Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembawa Sial
“ALASAN!” bentak Sultan.
Friska memeluk bahu Aluna ketika tubuh gadis itu mulai gemetar hebat. “Lun… sudah. Sudah…”
Renaldi menunduk sedikit, suaranya tetap formal. “Saya hanya menyampaikan pesan. Nona Aluna harus membuat keputusan sekarang.”
Keributan makin keras. Alika yang masih menangis di kursi tunggu mendengar kata-kata kontrak, perawatan dan ditarik. Sesuatu di wajahnya retak. Air matanya jatuh lagi, lebih deras.
“Jadi benar…” bisiknya parau. “Kakak jual diri demi uang… Demi Ibu…”
Emosi yang sebelumnya berupa kebencian kini berubah menjadi campuran amarah dan muak yang lebih tajam. Namun tetap saja, jauh di belakang semua itu, ada ketakutan halus yang tidak ia pahami.
Belum sempat situasi mereda, seorang perawat berlari kecil menghampiri mereka. “Keluarga pasien Bu Sasmi. Mohon cepat. Kondisi ibu tidak stabil."
Semua bangkit. Panik. Sultan lebih dulu berlari menuju pintu ICU. Annisa di belakangnya. Alika terisak sambil berlari menyusul.
Aluna ikut ingin masuk, tapi Annisa menghadangnya dengan tangan keras. “Jangan ikut! Kamu bawa sial. Kamu bikin Ibu tambah parah nantinya.”
Tamparan emosional itu membuat langkah Aluna terhenti. Dunia terasa seperti memudar. Suara monitor ICU dari balik pintu terasa semakin keras, menusuk telinga seperti ancaman.
Ponsel Aluna bergetar.
Nama yang muncul membuat darahnya berhenti mengalir.
Pak Marko.
Dengan tangan gemetar, ia mengangkat.
Suara Marko masuk, dingin dan tanpa ampun. “Aku memberi waktu. Kamu tidak datang. Jangan paksa aku mencabut semuanya.”
Aluna memejamkan mata. “Pak… Ibu belum stabil… tolong… beri saya sedikit waktu…”
“Tidak ada waktu.” potongnya. “Datang sekarang atau semuanya berhenti.”
Semuanya.
Termasuk napas ibunya.
Telepon terputus.
Aluna berdiri terpaku, di tengah lorong yang makin penuh panik dan suara langkah keluarga yang berputar-putar. Ia seperti terjebak di tengah dua neraka yang sama-sama menelan hidupnya.
Friska memegang lengannya. “Lun… dengar aku. Kamu cuma mau nolong Ibu. Pergi. Biar aku di sini. Aku yang jagain Ibu. Aku kabarin kamu kalau ada perubahan.”
Mata Aluna memerah, tangisnya pecah tanpa suara.
“Kalau aku pergi… mereka makin benci aku, Fris…”
“Tapi Ibu tetap hidup.” Friska menggenggam erat. “Itu yang paling penting.”
Keputusan itu akhirnya dipukul palu oleh hatinya sendiri.
Aluna menatap pintu ruang perawatan ibunya sekali lagi. Hanya sebentar. Hanya cukup lama untuk menghafal bentuknya. Lalu ia berbalik.
Air matanya jatuh tanpa henti. Rasanya seperti meninggalkan separuh jiwanya di lorong itu.
Friska memanggil lirih. “Lun… hati-hati.”
Aluna tersenyum samar, pahit. “Aku harus pergi… biar Ibu tetap hidup. Kabarin aku yah Fris”
Ia melangkah pergi dengan langkah yang berat, hampir terseret. Tidak ada satu pun anggota keluarganya yang menoleh.
Di ujung lorong, Alika melihat punggung Aluna semakin menjauh.
Untuk pertama kalinya, kebenciannya terasa seperti pisau yang menusuk balik ke dadanya sendiri. Napasnya sesak.
Ia ingin memanggil.
Ingin berkata “Kak…”
Tapi suaranya tidak keluar.
Ia hanya berdiri, tubuh menggigil oleh perasaan yang ia sendiri tidak mengerti.
**
Renaldi sudah menunggu di dekat pintu keluar. Ia membuka pintu mobil tanpa suara.
Aluna masuk dengan wajah hancur, basah air mata, tubuhnya gemetar seolah dunia tadi baru menamparnya berkali-kali. Renaldi ragu sesaat, sesuatu yang mirip iba melintas di matanya sebelum ia menutup pintu perlahan.
Mobil melaju, meninggalkan rumah sakit, meninggalkan keluarganya, meninggalkan harapan yang tersisa.
Malam itu, dunia Aluna resmi berubah.
