NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Dokter Santi menghela napas pelan, lalu berkata dengan suara tenang namun tegas, "Kami sudah melakukan pemeriksaan lanjutan. Sayangnya, akibat jatuh tadi, terjadi perdarahan yang cukup hebat. Kami khawatir jika dibiarkan terlalu lama, kondisi janin dan ibunya akan terancam."

Bu Atika langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak. "Ya Allah..."

"Jadi... maksud Dokter?" Pak Harun bertanya pelan.

"Kami harus segera melakukan tindakan operasi caesar untuk menyelamatkan keduanya," jelas dokter Santi, tak ingin membungkus kata-katanya dengan basa-basi. "Dan karena pasien kehilangan cukup banyak darah, kami butuh persetujuan keluarga untuk tindakan ini."

Arya langsung menyambar pulpen yang disodorkan suster, tanpa ragu sedikit pun. "Saya yang tanda tangan. Lakukan sekarang juga, Dok. Selamatkan mereka!"

Suster menyerahkan selembar formulir persetujuan operasi. Tangannya sempat bergetar saat menandatangani, namun tekadnya bulat.

Pak Harun menambahkan dengan suara khawatir, "Kalau darah? Apa perlu donor? Saya siap..."

Dokter Santi mengangguk hormat. "Terima kasih, Pak. Tapi alhamdulillah, untuk sementara stok darah sesuai golongan Raya tersedia di bank darah kami. Jadi operasi bisa segera dilakukan."

Arya menarik napas lega, meski hatinya tetap dicekam kekhawatiran. Ia menatap mata dokter Santi penuh harap.

"Dok, izinkan saya mendampingi dia di ruang operasi. Saya tahu prosedur biasanya tidak mengizinkan keluarga ikut, tapi saya mohon... Saya ingin Raya tahu bahwa dia tidak sendiri. Saya ingin dia merasa tenang..."

Dokter Santi menatapnya beberapa detik, membaca kesungguhan di mata pria itu. Kemudian ia mengangguk perlahan.

"Baik, Pak Arya. Dalam kondisi khusus seperti ini, kami izinkan Anda mendampingi. Tapi Anda harus mengenakan pakaian steril dan mengikuti semua instruksi tim medis."

Arya mengangguk cepat. "Tentu, Dok. Apa saja, saya siap."

Dokter Santi lalu memberi aba-aba pada suster. "Tolong siapkan pasien dan Pak Arya untuk masuk ke ruang operasi."

Suster pun segera berlalu ke dalam ruangan, sementara Arya dibawa ke ruang ganti untuk mengenakan pakaian steril berwarna hijau. Di sepanjang lorong menuju ruang operasi, jantungnya berdetak kencang. Tak lama kemudian, ia sudah berdiri di sisi ranjang tempat Raya terbaring, tampak lemah dengan selang infus di tangan dan selang oksigen di hidungnya.

"Raya..." panggil Arya lirih, sambil menggenggam tangan Raya yang dingin.

Raya membuka mata perlahan, tampak lemah namun senyumnya tetap hadir. "Arya... kamu di sini?"

"Selalu," jawab Arya, membelai lembut kepala Raya, "Aku nggak akan kemana-mana. Aku di sini sampai kamu dan anak kita selamat keluar dari ruangan ini."

Air mata menggenang di mata Raya. "Aku takut..."

Arya menggeleng lembut. "Kamu nggak perlu takut. Kamu kuat. Kamu ibu yang hebat. Dan anak kita... dia pasti nggak sabar pengen ketemu kamu."

Raya menarik napas dalam-dalam, lalu menutup mata saat ranjangnya mulai digerakkan menuju ruang operasi. Arya berjalan di sampingnya, tak melepaskan genggaman tangannya sedikit pun.

Di balik pintu ruang operasi yang dingin dan penuh aroma antiseptik, doa-doa mengalir dalam diam. Dan Arya hanya bisa berharap dengan segenap hatinya bahwa mereka akan keluar dari ruangan itu bertiga... dalam keadaan sehat, lengkap, dan bahagia.

