Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Pengejaran di Ambang Maut
Angin malam menusuk kulit Devan seperti ribuan jarum es, namun ia tidak merasakannya. Fokusnya hanya tertuju pada lampu belakang motor sport hitam yang membawa Lia. Di depannya, motor itu meliuk-liuk di antara padatnya lalu lintas kota Jakarta dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Devan memutar tuas gas motor Harley-nya hingga maksimal, suara mesinnya meraung seperti singa yang murka, membelah kesunyian malam dan meninggalkan kepulan asap di aspal.
"Lia!" teriak Devan parau, meski ia tahu suaranya akan tertelan oleh deru angin.
Di atas motor sport itu, Lia meronta sekuat tenaga. Tangannya dicengkeram kasar oleh pengendara misterius yang tak lain adalah Marco. Lia bisa merasakan dinginnya jaket sintetis Marco dan bau apak yang sangat berbeda dari aroma Devan.
Kacamata Lia sudah terjatuh entah di mana, membuat pandangannya kabur menjadi kumpulan cahaya yang berpijar tak tentu arah. Air mata terus mengalir di pipinya, bukan hanya karena rasa takut, tetapi karena bayangan Devan dan Clara di markas tadi masih menghancurkan hatinya.
"Diam atau aku lempar kau ke aspal!" bentak Marco dari balik helmnya.
Marco sengaja membawa Devan menuju kawasan industri yang sudah terbengkalai di pinggiran kota. Jalanan di sana gelap, penuh dengan lubang, dan jauh dari jangkauan patroli polisi. Devan menyadari taktik itu. Ia tahu ini adalah jebakan, namun ia tidak punya pilihan. Baginya, nyawa Lia jauh lebih berharga daripada nyawanya sendiri.
Saat mereka memasuki area gudang kontainer, Marco tiba-tiba melakukan manuver tajam. Ia mengerem mendadak, membuat motornya miring hampir menyentuh tanah, lalu dengan kasar ia mendorong Lia jatuh ke tumpukan karpet tua di pinggir jalan. Marco kemudian memutar balik motornya, berhadapan langsung dengan Devan yang juga baru saja mengerem hingga ban belakangnya berasap.
Lia terbatuk, mencoba menghirup oksigen yang terasa sesak. Ia melihat Devan turun dari motor dengan gerakan yang sangat dingin. Mata Devan tidak lagi memancarkan kehangatan yang biasa Lia lihat di perpustakaan. Mata itu kini gelap, penuh dengan haus akan pembalasan.
"Lepaskan dia, Marco," suara Devan terdengar rendah, namun bergema di antara dinding-dinding kontainer yang sunyi.
Marco melepas helmnya, memperlihatkan wajah yang mirip dengan Reno namun dengan tatapan yang lebih gila. "Wah, Sang Raja Mawar akhirnya datang tanpa pasukannya. Clara benar, gadis ini memang kelemahan terbesarmu. Hanya dengan menculik si culun ini, aku bisa membuatmu berlutut."
Lia berusaha berdiri, kakinya lemas. "Devan... pergilah! Ini jebakan!" teriaknya dengan suara serak.
"Diam, Lia!" Devan memerintah tanpa menoleh. "Apa pun yang terjadi, jangan mendekat."
Tiba-tiba, dari balik kontainer-kontainer raksasa itu, muncul sepuluh pria anggota sisa-sisa The Vipers. Mereka membawa rantai besi, balok kayu, dan pipa baja. Mereka mengepung Devan dalam lingkaran maut.
Marco tertawa puas. "Reno dipenjara karena kau memanggil polisi. Sekarang, aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa memanggil siapa pun lagi. Hancurkan dia!"
Perkelahian itu pecah dengan brutal. Devan bergerak seperti bayangan hitam yang mematikan. Ia menghindari ayunan rantai pertama, memutar tubuhnya, dan melayangkan pukulan telak ke rahang lawan hingga orang itu tumbang seketika. Namun, jumlah lawan terlalu banyak. Devan menerima hantaman balok kayu di punggungnya, membuatnya tersungkur sejenak.
"DEVAN!" Lia menjerit. Ia melihat Devan bangkit kembali dengan sisa tenaganya, darah mulai mengalir dari pelipisnya, membasahi kaos hitam yang ia kenakan.
