NovelToon NovelToon
DIINJAK UNTUK BERSINAR

DIINJAK UNTUK BERSINAR

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
​Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
​Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: BEASISWA KULIAH KEDOKTERAN

#

Pagi itu aku bangun dengan perasaan gak karuan.

Deg-degan. Takut. Tapi juga penuh harap.

Hari ini pejabat dari Kemendikbud mau ketemu aku. Tentang beasiswa kuliah.

Aku bersihin diri. Pake seragam yang paling rapi. Meskipun udah lusuh, tapi aku setrika sendiri sampe rapi banget.

Jam setengah sembilan, aku jalan ke sekolah.

Tapi belum sampe gerbang, aku liat sesuatu yang aneh.

Ada mobil-mobil mewah parkir di depan rumah kami. Rumah kontrakan baru yang kami sewa pake sisa donasi.

Mobil hitam mengkilat. Ada tiga mobil. Ada bendera merah putih di kap mobilnya.

"Ini... ini mobil siapa?"

Bisikku bingung.

Aku lari ke rumah. Aku buka pintu.

Dan...

Aku berhenti napas.

Di dalam rumah yang sempit itu, ada beberapa orang pake jas rapi. Ada satu orang tua berkacamata. Rambutnya udah memutih. Mukanya serius tapi ramah.

Di sebelahnya ada Bu Ratna. Ada Pak Hasan. Ada beberapa pejabat lain.

Dan di tengah mereka semua... ayah sama ibu. Duduk di kursi plastik. Mukanya bingung. Tapi seneng.

"Sat... Satria pulang..." kata ibu sambil berdiri.

Orang tua berkacamata itu juga berdiri. Dia senyum.

"Kamu Satria Bumi Aksara?"

Aku ngangguk. Masih bingung. "I... iya, Pak. Saya Satria."

Dia ulurin tangan. "Saya Prof. Dr. Anwar Sutanto. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan."

Jantungku berhenti.

Menteri?

Menteri Pendidikan datang ke rumah aku?

Aku jabat tangannya dengan tangan gemetar. "Se... selamat pagi, Pak Menteri."

Pak Menteri senyum lebar. "Satria, kami semua bangga sama kamu. Kamu bukan cuma siswa terbaik se-Jakarta. Tapi kamu juga pahlawan. Kamu berani bongkar korupsi. Kamu berjuang untuk keadilan. Dan kamu... kamu layak dapat penghargaan."

Dia ambil map dari pegawainya.

Dia buka. Di dalamnya ada surat. Surat resmi dengan cap negara.

"Ini. Surat keputusan Presiden. Tentang beasiswa penuh kuliah kedokteran buat kamu."

Dia kasih surat itu ke aku.

Aku terima dengan tangan gemetar. Aku baca.

**KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA**

**NOMOR 45 TAHUN 2026**

**TENTANG**

**PEMBERIAN BEASISWA PENUH PROGRAM STUDI KEDOKTERAN**

**KEPADA**

**SATRIA BUMI AKSARA**

Di bawahnya ada detail.

- Beasiswa penuh S1 Kedokteran di Universitas Indonesia

- Biaya kuliah 100% ditanggung pemerintah

- Biaya hidup bulanan 5 juta rupiah

- Biaya buku dan penelitian

- Durasi 7 tahun (termasuk koas dan profesi)

- Tidak ada kewajiban ikatan dinas

Aku baca ulang. Berkali-kali.

Gak percaya.

Ini... ini mimpi yang selama ini aku kejar. Dengan darah. Dengan air mata. Dengan nyawa.

Sekarang... sekarang ada di tangan aku.

Aku nangis. Jatuh berlutut.

Surat itu masih digenggam erat.

"Ya Allah... terima kasih... terima kasih..."

Bisikku sambil sujud syukur di lantai.

Ayah sama ibu juga nangis. Mereka turun dari kursi. Mereka peluk aku.

"Nak... kamu berhasil... kamu benar-benar berhasil..."

Suara ayah gemetar. Penuh air mata.

Ibu belai rambut aku. Tangannya yang kasar. Tangan yang penuh luka bekas mencuci baju orang. Tangan yang selama ini kerja keras buat aku.

"Ibu bangga, Nak... ibu sangat bangga sama kamu..."

Aku angkat kepala. Aku liat ayah sama ibu.

Aku rangkak ke depan mereka. Aku cium kaki ayah. Aku cium kaki ibu.

"Terima kasih... terima kasih sudah gak pernah menyerah sama Satria. Terima kasih sudah doa setiap hari. Ini semua... ini semua karena doa ayah sama ibu."

Ayah angkat kepala aku. Dia peluk aku erat.

"Kamu... kamu anak terbaik ayah. Kamu... kamu kebanggaan ayah."

Kami nangis bareng. Di tengah rumah kontrakan yang sempit. Di depan Menteri Pendidikan. Di depan pejabat-pejabat penting.

