NovelToon NovelToon
A Little Bit Of LaNi

A Little Bit Of LaNi

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Udara pagi di kampus Universitas Indonesia terasa begitu sejuk, namun atmosfer di lapangan utama sangat kontras—penuh dengan teriakan semangat para senior dan wajah-wajah panik para mahasiswa baru. Hari ini adalah hari pertama Orientasi Kehidupan Kampus (OKK). Amara berdiri di tengah barisan kelompoknya, tampak menggemaskan sekaligus lucu dengan topi kerucut dari karton biru yang melingkar di kepalanya dan papan nama besar dari kardus yang dikalungkan di leher.

Di sampingnya, Sarah—yang beruntung satu jurusan lagi dengannya di Departemen Biologi—terus-menerus mengipasi wajahnya dengan buku catatan.

"Ra, sumpah ya, gue nggak nyangka kita bakal pakai atribut begini lagi setelah SMA. Gue ngerasa kayak tumpeng berjalan," bisik Sarah sambil berusaha membetulkan letak tali topi kerucutnya.

Amara hanya tersenyum kecut. "Ssttt, diem Sar. Tadi kating yang di depan itu udah ngeliatin kita terus. Gue nggak mau kena hukum lari keliling lapangan cuma gara-gara lo bawel."

Meskipun penampilannya sedang "ajaib", aura kecantikan Amara sebagai peringkat satu sekolah tetap tidak bisa disembunyikan. Kemeja putihnya yang rapi dan rok hitam formal membuat siluet tubuhnya tampak anggun. Beberapa mahasiswa baru laki-laki dari jurusan lain diam-diam mencuri pandang ke arahnya, namun tak ada yang berani mendekat karena aura Amara yang terlihat sangat fokus dan sedikit dingin.

Saat jam istirahat makan siang dimulai, para maba diperbolehkan duduk di selasar gedung dekanat. Amara dan Sarah sedang membuka kotak bekal mereka ketika seorang senior laki-laki mendekat. Penampilannya rapi, mengenakan jaket kuning kebanggaan kampus, dan membawa sebuah papan jalan.

"Kelompok Amuba ya?" tanya senior itu dengan suara yang dibuat selembut mungkin.

Amara mendongak. "Iya, Kak."

"Kenalin, gue Yudi, kating kalian angkatan 2024. Gue salah satu mentor buat jurusan Biologi tahun ini," ucapnya sambil mengulurkan tangan.

Amara hanya mengangguk sopan tanpa menyambut tangan itu, lebih karena tangannya sedang memegang sendok. "Saya Amara, Kak. Ini Sarah."

Yudi tidak terlihat tersinggung, ia justru duduk di dekat mereka. "Gue denger-denger, ada maba Biologi yang masuk lewat jalur prestasi dengan skor UTBK tertinggi se-sekolah ya? Itu lo, kan?"

"Iya, Kak," jawab Amara pendek. Ia mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan Yudi yang terlalu intens.

"Wah, hebat banget. Biologi itu susah lho, banyak hafalan latin dan praktikumnya bisa sampai malem. Kalau nanti lo ngerasa kesulitan atau butuh dapet bocoran soal laporan praktikum, jangan sungkan ya tanya gue. Nih, catet nomor gue," ucap Yudi sambil menyodorkan ponselnya yang sudah terbuka menu 'kontak baru'.

Sarah menyenggol lengan Amara sambil senyum-senyum nakal. "Tuh Ra, mentornya baik banget mau bantuin."

Amara terdesak. Ia tidak enak untuk menolak mentah-mentah senior di hari pertama. Baru saja ia hendak meraih ponsel Yudi, sebuah bayangan jangkung menutupi cahaya matahari di atas mereka.

"Ngapain, Ra?"

Suara berat itu tidak asing. Amara mendongak dan menemukan Nicholas berdiri di sana. Nick tidak memakai atribut ospek karena ia sudah mahasiswa tingkat dua di Fakultas Teknik yang lokasinya sebenarnya agak jauh dari gedung Biologi. Ia mengenakan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan keberuntungan yang kini kembali ia pakai.

