NovelToon NovelToon
Gadis Milik CEO Posesif

Gadis Milik CEO Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Anak Genius / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Tiara Pratiwi

Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Nora melihat Adrian

Nora menarik napas panjang di depan cermin toilet, merapikan riasannya yang sedikit luntur, dan memastikan tidak ada jejak air mata di sudut matanya. Dengan dagu terangkat dan ekspresi yang sudah terkendali sempurna seolah badai emosi di dalam dadanya hanyalah ilusi, ia melangkah kembali menuju ruangan privat.

Di meja panjang itu, suasana tampak hangat. Gelak tawa kecil terdengar dari arah orang tuanya dan keluarga Girard. Hanya Felix yang terdiam di kursinya tanpa memberikan tanggapan apapun dan hanya meminum winenya.

"Nah, Nora, pas sekali kau kembali," ujar Julian, dengan senyum lebar yang memancarkan wibawa. "Kami baru saja membicarakan masa depan. Felix akan segera mengambil posisi strategis di Girard Group mulai bulan depan. Dengan visinya, aku yakin Girard Group akan mencapai puncak kesuksesan yang baru."

Isabelle, ibu Felix, mengangguk anggun sambil menepuk punggung tangan putranya. "Tentu saja. Gabungan energi muda dan pengalaman kami akan membuat Girard tak tertandingi."

Brady menimpali dengan nada bangga yang kentara. "Itu berita luar biasa, Julian. Felix memang selalu bisa diandalkan. Dunia bisnis membutuhkan sosok seperti dia."

Samantha tidak mau ketinggalan. Ia melirik Nora dan Felix bergantian dengan tatapan penuh arti. "Kalau bicara soal masa depan, bukankah ini waktu yang tepat untuk membahas hal yang lebih... personal? Meskipun Nora kita masih cukup muda, kurasa tidak ada salahnya jika mereka berdua melangkah ke jenjang yang lebih serius. Bagaimana kalau kita tunangkan mereka lebih dulu?"

Nora merasakan jantungnya berdegup kencang, ia tidak menyangka Samantha akan membahas soal ini sekarang. Ia tidak yakin apa Felix akan menerimanya dan mematuhi keinginan kedua belah pihak keluarga. Ia meremas jemarinya di bawah meja. Selama tiga tahun terakhir, ia menyimpan rahasia pahit sendirian. Felix jarang sekali membalas pesannya. Panggilan teleponnya seringkali berakhir di kotak suara atau sengaja diabaikan. Di hadapan publik, Nora membangun image mereka sebagai pasangan ideal, namun sebenarnya mereka tak lebih dari orang asing. Satu-satunya penghubung di antara keduanya karena Nora pernah menolong Felix. Nora terlalu takut untuk jujur pada orang tuanya, ia takut image dan rencananya untuk naik kelas sosial hancur.

Namun, sebelum Nora sempat membuka suara untuk menanggapi ibunya, Felix meletakkan sendok peraknya dengan denting yang tajam.

"Maaf" suara Felix terdengar canggung namun ada ketegasan yang tak tergoyahkan di sana. Ia tidak menatap Nora sama sekali. "Sepertinya aku harus meluruskan sesuatu agar tidak ada kesalahpahaman lebih lanjut. Aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan Nora."

Suasana seketika membeku. Senyum di wajah Samantha memudar, sementara Brady mengerutkan kening.

"Felix? Apa maksudmu?" tanya Isabelle, suaranya naik satu oktav.

"Aku sangat berterima kasih pada Nora karena dia pernah menyelamatkanku dulu. Aku berhutang budi padanya," lanjut Felix tanpa ekspresi. "Tapi hanya sebatas itu. Aku tidak pernah berniat menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, apalagi menikah dengannya. Tolong jangan bahas masalah pertunangan ini lagi."

Hening. Sunyi yang memekakkan telinga memenuhi ruangan itu. Nora hanya bisa menunduk, menatap piring porselen kosong di depannya. Ia merasa seperti ditelanjangi di depan umum. Malu, sakit hati, dan kemarahan bercampur menjadi satu. Ia tidak percaya Felix akan mempermalukannya sekejam ini di hadapan kedua orang tua mereka.

"Felix! Apa maksudmu?!" Isabelle mendesis, wajahnya memerah karena malu. "Bukankah hubungan kalian baik-baik saja selama ini? Kalian juga terlihat serasi."

Felix menghela napas pendek, tatapannya dingin. "Aku tidak yakin hubungan macam apa yang kalian bicarakan, karena tidak pernah ada hubungan spesial di antara aku dan Nora. Faktanya, kami bahkan hampir tidak saling berkabar selama tiga tahun terakhir."

Samantha menoleh tajam ke arah putrinya. "Apa? Nora, apa maksudnya ini? Kau bilang kalian selalu berkomunikasi!"

Nora tidak bisa berkata-kata. Tenggorokannya terasa tersumbat batu besar. Kebohongan yang ia susun selama tiga tahun runtuh dalam hitungan detik.

Melihat situasi yang semakin kacau, Julian dan Brady sebagai pria yang terbiasa mengendalikan keadaan, berusaha mengalihkan pembicaraan ke arah tren pasar saham dan ekspansi bisnis. Namun, usaha itu sia-sia. Suasana sudah terlanjur keruh. Makan malam yang seharusnya menjadi perayaan itu berakhir dengan kepahitan. Mereka akhirnya memutuskan untuk mengakhiri pertemuan lebih awal dan pulang ke kediaman masing-masing.

Tak lama setelah rombongan keluarga Moore dan Girard meninggalkan Lignum, Sierra dan kelompoknya juga melangkah keluar.

Tadi, Sierra datang bersama Anastasia menggunakan mobil keluarga Blackwood, untuk pulang, Anastasia juga sudah berkata akan mengantarkannya. Namun, di lobi restoran, Adrian Blackwood menghentikan langkah mereka.

"James," panggil Adrian pada supir keluarga Blackwood. "Ikutlah di mobil Anastasia. Aku yang akan mengantar Sierra pulang dengan mobilku."

Anastasia membelalak. Ia menatap pamannya itu dengan tatapan penuh kecemburuan, seolah-olah Adrian baru saja mencuri idolanya. Bagi Anastasia, Sierra seharusnya adalah miliknya malam ini. Namun, meskipun ia merasa Adrian adalah rival yang menyebalkan, ia tidak punya keberanian untuk membantah pria itu.

Seharusnya malam ini menjadi makan malam berdua antara Anastasia dan Sierra. Tapi sepertinya manager Lignum memberitahukan pada Adrian bahwa dirinya datang ke sini bersama Sierra. Adrian pun datang menyusul bersama James tanpa diundang. Mereka berdua langsung ikut makan bersama begitu saja.

"Baiklah," gumam Anastasia pasrah sambil masuk ke mobilnya dengan wajah cemberut.

Sierra hanya diam, tidak keberatan. Ia masuk ke dalam mobil mewah Adrian. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa tenang namun tidak canggung sama sekali. Keduanya memang tipe yang bicara seperlunya. Adrian mengantarkan Sierra hingga tepat di depan gerbang kediaman keluarga Moore.

Saat mobil berhenti, Adrian turun dan memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Sierra.

Di atas sana, di balkon kamar yang gelap, Nora berdiri dengan botol wine di tangan. Begitu sampai di rumah, ia langsung mengurung diri, menenggak alkohol untuk mematikan rasa sakit hatinya. Namun, pemandangan di bawah sana justru membuatnya semakin meradang.

Nora melihat Sierra keluar dari mobil seorang pria asing. Meski dari kejauhan, ia bisa melihat postur pria itu yang tinggi, tampan, dan tampak sangat dewasa. Dari model mobilnya yang bernilai miliaran, jelas pria itu bukan orang sembarangan.

"Siapa dia? Kenapa Sierra selalu mendapatkan pria seperti itu?" bisik Nora dengan nada penuh dengki.

Rasa cemburu yang membakar membuatnya nekat. Nora segera berlari turun, ingin melihat pria itu lebih dekat. Begitu sampai di bawah, Nira mencari tempat bersembunyi saat Sierra dan Adrian masih berbincang sebentar. Adrian tetap berdiri di depan gerbang sampai memastikan Sierra benar-benar masuk ke dalam rumah. Setelah pintu utama tertutup, barulah ia kembali ke mobilnya dan melesat pergi.

Nora mengintip dari balik pohon besar dekat gerbang, napasnya memburu. Meskipun jaraknya sudah dekat, ia tetap tidak bisa mengenali siapa pria itu. Ia sempat mengeluarkan ponsel untuk memotret, namun karena tangannya tidak stabil akibat pengaruh alkohol, hasilnya hanya gambar buram yang tidak jelas.

Dengan kemarahan yang meluap, Nora masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar Sierra. Ia menggedor pintu itu dengan kasar.

BRAK! BRAK! BRAK!

Pintu terbuka. Sierra berdiri di sana, masih dengan pakaian yang sama, namun ekspresinya langsung berubah menjadi sedingin es saat melihat Nora.

"Siapa pria yang mengantarmu pulang tadi?" tanya Nora tanpa basa-basi, suaranya serak.

Sierra menatapnya datar. "Bukan urusanmu."

Nora tertawa mengejek, langkahnya limbung. "Bukan urusanku? Kau tiba-tiba pulang dengan seorang pria kaya raya. Apa dia sugar daddy-mu? Apa kau menjual dirimu sekarang? Benar, kan? Tidak mungkin pria seperti itu menganggapmu serius!"

Dalam sekejap mata, Sierra sudah berada tepat di depan muka Nora. Tangannya bergerak secepat kilat, mencengkeram rahang Nora dengan kuat. Nora terkesiap, rasa sakit menjalar di wajahnya.

"Jika kau sudah tidak butuh lidahmu, aku bisa membantumu memotongnya," desis Sierra. Matanya berkilat dengan kedinginan yang mematikan.

Nora merinding. Ia lupa kalau Sierra yang sekarang berbeda dengan Sierra yang dulu. Tatapan itu sangat serius, seolah-olah Sierra benar-benar akan melakukan ancamannya tanpa ragu sedikit pun. Nora mencoba menendang kaki Sierra agar cengkeraman itu terlepas, namun Sierra lebih sigap.

Dengan satu sentakan kuat, Sierra menghempaskan tubuh Nora. Nora jatuh terduduk di lantai yang dingin dengan suara gedebuk yang cukup keras.

BRAKK!

Sierra membanting pintu kamarnya.

Nora terengah-engah di lantai, memegang rahangnya yang berdenyut sakit. Amarah membakar dadanya, namun untuk pertama kalinya, terselip rasa takut yang mendalam. Ia ingin berteriak, ingin membalas, tapi ia sadar, Sierra yang sekarang adalah orang yang berbahaya, dan tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menyentuhnya secara langsung.

1
Tiara Pratiwi
Diusahakan update tiap hari tapi mungkin cuma 3 episode per hari. pengalaman ynag udah-udah sekalinya ngebut lebih dari 10 episode, tangan jadi agak tremor trs jd butuh istirahat lama /Sweat/ sudah tidak muda lagi akika
Narti Narti
aku hadir kak selamat untuk karya baru ya👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!