NovelToon NovelToon
Imam Pilihan Bunda.

Imam Pilihan Bunda.

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Nikahmuda / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Interogasi

Hening setelah tembakan itu terasa tidak wajar.

Bukan karena kematian—Haikal sudah terlalu sering melihatnya.

Bukan karena darah—itu bagian dari tugas.

Namun karena Lian masih berdiri.

Pistol di tangannya bergetar pelan, bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang mulai surut. Napasnya tersengal. Kepalanya masih pusing hebat.

Haikal bergerak.

Cepat.

Dua pria yang menahannya tadi belum sempat bereaksi saat siku Haikal menghantam rahang satu orang, dan kuncian leher menjatuhkan yang lain ke tanah. Tidak ada gerakan berlebihan. Tidak ada amarah yang dibuang percuma.

Profesional.

Ia langsung berada di depan Lian.

Tangannya memegang pistol itu, menurunkannya perlahan.

Tatapannya menelusuri wajah istrinya—darah, pucat, mata yang masih menyala.

“Kau terluka?” suaranya rendah, tertahan.

Lian menggeleng kecil.

“Kepala aja pusing.”

Itu saja.

Seolah barusan bukan ia yang menembak mati seseorang.

Haikal menelan napas. Ia melepaskan jaket militernya, menyampirkannya ke bahu Lian, lalu memotong tali pengikat di pergelangan tangannya.

Begitu bebas—

Tubuh Lian langsung melemas.

Haikal menangkapnya tepat waktu.

“Hey—” Haikal menahan tubuhnya, satu lengan menopang punggungnya.

“Aku nggak pingsan,” gumam Lian lemah.

“Cuma… capek.”

Haikal mengangguk, meski dadanya seperti diremas dari dalam.

Saat itulah—

Suara langkah kaki teratur terdengar dari balik pepohonan.

Bukan langkah sembarangan.

Formasi.

Empat prajurit muncul, senjata terangkat, gerakan rapi. Di belakang mereka, seorang pria berpangkat lebih tinggi melangkah keluar.

Seragamnya rapi. Wajahnya keras.

“Kapten Haikal Fero.”

Haikal menegakkan tubuh.

“Siap, Komandan.”

Tatapan sang Komandan lalu jatuh ke Lian.

Ia terdiam.

“Jadi… ini istrimu.”

Haikal mengangguk.

“Siap.”

Komandan itu menghela napas panjang.

“Kita terlambat sedikit.”

Ia menoleh ke tubuh yang tergeletak di tanah.

“Kelompok bersenjata ilegal. Bukan warga desa.”

Lian mengangkat wajahnya.

“Kelompok apa?”

Komandan menatapnya lama, seolah menimbang.

Lalu berkata pelan, tapi jelas—

“Kelompok penyelundup.”

Sunyi.

“Mereka bukan sekadar kriminal kecil,” lanjutnya.

“Mereka jaringan lama. Bergerak lintas provinsi. Senjata. Bahan peledak. Dan—”

Ia menatap ke arah desa.

“Tambang ilegal.”

Haikal menegang.

“Di bawah desa ini,” lanjut sang Komandan,

“ada kandungan mineral langka. Tidak tercatat di peta resmi. Tidak pernah dilaporkan.”

Lian menelan napas.

“Itulah sebabnya desa ini—” gumamnya pelan, mengingat tiga sumur tua, penebangan pohon tahunan, tanah yang selalu dijaga.

“—tidak pernah punya sinyal,” sambung Komandan.

“Dan tidak pernah masuk jalur pembangunan.”

Lian mendongak cepat.

“Pohon-pohon tua ditebang tiap tahun.”

Komandan mengangguk.

“Untuk menutupi jalur bawah tanah.”

Haikal mengerti sekarang.

Kenapa ada tenda militer.

Kenapa penjagaan ketat.

Kenapa tidak boleh sembarang orang tahu.

“Mahasiswa sukarelawan?” tanya Lian.

“Tameng,” jawab Komandan jujur.