Wajah Nicholas tampak sangat tidak bersahabat. Matanya menatap tajam ke arah tangan Yudi yang masih memegang ponsel.

"Kak Nick? Kok ke sini? Bukannya anak Teknik lagi sibuk persiapan maket?" tanya Amara kaget.

"Gue laper. Pengen makan di kantin MIPA," jawab Nick asal, padahal semua orang tahu kantin Teknik punya makanan yang lebih enak. Nick kemudian melirik Yudi. "Siapa?"

Yudi berdiri, mencoba menyeimbangkan wibawanya sebagai mentor maba. "Gue Yudi, mentor Biologi. Lo siapa ya? Kakaknya Amara?"

Nicholas tertawa pendek, jenis tawa yang membuat orang yang mendengarnya merasa terintimidasi. Ia melangkah maju, berdiri tepat di antara Yudi dan Amara, seolah membuat pagar pembatas yang tak kasat mata.

"Gue Nicholas. Dan gue bukan kakaknya," ucap Nick dingin. Ia kemudian menoleh ke arah Amara. "Ngapain mau pegang HP dia? Mau nambah beban pikiran pakai nomor orang nggak dikenal?"

"Enggak, Kak... tadi Kak Yudi cuma nawarin bantuan buat praktikum," jelas Amara jujur.

Nicholas kembali menatap Yudi. "Bantuan praktikum? Gue rasa Amara peringkat satu sekolah nggak butuh bantuan buat sekadar bikin laporan. Lagian, kalau dia butuh bantuan, dia bakal cari gue. Lo mentor, kan? Fokus aja sama maba yang lain, jangan cuma satu."

Yudi tampak sedikit ciut. Ia tahu Nicholas. Siapa yang tidak tahu Nicholas dari Teknik Sipil? Pria yang dikenal pintar namun punya temperamen yang sulit ditebak jika sudah menyangkut "wilayahnya".

"Oh, oke. Gue cuma nawarin doang kok. Gue balik ke barisan dulu ya, Ra," pamit Yudi buru-buru.

Proteksi di Hari Pertama

Setelah Yudi pergi, Nicholas duduk di tempat yang tadi ditempati Yudi. Ia mengambil botol air mineral Amara dan membukanya, lalu memberikannya kembali pada gadis itu.

"Topi lo miring," ucap Nick sambil membetulkan letak topi kerucut karton di kepala Amara dengan gerakan yang sangat lembut, berbanding terbalik dengan suaranya saat mengusir Yudi tadi.

"Kakak keterlaluan deh, dia kan mentor aku," protes Amara meski hatinya merasa senang dilindungi.

"Mentor atau bukan, matanya tadi nggak fokus ke papan nama lo, tapi ke muka lo. Gue nggak suka," sahut Nick posesif. "Baru hari pertama aja udah ada yang begini, gimana tiga tahun ke depan?"

Sarah yang sedari tadi menonton hanya bisa geleng-geleng kepala. "Sabar ya Kak Nick, Amara ini kan aset Biologi, pasti banyak yang ngincer."

"Nggak akan ada yang dapet," gumam Nick pelan namun terdengar jelas oleh Amara.

"Kak Nick, jangan galak-galak di sini. Nanti aku dikira maba yang sombong karena punya 'penjaga' kayak Kakak," ucap Amara sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.

"Biarin aja. Emang kenyataannya lo punya penjaga," jawab Nick santai. Ia kemudian mengeluarkan sebuah cokelat kecil dari sakunya. "Nih, buat energi sebelum panas-panasan lagi. Gue tunggu di depan gedung Biologi jam empat sore. Jangan pulang sama ojol, jangan pulang sama 'mentor' tadi."

Amara tersenyum manis, senyum yang hanya ia berikan untuk Nicholas. "Iya, Kak Nicholas."

Nicholas mengacak rambut Amara sebentar—mengabaikan topi kerucutnya yang jadi sedikit penyok—lalu beranjak pergi kembali menuju fakultasnya sendiri. Amara menatap punggung jangkung itu dengan perasaan lega. Meskipun mereka belum pacaran secara resmi, Amara sadar bahwa di kampus seluas ini, Nicholas akan selalu menjadi koordinat tempatnya kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!