Lampu terang menyinari seluruh ruangan operasi. Suara mesin monitor detak jantung berdengung pelan, menciptakan ritme cemas yang terus mengiringi proses berlangsungnya operasi caesar. Aroma antiseptik menusuk hidung, dan udara dingin membuat Arya menggigil sedikit entah karena suhu ruangan atau rasa takut di dadanya.

Arya berdiri di sisi kepala Raya yang terbaring lemah, tubuhnya setengah dibius namun matanya masih terbuka, mencoba bertahan. Tangannya menggenggam tangan Arya erat-erat, seakan hanya genggaman itu yang membuatnya tetap sadar.

"Raya..." bisik Arya lembut, tangannya membelai kepala perempuan yang kini tengah bertaruh nyawa. "Aku di sini, Percayalah... Kamu nggak sendiri."

Raya berusaha tersenyum tipis, meski peluh membasahi wajahnya.

"Aku... capek, Arya..." bisik Raya lirih.

Arya menunduk dan menyentuhkan dahinya ke kening Raya. "Aku tahu... Tapi kamu kuat. Kamu luar biasa. Kamu harus bertahan, demi anak murid. Dia sedang berjuang keluar... dan dia butuh kamu."

Tim dokter terus bekerja di balik tirai hijau yang menutupi bagian bawah tubuh Raya. Sesekali mereka saling berkomunikasi cepat. Detik demi detik terasa begitu panjang.

Dan tiba-tiba-

"Ooeeee...oooeee...."

Terdengar suara tangis bayi nyaring memecah keheningan.

Arya tersentak, menegakkan tubuhnya. Matanya membelalak, lalu perlahan mulai berkaca-kaca. "Itu... itu suara anak murid Raya. Kau dengarkan?" bisiknya, seperti tak percaya.

Dokter mengangkat bayi kecil mungil yang penuh dengan selimut putih, tubuhnya masih basah dan kemerahan.

"Selamat, Pak Arya. Bayinya laki-laki, sehat," ucap salah satu suster dengan senyum hangat.

Air mata Arya jatuh tak tertahan. Tangannya menutup mulutnya, dadanya terasa penuh. Untuk sesaat dunia seperti berhenti hanya ada suara tangis bayi itu yang memenuhi relung hatinya.

Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sekejap.

"Dok... tekanan darahnya turun!" seru salah satu perawat.

Arya menoleh cepat ke arah Raya yang kini terlihat makin pucat. Mata perempuan itu mulai tertutup perlahan.

"Raya...? Raya!" panggil Arya cemas, kembali membelai kepala Raya, tangannya mengguncang pelan.

"Raya, jangan tidur... Dengar suara anak mu. Dia laki-laki seperti yang kau harapkan. Kau pasti tidak percaya. Raya kau dengar? Dia menangis. Dia butuh kamu. Aku butuh kamu!"

Namun Raya tidak membuka matanya. Monitor detak jantung berbunyi cepat.

Dokter Santi segera mengambil alih. "Suster, siapkan oksigen! Cepat! Kita kehilangan tekanan!"

Arya semakin panik. "Dok, kenapa? Ada apa dengan Raya? Kenapa dia pingsan?!"

"Pak Arya, tolong keluar dulu. Kami harus bertindak cepat," ucap dokter Santi tegas.

"T-tapi saya-" Arya menolak pergi, wajahnya penuh kepanikan.

"Pak Arya, mohon! Ini demi keselamatan istri Anda!"

Suster menuntun Arya menjauh dari ranjang operasi, dan dengan berat hati, Arya melepas tangan Raya yang masih tergenggam erat. Hatinya seakan sobek.

"Raya... bertahan, ya. Demi kita. Demi anak mu. Tolong jangan tinggalkan aku..."

