Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Garis Hitam di Atas Kertas Putih
Suara bajaj yang menderu dan teriakan pedagang sayur menjadi jam weker baru bagi Alana. Tidak ada lagi tirai sutra yang menghalau sinar matahari pagi atau aroma kopi arabika yang baru digiling mesin otomatis. Yang ada hanyalah panas lembap Petamburan yang menyusup masuk melalui ventilasi di atas pintu kontrakan Rini.
Alana membuka mata, menatap langit-langit kamar yang memiliki bercak bekas bocor berwarna kecokelatan. Punggungnya nyeri. Kasur busa tipis yang digelar di lantai itu tidak mampu menopang tubuhnya senyaman spring bed kualitas hotel di penthouse SCBD. Selama lima menit pertama setelah bangun, ia masih sering lupa. Ia masih berpikir harus memilih gaun mana untuk brunch hari ini. Namun, realitas segera menghantamnya saat ia melihat tumpukan baju kusut di sudut ruangan dan Rini yang sedang menggoreng tempe di dapur sempit yang menyatu dengan ruang tamu.
"Sudah bangun, Mbak?" sapa Rini tanpa menoleh. Bunyi minyak panas mendesis menutupi suaranya yang serak. "Air di ember sudah penuh kalau mau mandi duluan. Nanti keburu keruh."
Alana bangkit, merapikan rambutnya yang lepek. "Makasih, Rin. Aku mandi sekarang."
Air di kamar mandi umum itu dingin menusuk tulang, berbau kaporit pekat, dan sedikit berlendir di dasar baknya. Alana mengguyur tubuhnya dengan gayung plastik pecah di bagian bibir, berusaha tidak memikirkan bathtub berendamnya yang kini mungkin sedang dinikmati Siska. Ia tidak boleh menangis. Air mata hanya akan membuang kalori yang ia butuhkan untuk bekerja.
Satu jam kemudian, Alana sudah berada di dalam angkot yang sesak menuju daerah Jakarta Barat. Kemeja putih yang ia beli di pasar loak terasa gatal di kulit, bahannya kaku dan panas. Di sebelahnya, seorang ibu membawa keranjang berisi ikan asin, aromanya memenuhi kabin sempit itu, bercampur dengan asap rokok sopir dan keringat penumpang lain. Alana menahan napas, memandang keluar jendela yang berdebu. Gedung-gedung tinggi SCBD terlihat samar di kejauhan, seperti fatamorgana dari kehidupan lampau.
Kantor barunya, CV Bangun Jaya, terletak di sebuah ruko tiga lantai yang catnya sudah mengelupas. Lantai satu adalah toko material, lantai dua gudang, dan lantai tiga adalah 'kantor' arsitektur tempatnya bekerja. Tidak ada lift. Alana menaiki tangga sempit dengan napas terengah.
"Siang amat, Neng," sambut Pak Yono, pemilik sekaligus arsitek utama firma kecil itu. Ia duduk di balik meja yang penuh tumpukan kertas kalkir, sebatang rokok kretek terselip di bibirnya yang hitam. Abu rokok bertebaran di atas keyboard komputer tabung yang menguning.
"Maaf, Pak. Macet di Slipi," jawab Alana datar. Ia meletakkan tasnya di meja sudut yang goyah.
"Alasan orang kota," gerutu Pak Yono sambil menghembuskan asap ke udara. Ruangan itu tidak ber-AC, hanya ada kipas angin dinding yang berputar lambat, menyebarkan asap rokok ke seluruh ruangan alih-alih mendinginkannya. "Tuh, ada revisi denah ruko di Glodok. Klien minta kamar mandinya digeser ke belakang, tapi jangan ubah struktur kolom. Bisa nggak?"
Alana melihat sketsa kasar yang disodorkan Pak Yono. Garis-garisnya tidak rapi, proporsinya kacau. Bagi lulusan terbaik universitas ternama, tugas ini adalah penghinaan. Ini pekerjaan anak magang semester dua. Tapi Alana tidak punya pilihan. Ia butuh uang makan hari ini.
"Bisa, Pak," jawab Alana singkat.
Ia mulai menarik garis di atas kertas. Tangannya yang dulu terbiasa memegang gelas sampanye kini memegang pensil mekanik murah dan penggaris segitiga yang sudutnya sudah tumpul. Ia bekerja dalam diam, mengabaikan suara Pak Yono yang berteriak-teriak di telepon memarahi tukang bangunan.
Menjelang jam makan siang, Pak Yono melempar kunci motor ke meja Alana. "Nih, fotokopi gambar kerja ini di tempat biasa. Sekalian beli materai tiga biji. Jangan lama-lama."
Alana menatap kunci itu. "Saya nggak bisa naik motor, Pak."
Pak Yono melongo, lalu tertawa mengejek. "Arsitek kok nggak bisa naik motor? Ya sudah, jalan kaki sana. Di depan mal seberang ada fotokopian. Cepetan!"
Alana mengambil gulungan kertas itu dan berjalan keluar. Matahari Jakarta pukul dua belas siang terasa membakar kulit. Ia menyeberangi jembatan penyeberangan, berjalan menuju ruko fotokopi di samping sebuah mal kelas menengah. Kakinya lecet karena sepatu pantofel murah yang ia beli kemarin ukurannya sedikit kekecilan.
Saat sedang menunggu hasil cetakan blueprints yang besar, mata Alana menangkap sesuatu di lobi mal. Sebuah mobil sedan hitam mengkilap berhenti. Sopir berseragam turun membukakan pintu. Jantung Alana berhenti berdetak.
Itu mobil ayahnya. Plat nomor B 1 HW. Wardhana Group.
