NovelToon NovelToon
Mencintaimu Jalur Langit

Mencintaimu Jalur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:36
Nilai: 5
Nama Author: Moch Sufyandi

Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
​Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
​Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
​Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
​Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​BAB 10: Garam di Sayur Asem dan Kerikil di Depan Pintu

​Cahaya matahari pagi di Bandung Utara memiliki cara tersendiri untuk membangunkan penghuninya. Di rumah kontrakan petak nomor 4B itu, cahaya tidak masuk melalui jendela kaca besar yang dilapisi gorden sutra tebal seperti di kamar lama Zalina. Di sini, cahaya menerobos masuk secara kasar melalui lubang ventilasi roster beton yang berdebu, menciptakan pola kotak-kotak cahaya di lantai keramik putih yang dingin dan retak-retak.

​Fatih mengerjap-erjapkan matanya. Punggungnya terasa kaku.

​Kasur busa murah yang mereka beli kemarin sore ternyata jauh lebih tipis dari dugaannya. Setelah ditiduri semalaman, busa itu mengempes hingga punggung Fatih rasanya langsung bertemu dengan ubin lantai. Ia menoleh ke samping perlahan, takut membangunkan bidadari yang tertidur di sebelahnya.

​Zalina masih terlelap. Istrinya itu tidur dengan posisi meringkuk seperti janin, memeluk guling yang sarungnya sudah agak lusuh—warisan Fatih zaman kuliah. Rambut hitam panjangnya tergerai menutupi sebagian wajahnya yang polos tanpa riasan.

​Fatih menatap wajah itu lama sekali. Ada rasa nyeri yang menjalar di dada kirinya. Rasa bersalah.

​Ya Allah, batin Fatih, tangannya terulur menyentuh pipi Zalina namun berhenti di udara, takut membangunkannya. Kemarin dia tidur di kasur King Koil seharga puluhan juta. Pagi ini, dia bangun di atas busa seratus ribuan yang bikin badan sakit. Apakah aku terlalu egois membawanya ke sini?

​Zalina menggeliat pelan. Dahinya berkerut, mungkin merasakan dinginnya lantai yang merembes ke tulang. Fatih buru-buru menarik selimut tipis mereka—kain jarik batik—untuk menutupi bahu Zalina.

​"Mas..." gumam Zalina dengan suara serak khas bangun tidur. Matanya perlahan terbuka.

​Fatih tersenyum, menyembunyikan rasa bersalahnya. "Assalamu'alaikum, Humaira-ku."

​Zalina mengerjapkan mata, mencoba memfokuskan pandangan. Selama tiga detik pertama, ia tampak bingung melihat langit-langit kamar yang rendah dan bercat hijau pudar, bukannya langit-langit tinggi berlampu kristal. Realita menghantamnya: dia sudah pindah.

​Namun, alih-alih mengeluh, senyum manis merekah di bibirnya saat melihat Fatih.

​"Wa'alaikumussalam, Imamku," jawab Zalina, suaranya manja. Ia merentangkan tangan. "Mas... dingin banget lantainya. Tulangku bunyi semua."

​Fatih tertawa kecil, membantu Zalina duduk. "Maaf ya. Nanti kalau ada rezeki, kita beli dipan kayu. Atau minimal karpet tebal."

​"Nggak apa-apa. Itung-itung terapi punggung gratis," canda Zalina sambil mengikat rambutnya asal-asalan. "Jam berapa sekarang, Mas?"

​"Setengah enam. Waktunya subuh udah lewat, tapi kita tadi udah jamaah kan jam empat. Sekarang waktunya 'perang' di dapur."

​Zalina langsung menegakkan punggungnya, matanya berbinar semangat. "Oke! Hari ini debut pertamaku masak sebagai istri! Mas Fatih minggir, jangan ganggu daerah kekuasaanku."

​Fatih mengangkat kedua tangan tanda menyerah. "Siap, Bu Komandan. Mas bantu doa aja dari ruang tengah."

​Namun, semangat membara Zalina segera berbenturan dengan realita infrastruktur dapur kontrakan yang memprihatinkan.

​Dapur itu hanyalah lorong sempit di belakang rumah, menyatu dengan pintu kamar mandi. Kompor yang mereka punya adalah kompor gas satu tungku bekas pakai yang diberikan ibu kost sebagai inventaris. Pemantiknya sudah rusak, jadi harus dinyalakan manual pakai korek api kayu.

​Zalina berdiri mematung di depan kompor itu. Di tangan kirinya ada panci berisi air dan potongan sayuran (yang ia beli di tukang sayur keliling tadi pagi dengan susah payah menawar), di tangan kanannya ada korek api.

