Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.
Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.
Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.
Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?
Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?
Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?
Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️
Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan
Sementara Magnitius tengah kesusahan memapah Aira yang semakin melemah. "Aira, aku mohon bertahanlah".
Langkah Aira semakin berat, dan tubuhnya semakin lemah. "Apa masih jauh?". Lirih Aira
"Magnitius, dadaku sakit". Ucap Aira
Magnitius menggendong Aira ala bridal-style. "Bertahanlah, kita akan sampai di El'Goroth". Ungkapnya.
Namun tiba-tiba, langkahnya dihalagi oleh seseorang yang sudah mencari mereka sejak lama. "Akhirnya kita bertemu, putri es".
"Benar dugaanku, kalau Elian adalah raja vampir". Batin Magnitius.
Magnitius menatap Valerius dengan tatapan yang tajam. Tapi sang empu yang menerima tatapan hanya tersenyum miring, mengejek. "Kau mengira aku telah mati, Magnitius?". Ucapnya berbangga diri.
"Tabib Elian?". Lirih Aira.
"Aira, kemarilah. Aku akan mengobatimu". Seru Valerius menjulurkan kedua tangannya.
"Dia bukan Elian, dialah Raja vampir". Bisik Magnitius.
Aira membulatkan matanya. "Apa yang harus kita lakukan?". Tanya Aira berbisik.
Magnitius menggendong Aira dengan erat, sambil menatap Valerius dengan tatapan yang tajam. "Kamu tidak akan pernah mendapatkan Aira, Valerius," katanya
Valerius tersenyum, mata merahnya berkedip-kedip dengan kekuatan vampir. "Aku akan mendapatkan Aira, dan aku akan membuatnya menjadi milikku," katanya dengan kepercayaan diri.
Tak lama kemudian Lyra datang menyusul Magnitius dan Aira. Melihat hal itu, terlihat raut wajah kecewa bercampur marah dari wajah Valerius.
"Ternyata aku telah di bodohimu,nona". Ujar Valerius tertawa.
Magnitius menggeram, dan dengan gerakan yang cepat, dia melepaskan Aira ke tanah. "Lyra, lindungi Aira!" dia berteriak kepada adiknya.
Lyra mengangguk, dan dengan cepat dia menarik Aira ke belakangnya. "Kak, berhati-hatilah".
Magnitius dan Valerius berhadapan, mata mereka saling menatap. Pertarungan dimulai dengan sebuah ledakan energi, ketika Magnitius melompat ke arah Valerius dengan kecepatan yang luar biasa.
Valerius mengangkat tangannya, dan sebuah bola api merah muncul di depannya. "Kamu akan menjadi mangsaku hari ini, Magnitius,"
Magnitius menggeram, dan dengan gerakan yang cepat, dia menghindari bola api itu. Dia melompat ke arah Valerius, dan dengan sebuah pukulan yang kuat, dia menghantam Valerius ke tanah.
Valerius tersenyum, dan dengan gerakan yang cepat, dia bangkit kembali. "Ternyata kau tak selemah itu, Magnitius," katanya. "Tapi aku tak sebanding denganmu."
Pertarungan berlanjut, dengan Magnitius dan Valerius saling bertukar pukulan. Aira dan Lyra menonton dengan napas yang tertahan, berharap bahwa Magnitius bisa mengalahkan Valerius.
"Ayolah, Aira, kita harus pergi!" Lyra berkata, sambil menarik Aira ke arah hutan lereng gunung.
Aira mengangguk, dan dengan susah payah, dia berdiri. Lyra membantunya berjalan, dan mereka berdua mulai berlari menuju El'Goroth, kota penyihir.
"Jangan khawatir, kakak akan mengurus Valerius," Lyra berkata, sambil menatap ke belakang. Aira mengangguk, tapi dia tidak bisa menghilangkan rasa kekhawatiran di hatinya.
Lyra dan Aira terus berlari, sampai mereka akhirnya mencapai batas hutan. Di depan mereka, mereka melihat kota El-Goroth, dengan menaranya yang tinggi dan menaranya yang indah.
"Kita hampir sampai, Aira," Lyra berkata, sambil tersenyum.
Tiba-tiba, sebuah suara terdengar di belakang mereka. "Tidak ada yang bisa melarikan diri dari Valerius!"
Lyra dan Aira menoleh, dan mereka melihat bahwa Valerius telah mengejar mereka, dengan tatapan membunuhnya.
"Lyra, itu berarti Magnitius?...". Bisik Aira di belakang Lyra.
Valerius menyunggingkan senyumnya menatap Aira dengan haus. "Kemarilah Aira, tidak ada pilihan lain selain mematuhiku".
"Cih!...".
"Jangan harap aku akan menyerahkan diri untuk seorang vampir keji sepertimu! Kenapa kau tidak mati?". Decak Aira dengan suara yang lantang.
"Berhentilah mengucapkan kata-kata yang bodoh! Sebesar apapun kekuatan yang kamu miliki, kau tidak akan bisa menggunakannya tanpa kerajaan es mu". Bantah Valerius senang.
"Setelah kekuatanku kembali sepenuhnya, maka aku akan membunuhmu!". Teriak Aira.
"Coba saja". Ledek Valerius memberi serangan api pada Aira.
Aira langsung mengangkat tangannya, dan sebuah bola es muncul di depannya. Bola es itu membesar dan mendorong bola api, menghantam serangan api Valerius dan membuat Aira harus mengeluarkan energi yang ekstra.