Tapi kami gak peduli. Kami cuma keluarga yang bersyukur. Yang bahagia.

Pak Menteri juga nangis. Dia lap matanya pake sapu tangan.

"Satria... ini bukti bahwa sistem pendidikan kita masih punya harapan. Karena masih ada anak-anak seperti kamu. Anak yang gak menyerah meski dunia berusaha mematahkan kamu."

***

Sore itu, setelah Pak Menteri sama rombongannya pulang, aku telpon Vanya, Adrian, Arjuna, Nareswari.

"Kalian bisa dateng? Aku mau ngajak kalian ke suatu tempat."

"Kemana, Sat?"

"Kalian dateng aja dulu. Penting."

Setengah jam kemudian, kami berlima berkumpul. Aku bawa bunga. Bunga mawar putih.

"Sat... kita mau kemana?" tanya Vanya.

"Ikut aku."

Kami naik angkot. Turun di depan pemakaman umum. Pemakaman besar di pinggir kota.

Kami masuk. Jalan lewat deretan nisan. Batu-batu nisan dengan nama-nama yang udah pudar.

Aku berhenti di satu nisan. Nisan kecil. Sederhana.

**SITI NURHASANAH**

**1982 - 2024**

**GURU TERCINTA**

Istri Pak Joko. Wartawan yang bantuin kami dulu. Istri yang meninggal karena gak bisa cuci darah. Karena dana kesehatan sekolah dikorupsi H. Bambang.

Aku taruh bunga di depan nisan.

Aku duduk. Teman-teman juga duduk di sekeliling aku.

Hening.

Cuma suara angin sama burung.

"Bu Siti... kami dateng. Kami... kami mau bilang... kami berhasil. H. Bambang ditangkep. Pak Julian ditangkep. Korupsi terbongkar. Dan... dan kami semua lulus. Bahkan aku dapet beasiswa kuliah kedokteran."

Suaraku bergetar.

"Tapi... tapi kami tau. Ibu gak bisa liat ini semua. Ibu gak bisa liat keadilan yang akhirnya datang. Karena ibu... ibu udah pergi duluan. Maafkan kami... maafkan kami yang terlambat."

Aku nangis. Kami semua nangis.

Kami doa bareng. Buat Bu Siti. Buat semua anak miskin yang gak seberuntung kami. Yang mimpinya mati karena ketidakadilan sistem.

Setelah lama, Vanya bisik. Suaranya pelan tapi penuh tekad.

"Sat... kita harus bikin organisasi. Organisasi buat bantuin anak-anak miskin kayak kita. Biar apa yang kita alamin gak terulang lagi. Biar gak ada lagi anak yang kehilangan mimpinya karena korupsi."

Aku liat Vanya. Liat yang lain. Mereka semua ngangguk.

"Kita bikin yayasan. Yayasan buat anak-anak miskin berprestasi. Kita kasih beasiswa. Kita kasih bimbingan. Kita kasih harapan."

Adrian angkat kepalan tangan. "Gue setuju. Kita udah ngerasain sendiri betapa susahnya jadi anak miskin yang pengen sekolah. Kita gak mau anak-anak lain ngerasain hal yang sama."

Arjuna ngangguk. "Gue juga setuju. Kita pakai sisa donasi buat ayah lu, Sat. Masih ada lima puluh juta lebih kan? Kita pakai itu buat modal awal."

Nareswari senyum. "Kita bisa minta bantuan Bu Ratna. Pak Joko. Media-media yang udah bantuin kita. Mereka pasti mau dukung."

Aku senyum. Senyum lega. Senyum penuh harap.

"Oke. Kita lakuin. Kita bikin yayasan. Nama yayasannya... Yayasan Cahaya Harapan. Buat anak-anak miskin yang masih punya mimpi."

Kami angkat kepalan tangan. Di depan nisan Bu Siti.

"Buat anak-anak yang masih punya mimpi."

"Buat anak-anak yang masih punya mimpi."

"Buat anak-anak yang masih punya mimpi."

"Buat anak-anak yang masih punya mimpi."

"Buat anak-anak yang masih punya mimpi."

***

*Andri: "Kesuksesan sejati bukan saat kau mencapai puncak, tapi saat kau merentangkan tanganmu ke belakang untuk menarik orang lain yang masih berjuang di lembah. Karena cahaya yang paling terang adalah cahaya yang menerangi orang lain."*

1
Was pray
satria terlalu ambisius
✮⃝🍌 ᷢ ͩ 𝐁𝐋𝐔𝐄¹²²💙nury
memang kadang harapan gak sesuai dengan kenyataan
aa ge _ Andri Author Geje: good💪 benar ituh
total 1 replies
✮⃝🍌 ᷢ ͩ 𝐁𝐋𝐔𝐄¹²²💙nury
keren untuk Bagas ,tetap semangat dengan segala keterbatasannya
yuningsih titin: lanjut kak👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!