“Kegiatan sipil agar tidak menimbulkan kecurigaan. Tapi kelompok ini bergerak lebih cepat.”

Haikal mengepalkan tangan.

“Mereka tahu tentang Lian?”

Komandan mengangguk pelan.

“Mereka melihatmu dekat dengannya. Menganggap dia titik lemah.”

Lian tertawa kecil—pahit.

“Kesalahan klasik.”

Komandan menatapnya tajam.

“Kau berani.”

“Terbiasa,” jawab Lian singkat.

Komandan tersenyum tipis—nyaris tak terlihat.

“Desa ini dijaga,” katanya akhirnya,

“karena kalau tambang itu jatuh ke tangan yang salah—”

Ia menatap Haikal dan Lian bergantian.

“—yang meledak bukan cuma desa ini.”

Sunyi kembali turun.

Haikal memeluk Lian lebih erat.

Sekarang ia paham.

Mengapa ia ditempatkan di sini.

Mengapa Lian dibawa ke sini.

Dan mengapa sejak awal—

Takdir menarik mereka ke pusat badai yang sama.

Langkah-langkah kaki prajurit terdengar menjauh, membersihkan lokasi, mengamankan perimeter.

Hutan kembali sunyi.

Dan tepat di saat itu—

tubuh Lian benar-benar menyerah.

Demamnya datang cepat.

Terlalu cepat.

Haikal merasakan panas itu saat punggung tangan Lian menyentuh lehernya. Panas tak wajar. Tubuhnya menggigil meski keringat membasahi pelipis.

“Komandan,” suara Haikal menegang,

“istri saya demam.”

“Efek bius,” jawab sang Komandan cepat.

“Ditambah trauma fisik dan cedera lama.”

Lian setengah sadar.

Kepalanya bersandar di dada Haikal. Napasnya berat. Matanya terbuka tapi tidak fokus.

“Mas…” bisiknya.

“Pusing.”

Haikal mengangkatnya tanpa ragu—gendongan penuh,

“Tandu,” perintah Komandan.

Mereka dibawa ke tenda medis darurat.

Tenda Medis

Vano—mahasiswa kedokteran—sudah ada di sana.

Begitu melihat Lian, wajahnya langsung berubah.

“Ya Allah—”

“Fokus,” potong Haikal dingin.

Vano menelan ludah, segera memeriksa.

Tekanan darah naik. Suhu tubuh 39,6°C.

“Efek zat bius cukup kuat,” ujar Vano serius.

“Ditambah bahu kanan—ini cedera lama. Belum pernah sembuh total.”

Haikal mengepalkan tangan.

Ia tahu.

Ia selalu tahu bahu itu sering sakit.

Dan ia selalu berpikir… bisa menunggu.

Vano melirik Haikal.

“Kalau adrenalin turun, tubuhnya kolaps. Ini normal untuk orang sekeras dia.”

Lian mengerang pelan saat bahunya disentuh.

“Jangan… bahu…” gumamnya.

Haikal memegang tangannya erat.

“Aku di sini.”

Lian membuka mata sedikit.

“Mas… jangan marah.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari peluru mana pun.

“Diam,” bisik Haikal.

“Fokus sembuh.”

Ia menempelkan dahi ke rambut Lian.

Konsekuensi

Malam makin larut.

Saat kondisi Lian stabil—demam masih tinggi tapi tidak naik—Komandan masuk ke tenda.

Wajahnya serius.

“Kapten Haikal.”

Haikal berdiri.

“Siap.”

“Temuan hari ini akan dilaporkan,” lanjut Komandan.

“Termasuk satu korban tewas oleh senjata api.”

Haikal menegang.

“Komandan—”

“Saya tahu,” potongnya.

“Saya ada di lokasi. Saya melihat.”

Ia menatap ke arah Lian yang terbaring lemah.

“Istrimu menembak.”

Hening.

“Secara hukum,” lanjut Komandan pelan,

“itu tindakan sipil bersenjata.”

Haikal mengangguk kaku.

