembuskan napas yang sedari tadi ditahannya. Kakinya terasa lemas.

"Dia curiga," bisik Keyra.

"Bagus," sahut Raka pelan, matanya masih terkunci pada punggung Julian yang menjauh. "Kalau dia curiga, berarti dia bakal lebih hati-hati buat bertindak. Itu ngasih kita waktu."

Raka menoleh ke Keyra, senyum tawanya tadi sudah hilang total, digantikan keseriusan yang mencekam. "Mulai sekarang, jangan pernah sendirian di area sekolah pas sore. Kalau dekorasi selesai, langsung pulang. Ngerti?"

Keyra mengangguk. Tawa di antara lilitan lampu tadi terasa seperti mimpi yang jauh sekarang. Realitas kembali menghantam. Festival ini bukan pesta; ini adalah medan perang.

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!