Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.
A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sirkulasi Dua Dunia
Ruang guru pribadi All Might tidaklah semewah yang dibayangkan orang. Itu hanyalah sebuah ruangan dengan sofa kulit yang sedikit usang, tumpukan dokumen pahlawan, dan aroma teh hijau yang mengepul. Di sana, All Might duduk dalam wujud kurusnya, terbatuk kecil sambil menutupi mulutnya dengan saputangan.
Pintu terbuka tanpa suara. Mitsuki melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan gerakan yang begitu halus hingga engselnya tidak mengeluarkan bunyi sedikit pun.
"Kau memanggilku, Toshinori Yagi?" ucap Mitsuki pelan.
All Might tersentak. "Kau... kau bahkan tahu nama asliku."
"Nama adalah label," jawab Mitsuki sambil duduk di kursi di hadapan All Might. "Aku melihat catatan rahasia di sistem UA saat aku 'memperbaiki' identitasku. Tapi jangan khawatir, aku tidak memiliki niat untuk membagikannya. Rahasia adalah mata uang di duniaku."
All Might menghela napas, menyandarkan tubuhnya yang letih. "Muda Mitsuki... di USJ, kau menunjukkan kemampuan yang melampaui standar seorang murid. Bukan hanya kekuatanmu, tapi cara kau memandang pertempuran. Kau melihat Nomu bukan sebagai monster yang harus dikalahkan dengan amarah, tapi sebagai sistem yang harus dimatikan."
Mitsuki menatap All Might dengan mata kuningnya yang jernih. "Karena memang begitu adanya. Amarah hanya akan membutakan presisi."
"Siapa kau sebenarnya?" tanya All Might dengan nada serius namun lembut. "Aku sudah bicara dengan Nezu. Tidak ada catatan kelahiranmu di prefektur mana pun. Kemampuanmu... itu bukan Quirk biasa. Kau memanipulasi energi di sekitarmu, bukan hanya mengeluarkan kekuatan dari tubuhmu."
Mitsuki terdiam sejenak. Ia melihat telapak tangannya sendiri. "Aku adalah manusia buatan, All Might. Aku diciptakan di laboratorium oleh seseorang yang ingin mencapai kesempurnaan melalui sains dan energi alam. Di tempat asalku, kami menyebut energi ini Chakra. Apa yang kalian sebut Quirk, bagi aku terlihat seperti mutasi genetik yang tidak stabil."
All Might terdiam cukup lama. Informasi ini seharusnya mengejutkan, namun melihat ketenangan Mitsuki, ia merasa itu masuk akal. "Manusia buatan... jadi itu sebabnya Recovery Girl merasa tubuhmu sangat efisien."
"Ya," jawab Mitsuki. Ia kemudian memajukan tubuhnya. "Tapi bukan itu alasan utama kau memanggilku, kan? Kau ingin tahu kenapa aku bisa tahu batas waktumu."
"Ya."
"Aku bisa melihat aliran energi dalam tubuhmu," ucap Mitsuki. "Di perut kirimu, ada lubang besar bukan hanya secara fisik, tapi secara spiritual. Energi One For All yang kau miliki terus bocor dari sana setiap kali kau menggunakannya. Kau seperti ember yang retak."
All Might tersenyum pahit. "Ember yang retak, ya? Deskripsi yang tepat."
"Jika kau mau," Mitsuki berdiri dan berjalan mendekati All Might. "Aku bisa mengajarimu teknik pernapasan untuk menutup 'katup' energi itu sementara. Itu tidak akan menyembuhkan lukamu, tapi itu bisa mengurangi 'kebocoran' saat kau tidak dalam wujud pahlawan. Di duniaku, kami menyebutnya Tenketsu Control."
All Might menatap remaja itu dengan ragu, namun ada secercah harapan. "Kau ingin membantuku? Kenapa?"