“Ambil saya sebagai penanggung jawab.”

Komandan menatapnya tajam.

“Kau tidak menembak.”

“Saya yang membawa dia ke sini.”

“Itu bukan dasar hukum.”

Komandan menghela napas panjang.

“Namun—”

ia menurunkan suaranya,

“ini wilayah operasi khusus. Tidak tercatat publik. Tidak ada saksi sipil yang bertahan.”

Haikal menatapnya.

“Artinya?”

“Artinya,” kata Komandan tegas,

“kami mencatat kematian itu sebagai kontak bersenjata internal.”

Haikal menahan napas.

“Tapi—” lanjut Komandan,

“istrimu akan tetap diperiksa. Bukan sebagai tersangka. Sebagai saksi khusus.”

Haikal mengangguk.

“Apa pun prosedurnya.”

Komandan menatap Lian lama.

“Perempuan itu…” katanya pelan,

“punya mental tempur.”

Haikal menjawab tanpa ragu.

“Dia istri saya.”

Komandan mengangguk kecil.

“Rawat dia. Setelah ini—keadaan akan berubah.”

Di Antara Demam

Malam semakin dalam.

Haikal duduk di sisi ranjang Lian, tak bergerak. Jaket militernya disampirkan menutupi tubuhnya.

Lian mengigau.

“Jangan panggil aku Humairah…”

“Jangan teriak…”

Haikal menutup mata.

Tangannya menggenggam tangan Lian erat.

“Maaf,” bisiknya.

“Aku telat.”

Lian mengernyit, lalu—

tangannya membalas genggaman itu.

Pelan.

Namun nyata.

Di luar tenda, penjagaan diperketat.

Operasi naik tingkat.

Dan di dalam tenda kecil itu—

Seorang prajurit duduk menjaga istrinya.

Bukan sebagai Kapten.

Bukan sebagai alat negara.

Melainkan sebagai suami yang akhirnya paham:

perang terberatnya bukan di medan tempur—

tapi memastikan wanita di sisinya tetap hidup.

 ---

Lian terbangun dengan kepala berat.

Bukan karena mimpi.

Bukan karena rasa sakit yang menusuk.

Melainkan karena sunyi yang terlalu rapi.

Ia membuka mata perlahan.

Langit-langit tenda medis tampak asing. Lampu redup menyala stabil. Bau antiseptik tipis menusuk hidungnya.

Tangannya terasa hangat.

Ia menoleh.

Haikal duduk di sisi ranjang, masih mengenakan seragam tempur, lengan bajunya digulung. Wajahnya lelah—lebih lelah dari biasanya.

“Mas…” suara Lian serak.

Haikal langsung bangkit.

“Bangun pelan.”

“Air…” gumamnya.

Haikal menyodorkan botol, membantu Lian minum sedikit demi sedikit. Setelah itu, barulah ia duduk kembali—kali ini lebih dekat.

“Demam kamu sudah turun,” katanya pelan.

“Tapi masih lemas.”

Lian mengangguk kecil.

“Terus… kenapa aku di sini?”

Haikal terdiam sesaat.

“Karena sebentar lagi,” katanya jujur,

“kamu akan diperiksa.”

Lian menatapnya.

“Interogasi?”

Haikal mengangguk.

Tidak ada kepanikan di wajah Lian.

Hanya napas panjang.

“Aku siap,” katanya pelan.

Haikal memegang tangannya.

“Aku akan ada di luar.”

Lian tersenyum tipis.

“Mas… jangan tatap aku seperti itu.”

“Seperti apa?”

“Seperti aku mau diambil dari kamu.”

Haikal tidak menjawab.

Karena itulah yang paling ia takuti.

 

Ruang Interogasi

Ruang itu sederhana.

Meja lipat. Dua kursi. Lampu putih. Tidak ada jendela.

Dua orang perwira duduk di seberang Lian.

Satu berpangkat menengah—wajahnya datar.

Satu lagi perempuan—tatapannya tajam tapi tenang.

“Nama lengkap?” tanya perwira perempuan.

