Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daffa Kembali
Bandara itu tidak banyak berubah.
Masih terlalu dingin oleh pendingin udara, masih terlalu ramai oleh orang-orang yang berjalan cepat seolah hidup mereka selalu dikejar waktu. Daffa berdiri di dekat pintu kedatangan, menenteng tas ransel hitam yang terlihat terlalu sederhana untuk seseorang yang baru pulang setelah enam tahun pergi.
Ia menatap papan jadwal penerbangan sebentar, lalu menghela napas panjang.
Pulang.
Kata itu dulu terdengar ringan. Sekarang terasa berat.
Rambutnya dipotong rapi, wajahnya lebih tegas, bahunya lebih lebar. Daffa yang dulu—anak SMA yang selalu mencoba jadi penengah—sudah tertinggal jauh di masa lalu. Tapi satu hal tidak berubah: caranya memandang dunia dengan tenang, seolah selalu ada ruang untuk memahami sebelum menghakimi.
Ponselnya bergetar.
Satu nama muncul.
Kia.
Daffa tidak langsung mengangkat.
Ia menatap layar itu lama, lalu menekan tombol hijau.
“Lo udah mendarat?” suara Kia terdengar datar, khas.
“Udah,” jawab Daffa. “Masih di bandara.”
“Kabarin kalau udah keluar. Gue jemput.”
Daffa terdiam sebentar. “Gue bisa naik taksi.”
“Nggak usah.”
Nada itu singkat. Bukan penawaran.
Daffa tersenyum kecil. “Ya udah.”
Telepon ditutup.
Ia melangkah keluar, menyusuri lorong panjang dengan langkah pelan. Dalam kepalanya, potongan-potongan masa lalu berputar tanpa izin—bangku taman sekolah, suara cekcok yang ia dengar dari jauh, dan dua orang yang sama-sama keras kepala tapi sama-sama terluka.
Kia.
Tara.
Dan dirinya sendiri, yang pergi tanpa benar-benar memastikan apa pun sembuh.
Kia datang dengan motor.
Bukan mobil.
Itu khas Kia—praktis, tidak berlebihan.
Daffa tersenyum saat melihatnya. “Lo nggak berubah.”
Kia menatapnya sekilas. “Lo yang kelihatan beda.”
“Lebih tua?” canda Daffa.
“Lebih capek.”
Daffa tertawa kecil, lalu mengenakan helm yang Kia sodorkan. Mereka berkendara tanpa banyak bicara. Jalanan sore padat, klakson bersahutan, dan langit mulai menguning menjelang malam.
“Lo lama di luar negeri,” kata Kia akhirnya.
“Enam tahun,” jawab Daffa. “Kerja sambil kuliah. Nggak semulus cerita orang.”
Kia mengangguk. “Hidup jarang mulus.”
Kalimat itu diucapkan tanpa emosi, tapi Daffa tahu—banyak hal yang mengeras di dalam diri Kia selama bertahun-tahun.
Mereka berhenti di sebuah warung kopi kecil.
Bukan kafe mewah.
Tempat biasa.
“Masih suka kopi pahit?” tanya Kia.
“Iya,” jawab Daffa. “Biar inget rasanya usaha.”
Kia mendengus kecil. “Filosofis.”
Mereka duduk berhadapan. Hening sebentar. Tidak canggung—lebih seperti dua orang yang tahu, beberapa hal tidak perlu langsung diucapkan.
Akhirnya Daffa membuka suara. “Gue ketemu Tara.”
Tangan Kia yang memegang cangkir berhenti sesaat.
“Di mana?” tanyanya datar.
“Beberapa hari lalu. Nggak sengaja.”
“Dan?” Kia menatapnya.
Daffa memilih kata-katanya hati-hati. “Dia berubah.”
Kia tidak langsung menanggapi.
“Orang bisa berubah,” lanjut Daffa. “Atau setidaknya berusaha.”
Kia menyeruput kopinya. “Lo balik buat jadi penengah lagi?”
“Gue balik karena ini rumah gue,” jawab Daffa tenang. “Tapi kalau ditanya… gue capek lihat luka lama kalian terus berdarah di tempat yang sama.”
Kia tersenyum miring. “Lo selalu idealis.”
“Mungkin,” kata Daffa. “Atau mungkin gue cuma nggak mau kita semua jadi orang yang pahit selamanya.”
Kia menatap meja.
Pesan Tara terlintas di kepalanya.
Ia tidak menceritakannya pada Daffa.
Belum.
