NovelToon NovelToon
KUPU-KUPU TIGA SAYAP

KUPU-KUPU TIGA SAYAP

Status: tamat
Genre:Misteri / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Anggrek Mawar Biru

Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 26 — Ke Panti dan Ke Gila

Mobil itu berbau asap rokok dan plastik tua. Aluna duduk di kursi belakang, kakinya tidak menapak lantai, tangannya memeluk tas kecil berisi dua benda: bros kupu-kupu perak dan buku lagu yang sobek di sudutnya. Marco menyetir di depan, sesekali melirik lewat kaca spion. Tatapannya lembut—terlalu lembut—seperti seseorang yang ingin diyakini sebagai penyelamat.

“Tenang ya, Luna,” kata Marco pelan. “Paman bawa kamu ke tempat yang aman.”

Aluna tidak menjawab. Ia menatap jendela, melihat rumah-rumah berlalu seperti gambar yang diputar terlalu cepat. Aman. Kata itu kosong. Aman adalah ibu. Aman adalah ayah. Aman adalah Dimas dan Digo tertawa di sore hari. Semua itu tertinggal di belakang, runtuh bersama rumah yang kini tak lagi bernama rumah.

Gerbang panti asuhan Kasih Ibu terbuka dengan decit panjang. Bangunannya besar, temboknya putih kusam, halaman depan ditanami bunga yang tampak dipaksa mekar. Seorang perempuan paruh baya menyambut mereka—Bu Ratna—senyum profesional yang terlatih untuk menerima anak-anak yang datang dengan luka.

“Kasusnya?” tanya Bu Ratna lirih.

“Yatim piatu,” jawab Marco cepat. “Trauma. Tapi anaknya baik.”

Aluna menatap lantai. Kata baik terasa seperti pakaian yang kebesaran. Ia ingin melepasnya, tapi tak tahu caranya.

Hari-hari pertama di panti berjalan seperti mimpi yang salah urut. Bangun pagi dengan lonceng. Makan bersama. Belajar menulis huruf yang sudah ia kenal. Anak-anak lain menatapnya dengan rasa ingin tahu dan jarak. Aluna jarang bicara. Jika ditanya, ia tersenyum kecil—senyum yang tidak sampai ke mata.

Malam adalah musuh. Saat lampu dipadamkan, kegelapan memanggil kembali lemari sempit itu. Aluna bangun dengan teriakan yang tak sempat jadi kata. Ia berlari ke sudut kamar, menepuk dinding—tok… tok…—menghitung dentum yang hanya ia dengar. Pengasuh datang, memeluk, menenangkan. Aluna mendorong, mencakar, menggigit. Tangannya kecil, tapi ketakutannya raksasa.

“Dia sulit,” bisik pengasuh suatu malam.

Marco datang seminggu sekali. Membawakan permen, boneka, senyum. Setiap kali melihatnya, tubuh Aluna mengeras. Napasnya pendek. Bros kupu-kupu ia genggam hingga telapak memerah. Marco berlutut, menyebut namanya, menyentuh rambutnya. Aluna menjerit. Bukan jerit marah—jerit peringatan. Seperti sirene yang tak didengar orang dewasa.

“Dia masih trauma,” kata Marco kepada Bu Ratna. “Butuh waktu.”

Waktu justru memperburuk segalanya. Aluna mulai menggambar di tembok kamarnya: kupu-kupu dengan tiga sayap. Dua putih, satu hitam. Sayap hitam selalu terpotong. Di bawahnya, ia menulis nama-nama—tak rapi, terbalik—dan satu kata besar yang diulang: PEMBUNUH. Ketika Bu Ratna menegur, Aluna memukul kepalanya sendiri, berteriak sambil menyanyi, “Kupu-kupu terbang, sayapnya tiga…”

Psikolog panti datang. Pertanyaan demi pertanyaan. Aluna menjawab dengan lagu. Dengan ketukan. Dengan diam. Ia tidak menolak dunia—dunia yang menolak dirinya.

Suatu sore, seorang anak lain menyentuh bros kupu-kupu Aluna tanpa izin. Hanya sentuhan kecil. Namun di kepala Aluna, sentuhan itu berubah menjadi tangan dewasa yang dingin. Ia mengamuk. Kursi terbalik. Jendela pecah. Aluna menggigit lengannya sendiri sampai berdarah, seolah ingin memastikan ia masih ada.

“Cukup,” kata Bu Ratna gemetar. “Kita butuh bantuan.”

Marco dipanggil. Datang dengan wajah khawatir, memeluk Bu Ratna seperti keluarga. “Saya takut dia menyakiti diri sendiri,” katanya. “Mungkin… tempat yang lebih tepat.”

Kata-kata itu mengambang: rumah sakit jiwa. Aluna tidak paham istilahnya. Ia hanya melihat gerbang lain, lebih tinggi, lebih dingin. Mobil ambulans. Bau antiseptik. Jarum suntik yang membuat dunia melambat.

Ruang itu putih. Terlalu putih. Aluna duduk di ranjang kecil, memeluk bros. Perawat bertanya nama. Ia menjawab dengan lagu. Bertanya usia. Ia mengetuk meja—tok… tok…—dua kali. Bertanya apa yang terjadi. Aluna menutup mata. Kegelapan datang tanpa perlu diminta.

Hari-hari di rumah sakit jiwa menyatu. Obat membuat tepi dunia tumpul. Namun ingatan menolak mati. Setiap malam, lagu itu kembali. Setiap pagi, dinding diisi nama-nama. Marco datang jarang. Ketika datang, Aluna mematung, lalu menjerit. Catatan medis bertambah: disosiasi, PTSD berat, perilaku agresif.

“Prognosis?” tanya Marco suatu hari.

“Panjang,” jawab dokter. “Bisa bertahun-tahun.”

Marco mengangguk, tampak sedih. Ia menandatangani berkas. Menyerahkan tanggung jawab. Pergi dengan langkah ringan seseorang yang telah menutup satu pintu.

Tahun-tahun berlalu. Aluna tumbuh di balik pintu besi. Ia belajar bertahan dengan caranya sendiri: lagu sebagai perisai, bros sebagai jangkar, ketukan sebagai jam. Dunia menyebutnya gila. Padahal ia hanya menyimpan kebenaran terlalu besar untuk tubuh sekecil itu.

Dan di luar sana, seorang paman melanjutkan hidupnya—berpura-pura sebagai orang baik—sementara seorang anak perempuan mengorbankan kewarasannya agar rahasia tetap terkunci.

1
Mega Arum
digo kah ?
Mega Arum
mampir thor..
Adi Rbg
terimakasih kakak dah update lagi!
Putri Nadia: sama-sama
total 1 replies
Adi Rbg
bagus
Putri Nadia: Terima kasih
total 1 replies
Nurhayati Hambali
liana itu ibu mereka atau kakak mereka thor??
Putri Nadia: ibunya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!