Lian menarik napas.

“Humairah Liandra.”

Hening sesaat.

“Nama panggilan?”

“Lian.”

“Umur?”

“Dua puluh dua.”

Perwira pria mencatat.

“Kami akan merekam,” katanya.

“Jawab jujur. Ini bukan pengadilan.”

Lian mengangguk.

“Ceritakan kronologi sejak di hutan.”

Lian memejamkan mata sebentar—bukan untuk mengingat rasa takut, melainkan menyusun fakta.

“Ada ledakan asap,” katanya.

“Saya mencium bau bius. Suami saya kehilangan kesadaran.”

“Dan Anda?”

“Saya masih sadar. Diikat. Dibawa.”

Perwira perempuan mencondongkan tubuh.

“Kenapa Anda melawan?”

Lian membuka mata.

“Karena mereka menodongkan senjata ke kepala suami saya.”

“Apakah Anda berniat membunuh?”

Lian terdiam sejenak.

Lalu menjawab tenang.

“Saya berniat menghentikan ancaman.”

“Dengan senjata api.”

“Ya.”

Perwira pria mengangkat alis.

“Apakah Anda punya pengalaman menggunakan senjata?”

Lian mengangguk kecil.

“Dasar. Pernah belajar bela diri. Saya terbiasa berkelahi.”

“Kami melihat teknik Anda,” sela perwira perempuan.

“Itu bukan refleks biasa.”

Lian menatap meja.

“Saya tumbuh keras.”

Tidak ada penjelasan tambahan.

“Apakah Anda sadar bahwa secara hukum sipil—”

“Saya tahu,” potong Lian pelan.

“Dan saya siap bertanggung jawab.”

Kejujuran itu membuat ruangan hening.

Perwira perempuan menatap Lian lama.

“Kenapa Anda tidak lari?”

“Karena kalau saya lari,” jawab Lian,

“suami saya mati.”

Sunyi.

“Apakah Kapten Haikal menyuruh Anda menembak?”

“Tidak.”

“Apakah ia memberi isyarat?”

“Tidak.”

“Apakah Anda menyesal?”

Lian mengangkat wajahnya.

“Tidak.”

Jawaban itu jujur. Tidak keras. Tidak menantang.

“Kalau diulang?”

“Saya akan melakukan hal yang sama.”

Perwira perempuan menghela napas panjang.

“Pertanyaan terakhir,” katanya.

“Apa yang Anda lindungi saat tangan Anda menutup perut?”

Lian terdiam.

Tangannya refleks menyentuh perutnya sendiri.

Lalu ia menjawab pelan.

“Insting.”

Tidak ada kebohongan.

Tidak juga pengakuan.

Perwira perempuan menatapnya tajam—namun tidak memaksa.

Ia menutup map.

“Cukup.”

 

Di Luar Ruangan

Haikal berdiri tegak sejak awal.

Begitu pintu terbuka, ia langsung menoleh.

Lian keluar dengan langkah pelan. Wajahnya pucat tapi tegak.

Haikal mendekat.

“Sudah,” kata perwira perempuan.

“Istri Anda bersih dari niat kriminal.”

Haikal menahan napas.

“Namun,” lanjutnya,

“dia sekarang bagian dari informasi sensitif negara.”

Lian mengangguk.

“Aku paham.”

Haikal menatapnya—campuran lega, bangga, dan takut.

Saat mereka berjalan menjauh, Lian berbisik pelan—

“Mas… aku nggak takut ditanya siapa pun.”

Haikal menoleh.

“Aku cuma takut…”

“kalau suatu hari kamu nggak di sisiku.”

Haikal berhenti.

Menarik Lian ke dalam pelukannya—di depan semua orang.

“Selama aku hidup,” katanya rendah,

“itu tidak akan terjadi.”

Dan untuk pertama kalinya sejak tembakan itu—

Lian merasa aman.

Bukan karena senjata.

Bukan karena seragam.

Melainkan karena ia tidak lagi berdiri sendirian di medan mana pun.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!