Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.
Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.
Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Dara & Dino
...SELAMAT MEMBACA!...
...🐰...
Dara menghembuskan napas panjang setelah meminta izin kepada atasan untuk pulang lebih awal. Gadis itu tidak berani menolak permintaan sang bunda, meskipun tak merasa senang. Dia pergi ke ruang ganti, kemudian memasukkan bajunya ke dalam tas.
Seorang gadis dengan rambut panjang sepunggung datang, berjalan menuju rak sambil melirik sinis Dara. "Enak ya, pulang awal," celetuknya, tentu saja dia menyindir Dara.
Dara hanya diam, mencoba tidak menggubris bisikan menganggu itu. Namun, gadis tersebut malah mendekat dan berdiri di samping Dara. "Jangan keseringan alasan ada acara keluarga. Gue tahu, lo gak serius." Ucapannya begitu menusuk, seolah mengetahui segalanya.
"Amora ini pintar, loh," sambungnya, diiringi seringai mengancam itu.
Dara diam sejenak, mencoba bagaimana menyelesaikan percakapan tidak berguna baginya ini. Dia menggerakkan tubuh, menghadap Amora dan menatapnya dengan mata bulatnya. "Iya, Kak Mora memang pintar. Pintar sekali," balas Dara. Lalu, gadis itu melenggang pergi meninggalkan Amora.
Dia sama sekali tidak tersindir, Amora selalu percaya diri. Menyunggingkan senyum, menyisir rambutnya yang digerai ke belakang, dan tersenyum kemenangan. "Siapa yang gak tahu kalau Amora itu pintar?"
"Bahkan, lelaki mana yang gak bisa gue dapetin," ungkapnya.
Amora adalah rekan kerja Dara, yang suka memerintah, bahkan seolah-olah menjadi orang yang berkuasa. Wajah cantiknya membuat dia harus selalu menang. Dara pun mengakui kecantikan Amora.
Rambut panjang halus, alis tebal dan rapi, bibir tipis terkesan sempurna, serta hidung mancung dan kulit putih. Dia cantik sekali, tidak ada orang bisa mengatakan Amora sebaliknya. Begitu juga dengan kehidupannya yang nyaris lurus tanpa hambatan.
Di sebuah rumah besar dan luas, beberapa perabotan indah dan mahal tertata rapi. Lampu di ruang tengah menyala terang, mengisi kegelapan dengan cahayanya. Seorang laki-laki berdiri menghadap jendela, membelakangi pria yang lebih tua darinya. "Gak mau, Pa! Aku gak kenal cewek itu!" Seruan itu menggelegar seisi rumah.
"Dia anak baik, Dino. Mama sama Papa sudah cocok sama dia," ucap sang pria tua.
Dino berbalik badan. "Baik atau gak, kalau Dino gak cinta, Dino tetap gak mau." Wajahnya memerah karena marah. Dia benar-benar kesal dengan sang papa yang memaksanya untuk menerima perjodohan. Padahal, Dino paling benci dengan pemaksaan. "Mama sama Papa harusnya jauh hari bicarain soal ini sama aku!" titah Dino.
"Lusa nikah dan aku baru dikasih tahu sekarang?" Dino menarik sudut bibir, tersenyum miring. "Aku akan nikah kalau sudah menemukan orangnya, Pa."
"Udah ada yang isi hati aku, Pa," ungkap Dino.
Pria itu berjalan mendekati sang putra, berdiri di sampingnya. "Gadis kasir di supermarket itu, kan?" Dino tersentak kaget dan menatap tajam sang papa. "Dia orangnya, Dino," sambungnya.
Dia menarik kedua sudut bibir, kemudian mengangguk singkat. "Boleh kalau begitu," ujarnya.
Jawaban laki-laki itu, lantas membuat sang papa merasa senang. "Malam ini kita akan membicarakan tentang pernikahan kalian, secepatnya," ujarnya. "Tapi, Dino. Sebelum itu, kamu hubungi Mama kamu supaya cepat pulang!"
Dino Pamungkas, kini usianya menginjak 25 tahun. Dia menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari tangan, kemudian melenggang untuk duduk di sofa. Tubuhnya tinggi. Dino tampan dan terlihat tegas karena rahangnya. Ukiran Tuhan yang sempurna.
