Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25- Menghilang Sejenak
Sesuatu yang dijadwalkan terkadang jauh lebih mudah dihadapi daripada sesuatu yang tiba-tiba hilang tanpa kabar. Bagi Alea, ketidakpastian adalah jenis siksaan yang paling lambat. Rasanya seperti menunggu tetesan air di tengah keheningan malam; kecil, namun mampu membuat gila.
Siang itu, udara di dalam toko buku terasa lebih berat dari biasanya. Hari sudah menginjak hari keempat, dan kursi kayu di sudut ruangan itu masih tetap kosong. Tidak ada aroma kopi hitam yang tajam, tidak ada suara lembaran buku yang dibalik, dan yang paling menyesakkan, tidak ada sosok tinggi Aksa yang biasanya selalu ada di sana tepat waktu seolah ia adalah bagian dari inventaris toko.
Dinda masuk ke area belakang toko sambil membawa dua cup kopi dingin. Ia mengamati Alea yang sedang menata ulang deretan buku di rak dengan gerakan mekanis, kosong, tanpa gairah, dan seolah hanya ingin membunuh waktu. Dengan sengaja, Dinda meletakkan kopi itu di meja kerja mereka dengan bunyi tak yang cukup keras untuk memecah keheningan.
“Al, aku tanya serius ya. Ini sudah hari keempat. Benar-benar tidak ada satu pun kabar dari si cowok dingin itu?” Dinda menarik kursi, duduk tepat di hadapan Alea yang masih berpura-pura sibuk.
Alea tidak langsung mendongak. Tangannya masih sibuk mengelap sampul buku yang sebenarnya sudah bersih mengkilap. “Tidak ada, Din. Tidak ada pesan, tidak ada telepon. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.”
“Aneh sekali, Al. Sungguh! Ini gila!” Dinda menggelengkan kepala dengan ekspresi yang tidak habis pikir. “Aksa itu bukan orang sembarangan. Kita berdua tahu bagaimana kaku dan disiplinnya dia soal waktu. Jam delapan pagi, meski hujan badai sekalipun, dia biasanya sudah duduk di sana seperti patung. Kok bisa-bisanya tiba-tiba dia hilang empat hari tanpa sepatah kata pun? Ini sangat bukan dia. Sangat bukan Aksa yang kita kenal.”
Alea menarik napas panjang, mencoba menekan rasa sesak yang mulai menjalar ke tenggorokannya. “Mungkin dia sedang banyak urusan, Din. Urusan kantornya mungkin sedang berantakan, atau dia punya urusan pribadi yang jauh lebih mendesak daripada sekadar mampir ke toko buku ini.”
“Al, dengar ya.” Dinda menyambar tangan Alea, memaksa sahabatnya itu untuk berhenti mengelap buku. “Kalau alasannya cuma mungkin sibuk, itu tidak masuk akal untuk orang seperti Aksa. Sesibuk-sibuknya orang sedingin dia, jika dia sudah membuat janji, minimal dia pasti akan mengirim pesan singkat. Satu kalimat saja. Aku tidak bisa datang, atau maaf sedang ada kendala.Tapi ini? Dia hilang total seperti ditelan bumi. Tumben sekali dia begini. Kamu tidak merasa ada yang janggal?”
Alea akhirnya meletakkan kain lapnya dan menatap Dinda dengan mata yang mulai panas dan memerah. “Lalu aku harus bagaimana, Dinda? Apa aku harus menangis di depan pintunya dan memohon penjelasan? Lagipula, aku sama dia kan tidak ada hubungan apa-apa.”
“Ya, memang tidak ada hubungan status, Al! Aku tahu! Tapi dia kan sudah berjanji!” seru Dinda gemas. “Dia sendiri yang menawarkan diri mau bantu kamu membereskan gudang dan mematikan lampu itu pagi-pagi, kan? Dia yang membuat janji itu!”
“Justru karena tidak ada hubungan itu, Din,” suara Alea mulai bergetar karena emosi yang ia tahan sejak hari pertama. “Karena aku bukan siapa-siapanya, dia merasa tidak perlu memberi penjelasan padaku. Dia merasa bebas datang dan pergi kapan saja tanpa perlu lapor. Dia tidak merasa punya kewajiban moral untuk menghargai waktuku. Aku saja yang bodoh karena sempat merasa dia berbeda. Sekarang aku merasa dejavu, Din. Rasanya sakit sekali sampai aku sulit bernapas.”
