NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Naga

Kembalinya Sang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Tetua yang Berkhianat

Malam merayap perlahan menyelimuti Kota Danau Indah dengan jubah kegelapan yang pekat. Danau yang pada siang hari berkilau keemasan, kini memantulkan cahaya rembulan yang pucat, tampak seperti cermin perak yang retak di seribu tempat. Di dalam sebuah kamar penginapan mewah yang beraroma kayu cendana, Wang Long duduk bersila di dekat jendela yang terbuka.

Di sampingnya, tergeletak sebuah kotak hitam panjang. Kotak itu tampak sangat bersahaja; tak ada ukiran naga yang rumit, tak ada hiasan emas yang menyilaukan. Namun, bagi mata seorang ahli bela diri tingkat tinggi, kotak itu memancarkan aura samar yang sangat berat, seolah-olah ada kekuatan kuno yang sedang tertidur di dalamnya, menekan udara di sekitar hingga terasa menyesakkan dada.

Sin Yin berdiri beberapa langkah di belakangnya, mematung sembari memandangi riak air danau. Cahaya bulan menyinari separuh wajahnya, memberikan kesan mistis pada sang Bidadari Maut.

“Kota ini terlalu tenang,” gumam Sin Yin. Suaranya halus, namun mengandung kewaspadaan yang tajam.

“Tenang sebelum badai datang menyapu?” tanya Wang Long tanpa membuka mata. Suaranya terdengar jernih, mengalir seperti mata air di pegunungan.

Sin Yin belum sempat menyahut ketika sebuah ketukan cepat terdengar memecah keheningan.

Tok. Tok. Tok.

Irama ketukan itu bukan berasal dari tangan orang biasa. Ketukannya terukur, penuh wibawa, dan mengandung sisa tenaga dalam yang stabil. Wang Long bangkit dengan gerakan yang luwes, lalu membuka pintu.

Seorang pria paruh baya dengan janggut yang tertata rapi berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan jubah biru gelap dengan bordiran lambang bulan dan bintang yang berkilau terkena cahaya lampion koridor. Ia adalah Ketua Yuan Shao, pemimpin tertinggi Sekte Bulan Bintang yang disegani.

“Ketua Yuan Shao,” sapa Wang Long sembari memberikan penghormatan pendek.

Pria itu melangkah masuk dengan langkah yang berat. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi gurat kecemasan yang mendalam. “Aku tidak datang untuk sekadar menikmati teh atau berbincang kosong,” katanya dengan nada bicara yang rendah dan tanpa basa-basi.

Sin Yin memutar tubuhnya, menyilangkan tangan di dada dengan sikap yang dingin. “Kalau begitu, langsung saja ke intinya. Masalah apa yang membuat pemimpin sekte besar tampak begitu gelisah?”

Yuan Shao menarik napas panjang, seolah sedang membuang beban yang menghimpit paru-parunya. “Di dalam jantung sekte kami… ada pengkhianat yang telah menjual jiwanya pada kegelapan.”

Keheningan sesaat menyergap ruangan itu.

“Siapa?” tanya Wang Long singkat.

“Kami baru saja melakukan penyelidikan internal yang sangat rahasia. Dan sayangnya, semua petunjuk serta bukti yang kami temukan mengarah pada satu nama yang selama ini kami hormati,” Yuan Shao menatap lurus ke mata Wang Long, ada amarah yang tertahan di sana. “Tetua Tian Kin.”

Alis Sin Yin bertaut, matanya menyipit. “Salah satu dari tiga tetua tertinggi sekte kalian?”

Yuan Shao mengangguk dengan getir. “Ia menghilang secara misterius tadi sore. Dan di balik dinding ruang rahasianya, para murid menemukan simbol Tengkorak Hitam yang digambar dengan darah kering.”

Nama itu kembali menggema, membawa aura maut yang sudah lama ditakuti di dunia persilatan.

“Ke mana dia melarikan diri?” tanya Wang Long.

“Jejak langkah dan hawa murninya mengarah ke utara. Ke arah Pegunungan Karang Hitam,” jawab Yuan Shao. Ia menunduk sejenak, wajahnya tampak lebih tua dari usianya yang sebenarnya. “Itu adalah wilayah terlarang yang selama ini kami curigai sebagai pintu gerbang menuju markas besar Partai Tengkorak Hitam.”

Hening menyelimuti mereka. Wang Long menatap ke arah utara melalui jendela, seolah bisa melihat bayangan pengkhianat itu di kejauhan.

“Aku ingin kau mengejarnya,” ucap Yuan Shao, suaranya mengandung nada memohon yang samar.