Sementara itu, di sisi lain kota, Tara baru pulang kerja.
Langkahnya terhenti saat melihat sosok tinggi berdiri di depan minimarket dekat kosnya.
Rambut pendek, jaket gelap, senyum yang terlalu familiar.
“Daffa?” suaranya nyaris tak percaya.
Daffa menoleh. Senyumnya melebar. “Hai, Tara.”
Waktu seolah berhenti sebentar.
Mereka berdiri berhadapan, sama-sama berubah, sama-sama membawa sisa masa lalu.
“Kamu…” Tara menelan ludah. “Pulang?”
“Baru hari ini.”
Tara tersenyum kikuk. “Selamat datang kembali.”
Mereka berjalan berdampingan, membeli minuman, lalu duduk di bangku beton di depan minimarket.
“Lo kelihatan… lebih tenang,” kata Daffa.
Tara tertawa kecil. “Itu pujian atau pengamatan?”
“Dua-duanya.”
Tara menatap aspal. “Gue banyak salah dulu.”
Daffa mengangguk. “Gue tahu.”
“Dan Kia…” Tara menggigit bibirnya. “Dia pasti masih benci gue.”
“Benci itu capek,” jawab Daffa pelan. “Kia lebih capek dari kelihatannya.”
Tara terdiam.
“Aku kirim pesan ke dia,” katanya akhirnya. “Cuma minta maaf.”
Daffa menatapnya. “Dan lo siap kalau dia nggak balas?”
“Iya,” jawab Tara tanpa ragu. “Itu hak dia.”
Daffa tersenyum. “Lo benar-benar berubah.”
Tara menatap langit malam. “Gue cuma berhenti menyalahkan orang lain.”
Beberapa hari kemudian, takdir mempertemukan mereka bertiga.
Bukan di tempat istimewa.
Bukan di momen dramatis.
Hanya di sebuah acara reuni kecil sekolah—undangan yang sempat ingin diabaikan Kia, tapi akhirnya ia datangi karena Daffa.
Tara datang lebih dulu.
Gaunnya sederhana. Rambutnya tergerai rapi. Tidak berusaha mencuri perhatian.
Saat Kia masuk, mata mereka bertemu.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada kemarahan.
Hanya keheningan yang berat.
Daffa berdiri di antara mereka, merasakan ketegangan itu seperti listrik statis.
“Halo,” kata Tara pelan.
“Halo,” jawab Kia singkat.
Daffa menghela napas. “Oke. Ini lebih dewasa dari yang gue bayangkan.”
Mereka duduk di meja yang sama.
Canggung.
Kata-kata berhenti di tenggorokan.
Akhirnya, Tara membuka suara. “Gue nggak akan lama. Gue cuma pengen… bilang langsung.”
Kia menatapnya.
“Dulu gue tinggal di rumah lo,” lanjut Tara, suaranya stabil. “Dan gue bikin hidup lo—dan ibu lo—nggak nyaman. Itu salah gue.”
Kia mengepalkan tangan di bawah meja.
“Gue nggak minta apa-apa,” tambah Tara. “Gue cuma pengen lo tahu, gue sadar.”
Keheningan.
Daffa menahan napas.
Kia berdiri. “Gue perlu udara.”
Ia pergi ke luar ruangan.
Daffa menatap Tara. “Lo berani.”
Tara mengangguk. “Takut, tapi perlu.”
Di luar, Kia menatap parkiran.
Kenangan lama menyerbu—rumah kecil, suara piring, ibu yang selalu bersikap baik meski hatinya terluka.
Langkah kaki mendekat.
Daffa berdiri di sampingnya. “Lo nggak harus maafin.”
“Gue tahu,” jawab Kia. “Tapi gue juga capek marah.”
Daffa menatapnya. “Itu awal yang bagus.”
Kia menghela napas. “Dia berubah.”
“Iya.”
“Dan itu bikin gue bingung.”
Daffa tersenyum. “Perubahan orang lain sering bikin kita harus menghadapi luka kita sendiri.”
Kia terdiam.
Beberapa menit kemudian, Kia kembali masuk.
Tara berdiri, tegang.
“Kita nggak harus jadi dekat,” kata Kia. “Tapi gue hargai kejujuran lo.”
Tara mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Itu cukup.”
Daffa tersenyum—untuk pertama kalinya sejak ia pulang.
Mungkin luka lama belum sembuh.
Tapi untuk pertama kalinya, mereka berhenti saling menusuk.
Dan itu—untuk saat ini—sudah lebih dari cukup.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya