Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Ngidam pertama.
Rumah itu sunyi.
Bukan sunyi yang kosong, tapi sunyi yang hangat—seperti napas yang akhirnya kembali ke paru-paru setelah ditahan terlalu lama.
Haikal masih berdiri di ruang tamu. Jaket militernya sudah dilepas dan disampirkan di sandaran kursi. Sepatunya tertata rapi di rak. Semua terasa… kembali ke tempatnya.
Termasuk dia.
Lian berdiri beberapa langkah di depannya. Rambutnya terikat longgar, wajahnya pucat sisa perjalanan dan mual di pesawat, tapi matanya tenang. Tenang dengan cara yang membuat dada Haikal terasa sesak.
Haikal menatapnya lama.
Terlalu lama.
Seolah ingin menghafal ulang setiap garis wajah istrinya—wanita yang ia tinggalkan dengan janji singkat, lalu kembali dengan waktu yang terlalu panjang.
Tanpa peringatan, Haikal melangkah maju.
Tangannya terangkat, lalu memeluk Lian.
Bukan pelukan hati-hati.
Bukan pelukan ragu.
Ia memeluk erat.
Seerat seseorang yang hampir kehilangan, lalu akhirnya mendapatkan kembali.
Tubuh Lian terhuyung kecil saat ditarik ke dada Haikal. Hidungnya menghantam dada pria itu, dan detik berikutnya—kakinya melemas.
Bukan karena lelah.
Bukan karena mual.
Tapi karena suara itu.
“Mas… mencintaimu.”
Suara Haikal rendah. Serak. Jujur.
Bukan pengakuan manis.
Bukan kalimat romantis yang dipikirkan lama.
Itu pengakuan yang keluar dari dada yang sudah terlalu lama menahan.
Lian terdiam.
Tangannya mencengkeram baju Haikal refleks, seolah tubuhnya mencari pegangan agar tidak benar-benar jatuh. Jantungnya berdetak tak beraturan, keras, nyaris menyakitkan.
“Mas…” suaranya gemetar.
“Jangan bilang gitu kalau cuma kasihan.”
Haikal menarik tubuh Lian sedikit menjauh.
Tangannya memegang wajah Lian, kedua ibu jarinya menahan pipi istrinya dengan lembut tapi pasti.
Tatapannya lurus. Dalam. Tidak lari.
“Bukan kasihan,” katanya tegas.
“Aku mencintaimu karena kamu Lian. Karena kamu bertahan. Karena kamu menunggu. Karena kamu tetap hidup… tanpa aku.”
Lian menelan ludah.
Air mata menggenang, tapi tidak jatuh.
Haikal tidak menunggu lagi.
Untuk pertama kalinya—dia yang memulai.
Ia menunduk dan mencium Lian.
Bukan ciuman ragu.
Bukan ciuman singkat.
Ciuman itu dalam, penuh, dan jujur—seperti semua perasaan yang akhirnya menemukan jalan keluar.
Lian membeku sepersekian detik.
Lalu membalas.
Tangannya naik ke leher Haikal, jarinya mencengkeram rambut pendek pria itu. Tubuhnya kembali melemas, tapi kali ini Haikal menahannya, memeluknya lebih erat.
Seolah berkata: jatuh pun aku tangkap.
Saat mereka berpisah, dahi Haikal menempel di dahi Lian.
Napas mereka menyatu.
“Aku pulang,” bisik Haikal.
“Dan kali ini… aku tinggal.”
Lian tersenyum di antara air mata.
“Jangan ke mana-mana lagi, Mas,” katanya pelan.
“Aku capek kuat sendirian.”
Haikal memeluknya lagi, lebih erat dari sebelumnya.
Di rumah yang akhirnya kembali hidup.
Di pelukan yang tak lagi tertunda.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama—
mereka tidak lagi saling menunggu.
Mereka bersama.
Tengah malam.
Rumah sudah gelap, hanya lampu kecil dapur yang menyala redup. Jam dinding berdetak pelan menunjukkan pukul 00.37.
Lian berdiri di depan kulkas.
Buka.
Tutup.
Buka lagi.
Ia menatap isi kulkas dengan ekspresi datar… lalu kecewa.
“Ini juga nggak ada,” gumamnya.
Ia beralih ke lemari dapur. Dibuka satu per satu. Tepung, gula, mi instan, biskuit, kopi. Semua ia periksa dengan serius, seolah sedang melakukan audit negara.
“Ya ampun… kosong,” desahnya lirih.