Di tengah perkelahian yang tidak seimbang itu, sebuah mobil sedan merah meluncur perlahan dan berhenti tidak jauh dari sana. Clara turun dengan gaya anggunnya yang memuakkan. Ia berdiri di samping Marco, menonton pemandangan itu seolah sedang menyaksikan pertunjukan teater.
"Lihat itu, Lia," Clara berjalan mendekati Lia yang sedang terduduk lemah. "Pria yang kamu cintai sedang sekarat karena kebodohanmu. Jika saja kamu tidak lari dari markas, jika saja kamu tidak memaksanya untuk menjagamu, dia akan aman bersamaku."
Lia menatap Clara dengan kebencian yang mendalam. "Kamu yang merencanakan ini... Kamu bekerja sama dengan mereka untuk membunuh Devan?"
"Aku hanya ingin dia sadar siapa yang paling berguna untuknya," jawab Clara dingin. "Setelah dia babak belur, aku akan datang sebagai penyelamat. Aku akan membayarkan utang nyawanya pada Marco, dan Devan akan kembali menjadi milikku."
Lia mengepalkan tangannya. Di saat itulah, ia teringat latihan singkat yang pernah diajarkan Devan di halaman belakang rumah ibunya. Gunakan berat badanmu, cari titik lemahnya.
Saat Clara hendak menyentuh rambu
t Lia untuk mengejeknya, Lia tidak lagi mundur. Ia justru menarik tangan Clara dengan kuat, menggunakan momentum itu untuk menendang tulang kering Clara sekuat tenaga, lalu menyikut perut wanita itu. Clara terpekik kesakitan dan jatuh terduduk di tanah yang kotor.
"Aku mungkin culun, tapi aku tidak selemah yang kamu kira!" teriak Lia. Keberanian itu seolah menular pada Devan.
Mendengar suara Lia, Devan seolah mendapatkan energi tambahan. Ia merebut pipa baja dari salah satu lawan, memutarnya dengan kecepatan tinggi, dan menumbangkan tiga orang sekaligus. Marco yang melihat anak buahnya mulai kalah, segera mengeluarkan sebilah pisau lipat dan berlari ke arah Devan.
"Mati kau!" teriak Marco.
Devan menghindar, namun pisau itu sempat menggores lengan atasnya. Devan tidak memedulikan rasa perih itu. Ia menangkap pergelangan tangan Marco, memuntirnya hingga terdengar suara retakan tulang, dan menjatuhkannya ke tanah.
"Jangan pernah... sentuh... gadisku... lagi!" Devan memberikan satu pukulan terakhir yang membuat Marco pingsan.
Suasana mendadak sunyi. Anggota geng yang lain, melihat pemimpin mereka tumbang, segera melarikan diri ke dalam kegelapan malam. Clara yang masih kesakitan di tanah, menatap Devan dengan tatapan ngeri. Ia tidak menyangka Devan akan sebrutal itu demi gadis seperti Lia.
Devan mengatur napasnya yang memburu. Ia membuang pipa baja itu dan berjalan tertatih menuju Lia. Pakaiannya robek, wajahnya penuh luka dan darah, namun matanya kembali melembut saat menatap Lia.
"Lia... kamu tidak apa-apa?" suara Devan bergetar.
Lia berlari dan menubruk Devan, memeluknya dengan sangat erat seolah tak ingin melepaskannya lagi.
"Maafkan aku, Devan... aku salah karena meragukanmu. Aku melihatmu dengan dia tadi, aku kira..."
Devan membalas pelukan itu dengan tangan yang gemetar. "Aku tidak pernah menginginkannya, Lia. Dia datang untuk mengancammu. Aku sedang mengusirnya saat kamu datang. Hanya kamu, Lia. Selalu hanya kamu."
Di bawah lampu jalan yang temaram di area industri itu, mereka berdiri berpelukan di tengah kekacauan. Clara yang merasa kalah total, merangkak masuk ke mobilnya dan pergi dengan perasaan dendam yang membara, namun ia tahu posisinya sebagai "Ratu" sudah benar-benar musnah.
"Ayo kita pulang," bisik Devan di telinga Lia. "Ke tempat yang aman. Ke tempat kita bisa mulai menulis cerita kita sendiri tanpa campur tangan masa lalu."
Lia mengangguk, ia memegang tangan Devan yang terluka. Malam ini ia belajar satu hal: cinta sejati bukan hanya tentang saat-saat manis di perpustakaan, tapi tentang keberanian untuk bertahan di tengah badai dan saling percaya meski dunia mencoba memisahkan.