​Ctrek. Whush.

​Api dari korek kayu menyala, tapi Zalina ragu-ragu mendekatkannya ke tungku gas yang mendesis. Ia takut meledak.

​"Bismillah..." bisiknya gemetar. Ia mendekatkan api.

​WUSH!

​Api oranye besar menyambar dari tungku, hampir menyilat ujung kerudung instan yang ia pakai. Zalina menjerit kecil, mundur tiga langkah hingga punggungnya menabrak tembok. Jantungnya berdegup kencang.

​"Dek! Kenapa?!"

​Fatih yang sedang menyapu ruang tamu langsung melempar sapunya dan berlari ke dapur. Wajahnya panik.

​"Mas... kompornya galak," adu Zalina, matanya berkaca-kaca. Wajahnya sedikit cemong terkena jelaga dari pantat panci yang ia pegang. "Aku takut nyalahinnya."

​Fatih menghela napas lega melihat istrinya utuh. Ia mengambil alih korek api dari tangan Zalina yang gemetar.

​"Ini knop-nya emang agak longgar, Sayang. Harus diputer dikit-dikit. Liat Mas ya."

​Fatih dengan tenang memutar knop gas sedikit, lalu menyulut api. Plup. Api biru menyala stabil.

​"Nah, udah nyala. Sekarang kamu mau masak apa?" tanya Fatih lembut, mengusap puncak kepala Zalina untuk menenangkannya.

​"Sayur asem sama tempe goreng," jawab Zalina, semangatnya kembali sedikit demi sedikit. "Resep dari Ibu."

​"Oke. Mas bantuin potong tempe ya?"

​"Jangan! Mas Fatih duduk aja. Ini ujian kemandirian aku," tolak Zalina tegas. Ia mendorong pelan punggung Fatih keluar dapur.

​Fatih akhirnya mengalah. Ia duduk di ruang tamu yang kosong melompong (karena belum ada kursi), sambil membuka laptopnya di atas kardus bekas mi instan yang dijadikan meja kerja darurat. Ia mencoba fokus mengerjakan revisi gambar, meski telinganya terus waspada mendengarkan bunyi kluntang-kluntung panci jatuh dari arah dapur.

​Tiga puluh menit kemudian.

​Aroma masakan mulai tercium. Baunya... unik. Ada bau harum bumbu racik, tapi bercampur sedikit bau gosong yang samar.

​"Makanan siaaaap!" seru Zalina dari dapur.

​Ia keluar membawa nampan plastik. Di atasnya ada dua piring nasi hangat, satu mangkuk besar sayur asem yang warnanya agak pucat, dan sepiring tempe goreng yang warnanya eksotis (baca: sebagian cokelat tua, sebagian hitam).

​Mereka duduk bersila di lantai ruang tamu, beralaskan tikar pandan.

​"Maaf ya Mas, tempenya agak... tan," Zalina nyengir kuda, menunjuk tempe yang gosong. "Tadi aku tinggal sebentar buat ambil garem, eh dia udah gosong duluan. Sensitif banget tempenya."

​Fatih tertawa. "Nggak apa-apa. Gosong dikit itu obat, katanya."

​"Cobain sayurnya dong, Mas. Jujur ya."

​Fatih mengambil sendok, menyendok kuah sayur asem itu. Zalina menatapnya dengan intens, menahan napas seperti menunggu pengumuman kelulusan.

​Fatih memasukkan kuah itu ke mulutnya.

​Detik pertama: Terasa hangat.

Detik kedua: Rasa asam dari asam jawa menyeruak.

Detik ketiga: Asin. Asin yang luar biasa. Seperti menelan air laut Pantai Parangtritis yang dikentalkan.

​Mata Fatih melebar sedikit karena kaget, tapi ia buru-buru mengendalikan ekspresi wajahnya. Ia menelan kuah itu dengan susah payah. Kerongkongannya berteriak minta air.

​"Gimana?" tanya Zalina antusias.

​Fatih tersenyum lebar, meski lidahnya terasa kelu. "Enak, Dek. Seger banget. Asemnya nendang."

​"Kurang garem nggak? Tadi aku takut hambar, jadi aku tambahin dua sendok teh lagi pas terakhir."

​Dua sendok teh terakhir? Ditambah yang awal? Pantas saja rasanya kayak garam dikasih kuah, batin Fatih.

​"Udah pas kok. Beneran. Ini... ini cita rasa yang beda. Khas Zalina," puji Fatih diplomatis. Ia segera menyuapkan nasi banyak-banyak untuk menetralisir rasa asin itu.

