"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Matahari pagi menyinari pelataran Kediaman Utama Dirgantara dengan kehangatan yang langka di Jakarta. Barisan mobil SUV hitam antipeluru terparkir rapi, membentuk lorong pengamanan yang sangat ketat. Yudha berdiri di barisan paling depan, tangannya bersedekap dengan mata yang menyapu setiap sudut halaman. Hari ini bukan hari biasa; sang penguasa rumah telah kembali bersama harta karunnya yang paling berharga.
Pintu mobil utama terbuka. Rangga melangkah keluar lebih dulu, penampilannya tampak lebih segar meski gurat lelah sebagai ayah baru masih ada. Ia berbalik, membantu Alya turun dengan sangat hati-hati. Alya menggendong salah satu bayi dalam dekapan selimut kasmir merah jambu, sementara seorang perawat senior yang dipercaya Rangga menggendong bayi yang satunya lagi.
Arkan melompat turun dari mobil kedua, tas punggung kecilnya bergoyang saat ia berlari menuju teras rumah. "Rumah! Kita pulang!" serunya riang.
Begitu mereka memasuki ruang tamu yang luas, aroma kayu cendana dan kebersihan yang steril menyambut mereka. Yudha telah memastikan setiap sudut rumah disemprot dengan disinfektan tingkat rumah sakit sebelum kepulangan mereka.
Setelah bayi-bayi itu ditidurkan dengan aman di dalam boks bayi yang baru di kamar utama yang luas, Arkan mendekati Ayah dan Ibunya yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Wajah kecilnya tampak sangat serius, sebuah ekspresi yang selalu membuat Alya tersenyum karena sangat mirip dengan Rangga.
"Ayah, Ibu," panggil Arkan sambil duduk di antara mereka.
"Ya, Jagoan?" jawab Rangga sambil mengusap kepala putranya.
"Sudah berminggu-minggu kita di rumah sakit. Arkan lihat mereka setiap hari, Arkan jaga mereka dari luar kotak kaca. Tapi... sampai sekarang Arkan belum dengar Ayah panggil nama mereka. Siapa nama adik-adikku? Arkan bingung kalau mau panggil mereka 'Bayi Satu' dan 'Bayi Dua' terus," keluh Arkan dengan polosnya.
Alya tertawa kecil, ia melirik ke arah Rangga. "Benar, Mas. Sepertinya ini saat yang tepat untuk meresmikannya di depan Arkan. Kau sudah menyimpannya terlalu lama di dalam kepalamu."
Rangga tersenyum tipis. Ia mengambil napas dalam, aura kepemimpinannya terpancar namun kali ini terasa sangat hangat. Ia memandang ke arah kamar di mana kedua putrinya sedang terlelap.
"Kemari, Arkan," ajak Rangga. Ia membimbing Arkan dan Alya menuju boks bayi kembar itu.
Rangga menunjuk bayi yang lahir beberapa menit lebih awal, yang memiliki tanda lahir kecil di dekat telinganya. "Putri pertamaku, kakak dari si kembar ini, kuberi nama Aira Dirgantara. Artinya adalah angin yang membawa kesejukan dan kehidupan. Ayah ingin dia menjadi wanita yang cerdas, yang kehadirannya selalu memberikan kedamaian bagi orang-orang di sekitarnya."
Arkan mengeja nama itu pelan. "A-i-ra... Halo, adik Aira."
Kemudian Rangga beralih ke bayi kedua, yang tampak lebih sering menggeliat dalam tidurnya. "Dan adiknya, putri keduaku, namanya adalah Aisya Dirgantara. Artinya adalah kehidupan yang penuh dengan kemakmuran dan kebahagiaan. Ayah ingin dia tumbuh menjadi wanita yang kuat, penuh semangat, dan selalu dikelilingi oleh keberuntungan."
Alya mengusap air mata haru yang jatuh di pipinya. "Aira dan Aisya... Nama yang sangat cantik, Mas. Sangat feminin tapi tetap terdengar kuat. Aku sangat menyukainya."
"Aira dan Aisya Dirgantara," Arkan mengulanginya dengan bangga. "Tenang saja Ayah, Kak Arkan akan jaga adik Aira dan Aisya. Kalau ada yang nakal sama mereka, Arkan akan lapor Ayah dan Yudha!"
Rangga terkekeh, menepuk bahu Arkan. "Itu baru putraku."
Malam harinya, setelah Arkan tertidur dan si kembar telah tenang dalam asuhan perawat di bawah pengawasan CCTV yang terhubung langsung ke ponsel Rangga, Rangga dan Alya duduk di balkon kamar mereka. Angin malam Jakarta berhembus pelan, namun keamanan di sekitar mereka terasa begitu tebal.
"Mas," panggil Alya pelan. "Tentang perayaan satu bulan mereka... apa yang kau pikirkan?"
Rangga terdiam, tatapannya menerawang jauh ke lampu-lampu kota. Bayangan kejadian lima tahun lalu di hotel mewah itu kembali berputar di otaknya. Suara tembakan, lampu yang mati, dan jeritan histeris Alya saat Arkan hilang dari kereta bayinya adalah mimpi buruk yang tidak akan pernah ia lupakan.
"Tidak akan ada perayaan, Alya," jawab Rangga tegas, suaranya dingin namun penuh perlindungan. "Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Mengumpulkan banyak orang, meskipun itu kerabat atau rekan bisnis, hanya akan membuka celah bagi musuh-musuhku untuk masuk."
Alya mengangguk setuju. Ia masih trauma jika mengingat betapa hancurnya hatinya saat itu. "Aku setuju, Mas. Aku juga tidak butuh pesta mewah. Cukup kita berlima di rumah ini, itu sudah lebih dari cukup bagiku."
Rangga menggenggam tangan Alya. "Dunia luar masih terlalu berbahaya untuk Aira dan Aisya yang masih sekecil itu. Aku sudah memerintahkan Yudha untuk memperketat penjagaan di gerbang utama. Siapa pun yang ingin mengirimkan hadiah atau ucapan, harus melalui pemeriksaan tiga lapis. Tidak ada tamu yang boleh masuk ke area pribadi kita selama beberapa bulan ke depan."
"Kau benar-benar Singa yang posesif, Rangga," goda Alya, mencoba mencairkan suasana.
"Aku hanya menjaga apa yang menjadi milikku, Alya. Terutama setelah apa yang kita lalui untuk mendapatkan mereka," Rangga menarik Alya ke dalam pelukannya. "Biarkan mereka tumbuh besar di sini, di bawah pengawasanku. Mereka tidak butuh pengakuan dari dunia luar. Mereka hanya butuh kasih sayang kita."
...****************...
Minggu-minggu berikutnya di Kediaman Dirgantara dipenuhi dengan rutinitas baru yang sibuk namun bahagia. Rangga, yang biasanya sangat gila kerja, kini sering kali pulang lebih awal atau bahkan bekerja dari rumah. Ia sering terlihat menggendong Aira atau Aisya sambil membaca laporan keuangan di ruang kerjanya.
Arkan pun berubah menjadi sosok kakak yang sangat protektif. Ia sering duduk di depan pintu kamar bayi, memastikan tidak ada pelayan yang masuk tanpa izin atau berbicara terlalu keras.
"Sshhh... Aira sedang tidur!" tegur Arkan pada seorang pelayan yang sedang membawa baki makanan.
Alya yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum. Sifat Rangga benar-benar menurun secara genetik pada Arkan. Keposesifan itu bukan lagi sebuah kegilaan, melainkan sebuah bentuk cinta yang sangat dalam untuk menjaga keutuhan keluarga mereka.
Bersambung....
- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/