NovelToon NovelToon
Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Dendam Kesumat / Ahli Bela Diri Kuno / Dark Romance
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Ini Novel Wuxia!

Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.

Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!

Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.

Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.

Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

"Liang Shan, jangan gunakan tenaga dalammu untuk menyerang secara kasar!" teriak Tabib Han sambil terus melepaskan jarum-jarumnya untuk membuka celah bagi Liang Shan.

"Ikuti aliran napasmu! Biarkan racun itu mengalir sebagai kawan, bukan lawan!"

Melihat pasukannya mulai kocar-kacir oleh jarum-jarum Tabib Han, Jenderal Long Zhanyuan tidak bisa tinggal diam lagi. Ia mencabut pedaing Penakluk Samudra, dan melompat dari kudanya.

Hantaman kakinya di tanah menciptakan gelombang kejut yang memadamkan sebagian api di sekitarnya.

"Biarkan aku yang membereskan ini!" raung Long Zhanyuan.

Ia menebaskan pedangnya ke arah Liang Shan. Serangan itu membawa hawa panas yang luar biasa, berlawanan dengan hawa dingin golok Liang Shan.

Liang Shan mengangkat goloknya untuk menangkis serangan tersebut.

TRANGG!!!

Liang Shan terlempar hingga menabrak dinding gubuk. Darah mulai mengalir dari telinga dan hidungnya. Obat penekan dari Tabib Han kini justru menjadi bumerang, tenaga dalamnya tidak bisa keluar secara maksimal untuk menahan gempuran Jenderal Long.

"Liang Shan!" teriak Han Xiang yang melihat dari ambang pintu.

"Tetap di sana, Xiang-er!" seru Tabib Han. Ia melesat ke arah Liang Shan, namun dihadang oleh Xu Ruomei dan cambuk peraknya.

"Lawanmu adalah aku, tabib tua!" Xu Ruomei melecutkan cambuknya dan mengincar leher Tabib Han.

Tabib Han terpaksa melakukan tarian maut dengan jarum-jarumnya untuk menahan serangan cambuk yang lincah itu.

Sementara itu, Jenderal Long kembali mendekati Liang Shan yang berusaha bangkit di antara reruntuhan kayu.

"Ayahmu dulu gagal karena dia terlalu lunak," ucap Jenderal Long sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Kau akan gagal karena kau terlalu keras."

Melihat Liang Shan yang hampir tewas di bawah pedang Long Zhanyuan, Tabib Han mengambil keputusan nekat. Ia menghindari lecutan cambuk Xu Ruomei dengan sebuah putaran tubuh yang mustahil, lalu meluncur ke arah Liang Shan secepat meteor.

"Minggir, Jenderal!" teriak Tabib Han.

Ia mendaratkan telapak tangannya di punggung Liang Shan. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk menusukkan tujuh jarum emas langsung ke titik-titik saraf besar di punggung pemuda itu.

"Pembukaan Sembilan Gerbang Jiwa!" desis Jenderal Long dengan mata terbelalak. "Kau gila, Han! Itu akan menghancurkan nadinya!"

"Lebih baik nadinya hancur daripada kepalanya terpisah dari tubuhnya!" balas Tabib Han dengan wajah berkeringat hebat.

"Liang Shan, dengarkan aku! Aku telah membuka segel racunmu secara paksa. Kau memiliki waktu lima belas menit sebelum tubuhmu meledak. Gunakan untuk mengakhiri ini!"

Liang Shan merasakan sensasi yang luar biasa. Rasa sakit yang tadi menekannya mendadak berubah menjadi kekuatan yang meluap-luap.

Darah hitam yang mengalir di nadinya kini terasa seperti cairan api. Matanya berubah menjadi hitam pekat, tanpa ada putih di sekelilingnya.

Hawa dingin yang keluar dari tubuhnya begitu pekat hingga api yang membakar gubuk di dekatnya mendadak padam dan berubah menjadi es.

Liang Shan berdiri. Golok Sunyi Mengoyak Langit kini mengeluarkan suara rintihan yang sangat nyata, seolah ribuan jiwa sedang menangis di dalamnya.

Lalu, Liang Shan melesat maju. Gerakannya bukan lagi gerakan manusia, melainkan kilat hitam.

Jenderal Long Zhanyuan meraung, mengerahkan seluruh tenaga dalam emasnya hingga zirahnya bersinar terang seperti matahari pagi.

"Naga Emas Membelah Samudra!"

Pedang emas dan golok hitam beradu di tengah halaman.

DUARR!!!

Ledakan tenaga dalam mereka menciptakan lubang raksasa di tanah. Seluruh prajurit yang berada dalam radius sepuluh meter terlempar ke udara. Xu Ruomei terlempar hingga menabrak bebatuan tebing dan pingsan seketika.

Di tengah kepulan debu dan uap, Liang Shan dan Jenderal Long saling tekan. Pedang Jenderal Long tertahan oleh bilah golok Liang Shan, namun ujung golok Liang Shan perlahan mulai terasa semakin berat karena tekanan tenaga dalam Jenderal Long yang sangat murni.

"Kau tidak bisa menang, Liang Shan!" geram Jenderal Long. "Tenaga dalammu adalah pinjaman dari maut!"

"Kalau begitu, aku akan membawa maut itu bersamaku!" balas Liang Shan.

Liang Shan melepaskan pegangannya pada golok dengan satu tangan, lalu dengan gerakan yang dipelajarinya dari memperhatikan Tabib Han, ia menusukkan jarum perak yang dicuri dari saku Tabib Han ke arah pergelangan tangan Jenderal Long yang memegang pedang.