​Zalina tersenyum bangga. Ia pun menyendok sayur itu ke piringnya sendiri. "Alhamdulillah kalau Mas suka. Aku cobain ya."

​"Eh, tunggu—" Fatih mau mencegah, tapi terlambat.

​Zalina sudah menelan satu sendok penuh.

​Hening dua detik.

​"Pfffttt!" Zalina terbatuk-batuk, wajahnya memerah. Ia buru-buru meraih gelas air minum dan meneguknya sampai habis.

​"Mas Fatih bohong!" Zalina memukul lengan Fatih pelan, matanya berair. "Ini asin banget! Kayak racun! Kenapa dibilang enak?!"

​Fatih tertawa, lalu menggeser gelas minumnya untuk Zalina. "Mas nggak bohong. Mas cuma menghargai usaha istri Mas. Asin dikit nggak bikin mati kok. Malah bagus buat nambah mineral tubuh."

​"Ini bukan asin dikit, Mas! Ini bisa bikin darah tinggi!" Zalina cemberut, menatap mangkuk sayurnya dengan tatapan permusuhan. "Gagal deh sarapan romantis kita."

​"Siapa bilang gagal?" Fatih mengambil tempe goreng (yang bagian tidak gosongnya), mencelupkannya sedikit ke kuah sayur (sedikit saja), lalu menyuapkannya ke mulut Zalina. "Aaa..."

​Zalina membuka mulutnya ragu-ragu.

​"Enak kan? Kalau dimakan bareng nasi dan tempe, asinnya jadi pas. Namanya juga hidup, Dek. Kadang ada paitnya, ada asinnya. Kalau manis terus nanti diabetes."

​Zalina mengunyah pelan, lalu akhirnya tersenyum lagi. "Mas Fatih pinter banget ngelesnya."

​Mereka pun melanjutkan sarapan dengan strategi khusus: kuah sayurnya diambil sedikit saja, dicampur nasi yang banyak. Sederhana, penuh kekurangan, tapi tawa mereka mengisi kekosongan rumah itu.

​Namun, kedamaian pagi itu tidak berlangsung lama.

​Jam menunjukkan pukul 09.00 pagi. Fatih sedang mencuci piring (sebagai kompensasi Zalina yang sudah memasak), sementara Zalina sedang menyapu teras depan.

​Tiba-tiba, sebuah suara motor matic berhenti tepat di depan pagar.

​Zalina mendongak. Di sana, seorang ibu-ibu bertubuh gempal dengan daster batik mencolok turun dari motor. Leher dan pergelangan tangannya dipenuhi perhiasan emas yang berkilauan ditimpa matahari. Di belakangnya, dua ibu-ibu lain mengikutinya seperti dayang-dayang.

​Itu Bu RT. Ibu Rahmi namanya, penguasa gosip di gang ini.

​Zalina menegakkan tubuh, meletakkan sapu. "Assalamu'alaikum, Bu. Ada yang bisa dibantu?"

​Bu Rahmi tidak menjawab salam. Matanya yang tajam dilapisi eyeliner tebal memindai Zalina dari ujung kaki ke ujung kepala. Tatapannya berhenti pada gamis rumahan Zalina yang berbahan katun jepang premium—terlihat jelas bukan baju murahan.

​"Kamu penghuni baru itu?" tanya Bu Rahmi ketus, tanpa basa-basi.

​"Iya, Bu. Saya Zalina. Baru pindah kemarin sore sama suami."

​"Suami?" Bu Rahmi mendengus, melirik ke arah pintu rumah yang terbuka, di mana terlihat hanya ada kasur di lantai. "Yakin suami? Di sini lingkungan religius ya, Mbak. Nggak boleh kumpul kebo. Jangan mentang-mentang pindahan dari kota terus bawa budaya bebas."

​Darah Zalina berdesir naik ke kepala. Kumpul kebo?

​Fatih keluar dari dalam rumah sambil mengelap tangannya yang basah. Ia merasakan ketegangan di udara.

​"Ada apa ini, Dek?" Fatih berdiri di samping Zalina, memasang badan.

​"Eh, ini Mas-nya," Bu Rahmi mengalihkan pandangan ke Fatih. Tatapannya makin meremehkan saat melihat kaos oblong Fatih yang agak belel. "Saya Bu RT. Saya mau minta data diri. KTP, KK, Surat Nikah. Asli. Sekarang."

​"Oh, Bu RT. Mari silakan duduk dulu di teras, Bu. Maaf belum ada kursi," Fatih mencoba ramah.