Bola es hancur berkeping-keping dan membuat serangan bola api dari Valerius tepat sasaran. Tubuh Aira terpental kebelakang.
"Aira! Tidak....". Teriak Lyra menghampiri Aira.
Valerius tersenyum, dan dengan gerakan yang cepat, dia bersiap untuk memberikan serangan terakhir kepada Aira. Tapi, tidak ada yang bisa menghentikannya, Lyra masih membentengi tubuh Aira dengan tubuhnya, dan bug...
"Akh.....". Teriak Lyra
Aira membuka matanya, dan dia melihat Lyra yang memeluknya erat membiarkan punggung indahnya menerima ledakan bola api.
"Lyra... tidak...,". Teriak Aira.
Lyra tersenyum menahan sakit dan dengan gerakan yang lembut, dia menyentuh wajah Aira. "Aira... aku... aku akan baik...baik...saja... "
"Lepaskan tanganmu dari tubuhku Lyra!". Teriak Aira.
Tapi Lyra semakin mengeratkan pelukannya. Aira melihat bagaimana punggung indah Lyra dihantam api dengan kedua bola matanya sendiri. Semakin lama, kesadaran Lyra semakin berkurang. Tubuh Lyra mulai hilang seperti percikan api yang mengapung ke udara.
"Lyra!!...Tidak Lyra..kembalilah!". Teriak Aira frustasi.
Setelah Lyra menghilang sempurna, dengan cepat Valerius melompat tepat di hadapan Aira. Ia mensejajarkan tubuhnya dengan Aira yang masih duduk dengan lemah.
"Kamu sudah tidak memiliki pengikut, nona Aira". Ucapnya dengan jari tangan yang sudah meraih dagu Aira.
Dengan cepat Aira menepisnya. Dada Aira naik turun menahan gejolak amarah, matanya biru berkilauan siap menyerang. "Tidak sepantasnya kau menyingkirkan mereka!". Bentak Aira di depan wajah Valerius.
"Ha...ha...ha... Lihatlah seorang putri yang lemah ini! Siapa yang akan menyukai penyihir bodoh sepertimu?".
Aira tidak bisa menahan amarahnya lagi. Dengan gerakan yang cepat, dia mengangkat tangannya, dan sebuah ledakan es muncul di sekitar Valerius, membuatnya terpental ke belakang.
"Bagaimana rasanya menjadi yang lemah?" Aira berkata dengan suara yang penuh dengan kemarahan.
Valerius bangkit kembali, dengan wajah yang penuh dengan kemarahan. "Kamu... kamu akan membayar untuk ini!".
Aira mencoba berdiri dengan tertatih tatih. "Haa..ha..ha...Lihatlah! Untuk berdiri saja, kau tak mampu". Ucap Valerius. Dengan cepat Valerius memeberi serangan bertubi-tubi pada Aira.
"Portego!". Teriak Aira
Sebuah portal es muncul di depan Aira, dan dia melompat ke dalamnya, menghindari serangan Valerius. Portal es itu membawa Aira ke tempat yang tidak terduga, dan dia muncul di belakang Valerius.
Dengan gerakan yang cepat, Aira mengangkat tangannya, dan sebuah tombak es muncul di tangannya. "Kamu tidak akan pernah menyentuhku lagi," katanya dengan suara yang penuh dengan kemarahan, dan dia menusukkan tombak es itu ke arah Valerius.
Namun, Aira kalah cepat. Dengan cerdiknya Valerius sadar akan keberadaan Aira lalu bergerak menghindar.
Aira tersungkur ke tanah, tombak esnya terpental dari tangannya. Valerius memanfaatkan kesempatan itu dan melompat ke arah Aira, dengan tangan yang siap untuk mencekiknya.
Tapi, Aira tidak menyerah. Dengan gerakan yang cepat, dia mengangkat tangannya, dan sebuah ledakan es muncul di sekitar Valerius, membuatnya terpental ke belakang.
Aira bangkit kembali, dengan napas yang terengah-engah. "Kamu tidak akan pernah menjadi penguasa!" katanya
Valerius tersenyum, dan dengan gerakan yang cepat, dia melompat ke arah Aira. Aira mencoba mengangkat tangannya untuk melindungi dirinya, tapi Valerius terlalu cepat. Dia menangkap tangan Aira dan memutarnya ke belakang, membuat Aira berteriak karena sakit.
"Ha ha ha, kamu tidak bisa melawan aku, Aku akan menunjukkan padamu apa itu kekuatan sebenarnya." Bisik Valerius di telinga Aira
Aira menggigit bibirnya, menahan sakit di sekujur tubuhnya. Terlebih lagi kini, Valerius menyeret tubuh Aira dan mengukung tubuh aira yang bersandar pada sebuah pohon yang besar.
"Lepas!". Aira mencoba memberontak.
Sama halnya dengan Magnitius, Valerius mengeluarkan taring kehidupannya di hadapan Aira. Valerius memberi serangan terakhir pada Aira dari jarak yang sangat dekat.
Aira tidak bisa melawan sedikit pun. Akhirnya, tubuhnya kehilangan kesadaran. Valerius tertawa merasa menang. Gigi taringnya telah siap menerkam Aira dan menghisap seluruh energi dari dalam tubuh Aira.
Valerius mengendus tengkuk Aira. "Akhirnya aku yang akan menguasai dunia".
Saat Valerius hendak menggigit leher Aira, tiba-tiba...
Booommm...
Dentuman keras hampir mengenai Valerius.
"Dia bukan milikmu, Valerius!".