NovelToon NovelToon
Cahaya Abadi Shatila

Cahaya Abadi Shatila

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Cinta setelah menikah / Romansa / Tamat
Popularitas:372
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
​"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
​Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4Bayang-Bayang Masa Lalu

"Sama-sama, Amara. Simpan terima kasihmu untuk saat kamu sudah benar-benar merasa tenang nanti. Sekarang, beristirahatlah di sana sejenak," jawab Hannan dengan nada yang sangat menyejukkan.

Hannan pun berlalu menuju masjid bersama Gus Malik. Sementara itu, Amara duduk di bangku taman yang ditunjukkan tadi. Untuk pertama kalinya, ia merasa "terlihat" sebagai manusia, bukan sebagai barang dagangan seperti yang dianggap papa tirinya.

Saat suara imam mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dari dalam masjid, Amara memejamkan matanya. Meskipun ia tidak mengerti arti dari kata-kata yang diucapkan, ritme dan nada bacaan itu terasa seperti pelukan yang menyembuhkan luka di hatinya.

Tanpa sadar, Amara menggenggam erat tasnya, tempat di mana kartu nama Hannan tersimpan rapi. Di dalam benaknya, ia mulai bertanya-tanya: Siapakah sebenarnya pria bernama Hannan ini? Dan mungkinkah takdir membawanya ke Amerika hanya untuk bertemu dengan pria setenang ini?

Namun, di kegelapan parkiran yang tak jauh dari sana, sebuah sepasang mata sedang memperhatikan Amara dari dalam mobil yang terparkir di bawah pohon. Rupanya, pelarian Amara belum benar-benar berakhir.

Ternyata, bukan hanya papa tirinya yang mengejar, tapi ada sosok lain dari masa lalu Amara yang muncul. Suasana yang tadinya tenang di pelataran masjid berubah menjadi tegang.

Laki-laki di dalam mobil itu keluar perlahan. Namanya Ryan. Dia adalah pacar Amara dari Indonesia yang ikut menyusul ke Amerika. Namun, hubungan mereka sebenarnya toxic; Ryan adalah orang yang awalnya bekerjasama dengan papa tiri Amara, meski ia mengaku sangat mencintai Amara dengan cara yang obsesif.

Ryan berjalan mendekat ke arah bangku taman tempat Amara duduk. Langkah sepatunya terdengar berat di atas kerikil.

"Amara?" suara itu berat dan sangat familiar di telinga Amara.

Amara tersentak. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sosok pria dengan jaket kulit hitam berdiri di hadapannya. "Ryan? Bagaimana bisa kamu ada di sini?"

"Aku mencarimu ke mana-mana, Sayang. Kenapa kamu kabur dan malah berurusan dengan orang-orang berbaju koko itu?" Ryan melirik sinis ke arah pintu masjid tempat Hannan baru saja masuk. Ia mencoba meraih tangan Amara. "Ayo ikut aku sekarang sebelum papa tirimu menemukanmu. Aku sudah siapkan tempat untuk kita."

Amara mundur selangkah, wajahnya pucat. "Tidak, Ryan! Kamu juga bagian dari rencana Papa, kan? Kamu yang memberitahu dia kalau aku kabur ke Amerika!"

"Aku melakukan itu karena aku mencintaimu, Amara! Aku tidak mau kehilanganmu!" Ryan mulai menaikkan nada bicaranya dan mencengkeram bahu Amara dengan kasar.

"Lepaskan! Sakit, Ryan!" jerit Amara tertahan.

Tepat pada saat itu, salat Maghrib di dalam masjid baru saja usai. Hannan dan Gus Malik yang merasa khawatir karena melihat keributan kecil dari jendela masjid, segera keluar.

"Lepaskan tangan Anda dari gadis itu," suara Hannan terdengar dingin dan tegas.

Hannan berdiri di sana, masih mengenakan peci hitamnya. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat sangat serius. Gus Malik berdiri di sampingnya, siap siaga.

Ryan menoleh, menatap Hannan dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Oh, jadi ini pahlawan barumu, Amara? Seorang ustadz?" Ryan tertawa sinis. "Hei, Bung! Jangan ikut campur urusan asmara orang lain. Dia ini pacarku!"

Hannan melangkah maju satu tindak, memposisikan dirinya di antara Ryan dan Amara. "Siapa pun Anda, di tempat ini tidak diperbolehkan ada kekerasan. Amara sedang berada di bawah perlindungan kami."

"Perlindungan?" Ryan maju menantang, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Hannan. "Kamu tahu apa soal dia? Dia bukan duniamu, Ustadz. Jangan sampai jubahmu kotor karena ikut campur urusan kami."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!