Dino merogoh ponsel di dalam saku, kemudian mengetikkan nama seseorang di sana untuk dihubunginya. Papa dari Dino menyusul, ikut duduk di samping putranya sambil menikmati secangkir kopi.
Tadi, dua laki-laki tersebut membicarakan soal Dino yang akan dijodohkan. Awalnya, Dino menolak sangat keras. Namun, setelah mengetahui siapa gadisnya, Dino menyetujui dengan senang hati.
"Ma, dicariin Papa, disuruh pulang."
"Sini ponselnya, Din!" pinta sang papa, kemudian Dino menyerahkan benda pipih itu. "Halo, Ma."
"Cepetan pulang! Mama lupa ada pertemuan malam ini?"
"Iya, cepetan! Papa tunggu di rumah. Dino juga udah setuju."
"Beneran, Ma. Dino mau katanya."
"Udah, lebih baik Mama pulang sekarang."
"Iya."
Panggilan itu pun terputus.
"Namanya beneran Dara Farastasya kan, Pa?" ujar Dino, menatap sang papa dengan penuh harap.
Dava Pamungkas---papa dari Dino itu berusia 41 tahun. Dia sangat posesif dengan putra satu-satunya. Pamu sudah seringkali menyuruh Dino mencari kekasih, tetapi sampai detik ini tidak ada gadis yang dibawa Dino ke rumah. Tidak berbeda jauh dengan Pavita---mama Dino.
Sifat keras Dino membuat sulit untuk hatinya dimasuki seseorang. Namun, tanpa orang lain ketahui, gadis bernama Dara itu sudah berada di dalam hati Dino. Jika tidak, mungkin Dino akan tetap menolak perjodohan dari kedua orang tuanya.
.....
Ketahuilah, Dara menurut tanpa ketulusan hati. Dia memasang raut wajah malas, seperti orang mengantuk. Gaun selutut dengan lengan pendek berwarna merah muda, membuatnya terlihat berbeda dari penampilan polos biasanya. Rambut itu digerai dan diberi aksesoris berbentuk bunga.
Dara duduk membisu tanpa mengangkat pandangannya. Dia menunduk. Keluarga calonnya masih belum datang, sehingga mereka harus menunggu. Sang bunda tiba-tiba menyenggol lengannya, membuat Dara sontak terkejut dan menatap.
Mereka datang, keluarga calon Dara yang bernama Dino.
Sepasang suami-istri mendekat, mengulurkan tangan untuk berjabat sambil mengulum senyum. Wanita itu memeluk singkat Dara dengan erat, Dara tidak pernah melihatnya. "Kamu lebih cantik ternyata," ucapnya.
"Makasih, Tante," balas Dara.
Wanita berambut pirang, tubuhnya idaman sekali. Berisi dan tinggi. Lalu, dia duduk di samping sang suami.
Dara celingukan seraya membenarkan posisi duduknya. Lelaki itu, siapa dan di mana? Dia tidak terlihat bersama orang tuanya. Bagus sekali jika tak datang.
"Cari Dino, ya? Dia masih memarkirkan mobil," ujar Pavi, lantas membuat Dara hanya tersenyum simpul.
Pavi mengobrol dengan Bila, sedangkan Pamu bersama Norman membahas pekerjaan. Sedangkan para wanita, mereka membicarakan keseharian anak-anaknya. Dara, dia hanya diam memainkan alat makan di piring berisi kue.
"Maaf, parkirnya lumayan susah." Suara berat seorang lelaki, membuat pandangan tertuju padanya. Dara membeku sejenak, kemudian mengangkat kepala ketika lelaki itu telah duduk di depannya. "Hai," sapa Dino kepada Dara.
Dara membulatkan mata, pupilnya membesar melihat Dino berpakaian formal duduk di depannya. Lelaki dengan wajah yang tidak asing. Dara membuka mulut, seperti orang ketakutan hingga membuat lainnya bingung. "Kenapa, Dara?" tanya Bila kepada putrinya.
"Bun, dia cowok yang aku lihat waktu itu," ucap Dara, dengan suara pelan. Bila lantas menatap Dino. "Psikopat itu!"
Dino tidak paham, dia menautkan kedua alisnya.
Napas Dara memburu, tubuhnya bergetar hebat. Wajah dipenuhi darah, kembali terputar di otaknya. Menggeleng cepat, kemudian beranjak pergi dari tempat duduknya. Dara membuat semua orang khawatir.