Alana mundur selangkah, bersembunyi di balik etalase kaca toko roti. Dari pintu penumpang, turun seorang wanita dengan gaun sutra berwarna krem, kacamata hitam oversized, dan tas tangan kulit buaya yang sangat dikenalnya. Itu tas ibunya. Salah satu koleksi vintage yang tidak sempat Alana jual.
Siska.
Wanita itu tampak bersinar. Kulitnya, rambutnya, postur tubuhnya—semuanya memancarkan aura uang dan kekuasaan. Siska tertawa renyah pada seseorang di telepon, memberikan kunci mobil pada valet dengan gerakan tangan yang angkuh, persis seperti cara Hendra melakukannya. Tidak ada lagi jejak Siska si gadis panti asuhan yang pemalu. Dia telah bermetamorfosis sempurna menjadi nyonya besar.
Alana melihat pantulan dirinya sendiri di kaca etalase toko roti. Rambut diikat asal-asalan, wajah berminyak tanpa make-up, kemeja pasar loak yang kaku, dan memeluk gulungan kertas biru kumuh. Kontras itu begitu tajam hingga membuat perutnya mual.
Seorang pelayan toko roti keluar, menatap Alana dengan curiga. "Mbak? Mau beli atau cuma neduh? Jangan halangin jalan."
Alana tersentak. Rasa malu menjalari lehernya. Ia bukan lagi Alana Wardhana yang akan dibukakan pintu. Ia sekarang hanyalah gangguan di trotoar.
"Maaf," gumam Alana, lalu berbalik pergi mengambil hasil fotokopinya.
Sepanjang jalan kembali ke kantor Pak Yono, kemarahan yang tadinya membeku kini mencair menjadi bahan bakar. Alana tidak menangis. Ia justru mempererat cengkeramannya pada gulungan kertas itu. Siska bisa memakai baju sutra itu, Siska bisa menenteng tas ibunya, tapi Siska tidak akan pernah memiliki otak Alana.
Sesampainya di kantor, Alana meletakkan hasil fotokopi di meja Pak Yono, lalu kembali ke mejanya sendiri. Ia menarik kertas kalkir baru.
"Lho, ngapain kamu? Itu denah ruko kan sudah selesai," tegur Pak Yono sambil menyeruput kopi hitamnya.
"Bapak salah hitung beban di balok lantai dua," kata Alana dingin, tanpa menoleh. Tangannya bergerak lincah menarik garis presisi. "Kalau kamar mandi digeser tanpa penebalan struktur di titik C-4, ruko itu bakal retak dalam dua tahun. Saya lagi hitung ulang strukturnya."
Pak Yono terdiam. Ia bangkit dan berjalan mendekati meja Alana, melihat tarikan garis tegas dan perhitungan beban yang ditulis Alana di pinggir kertas. Rumus-rumus itu rumit, tapi ditulis dengan logika yang sangat jernih.
"Kamu... belajar ginian di mana?" tanya Pak Yono, nadanya berubah dari meremehkan menjadi heran.
"Saya arsitek, Pak. Bukan tukang gambar," jawab Alana tajam. Ia menatap mata bosnya itu lurus-lurus. "Bapak bayar saya murah, tapi saya nggak mau nama saya ada di proyek yang bakal rubuh. Jadi biarkan saya perbaiki ini."
Pak Yono terbatuk kecil, membuang puntung rokoknya, lalu mengangguk kaku. "Ya sudah. Selesaikan. Kalau bagus, besok kamu ikut saya ketemu klien."
Sore harinya, Alana pulang dengan tubuh remuk redam. Di kontrakan, Rini sudah menunggu dengan dua bungkus nasi uduk.
"Muka lo kusut banget, Al. Dipecat?" tanya Rini cemas.
Alana duduk di lantai, membuka bungkus nasi itu. Aromanya sederhana, tapi perutnya keroncongan. "Nggak. Malah dapet promosi kecil. Besok diajak ketemu klien."
"Wih, mantap! Bos lo sadar juga dia dapet berlian harga kerikil," Rini tertawa, mencoba menghibur.
Alana menyuapkan nasi uduk itu. Rasanya gurih, meski sambalnya terlalu pedas. "Rin, tadi gue liat Siska."
Kunyahannya Rini terhenti. "Di mana? Lo nggak labrak dia kan?"
"Nggak. Gue liat dia dari jauh, turun dari mobil ayah, pake tas ibu gue," Alana menelan ludahnya yang terasa pahit. "Dia kelihatan... menang."
Rini meletakkan sendoknya, menatap Alana dengan iba. "Al, kalau lo mau nangis, nangis aja. Nggak ada yang liat kok."
Alana menggeleng pelan. Matanya kering, tapi tatapannya tajam menatap nyala api kompor gas di dapur. "Gue udah selesai nangis, Rin. Hari ini gue sadar satu hal. Gue nggak bisa ngalahin mereka kalau gue cuma jadi bayang-bayang masa lalu gue sendiri. Gue harus bangun pondasi baru. Biarin Siska ngerasa menang sekarang. Gedung yang dibangun di atas tanah curian nggak akan pernah kokoh."
Alana mengambil buku sketsa lusuhnya, membuka halaman kosong, dan mulai mencoret-coret. Bukan desain bangunan, tapi sebuah bagan. Di tengahnya tertulis nama 'Hendra Wardhana' dan 'Siska Damayanti'. Ia mulai menarik garis-garis koneksi, mencari celah, sekecil apapun itu.
"Gue bakal kerja di tempat Pak Yono," kata Alana pelan namun penuh penekanan. "Gue bakal kumpulin duit, gue bakal cari celah, dan gue bakal bikin mereka bayar sewa atas hidup yang mereka curi dari gue. Mahal."