Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Motor sport Alano melaju membelah kemacetan sore kota yang mulai merayap. Ayra, yang masih mengenakan jas almamater biru dan bando birunya, memeluk pinggang Alano dengan lebih santai sekarang. Ia memperhatikan jalanan yang mereka lalui bukan jalan arah pulang ke rumah mereka di kompleks perumahan Papa Johan.
"Lan, ini bukan jalan pulang? Kita mau ke mana?" teriak Ayra di balik helmnya, mencoba mengalahkan deru angin.
Alano tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menepuk pelan tangan Ayra yang melingkar di perutnya, mengisyaratkan agar gadis itu tenang dan mengikuti saja ke mana roda motor membawanya.
Motor mulai menanjak, meninggalkan kebisingan aspal kota menuju jalanan berliku yang dikelilingi pepohonan rindang. Udara yang tadinya panas dan penuh polusi perlahan berganti menjadi sejuk dan segar. Ayra mulai mengenali jalan ini. Ini adalah jalan menuju bukit di pinggiran kota, tempat yang jarang dikunjungi orang kecuali mereka yang ingin mencari ketenangan.
Alano menghentikan motornya di sebuah area lapang di puncak bukit yang menghadap langsung ke arah kota di bawah sana. Ia memarkirkan motornya di bawah pohon pinus yang besar.
"Turun, Tuan Putri. Kita sudah sampai," ucap Alano sambil melepas helmnya dan mengacak rambutnya yang sedikit lepek.
Ayra turun dengan wajah penuh tanya. Ia melepas helm dan merapikan bando birunya. "Bukit Pelangi? Ngapain kita ke sini, Lan? Udah mau maghrib, nanti Mama nyariin."
"Gue udah izin sama Mama Aura tadi pas istirahat lewat WA. Gue bilang mau pinjem anaknya bentar buat cari oksigen murni," jawab Alano enteng. Ia berjalan menuju tepian bukit dan duduk di sana, membiarkan kakinya menggantung di sela-sela rerumputan.
Ayra berjalan mendekat dan duduk di samping Alano. Dari sini, mereka bisa melihat lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu seperti butiran permata, sementara langit di ufuk barat berubah menjadi gradasi warna ungu, oranye, dan merah yang sangat indah.
"Bagus banget..." bisik Ayra takjub. Rasa lelah setelah rapat OSIS dan ketegangan dengan kakak kelas tadi seolah menguap begitu saja tertiup angin bukit.
"Gue sering ke sini kalau lagi penat," ujar Alano pelan. Suaranya kali ini tidak ada nada jahil, hanya ada ketulusan yang tenang. "Biasanya gue sendirian. Cuma sama motor gue. Tapi hari ini, gue rasa tempat ini butuh warna biru biar makin cantik."
Ayra menoleh, melihat profil samping wajah Alano yang terkena semburat cahaya senja. "Warna biru?"
"Iya. Biru almamater lo, biru bando lo... dan mungkin, biru di hati lo yang selama ini kaku banget," Alano terkekeh kecil, namun matanya tetap menatap lurus ke depan.
"Lan," panggil Ayra.
"Hm?"
"Makasih ya. Buat hari ini. Buat semuanya. Aku... aku tadi sebenernya kesel banget sama kakak kelas itu. Tapi pas kamu dateng, rasanya beban aku ilang," aku Ayra jujur. Ia mencabut sehelai rumput dan memainkannya di jari.
Alano menoleh, menatap Ayra dengan intens. "Gue nggak akan biarin siapapun bikin lo ngerasa nggak berharga, Ay. Mau mereka kakak kelas, mau mereka siapa pun. Di mata gue, lo itu pusatnya. Mereka cuma figuran yang nggak sengaja lewat."
Suasana mendadak hening, hanya ada suara jangkrik yang mulai bersahutan. Ayra merasakan jantungnya berdegup tenang, sebuah perasaan damai yang jarang ia rasakan.
"Kenapa kamu sabar banget sama aku?" tanya Ayra tiba-tiba. "Aku sering ketus, aku sering nolak kamu, aku bahkan tadi hampir pulang sama Kak Rendy. Kalau aku jadi kamu, aku mungkin udah nyerah."
Alano tersenyum tipis. Ia meraih tangan Ayra, menggenggamnya dengan lembut. Kali ini Ayra tidak menarik tangannya.
"Karena gue tau, di balik jas OSIS yang kaku ini, ada Ayra yang lembut. Ada Ayra yang bakal bawain gue salep pas punggung gue sakit. Ada Ayra yang bakal nungguin gue latihan basket meski bilangnya terpaksa," Alano membawa tangan Ayra ke depan wajahnya. "Nyerah bukan pilihan buat gue, Ay. Karena buat gue, lo itu bukan target yang harus dicapai, tapi rumah yang harus gue jaga."
Ayra merasakan matanya memanas. Selama ini ia selalu menutup mata dari kasih sayang Alano yang begitu besar karena takut akan status "keluarga". Namun di atas bukit ini, di bawah langit senja, label itu terasa sangat tidak berarti.
"Lano... aku mungkin belum bisa bilang aku cinta sama kamu sekarang," bisik Ayra lirih.
Alano mengangguk paham. "Gue tau."
"Tapi," lanjut Ayra, ia menatap mata Alano dengan berani. "Aku nggak mau kamu berhenti panggil aku 'Ayang'. Dan aku... aku nggak mau kamu anter cewek lain pulang selain aku."
Mata Alano membelalak. Itu adalah pengakuan paling besar yang pernah ia dengar dari mulut Ayra. Sebuah senyum kemenangan—namun kali ini lebih tulus—terukir di wajahnya.
"Jadi, ini semacam kontrak eksklusif?" goda Alano, kembali ke sifat jahilnya.
Ayra tertawa kecil, ia menyandarkan kepalanya di bahu Alano. "Terserah kamu nyebutnya apa. Intinya, aku mulai terbiasa sama kamu."
Alano merangkul bahu Ayra, menariknya lebih dekat dalam dekapannya. Mereka duduk diam di sana, menikmati transisi dari sore menuju malam. Di atas bukit itu, Ayra akhirnya sadar bahwa ia tidak perlu takut pada masa depan. Selama ada Alano di sampingnya, jalanan berliku seperti menuju bukit ini pun akan terasa sangat indah untuk dilalui.
"Lan?"
"Ya?"
"Jangan tebar pesona lagi ya di lapangan?"
Alano tertawa terbahak-bahak, suaranya menggema di bukit yang sunyi. "Siap, Ibu Sekretaris! Perintah dilaksanakan!"
Malam itu, mereka pulang dengan perasaan yang sudah tidak lagi sama. Ayra memeluk pinggang Alano dengan erat, bukan karena takut jatuh, tapi karena ia tahu, di sanalah tempat ia seharusnya berada.