Dinda mengernyit, raut wajahnya berubah menjadi iba. “Maksudmu?”
“Rasanya persis seperti saat Hanif mulai berubah dulu,” bisik Alea. Air matanya kini benar-benar jatuh. “Hanif juga dulu sering melakukan hal yang sama. Membuat janji-janji kecil yang katanya akan ditepati, membuatku menunggu berjam-jam, lalu menghilang tanpa kabar seolah-olah aku ini tidak cukup penting untuk diberi penjelasan. Sekarang Aksa melakukan hal yang sama. Dia menawarkan bantuan, membuatku merasa spesial, membuatku merasa punya sandaran yang bisa dipercaya, lalu tiba-tiba menghilang tepat saat aku mulai membuka pintu hatiku.”
“Al, tapi Aksa bukan Hanif...”
“Apanya yang bukan? Buktinya nyata di depan mataku, Din! Dia tidak datang!” Alea tertawa getir sambil menghapus air mata dengan kasar. “Sakitnya jadi dua kali lipat, Din. Aku kecewa pada Aksa, tapi aku jauh lebih kecewa pada diriku sendiri karena membiarkan diriku jatuh di lubang trauma yang sama untuk kedua kalinya. Ternyata semua laki-laki memang punya bakat yang sama untuk menghilang saat kita sudah mulai terbiasa dengan kehadiran mereka.”
“Tapi, Al, ini tumben sekali buat orang seperti dia.”
“Anehnya, rasa tumben yang kamu bilang itu malah membuatku semakin sakit, Dinda. Kamu tahu kenapa? Karena itu membuktikan kalau hanya kepadaku dia memilih untuk jadi tidak bertanggung jawab. Kepada kliennya, kepada rekan kerjanya, dia mungkin sangat disiplin. Tapi kepadaku? Dia merasa boleh ingkar karena aku bukan siapa-siapa yang harus dia hargai perasaannya.”
Dinda terdiam, tidak mampu lagi membela Aksa setelah melihat kehancuran di wajah Alea.
“Sudahlah, Din. Jangan dibela lagi.” Alea berdiri dari kursinya dengan gerakan cepat. “Toh lampunya sudah aku matikan sendiri sejak kemarin-kemarin. Barangnya juga sudah aku cicil rapikan sendiri. Ternyata memang benar, pada akhirnya aku memang harus mengerjakan semuanya sendiri. Aku tidak butuh bantuan orang yang hanya manis di mulut tapi hilang saat eksekusi.”
Alea berjalan meninggalkan Dinda dan masuk ke dalam gudang. Namun, begitu pintu gudang tertutup, suasana sunyi dan pengap di sana justru menyeretnya masuk ke dalam lubang masa lalu yang mengerikan.
Ia menatap tumpukan kardus yang seharusnya mereka bereskan bersama. Seketika, ingatannya terlempar kembali ke sebuah sore tiga tahun lalu. Trigger itu datang begitu cepat dan tajam. Alea teringat saat Hanif berjanji akan membantunya pindahan apartemen. Alea sudah mengemas semuanya, menunggu di depan pintu dengan tumpukan barang, namun Hanif tidak pernah datang. Teleponnya mati, pesannya hanya centang satu. Alea berakhir mengangkat kardus-kardus berat itu sendirian di bawah tangga sambil menangis tersedu-sedu karena merasa tidak berharga.
Kini, di gudang ini, rasa itu kembali. Rasa tidak berharga yang sama. Alea merasa seperti anak kecil yang ditinggalkan di tempat parkir.
“Ternyata aku memang tidak pernah jadi prioritas siapa pun,” bisik Alea pelan di tengah kegelapan gudang.
Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu dan perlahan merosot ke lantai.
Di tengah kegelapan ruangan yang hanya berisi debu dan buku-buku lama, Alea menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis tanpa suara. Sakit hati yang berlipat ganda itu terasa begitu nyata, merobek kembali luka lama yang ia pikir sudah sembuh, namun nyatanya hanya tertutup oleh harapan palsu yang baru saja diberikan oleh Aksa.