Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.
"Gus Hilman!"
Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.
Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
"Papa!" potong Nayla dengan suara bergetar. "Mas Hilman bukan cuma ustadz kampung. Dia orang yang paling sabar menghadapi aku. Papa nggak berhak menghina dia!"
"Diam, Nayla! Kamu sudah dicuci otaknya oleh mereka!" bentak Pak Baskoro.
Pak Lurah mendekat, menepuk bahu Hilman seolah memberi dukungan. "Baskoro, kalau kamu datang jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk membuat keributan di rumah saya, lebih baik kamu pergi. Tapi kalau kamu mau melihat kenyataan bahwa anakmu jauh lebih baik dan dewasa di sini, silakan duduk."
Pak Baskoro mendengus, ia menatap Hilman dengan penuh tantangan. "Oke. Saya akan tinggal di sini selama tiga hari. Saya mau lihat, sehebat apa kamu menjaga Nayla. Kalau dalam tiga hari saya melihat dia tidak bahagia atau hidup kesusahan, saya akan bawa dia pulang ke Jakarta detik itu juga. Dan jangan harap kamu bisa melihatnya lagi."
Nayla membelalak. "Papa mau menginap di sini?!"
Hilman tetap tenang. Ia sedikit mengangguk. "Tawaran yang adil, Bapak. Pintu rumah kami—dan rumah Ayah—selalu terbuka. Kami akan menjamu Bapak dengan baik."
Nayla menarik bisik-bisik lengan baju Hilman. "Mas, Papa itu rewel banget! Dia nggak suka bau tanah, nggak suka makan pedas, dan dia pasti bakal ngawasin kita 24 jam! Gimana kalau dia tahu kita... anu... di kamar?"
Hilman melirik Nayla dengan senyum tipis yang penuh arti. "Biarkan saja. Justru itu cara kita menunjukkan kalau kita pasangan yang bahagia, kan?"
Arkan yang baru saja datang dari dapur bersama Bundanya, langsung tertegun melihat situasi panas di teras. Arkan, sebagai anak sulung Bunda—sekaligus kakak tiri yang sangat menyayangi Nayla—langsung memasang badan. Ia berdiri di samping Pak Lurah, menatap Pak Baskoro dengan tatapan yang tak kalah berani.
"Ada apa ini, Ayah? Kok suasananya jadi kayak mau perang gini?" tanya Arkan sambil melirik dua pria berbadan tegap di belakang Pak Baskoro.
Bunda, yang juga terkejut melihat mantan suaminya ada di sana, mencoba tetap tenang meski wajahnya terlihat pucat. "Mas Baskoro... kenapa datang nggak kasih kabar dulu?"
Pak Baskoro tidak menghiraukan pertanyaan Bunda, ia justru menatap Arkan dengan sinis. "Oalah, jadi ini anak laki-lakimu yang dulu masih kecil itu? Sudah besar ya, tapi sepertinya tetap nggak punya tata krama seperti ibunya."
"Jaga bicara Anda, Pak!" sahut Arkan cepat, tangannya mengepal. "Anda tamu di sini, tapi kenapa mulutnya kayak nggak pernah diajarin sopan santun? Mas Hilman ini orang baik-baik, jangan disamakan dengan gaya hidup Jakarta Anda yang serba diukur pakai uang!"
"Arkan, sudah," lerai Pak Lurah sambil memegang pundak anak sulungnya itu. "Biarkan dia bicara. Kita tunjukkan kalau kita orang beradab."
Hilman menarik napas panjang. Ia merasa harus mengambil kendali agar situasi tidak semakin keruh.
"Mohon maaf sebelumnya, Bapak Baskoro. Karena Bapak sudah memutuskan untuk tinggal di sini selama tiga hari, maka Bapak adalah tamu kami yang harus kami muliakan. Arkan, tolong bantu bawakan barang-barang Bapak Baskoro ke kamar tamu di depan."
Arkan mendengus kesal. "Hah? Aku disuruh jadi porter buat dia, Mas?"
Hilman memberikan tatapan menenangkan pada Arkan. "Adab pada tamu tetap nomor satu, Kan. Biar Mas yang urus sisanya."
Nayla masih berdiri kaku, ia merasa sangat tertekan. Namun, Hilman tiba-tiba merangkul pundaknya di depan mata Pak Baskoro. Tindakan itu seolah-olah mengirim pesan: Nayla milikku, dan kamu tidak bisa menakutinya lagi.