Pintu ruang operasi menutup kembali di belakangnya. Arya berdiri di luar, tubuhnya lemas, napas tersengal. Dadanya terasa sesak.

Ruang Tunggu - Beberapa Saat Sebelumnya.

Bu Atika dan Pak Harun duduk di kursi tunggu, wajah mereka penuh kekhawatiran. Sesekali Bu Atika menunduk berdoa dalam diam, bibirnya komat-kamit membaca ayat-ayat pendek. Pak Harun memeluk bahu istrinya, mencoba menenangkan.

"Semoga semua baik-baik saja..." lirih Bu Atika.

Tak lama, suara tangis bayi terdengar dari balik pintu operasi. Bu Atika langsung berdiri, menatap Pak Harun dengan harapan.

"Itu... cucu kita, Pak. Itu pasti cucu kita!"

Pak Harun mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Alhamdulillah..."

Namun beberapa menit kemudian, mereka melihat Arya keluar dari ruang operasi dengan wajah kacau dan tubuh lemas. Wajahnya pucat, matanya merah.

"Arya?" tanya Bu Atika panik, "Bagaimana Raya? Anak kalian?"

Arya memeluk ibunya erat. Suaranya parau. "Anaknya... anaknya selamat, Bu. Tapi... Raya... dia...dia pingsan. Dokter bilang keadaannya kritis."

Tangis Bu Atika pecah. "Ya Allah... Lindungi anak kami..."

Arya memejamkan mata, menahan semua rasa takut dan kepedihan. Dalam hati, ia terus memanjatkan doa. "Tolong jaga Raya... tolong selamatkan dia... aku belum siap kehilangannya..."

Suasana di ruang ICU sunyi, hanya suara pelan mesin monitor yang menandai detak jantung dan pernapasan yang stabil. Lampu redup menambah kesan sunyi yang menggantung, seolah waktu berjalan lebih lambat di ruangan ini.

Raya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Wajahnya masih pucat, oksigen melekat di hidung, dan beberapa kabel medis terhubung di tangannya. Namun, aliran infus dan selimut hangat membuat tubuhnya perlahan-lahan mulai kembali merespon.

Di sisi ranjang, Arya duduk diam, tubuhnya membungkuk ke depan, menggenggam tangan Raya erat. Matanya sayu, sembab karena menangis dan kurang tidur. Ia belum bergeming sedikit pun sejak beberapa jam yang lalu dokter keluar dan mengatakan kalau kondisi Raya mulai stabil tapi belum sadar.

"Raya...," bisik Arya lembut sambil membelai jemari Raya. "Tolong bangun. Anak kamu sudah lahir... dan dia menunggumu. Aku menunggumu. Bukankah kamu masih punya misi yang harus dilakukan. Ayo bangunlah. Aku tidak mau apa yang sudah aku lakukan sia-sia."

Arya menunduk, menempelkan keningnya di tangan Raya yang dingin. Udara dalam dadanya berat.

Tak lama, jari-jari Raya bergerak pelan. Hampir tak terlihat.

Arya terdiam. Lalu mendongak cepat. "Raya?" panggilnya penuh harap.

Kelopak mata Raya mulai bergetar, perlahan terbuka, dan cahaya remang dari lampu menimpa iris matanya yang samar.

"Arya...?" suara itu lirih, hampir tak terdengar.

Arya langsung bangkit dari kursi, wajahnya berubah seketika penuh haru.

"Raya! Alhamdulillah ya Allah... kamu sadar. Alhamdulillah..." ujarnya dengan suara bergetar dan haru.

Senyuman penuh bahagia tersungging di bibirnya.

"Anak aku...?" tanya Raya pelan, dengan napas terputus-putus.

"Dia sehat, Raya. Kamu pasti tidak menyangka kalau anak kamu, Laki-laki bukan perempuan. Nangisnya kenceng banget, seperti kamu kalau marah, hehehe," Arya mencoba tersenyum untuk menghibur Raya.

Raya mengembuskan napas lega. "MashaAllah, anakku laki-laki? Dia sehatkan?"

"Alhamdulillah dia sehat...kamu luar biasa, Raya. Kamu harus bertahan. Kamu harus kuat demi jagoanmu," Arya berucap dengan lembut. "Kamu bikin aku hampir jantungan tadi."

Raya menatapnya, meski matanya masih berat. Senyum samar menghiasi wajahnya.

"Terimakasih ya Arya. Aku bersyukur anakku terlahir di tengah-tengah orang yang baik dan menyayangi dia. Terimakasih."

"Jangan bicara seperti itu... Kita ini keluarga. Selama kamu dan anakku berada dalam di dekatku, aku akan melindungi kalian. Sesuai perjanjian kita, bukan begitu Raya?"

Mendengar itu seketika hati Raya terasa sedih. Kata-kata Arya membuat dia sadar jika apapun bentuk perhatian Arya hanya sekedar perjanjian, bukan sesuatu yang lebih seperti yang Raya harapkan. Raya tersenyum tipis dan mengangguk.

"Iya, seperti perjanjian kita."

Pintu ruangan terbuka pelan, Bu Atika dan Pak Harun masuk perlahan, ditemani seorang suster. Wajah keduanya langsung berbinar melihat Raya sudah sadar.

"Raya, Nak..." ucap Bu Atika sambil menghampiri dan memeluknya pelan.

"Alhamdulillah kamu sadar. Ibu khawatir sekali."

"Maaf, Bu... sudah bikin Ibu takut..." bisik Raya, pelan tapi tulus.

Pak Harun mengusap air matanya. "Kami bersyukur kamu selamat, Nak. Kamu sudah jadi bagian keluarga kami, dan kamu sudah berjuang luar biasa."

Raya menatap Arya, lalu menoleh pada kedua mertuanya. Tangannya bergerak pelan, "Aku... ingin lihat anakku..."

Arya tersenyum. "Kamu akan lihat dia sebentar lagi. Tapi sekarang kamu harus istirahat dulu. Biarkan tubuh kamu pulih. Aku janji, nanti aku bawa anakmu ke sini."

Bu Atika mengecup kening Raya. "Istirahatlah, Sayang. Kami semua ada di sini."

Dengan air mata haru dan senyum tipis, Raya akhirnya memejamkan mata lagi. Tapi kali ini bukan karena pingsan, melainkan karena damai dan lega. Ia telah bertahan. Ia telah menjadi seorang ibu.

Dan di sisi ranjang itu, Arya tetap berdiri menjaganya. Memastikan jika Raya benar-benar aman.

Pagi menyapa hangat di ruang rawat VIP rumah sakit. Cahaya matahari menyusup lembut melalui celah tirai, memberikan kesan damai pada suasana pagi itu. Raya duduk bersandar di ranjang dengan bantal yang ditumpuk tinggi di punggungnya. Wajahnya terlihat segar meski masih pucat.

Di hadapannya, Arya duduk di kursi kecil, dengan nampan sarapan di tangan. Di atasnya terdapat semangkuk bubur ayam hangat, segelas susu, dan beberapa potong buah.

"Makan yang banyak ya, Ibu Hebat," ucap Arya sambil tersenyum usil, "Biar cepat pulih dan bisa ajak anak kamu jalan-jalan."

Raya tertawa kecil. "Aku bisa makan sendiri, Arya. Nggak usah repot-repot nyuapin."

Arya menggeleng. "Enggak bisa. Hari ini aku yang nyuapin. Suap pertama buat kamu... suap kedua buat aku yang udah hampir jantungan waktu kamu pingsan kemarin." Ucapnya dengan gaya bercanda, namun sorot matanya menyimpan rasa cinta mendalam.

Raya tertawa pelan. "Baiklah, Tuan Suami Gadungan." katanya sambil membuka mulut menerima suapan pertama.