​"Nggak usah. Saya sibuk. Saya cuma mau pastiin warga saya bener. Soalnya banyak kejadian, ngakunya suami istri taunya simpenan. Apalagi liat Mbak-nya..." Bu Rahmi menunjuk Zalina dengan dagunya, "...kelihatan bukan orang susah, tapi kok mau tinggal di kontrakan butut begini sama Mas-nya? Mencurigakan."

​Kalimat itu adalah penghinaan ganda. Menghina Fatih miskin, dan menuduh Zalina wanita simpanan.

​Tangan Fatih mengepal di samping tubuhnya. Ia ingin marah, tapi ia tahu posisinya sebagai pendatang. Ia baru saja akan masuk mengambil dokumen untuk membungkam mulut Bu RT, ketika Zalina menahannya.

​Zalina maju selangkah. Senyum ramah di wajahnya lenyap, digantikan oleh ekspresi dingin dan berwibawa—ekspresi yang ia warisi dari ayahnya, Pak Yusuf sang dosen senior.

​"Ibu RT yang terhormat," suara Zalina tenang, tapi intonasinya tajam dan jelas. "Terima kasih sudah peduli dengan keamanan lingkungan. Tapi setahu saya, tugas RT itu mendata warga, bukan menghakimi warga dengan asumsi kotor."

​Bu Rahmi ternganga. Dua ibu-ibu di belakangnya saling sikut.

​"Lho! Kok kamu nyolot? Saya kan cuma nanya!" Bu Rahmi membela diri dengan nada tinggi.

​"Ibu tidak bertanya, Ibu menuduh," potong Zalina. "Ibu menuduh kami kumpul kebo, dan Ibu secara tidak langsung merendahkan suami saya. Asal Ibu tahu, suami saya ini Arsitek lulusan terbaik. Dia sedang merintis usaha dari nol. Dan saya ada di sini mendampingi dia karena itu tugas istri sholehah. Bukan karena saya simpanan."

​Zalina menarik napas, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih menusuk.

​"Suami saya mungkin belum mampu membelikan saya emas berenteng-renteng seperti yang Ibu pakai. Tapi suami saya mampu memberikan saya nafkah yang halal dan menjaga lisan saya dari menyakiti tetangga. Dan bagi saya, itu jauh lebih mewah."

​Skakmat.

​Wajah Bu Rahmi memerah padam, antara malu dan marah. Belum pernah ada warga kontrakan yang berani melawannya seperti ini. Biasanya mereka menunduk takut.

​"Kamu... kamu berani ya sama saya?!" gagap Bu Rahmi.

​"Sudah, Dek. Cukup," Fatih menengahi dengan lembut tapi tegas. Ia tidak ingin istrinya terbawa emosi lebih jauh.

​Fatih masuk sebentar, lalu kembali dengan map berisi dokumen.

​"Ini Bu, fotokopi Buku Nikah kami. Ada cap KUA resmi. Ini KTP dan KK. Silakan dicek keasliannya di kelurahan kalau Ibu masih ragu," Fatih menyerahkan dokumen itu ke tangan Bu Rahmi yang masih gemetar menahan marah.

​"Dan satu lagi, Bu," tambah Fatih santun. "Nanti malam saya akan ikut ronda keliling. Saya ingin kenal dengan bapak-bapak warga sini. Biar silaturahminya enak. Mohon izin ya, Bu."

​Bu Rahmi menyambar kertas itu dengan kasar. "Yaudah! Awas kalau bikin onar!"

​Bu Rahmi dan rombongannya berbalik pergi sambil menggerutu keras-keras, "Dasar orang kota! Baru dateng udah belagu! Liat aja nanti kalau butuh bantuan!"

​Setelah motor Bu RT menjauh, tubuh Zalina lemas seketika. Ia hampir terduduk di lantai teras kalau tidak ditahan Fatih.

​"Astagfirullah..." Zalina memegangi dadanya. "Jantungku mau copot, Mas. Aku nggak pernah ngomong sekasar itu sama orang tua."

​Fatih menuntun Zalina masuk ke dalam rumah. Ia mendudukkan istrinya di atas kasur lipat.

​"Kamu nggak kasar kok. Kamu tegas," Fatih menatap Zalina dengan pandangan takjub bercampur haru. "Mas nggak nyangka kamu seberani itu belain Mas."

​Zalina menunduk, air mata menetes di pipinya. "Aku sakit hati dia ngomong gitu soal Mas. Dia nggak tau gimana Mas kerja keras siang malem. Dia cuma liat motor butut Mas."