Dino menghela napas berat memandangi kepergian Dara. "Dino, susul Dara, sana!" pinta Pamu. Dino mengangguk singkat.
Dino sempat kehilangan jejak Dara, tetapi gadis itu akhirnya terlihat di taman sekitar restoran. Dino melangkahkan kaki panjangnya, mendekati Dara yang duduk di kursi sambil menangis pelan.
"Dara nggak mau. Aku takut." Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menumpahkan air matanya di sana.
Gelapnya langit malam seakan tahu kondisi Dara saat ini, bulan bersembunyi di balik awan hitam, dan bintang tidak terlihat satu pun. Sedih dan takut, Dino perlahan mendekati Dara. "Kenapa takut sama gue?" ujar Dino.
Dara tersentak kaget, tubuhnya semakin bergetar. Dara membuka mata, melihat Dino sudah berdiri tepat di depannya. Lalu, gadis itu mendongak mendapati Dino tersenyum ke arahnya. "Jangan takut! Gue bukan setan," kata Dino.
Dino mendudukkan tubuhnya di samping Dara hingga tubuh gadis itu menjadi kaku, Dara tidak berani menatap Dino.
Dino mengulas senyum tipis. Keinginannya sejak dulu, duduk bersama gadis yang dicintainya di bawah langit malam. "Bisa ngomong, kan? Kenapa takut?" seloroh Dino.
Dara menggelengkan kepala. "Maksudnya? Gak bisa ngomong?" sambung Dino.
Dara menjadi kesal. Ingin sekali mengatai Dino, tetapi dia juga takut.
"Aku pernah lihat kamu di supermarket malam hari. Kondisi kamu banyak darah di wajah," kata Dara. Setelah mengatakannya, dia lebih takut. "Kamu kayak psikopat."
"Mau gue bunuh?" sarkas Dino. Dara tersentak kaget dan langsung berdiri. Itu terlihat lucu di mata Dino. "Jadi, cewek waktu itu lo?" Dino ikut bangkit dan berdiri di samping Dara.
Dara tidak menjawab. Jarak di antaranya adalah dekat. "Jangan sakiti aku."
"Gak akan, kalau lo terima perjodohan ini," kata Dino.
Tidak ada lagi sebuah penolakan. Dino menerima perjodohan ini dengan senang hati, tetapi berbeda untuk Dara. Dino meyakinkan dirinya, bahwa dia bisa mengambil hati Dara.
.....
Matilah rasa takut, demi mendapatkan dan memberi kebahagiaan.
-Dara Farastasya
Segar sekali rasanya, lelah di tubuhnya seakan sirna. Dara keluar dari kamar mandi dengan wajah sumringah. Menyegarkan sekali mandi di pagi hari ini. Namun, langkah kakinya terhenti saat melihat lelaki tiduran di kasurnya.
Manik Dara membulat sempurna ketika mendapati Dino tidur tengkurap di atas kasur, sambil melihat-lihat benda di tangan. "Ngapain kamu di kamarku!" tegur Dara. Untung saja Dara sudah memakai baju. "Nggak sopan!"
Dino lantas bangun, mendudukkan tubuhnya. "Lihat ini!" Dia menyodorkan beberapa kertas kepada Dara.
Menyebalkan sekali, Dino seolah tidak peduli bahwa Dara sedang marah. "Apa itu?" tanya Dara.
"Lihat aja."
Dara berjalan mendekat, mengambil benda seperti kartu undangan dari tangan Dino. Dara mengerutkan dahinya. "Undangan pernikahan kita, celetuk Dino.
"Apa ini nggak terlalu cepat? Kita baru aja kenal, nggak perlu pendekatan?" tanya Dara.
"Pacaran setelah nikah aja," jawab Dino.
Dara bergidik ngeri, tidak bisa membayangkan bagaimana hal mengerikan itu akan terjadi. Dia mengangguk singkat dengan raut wajah malas.
"Hari ini kerja, kan? Gue antar, ayo!"
"Nggak usah, aku bisa sendiri."
"Gue anterin. Gue tunggu di luar, Calon Istriku!"
...Don't forget yaa guys untuk selalu meninggalkan jejak setelah membaca(☆▽☆)...