Dan ia belum tahu… bahwa ini baru permulaan.
**
Lift pribadi itu naik perlahan tapi bagi Aluna rasanya seperti jebakan yang menutup semakin rapat. Renaldi berdiri di sampingnya, tubuh tegap, wajah tanpa ekspresi. Namun sesekali melirik ke arah Aluna yang sejak tadi memeluk dirinya sendiri, seolah kedinginan meski suhu lift hangat. Setiap lantai yang terlewati membuat dadanya makin sesak. Ketika angka di panel berubah menjadi “57”, ia kehilangan napas sejenak.
Pintu lift terbuka, memperlihatkan penthouse mewah yang sunyi, terlalu sunyi. Cahaya lampu kuning temaram menyapu lantai marmer seperti kabut gelap membuat apartemen itu lebih mirip ruang interogasi dibanding tempat tinggal. Tidak ada suara. Tidak ada aroma makanan. Tidak ada tanda kehidupan selain dinginnya ruangan itu.
Renaldi mundur memberi jalan. Tapi Aluna tidak langsung melangkah.
Karena di tengah ruangan utama, Marko duduk di sofa tunggal, kaki disilangkan, jari-jari bertaut dan tatapannya mengunci tepat pada Aluna. Bukan tatapan marah. Bukan tatapan kecewa. Tetapi tatapan datar, kosong, menusuk, tatapan seseorang yang menunggu mangsa masuk ke sarangnya.
Tidak ada sapaan darinya. Tidak ada “silakan duduk”. Bahkan tidak ada gerakan kecil yang bisa dianggap sebagai keramahan.
Marko hanya menatap.
Dan Aluna tahu… kebebasannya telah berakhir sejak langkah pertamanya melewati ambang pintu.
Ia masuk perlahan seperti seseorang yang dipaksa menghadiri persidangannya sendiri.
Ketika pintu lift menutup di belakang, sunyi itu menjadi lebih menyesakkan.
“ Kau terlambat.” suara Marko akhirnya terdengar. Pelan tapi tegas seperti cambuk yang baru diayunkan.
Aluna menelan ludah, matanya berkaca. “Aku… tadi harus memastikan kondisi Ibu…..”
“Tutup.” Marko mengangkat tangan dingin, memotong penjelasan itu tanpa perlu suara keras.
Tubuh Aluna melemah seketika.
“Jangan bawa alasan murahan itu di hadapanku.” lanjut Marko. “Aku membiayai operasi ibumu. Aku mempertaruhkan reputasiku. Dan kamu membalasnya dengan membuatku menunggu?”
Aluna menunduk. “Aku tidak bermaksud…”
“Kamu terikat KONTRAK.” Marko mengunci kata itu seperti borgol. “Dan profesionalisme tidak berubah hanya karena keluargamu kacau.”
Rasanya seperti pisau menusuk langsung ke dadanya.
Aluna menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan tangis yang menggenang.
Namun Marko bangkit, mengambil map hitam dari meja dan meletakkannya di hadapannya.
“Duduk.”
Suara itu tidak memberi ruang penolakan. Aluna cepat-cepat mengikuti.
Marko membuka map dan mengeluarkan sederet dokumen baru. Kertas-kertas itu tebal, formal, penuh aturan yang belum pernah Aluna lihat.
“Ini addendum kontrak.” ucap Marko dingin. “Di tanda tangani malam ini.”
Aluna menatapnya, terkejut dan ketakutan. “A-addendum?”
“Statusmu sebagai istriku dipercepat.”
“Kau tidak boleh pulang menemui keluargamu tanpa seizinku.”
“Kau tidak boleh menghubungi siapa pun tanpa izinku.”
“Dan kamu mengikuti jadwalku secara penuh.”
Aluna menegang. “Pak Marko… aku tidak bisa… Ibu masih….”
“Kau ingin dekat dengan ibumu?” Marko mendekat, tatapannya menusuk. “Kalau begitu bayar sendiri biaya tabung oksigen khusus itu. Dan obatnya, empat puluh juta per hari.”
Kata “empat puluh juta” itu membuat napas Aluna kabur.
Renaldi, yang sejak tadi diam, menundukkan kepala seolah tak tega mendengar itu, namun ia tetap tidak bisa ikut campur.
“Kamu tidak tega… menggunakan kondisi Ibuku seperti ini…” suara Aluna gemetar, pecah.
“Tangismu tidak akan mengubah apapun, Aluna." balas Marko dingin.
Air mata jatuh dari mata Aluna. Panas, terhina, tetapi tak ada kekuatan untuk melawan. Ia hanyalah burung kecil dengan sayap patah di hadapan elang yang memutuskan apakah ia boleh hidup atau tidak.