Wang Long tidak segera memberikan jawaban. Ia tahu bahwa mengejar seorang tetua sekte besar berarti masuk ke dalam mulut harimau. “Aku tidak bisa menjanjikan untuk membawanya kembali dalam keadaan hidup-hidup, Ketua.”

“Aku mengerti,” sahut Yuan Shao pelan, suaranya terdengar seperti bisikan angin malam. “Jika ia memang telah memilih jalan terkutuk itu… mungkin maut adalah satu-satunya jalan untuk membersihkan namanya.”

Sin Yin memandang Wang Long dengan tatapan cemas yang tersembunyi. Ia tahu perjalanan ini akan sangat berbahaya. “Kenapa harus kami? Sekte Bulan Bintang memiliki ratusan pendekar hebat.”

Yuan Shao melirik sekilas ke arah kotak hitam panjang di samping Wang Long. Tatapannya penuh arti. “Karena jika kabar yang kudengar dari burung-burung malam itu benar… dia bukan hanya sekadar mengkhianati sekte demi jabatan.”

“Tapi dia juga mengincarmu, Wang Long.”

Wang Long terdiam, jemarinya secara refleks menyentuh permukaan kotak hitam itu. Namun, di saat ketegangan mencapai puncaknya, sebuah suara lain terdengar dari ambang jendela yang terbuka lebar.

“Kabarnya bukan sekadar mengincar.”

Sesosok pria tinggi dengan pakaian gelap melompat masuk ke dalam ruangan tanpa suara, seolah-olah ia adalah bagian dari bayangan itu sendiri. Yue Liang Shu telah kembali.

Sin Yin secara refleks memegang gagang pedangnya, namun segera mengendurkan genggamannya saat mengenali wajah pria itu. “Kau kembali,” gumamnya pendek.

Yue Liang Shu mengangguk singkat, napasnya sedikit memburu. “Aku telah menyusup ke beberapa jaringan kecil mereka di kota ini. Satu hal telah menjadi sangat jelas.” Ia menatap kotak hitam itu dengan pandangan yang rumit. “Tetua Tian Kin sangat menginginkan apa yang ada di dalam kotak itu.”

Yuan Shao tersentak, rasa penasaran menyelimuti wajahnya. “Senjata apa sebenarnya yang kau simpan di sana, Anak Muda?”

Wang Long terdiam beberapa jenak, menatap kotak itu dengan pandangan penuh hormat. “Ini adalah pedang warisan guruku. Sebuah pusaka yang tidak boleh sembarang dicabut.”

Yue Liang Shu melanjutkan dengan suara yang berat, “Tian Kin adalah orang yang terobsesi pada artefak kuno. Selama bertahun-tahun ia mencari senjata legendaris yang konon mampu memutus urat tenaga dalam lawan hanya dengan hawa pedangnya saja.”

Mata Sin Yin berkilat tajam. “Pedang Naga Sembilan Langit?”

Yue Liang Shu mengangguk perlahan. “Jika benar pedang itu ada di tanganmu… maka bukan hanya Tian Kin yang akan bangkit dari lubang persembunyiannya. Seluruh iblis di dunia persilatan akan mengejarmu tanpa henti.”

Yuan Shao mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. “Jadi selama ini… ia mengkhianati persaudaraan puluhan tahun hanya demi sebuah senjata?”

“Bukan sekadar senjata,” ujar Yue Liang Shu dengan nada memperingatkan. “Melainkan sebuah simbol kekuasaan mutlak. Jika Partai Tengkorak Hitam berhasil mendapatkannya, mereka memiliki kunci untuk meruntuhkan pertahanan setiap sekte besar sekaligus.”

Ruangan itu mendadak terasa dingin, mencekam. Wang Long akhirnya berdiri tegak, auranya berubah menjadi tenang namun tajam, seperti pedang yang siap dihunus. “Aku akan mengejarnya.”

Sin Yin menoleh dengan cepat, matanya menatap Wang Long dengan ketetapan hati yang sama. “Bukan 'aku'. Tapi kita.”

Wang Long menatap Sin Yin, lalu sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—menghiasi bibirnya. “Ya. Kita.”

Yuan Shao membungkuk dalam, memberikan penghormatan yang sangat tulus. “Jika kalian berhasil menghentikan pengkhianat itu sebelum ia mencapai markas besar mereka… Sekte Bulan Bintang akan berutang nyawa dan kehormatan pada kalian.”

Wang Long menggeleng pelan. “Aku tidak melakukannya demi sebuah utang budi, Ketua.”