​Fatih menghapus air mata Zalina dengan ibu jarinya. "Dengerin Mas. Omongan orang itu kayak angin. Kalau kita kokoh kayak tembok, angin cuma lewat. Tapi kalau kita rapuh kayak kertas, kita bakal terbang kebawa angin."

​"Maafin aku ya, Mas. Kita jadi punya musuh di hari pertama."

​"Nggak apa-apa. Nanti Mas yang luluhin hati suaminya Bu RT pas ronda. Biasa, politik bapak-bapak lebih gampang. Pake rokok sama kopi juga cair," canda Fatih.

​Mereka berpelukan sejenak, saling menguatkan. Di rumah petak yang sempit itu, Fatih merasa dirinya menjadi raksasa karena memiliki istri yang begitu setia membelanya.

​Siang harinya, suasana kembali tenang. Fatih kembali berkutat dengan laptopnya di atas kardus, sementara Zalina sibuk menata baju di lemari plastik baru mereka.

​Ting.

​Sebuah notifikasi email masuk ke laptop Fatih.

​Fatih mengklik ikon amplop itu dengan malas, mengira itu tagihan atau spam. Namun, matanya membelalak saat membaca subjek emailnya.

​Subject: Undangan Presentasi Proyek - Cluster Grand Horizon

From: procurement@grandhorizon.co.id

​Kepada Yth. Bapak Fatih (Langit Arsitektur),

​Kami telah melihat portofolio Anda di Kedai Kopi Tuang dan kami sangat terkesan dengan efisiensi desain dan penggunaan material lokal yang Anda terapkan. Saat ini, Grand Horizon Group sedang merencanakan pembangunan Cluster Perumahan Subsidi di daerah Padalarang.

​Kami ingin mengundang Anda untuk mengikuti tender terbatas desain cluster ini. Jika Anda berminat, harap hadir di kantor pusat kami besok pukul 10.00 WIB.

​Hormat Kami,

Direktur Operasional.

​Fatih terdiam, membaca email itu berulang-ulang. Grand Horizon? Itu salah satu pengembang properti terbesar di Jawa Barat! Saingan berat Wijaya Corp yang dulu.

​"Zal! Zalina!" teriak Fatih.

​Zalina berlari dari kamar belakang. "Kenapa Mas? Ada kecoa?"

​"Bukan! Liat ini!" Fatih menunjuk layar laptopnya dengan jari gemetar.

​Zalina membungkuk membaca email itu. Matanya melebar sempurna. "Masya Allah... Proyek perumahan? Tender terbatas? Mas... ini peluang gede banget!"

​"Iya, Zal. Kalau kita dapet proyek ini, fee desainnya bisa buat kita beli tanah sendiri! Bisa buat modal 'Langit Arsitektur' jadi PT resmi!"

​Zalina memeluk leher Fatih dari belakang, melompat-lompat kecil. "Alhamdulillah! Tuh kan, Mas! Allah ganti air mata kita tadi pagi sama rezeki nomplok siang ini!"

​Fatih tersenyum lebar, tapi kemudian keningnya berkerut.

​"Kenapa Mas?" tanya Zalina melihat perubahan wajah suaminya.

​"Grand Horizon itu... terkenal perfeksionis, Zal. Dan yang ikut tender pasti biro-biro arsitek senior. Kita cuma biro 'seumur jagung'. Apa kita sanggup?"

​Zalina memegang wajah Fatih dengan kedua tangannya, memaksa suaminya menatap matanya.

​"Mas Fatih inget nggak kata Pak Burhan? Mas Fatih itu kerja pakai hati. Itu yang nggak dimiliki arsitek senior yang cuma ngejar duit. Kita siapin presentasi terbaik malam ini. Aku bantuin bikin slide-nya. Kita begadang bareng!"

​Fatih menatap mata istrinya yang penuh keyakinan. Rasa insecure-nya perlahan pudar.

​"Oke. Kita hajar. Bismillah!"

​Malam itu, di rumah kontrakan yang sempit, lampu menyala terang hingga subuh. Fatih menggambar sketsa, Zalina mengetik proposal.

​Mereka tidak tahu, bahwa email undangan itu bukan sekadar rezeki, tapi juga awal dari badai baru. Di dunia bisnis properti yang kejam, pemain baru yang berbakat seringkali bukan disambut dengan tepuk tangan, tapi dengan jebakan untuk dimangsa.

​Besok, Fatih akan melangkah ke kandang macan yang sesungguhnya.

​(Bersambung ke Bab 11...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!