"Karena Izuku sangat menghormatimu," jawab Mitsuki tulus. "Jika Matahari kehilangan cahayanya terlalu cepat, dunia ini akan menjadi sangat gelap. Dan aku lebih suka dunia yang terang."
Beberapa hari kemudian, di halaman belakang UA yang sepi, Mitsuki sedang menemani Izuku berlatih. Izuku tidak lagi sekadar melakukan shadow boxing. Ia mencoba meniru gerakan mengalir Mitsuki.
"Bagus, Izuku," ucap Mitsuki sambil menghindari pukulan Izuku hanya dengan menggeser tumitnya. "Jangan lawan gravitasi, gunakan itu. Saat kau melompat, bayangkan kau adalah bagian dari udara, bukan benda yang mencoba menembusnya."
Izuku berhenti, menyeka keringatnya. "Mitsuki-kun, aku merasa... gerakanku jadi lebih ringan. Tapi aku masih belum bisa menggunakan One For All lebih dari satu titik tanpa menghancurkan tulangku."
"Itu karena kau menganggap kekuatan itu sebagai 'alat' eksternal," analisis Mitsuki. "Kau harus menganggapnya sebagai darah. Biarkan dia mengalir ke seluruh tubuhmu dalam jumlah kecil, daripada memaksanya meledak di satu tempat. All Might adalah tipe petarung kekuatan murni, tapi kau... kau punya otak untuk menjadi petarung taktis."
Tiba-tiba, sebuah bola tenis melesat ke arah mereka dari balik pohon. Mitsuki menangkapnya tanpa menoleh.
"Oho! Refleks yang luar biasa!" Kirishima dan Kaminari muncul dari balik semak-semak.
"Kalian sedang latihan rahasia ya?" tanya Kaminari sambil nyengir. "Boleh kami ikut? Festival Olahraga sebentar lagi, dan aku tidak mau kalah memalukan dari kalian berdua."
Mitsuki menatap kedua teman barunya itu. Di dunia ninja, teknik rahasia klan tidak pernah dibagikan. Namun di sini...
"Boleh saja," jawab Mitsuki. "Tapi latihanku sedikit... berbeda. Kalian mungkin akan merasa sedikit mual."
"Apapun itu, aku siap!" seru Kirishima dengan semangat membara.
Sore itu pun diisi dengan Mitsuki yang mengajari mereka cara berdiri di atas permukaan air kolam sekolah menggunakan kontrol energi (meskipun Kaminari justru hampir tersetrum airnya sendiri). Gelak tawa pecah di antara mereka sebuah momen kedamaian yang sangat berharga sebelum badai Festival Olahraga dimulai.
Sementara itu, di markas rahasia penjahat, Shigaraki Tomura sedang melihat rekaman video Mitsuki saat di USJ. Ia memutar bagian di mana Mitsuki melumpuhkan Nomu berkali-kali.
"Kurogiri... lihat tangannya," desis Shigaraki. "Dia tidak menyentuh Nomu dengan kekuatan fisik. Dia mengirimkan sesuatu ke dalam tubuhnya. Seperti virus."
"Tuan, penelitian menunjukkan ada kemungkinan anak itu berasal dari proyek rahasia yang tidak terdaftar," lapor Kurogiri. "Beberapa faksi bawah tanah membicarakan tentang 'Anak dari Ular'."
Shigaraki tersenyum lebar, jarinya menggaruk lehernya hingga lecet. "Anak dari Ular, ya? Menarik. Jika dia adalah mahakarya sains, aku ingin melihat bagaimana dia bereaksi saat semua temannya di kelas 1-A perlahan-lahan mulai membencinya karena dia 'berbeda'."
Shigaraki menghancurkan gelas di tangannya hingga menjadi debu. "Festival Olahraga UA... panggung yang sempurna untuk menunjukkan pada dunia bahwa pahlawan masa depan mereka adalah seorang monster yang menyamar."
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen