NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Sore itu, suasana rumah Atmajaya mulai tenang. Acara pernikahan Arya dan Raya yang meriah dan penuh kebahagiaan telah usai. Para tamu sudah berpamitan satu per satu, meninggalkan sisa-sisa tawa dan kehangatan di dalam rumah yang megah itu.

Di dalam kamar pengantin yang luas dan tertata indah, Raya berjalan masuk sambil menghela napas panjang.

Raya bermonolog sambil menutup pintu, "Akhirnya selesai juga... Ya Tuhan, capeknya bukan main. Dari pagi sampai siang, senyum terus..."

Ia menurunkan tumitnya, lalu duduk di tepi ranjang. Kakinya pegal, punggungnya pegal, dan wajahnya masih menggunakan riasan yang mulai luntur.

Raya berbisik sambil memijit pundaknya, "Untung Baby Alif udah sama babysitter. Kalau nggak, bisa tambah remuk badan ini..."

Raya pun menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk yang menyambutnya seperti pelukan. Ia berniat hanya merebahkan diri sebentar, tapi karena kelelahan luar biasa... ia pun tertidur tanpa sadar.

Waktu berlalu.

Jam menunjukkan pukul empat sore. Cahaya matahari sore mulai menguning di sela-sela tirai. Raya terbangun perlahan, matanya mengerjap kecil dan menguap panjang.

Raya mengeliat pelan, "Ya Allah aku ketiduran..."

Ia mengucek matanya dan duduk perlahan, kemudian menoleh ke arah jam.

"Astagfirullah. Sudah jam empat?! aku belum ganti baju!"

Ia pun membuka baju pengantinnya dengan malas dan berganti hanya menggunakan short pendek dan tank top tipis karena merasa hanya akan mandi sebentar. Tanpa curiga, ia membuka pintu kamar mandi lalu masuk.

Begitu pintu tertutup dan ia berbalik...

BRAAAKK!!

"AAAAAAAAAAHHHH!!"

Arya kaget dari dalam shower, "WOOOOYYYY!! !"

Keduanya spontan berteriak bersamaan. Mata Raya membelalak melihat Arya berdiri di shower hanya dengan sabun yang menutupi sebagian tubuhnya, sedang Arya juga tak kalah kaget melihat istrinya muncul tanpa aba-aba.

Raya panik, membalikkan badan dan menutup matanya, "YA AMPUN! KENAPA KAMU DI SINI?!"

Arya cepat mengambil handuk dan melilitkan ke pinggang, "Loh?! Ini kamar mandi kamar kita! Emangnya aku mandi di kamar sebelah?"

Raya masih membelakangi Arya, wajahnya merah padam. Ia menggenggam handle pintu, hendak keluar tapi tak bisa dibuka.

Raya mencoba membuka pintu, "Kenapa pintunya... macet?!"

Arya mendekat dengan tenang, "Yah, mungkin tadi kamu nutupnya keburu-buru. Tapi santai aja, toh kita ini udah SAH, Ray."

Raya makin panik dan semakin membelakangi Arya.

"SAH bukan berarti mandi bareng kayak gini, Arya!"

Arya nyengir jail, "Lah... kenapa nggak? Katanya suami istri nggak boleh ada rahasia..."

"Arya! Kamu jangan macam-macam!"

Arya tertawa kecil, lalu berkata santai, "Aku cuma mau bilang aja, eh tapi ngomong-ngomong nih... aku baru sadar... kalau ternyata tubuh kamu."

Raya membelalak dan buru-buru menyilangkan tangan ke dadanya, "JANGAN LANJUTKAN!!"

Arya masih menggoda, "Apa? Aku cuma mau bilang... tubuh kamu sehat. Istri idaman, lah."

Raya merengek, "Arya tolong buka pintunya! Aku malu!"

Arya akhirnya mendekati pintu dan mencoba membukanya. Setelah beberapa detik berusaha, akhirnya pintu terbuka.

Arya membuka pintu dengan santai, "Tuh... udah. Tapi lain kali mandi bareng boleh juga sih, seru."

Raya menutupi wajahnya dengan tangan, buru-buru keluar kamar mandi, "Kamu benar-benar gila, Arya!"

Arya berteriak dari kamar mandi, "Tapi kamu lucu pas panik gitu, Ray!"

Raya berjalan cepat ke lemari, mukanya merah, antara malu dan jengkel. Tapi saat dia duduk dan memeluk lututnya, diam-diam tersenyum kecil. Hatinya berdebar, dan ada getaran aneh yang menyelinap di dadanya.

Beberapa menit berlalu. Suara shower di kamar mandi akhirnya berhenti. Dari balik pintu kamar mandi, terdengar suara pelan siulan Arya yang seolah menunjukkan bahwa dia dalam mood yang sangat santai. Pintu kamar mandi kemudian terbuka, dan Arya keluar dengan tubuh masih sedikit basah dan handuk putih melilit di pinggangnya. Rambutnya yang basah dibiarkan berantakan, namun senyumnya merekah, seperti baru saja memenangkan suatu pertempuran kecil.

Namun langkahnya langsung terhenti ketika matanya menangkap sosok istrinya Raya yang duduk di sisi ranjang. Perempuan itu sudah berganti pakaian tidur lengan panjang berwarna pastel yang lembut dan menenangkan. Tak hanya itu, Raya juga mengenakan jilbab instan panjang berwarna senada, menutupi sebagian besar tubuh dan rambutnya. Wajahnya terlihat bersih, segar namun sorot matanya sedikit menghindari tatapan Arya.

Arya mendecak pelan sambil tersenyum menggoda, lalu berjalan menuju lemari pakaiannya. Dianberucap dnegan nada usil, "Wah, kenapa ditutup semua? Aku kan udah lihat... bahkan lebih dari sekadar lihat, ya nggak?"

Raya langsung menoleh dengan tajam, ekspresinya berubah menjadi kesal dan malu sekaligus.

Raya datar, dengan nada ketus, "Arya, tolong jangan mulai. Aku capek."

Arya terkekeh pelan, lalu membuka lemari dan mulai memilih baju yang hendak ia kenakan sambil tetap melanjutkan obrolan.

"Tapi serius, Ray... Kamu tau nggak, berdosa loh istri menutup diri dari suaminya. Kamu sekarang ini statusnya sah. Sah dan halal. Jadi jangan pura-pura malu."

Raya menatap Arya tajam, "Ingat ya, pernikahan ini hanya perjanjian. Jadi... jangan macam-macam."

Hening.

Seperti bunyi pecahan kaca halus, senyum Arya mendadak memudar. Tangan yang tadi lincah memilih baju kini terhenti. Wajahnya tak lagi bercanda. Sorot matanya meredup, seperti terkena siraman air dingin.

Arya berucap pelan, sambil menunduk, "Iya... makasih udah ngingetin."

Kalimat itu keluar dengan tenang, tapi ada getir tipis yang terselip. Ia lalu mengambil baju kaos gelap dan celana panjang, mengganti handuknya dalam diam. Tak ada lagi candaan, tak ada lagi siulan. Suara gesekan baju dengan kulit terdengar begitu nyata dalam keheningan kamar.

Setelah berpakaian lengkap, Arya melirik sekilas ke arah Raya yang masih duduk di tempatnya. Tatapan mereka bertemu sejenak, tapi hanya sebatas pandangan hampa. Tanpa berkata apa-apa lagi, Arya melangkah keluar dari kamar, membiarkan pintu sedikit terbuka di belakangnya.

Raya terdiam.

Detik-detik berlalu dalam keheningan yang sunyi. Angin dari AC membelai ujung jilbabnya, dan pandangannya masih tertuju pada pintu kamar yang kini kosong.

Raya berbisik, nyaris tak terdengar, "Kenapa Arya terlihat kecewa...?"

Ia menunduk, hatinya entah kenapa terasa berat. Rasa bersalah muncul begitu saja tanpa sebab yang jelas. Bukankah memang benar bahwa semua ini hanya perjanjian? Bukankah mereka sudah sepakat?

Namun... kenapa saat melihat raut wajah Arya tadi, ada bagian dalam hatinya yang terasa seperti ditampar?

Raya berdiri dan melangkah perlahan ke arah jendela. Tirai tipis bergoyang lembut ditiup angin sore yang masuk. Dari balik tirai, ia melihat Arya duduk sendiri di taman kecil halaman belakang rumah, menatap langit dengan ekspresi kosong.

Raya berucap dalam hati, "Apa aku terlalu kasar tadi...? Atau... apa selama ini aku salah menilai perasaan dia?"

Ia bersandar di dinding, mencoba menenangkan pikirannya yang tiba-tiba kalut. Sementara di luar sana, Arya hanya diam, menatap langit senja, dan bertanya pada dirinya sendiri:

"Sampai kapan aku harus berpura-pura nggak peduli... sementara setiap kali dia bicara soal 'perjanjian', hatiku terasa dihantam palu godam?" Ucap Arya dengan suara terdengar putus asa.

Hening menyelimuti dua hati yang sama-sama bingung. Cinta itu tumbuh, tapi masih terpenjara oleh dinding kesepakatan dan ego masing-masing.

1
Ariany Sudjana
Arya ini bodoh sekali, baru juga kalang kabut kehilangan raya, sekarang sudah buka celah untuk jalang murahan masuk dan menghancurkan rumah tangga kamu dengan raya. kamu ga bisa jujur dengan raya, berarti kamu masih berharap rujuk lagi dengan Herlin, dasar ga tegas kamu Arya
Yeni Yeni: waoowwww.... 🤣🤣🤣kita lihat nanti😄
total 1 replies
Ariany Sudjana
ini ada pelacur murahan, Herlin, waspada terus yah Arya
Yeni Yeni
😄😄😄😄😄😄cerita nya luar biasa, cara penyampaian nya seperti obrolan sehari hari, beda author, beda cara penyampaian nya☺🤭
Iry: hehehe gitu deh😁🤗
total 1 replies
Yeni Yeni
iyalah raya menikah setelah akte cerai telah keluar... kalau tidak, mana mungkin bisa sah secara hukum negara
Yeni Yeni
bener ya author 10 bab Tiap-tiap hari sampai tamat... janjiiii😄
Yeni Yeni: 😍😍😍😍😍😍😍😍😍
total 2 replies
Yeni Yeni
author numpukin bab nih, sekian lama menunggu akhirnya.... 😄
Yeni Yeni
km ngumpulin bab author? saya jd geregetan nunggu nya. sekali muncul langsung 8bab🤭☺☺
Yeni Yeni: ☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺
total 2 replies
Aviciena
ikutan dulu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!