Perutnya bergejolak aneh. Bukan lapar biasa. Ini perasaan harus—harus sekarang juga, harus itu, tapi entah apa.
Lian menghela napas panjang.
Matanya melirik ke arah pintu depan.
Ia menoleh ke kiri, ke kanan. Rumah sunyi. Haikal pasti tidur. Langkahnya ringan saat ia mengambil jaket tipis, memakainya pelan, lalu membuka pintu rumah perlahan—berusaha tidak menimbulkan suara.
Kaki kirinya baru saja melangkah keluar.
“Mau ke mana tengah malam begini?”
Suara itu.
Dingin. Tenang. Tepat dari belakang.
Lian tersentak.
“AAAH—MAS!”
Ia refleks berbalik, hampir saja jatuh mundur.
Haikal berdiri di ambang pintu kamar, rambut sedikit berantakan, kaus hitam sederhana, tangan bersedekap di dada. Tatapannya tajam—tatapan tentara yang biasa membangunkan musuh dari tidur terdalam.
“Jam berapa sekarang?” tanyanya datar.
Lian menelan ludah.
“Eee… malam?”
Haikal melangkah mendekat pelan. Terlalu pelan.
“Lian.”
“Iya?”
“Kamu mau ke mana.”
Lian diam dua detik.
Lalu menghela napas panjang.
“Aku… ngidam.”
Haikal berhenti melangkah.
“Ngidam apa.”
Lian mengernyit, berpikir keras.
“…Aku juga nggak tau.”
Haikal menatapnya lama.
“Ngidam tapi nggak tau apa?”
Lian mengangguk mantap.
“Iya.”
“Jam setengah satu pagi.”
“Iya.”
“Sendirian.”
“Iya…”
Haikal memejamkan mata sebentar. Menarik napas. Menghembuskannya perlahan, seperti sedang menghitung amarah.
“Kamu mau ke mana?”
Lian menunjuk keluar dengan wajah polos.
“Ke warung.”
“Warung apa.”
“Warung yang jual… itu.”
“Itu apa.”
Lian mendadak berkaca-kaca.
“Mas aku pengen makan sesuatu tapi aku nggak tau apa tapi kalo nggak dapet rasanya aku mau nangis.”
Haikal langsung membeku.
Bahaya.
Bahaya level merah.
Air mata Lian mulai menggenang. Bibirnya bergetar.
“Aku pengen yang asin tapi juga manis tapi juga pedes tapi juga dingin… tapi jangan es.”
Haikal menyerah.
“Masuk,” katanya cepat.
Ia menuntun Lian kembali ke dalam rumah, menutup pintu, lalu mengambil kunci mobil.
“Pakai sandal.”
“Mas?”
“Kita keluar.”
Mata Lian langsung berbinar.
“Beneran?”
“Beneran,” jawab Haikal pasrah.
“Tapi kamu duduk manis, jangan nangis, dan jangan ganti ngidam di tengah jalan.”
Lian mengangguk cepat.
“Janji.”
Lima menit kemudian.
Mereka di dalam mobil.
Haikal menyetir dengan wajah datar, fokus ke jalan.
“Jadi,” katanya,
“kita mau cari apa?”
Lian menatap ke depan dengan ekspresi serius.
“…Aku kepengen rujak buah tapi pake keju parut.”
Haikal menginjak rem mendadak.
“Kamu apa?”
Lian menoleh, polos.
“Rujak. Keju. Mas.”
Haikal menatap langit malam.
“Ya Allah… ini baru ngidam pertama.”
Lian tersenyum puas, lalu menyandarkan kepala ke kursi.
Di perutnya, sesuatu yang kecil—tak terlihat—seolah ikut tertawa.
Dan Haikal tahu satu hal pasti:
perang terberatnya bukan di medan tempur,
tapi menghadapi ngidam istrinya.
Sudah satu jam.
Mobil Haikal berputar entah ke berapa kalinya. Jalanan makin sepi, lampu-lampu toko satu per satu mati. Penjual rujak? Nihil. Bahkan gerobak bakso pun sudah pulang.
Haikal menghela napas panjang sambil tetap menyetir.
“Mas,” suara Lian pelan dari kursi penumpang,
“kayaknya rujaknya ngambek.”
Haikal melirik.
“Yang ngambek kamu.”
Lian tersenyum kecil, tapi tangannya masih mengelus perutnya.
Saat Haikal hendak berbelok lagi, matanya menangkap sebuah kios kecil di pinggir jalan. Lampunya masih menyala. Spanduk lusuh bertuliskan JUS BUAH SEGAR bergoyang pelan tertiup angin.