“Lalu, demi apa kau mempertaruhkan nyawamu?”

Wang Long menatap kotak hitam itu sekali lagi, lalu beralih pada Sin Yin. “Karena jika mereka memang menjadikanku target utama… aku tidak bisa terus duduk diam menunggu mereka mengetuk pintuku. Naga tidak akan menunggu badai; naga akan terbang menembus badai itu.”

Yue Liang Shu menyilangkan tangan, sorot matanya memberikan peringatan terakhir. “Bersiaplah. Tian Kin bukan pendekar biasa. Ilmunya jauh melampaui Putri Gubernur, bahkan mungkin setara denganku saat aku masih berada di puncak kejayaan sebagai pembunuh elit.”

Sin Yin tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membangkitkan aura Bidadari Maut. “Bagus. Sudah terlalu lama aku tidak menghadapi lawan yang bisa membuat darahku terasa hangat kembali.”

Yuan Shao melangkah menuju pintu dengan langkah yang lebih mantap. “Berangkatlah sebelum fajar menyingsing. Jika kalian terlambat sedikit saja, ia akan masuk ke wilayah pegunungan yang sulit ditembus.”

Setelah Ketua Sekte Bulan Bintang pergi, keheningan kembali meraja. Angin malam yang kencang meniup tirai jendela hingga berkibar liar. Sin Yin mendekat ke arah Wang Long, jarak mereka kini sangat dekat hingga ia bisa merasakan kehangatan Tenaga Naga Langit dari tubuh pemuda itu.

“Pedang itu… seberapa penting sebenarnya bagimu?” bisik Sin Yin.

Wang Long memandang Sin Yin dengan tatapan yang sangat lembut, sebuah tatapan yang sanggup meruntuhkan dinding es di hati sang bidadari. “Pedang itu adalah pusaka berharga… tapi ia sama sekali tidak sepenting dirimu di mataku.”

Sin Yin mendengus kecil, meski pipinya terasa panas karena pengakuan yang tiba-tiba itu. “Dalam keadaan genting seperti ini pun, kau masih sempat melontarkan kata-kata manis.”

“Aku tidak sedang bercanda, Sin Yin. Aku serius,” jawab Wang Long dengan nada yang sangat dalam.

Sin Yin terdiam cukup lama, menatap mata Wang Long yang jernih. Lalu ia berbisik dengan suara yang sedikit bergetar, “Kalau begitu, berjanjilah padaku… jangan biarkan pedang itu membuatmu menjadi sasaran kebencian semua orang. Aku tidak ingin kehilanganmu.”

Wang Long tersenyum tenang, sebuah senyum yang memberikan rasa aman. “Jika seluruh dunia datang untuk merebutnya, aku akan menghadapinya dengan kepala tegak.”

“Dan bagaimana jika aku yang menjadi target mereka untuk memancingmu?” tanya Sin Yin menantang.

Mata Wang Long mendadak berubah tajam, memancarkan kilatan emas yang mengerikan. “Siapa pun yang berani mengusikmu… harus melangkahi mayatku terlebih dahulu. Naga ini tidak akan membiarkan bidadarinya tersentuh oleh tangan-tangan kotor.”

Di luar sana, bulan perlahan tertutup oleh awan hitam yang tebal. Di utara, Pegunungan Karang Hitam yang angker seolah sedang membuka mulutnya, siap menelan siapa saja yang masuk.

Di sana, Tetua Tian Kin sedang berlari menembus malam, membawa rahasia besar yang bisa mengguncang fondasi dunia persilatan. Bukan hanya rahasia sekte, melainkan rahasia kuno tentang pedang di dalam kotak hitam milik Sang Naga.

Bersambung...

1
Nanik S
Kenapa tidak ada cincin ruang untuk menaruh pedangnya
Idwan Syahdani: ini bukan novel Kultuvator kakak.. ini novel silat klasik..
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Hadir...cukup menarik
Nanik S
Wang Long ..dimana Mei Lin adiknya
Idwan Syahdani: nanti mereka bertemu saat sama-sama sudah jadi pendekar..
total 1 replies
Idwan Syahdani
aman kak, semua novel akan tamat kok, sabar ya...
Dian Pravita Sari
dlogok cerita kok gak da yg tamat kl blm siap jgn modal. janji dankejar kontrak makan duit pulsa aja di otak yang gak da rasa tanggung jenmenueledaikan cerita
Idwan Syahdani: semua novel akan saya tamatin kok kak... stay cun aja ya...
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, pertama untuk dukung novel barunya.
Idwan Syahdani: makasih kak... pa kabar, nggak ikut di n.v.a kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!