Arya menatapnya dengan penuh rasa. "Aku nggak pernah anggap kamu sebagai istri gadungan, Ray. Sejak hari pertama kamu setuju ikut rencana ini, kamu udah jadi bagian dari hidupku. Dan sekarang... kamu juga ibu dari anak yang telah menjadi anak ku."

Raya tersentak kecil, namun hatinya menghangat mendengar kata-kata Arya. Ia menunduk, lalu tersenyum malu.

"Kamu bilang mau bahas sesuatu tadi?" tanya Raya sambil mengunyah.

Arya mengangguk. Ia meletakkan sendok sejenak dan menatap mata istrinya lekat-lekat. "Kita sudah terlalu banyak diam, Ray. Sekarang waktunya menyerang balik. Aku nggak mau kamu terus dihina, dan aku juga sudah cukup melihat Daffa dan keluarganya berjalan di atas kesombongan mereka."

Raya menatap Arya penuh rasa penasaran. "Apa rencana kita masih tetap sama untuk menjatuhkan Daffa?"

Arya tersenyum tipis. "Tidak hanya itu. Aku punya rencana besar. Kita akan buka kedok mereka satu per satu. Aku sudah punya dokumen bukti korupsi proyek-proyek yang selama ini Daffa kelola. Dan... aku juga punya rekaman percakapan Lestari yang menjatuhkan kamu secara tidak langsung di depan direksi. Dan bukti kalau Lestari simpanan Pak Yandris."

Raya terbelalak. "Kamu serius?"

"Sangat serius. Aku nggak akan biarkan kamu atau anakmu hidup dalam bayang-bayang orang seperti mereka. Kita bukan cuma balas dendam, tapi juga menegakkan kebenaran. Biar mereka tahu, harga diri seorang wanita itu nggak bisa diinjak-injak."

Raya mengepalkan tangannya. "Aku sudah nggak sabar melihat wajah Daffa waktu dia tahu kita yang mengatur semuanya. Dia pikir dia siapa, mempermainkan perempuan seenaknya, menuduhku pembohong di depan keluarganya..."

Arya kembali menyuapi Raya dengan senyum penuh bangga. "Tenang, sebentar lagi. Tapi kamu harus fokus dulu pulih. Kalau kamu sehat, kita bisa melangkah lebih kuat."

Raya mengangguk mantap. "Dengan kamu di sampingku, aku yakin aku bisa."

Tiba-tiba, pintu kamar diketuk, lalu terbuka perlahan. Seorang suster masuk, mendorong boks bayi transparan.

"Permisi, Bu Raya, waktunya bertemu si kecil ya..."

Raya langsung menoleh dengan wajah yang berubah penuh cahaya. Senyumnya merekah, matanya berbinar. "Itu... anakku?"

Suster mengangguk dan tersenyum. "Iya, Bu. Bayinya sehat. Tadi baru selesai disusui di ruang perawatan dan sekarang bisa tidur di sini bersama Ibu."

Arya berdiri, membantunya membetulkan posisi bantal. Raya menjulurkan kedua tangan dengan antusias saat suster meletakkan bayi kecil berbalut kain biru di pelukannya.

Raya menatap wajah mungil bayi itu dengan penuh cinta. "Masya Allah... anak Mama." Suaranya bergetar karena haru.

Arya tertawa pelan. "Dia ganteng. Lihat alisnya, mirip kamu. Matanya juga."

Raya mencium kening bayinya perlahan, air mata menetes jatuh di pipinya. "Terima kasih, ya Allah... karena Kau beri aku kesempatan melihat anakku, memeluknya..."

Arya duduk di samping, mengusap pundak Raya. "Kita akan jadi tim terbaik buat anak kita. Dan kita akan ajarkan dia jadi seseorang yang tahu artinya harga diri dan kebenaran."

"Terimakasih Arya."

"CK, tidak usah berterima kasih begitu. Aku senang bisa mengenalmu dan menjadi bagian dari kalian berdua."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!