Haikal menginjak rem.
“Kita coba itu,” katanya.
Lian menoleh ragu.
“Mas, itu jus.”
“Iya. Tapi ibu-ibu biasanya bisa segalanya.”
Mereka turun dari mobil.
Kios itu sederhana. Meja kayu, blender tua, tumpukan buah di keranjang plastik. Di balik meja berdiri seorang wanita tua dengan kerudung tipis dan senyum hangat.
“Silakan, Nak,” katanya ramah.
Haikal mendekat, sedikit canggung—lebih gugup daripada saat briefing operasi militer.
“Bu,” katanya sopan,
“maaf kalau permintaan saya aneh.”
Wanita tua itu tersenyum.
“Kalau bukan aneh, bukan tengah malam, Nak.”
Haikal melirik Lian sebentar.
“Istri saya hamil,” lanjutnya jujur.
“Ini ngidam pertama. Kami sudah keliling lama… cari rujak.”
Lian mengangguk kecil, wajahnya polos tapi penuh harap.
“Bu… bisa bikin rujak keju nggak?” tanya Haikal hati-hati.
“Kalau bisa… seadanya saja.”
Wanita tua itu terdiam sesaat.
Lalu tersenyum lebih lebar.
“Bisa, Nak.”
Lian langsung berbinar.
“Beneran, Bu?!”
Wanita itu mengangguk sambil mulai bekerja. Ia mengambil buah-buah yang biasa dipakai untuk jus—apel, mangga, nanas—lalu memotongnya kecil-kecil. Di cobek kecil, ia mengulek cabai, gula, dan sedikit asam jawa.
“Rujak rumahan,” katanya sambil tertawa kecil.
“Bukan rujak pasar.”
Ia menuangkan sambal ke potongan buah, lalu… menaburkan keju parut di atasnya.
Haikal memesan dua gelas jus buah—satu untuk Lian, satu untuk dirinya.
Mereka duduk di kursi plastik kecil di depan kios.
Saat piring rujak diletakkan di depan Lian, aroma asam, pedas, dan… keju langsung menyeruak.
Lian menatapnya lama.
Sangat lama.
Haikal mengernyit.
“Kenapa?”
Lian mendorong piring itu ke arahnya.
“Mas.”
“Kenapa lagi?”
“Kamu dulu yang makan.”
Haikal membeku.
“…Apa?”
Lian mengangguk serius.
“Aku mau liat ekspresi kamu.”
“Lian, ini ngidam kamu.”
“Iya. Makanya kamu cobain dulu.”
Haikal menatap rujak itu seperti menatap bom aktif.
Wanita tua itu menahan tawa.
Haikal menghela napas, lalu mengambil satu potong mangga berlumur sambal dan keju.
Ia memasukkannya ke mulut.
Mengunyah.
Dua detik.
Tiga detik.
Ekspresinya berubah aneh.
Lian mencondongkan tubuh.
“Enak nggak?”
Haikal menelan.
“…Aneh.”
“Terus?”
“…Tapi nggak buruk.”
Lian langsung merebut piring itu.
“Berarti aman.”
Ia makan dengan lahap. Matanya terpejam, wajahnya berubah puas.
“Ini… ENAK,” katanya mantap.
“Mas, kamu bohong tadi.”
Haikal tersenyum tipis sambil menyeruput jus.
Selesai makan, Haikal berdiri dan mengeluarkan dompet.
“Bu, ini semuanya ya.”
Wanita tua itu menggeleng cepat.
“Jus saja, Nak.”
Haikal terkejut.
“Rujaknya juga, Bu.”
Wanita itu tersenyum lembut, matanya menatap perut Lian.
“Rujaknya gratis,” katanya.
“Buat calon ibu. Biar anaknya sehat, bapaknya sabar.”
Lian tersenyum lebar.
“Terima kasih, Bu.”
Haikal terdiam sejenak, lalu mengangguk hormat.
“Terima kasih banyak.”
Saat mereka berjalan kembali ke mobil, Lian menatap Haikal sambil tersenyum puas.
“Mas.”
“Iya.”
“Anak kita nanti… kuat.”
Haikal meliriknya, lalu menepuk lembut kepala Lian.
“Pasti,” katanya pelan.
“Soalnya ibunya… Nakal”
Lian tertawa kecil.
Dan di tengah malam yang absurd,
dengan rujak keju rumahan dan jus buah pinggir jalan—
mereka pulang dengan hati yang jauh lebih penuh.