SLEBB!!!

Tangan Jenderal Long mendadak lemas. Pedang raksasanya miring.

Liang Shan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia memutar goloknya dan melepaskan jurus ketuju.

"Langit Retak, Jiwa Terbelah!"

Sebuah tebasan melingkar yang mengeluarkan hawa dingin luar biasa digelar. Tebasan itu melewati leher Jenderal Long, namun karena kecepatan dan ketajaman yang luar biasa, luka itu tidak langsung mengeluarkan darah.

Jenderal Long berdiri mematung. Matanya menatap Liang Shan dengan pandangan yang sulit diartikan. Kesedihan, penyesalan, dan sedikit rasa bangga.

"Ayahmu ..., pasti bangga..." bisik Jenderal Long.

Perlahan, garis tipis merah muncul di lehernya. Sosok emas itu roboh ke tanah, sang pelindung kekaisaran telah jatuh di lembah yang ia hancurkan sendiri.

Kematian Jenderal Long membuat Pasukan Gigi Naga dan sisa-sisa klan besar terpaku. Namun, itu hanya sesaat. Pemimpin pasukan cadangan segera memberikan perintah untuk memanah habis semua orang yang ada di sana.

"Hujani mereka dengan panah!"

Tepat pada saat itu, Liang Shan jatuh berlutut. Efek dari Pembukaan Sembilan Gerbang mulai memakan tubuhnya. Ia tidak bisa lagi menggerakkan tangannya.

"Liang Shan! Xiang-er! Lari ke arah gua air terjun!" teriak Tabib Han.

Tabib Han berdiri di depan mereka sambil membentangkan jubahnya yang luas. Tangannya bergerak seperti menari, menangkap anak-anak panah yang meluncur ke arah mereka dengan teknik Tangan Kapas Penyerap Jarum.

"Ayah! Ayo ikut!" jerit Han Xiang sambil menarik tangan Liang Shan.

Tabib Han menoleh dan tersenyum pahit. Di punggungnya, sudah ada tiga anak panah yang menancap.

"Aku sudah terlalu tua untuk berlari, Xiang-er. Dan aku harus membayar hutang nyawaku pada Liang Qi karena dulu aku tidak berani melindunginya."

"Ayah!"

"Pergi!" Tabib Han meledakkan sisa tenaga dalamnya, menciptakan dinding debu dan jarum yang menghalangi pandangan para pemanah.

"Lihatlah ke depan, jangan menoleh ke belakang! Dunia persilatan tidak membutuhkan tabib tua sepertiku, ia membutuhkan kebenaran yang dibawa oleh pemuda ini!"

Liang Shan, dengan sisa kesadarannya, menarik tangan Han Xiang. Ia tahu, setiap detik yang disia-siakan akan membuat pengorbanan Tabib Han menjadi sia-sia.

"Maafkan aku, Tabib Han ..." bisik Liang Shan di dalam hatinya.

Mereka berdua lalu berlari menembus api, menuju air terjun di ujung lembah.

Di belakangnya, suara teriakan pasukan dan dentingan senjata masih terdengar, namun perlahan menjauh saat mereka melompat ke dalam tirai air yang dingin.

Beberapa waktu kemudian, Liang Shan dan Han Xiang muncul di sisi lain gunung, jauh dari jangkauan api. Mereka melihat kepulan asap hitam membubung dari arah lembah yang kini telah hilang dari peta dunia.

Liang Shan ambruk di atas rumput. Han Xiang segera memeluknya, menangis tersedu-sedu meratapi ayahnya dan rumahnya yang musnah.

Liang Shan menatap langit yang mulai terang. Jenderal Long sudah mati, namun ia tahu, ini barulah permulaan. Menteri Wei Zong dan Kaisar tidak akan tinggal diam setelah kehilangan jenderal terbaik mereka.

Dan sekarang, Liang Shan tidak lagi sendirian. Ia memiliki Han Xiang, sebuah alasan baru untuk tetap hidup, sekaligus titik lemah baru yang harus dilindungi dengan nyawanya.

"Xiang-er," suara Liang Shan sangat lemah. "Aku akan membangun kembali lembah itu untukmu setelah semua ini berakhir."

1
Nanik S
Bagus Lian Shang
Nanik S
Kecapi Sakti
Nanik S
Apakah Kakek itu orang yang dicari
Nanik S
Mereka bertiga benar2 tangguh
Nanik S
Liang Shan... punya berapa Nyawa
Nanik S
God Joon
Nanik S
Liang Shan.... berat amat jalanmu
Nanik S
mereka sepasang Anak sahabat yang mati karena dikhianati
Nanik S
Jendral Zhao ternyata bukan hanya penghianat tapi Inlis yang sesungguhnya
Nanik S
teruskan... menarik sekali Tor
Junn Badranaya: Siap kak ...
total 1 replies
Nanik S
Liang Shan harusnya tinggal dengan Damai
Nanik S
Liang Shan.... apakah akan hancur bersama Goloknya
Nanik S
Ternyata Jendral besar juga terlibat
Nanik S
Mantap.... kenapa Lian Shen tidak mencari penawar racunya
Nanik S
Kecantikan sebagai Alat untuk meruntuhkan Lelaki
Nanik S
Kurangi musuh satu satu
Nanik S
Pesan pertama Golok Sunyi
Nanik S
Mantap Tor
Nanik S
Ling Shang... kehilangan kedua kali amat menyakitkan
Nanik S
Hidup dengan tubuh beracun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!