NovelToon NovelToon
Di Bawah Payung Yang Sama

Di Bawah Payung Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:659
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.

Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.

Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.

Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 — Garis yang Mulai Kabur

Hari ketiga Kim Ae Ra di Aegis Corp dimulai bahkan sebelum matahari benar-benar terbit.

Ia berdiri di depan gedung perusahaan dengan secangkir kopi murah di tangannya, mencoba mengumpulkan keberanian sebelum masuk. Udara pagi terasa dingin, namun pikirannya jauh lebih ramai daripada jalanan di sekitarnya.

Semalam ia pulang hampir tengah malam karena makan malam bisnis bersama Hyun Jae Hyuk. Ia hampir tidak berbicara sepanjang acara, hanya mencatat dan tersenyum kaku setiap kali diperkenalkan sebagai sekretaris baru CEO.

Tatapan orang-orang masih sama—penasaran, menilai, dan sedikit meremehkan. Ae Ra menarik napas panjang.

“Aku harus bertahan…”

Pintu kaca terbuka otomatis saat ia melangkah masuk.

Pagi itu suasana kantor terasa lebih sibuk dari biasanya. Beberapa staf sudah berkumpul di dekat ruang rapat, membicarakan sesuatu dengan suara pelan.

Begitu Ae Ra melewati mereka, percakapan langsung berhenti. Ia pura-pura tidak menyadari. Saat duduk di mejanya, Yoo Min Ji segera datang membawa setumpuk dokumen.

“CEO akan menghadiri rapat darurat pukul sembilan,” katanya cepat. “Perusahaan pesaing mulai bergerak di proyek pelabuhan Busan.”

Ae Ra mengangguk sambil menerima berkas. Nama proyek itu terasa asing, tapi nada serius Min Ji membuatnya ikut tegang. Belum sempat membaca lebih jauh, pintu ruang CEO terbuka.

Hyun Jae Hyuk keluar dengan langkah cepat.

“Sekretaris Kim, ikut.”

“Iya!” Ia segera mengambil tablet dan mengikuti.

Ruang rapat dipenuhi eksekutif senior. Suasana jauh lebih kaku dibanding rapat sebelumnya. Di layar besar terpampang grafik dan laporan pasar.

“Grup Haesung mulai masuk ke sektor distribusi kita,” ujar salah satu direktur.

Ae Ra mencatat cepat, meski tidak sepenuhnya memahami. Jae Hyuk berdiri di ujung meja, ekspresinya tenang namun tajam.

“Kalau mereka ingin bermain cepat, kita percepat dua langkah,” katanya singkat.

Nada suaranya berubah—dingin, tegas, dan sangat berbeda dari pria yang memberinya sandwich kemarin. Untuk pertama kalinya, Ae Ra benar-benar melihat sisi CEO-nya. Dan ia merasa sedikit terintimidasi.

Rapat berlangsung hampir dua jam.

Saat semua orang keluar, Ae Ra masih duduk, mencoba merapikan catatan yang berantakan di kepalanya.

“Kau baik-baik saja?” Suara Jae Hyuk membuatnya menoleh.

“Iya… hanya sedikit pusing.” Ia berdiri terlalu cepat dan hampir kehilangan keseimbangan.

Refleks, Jae Hyuk menangkap lengannya.

Sentuhan itu singkat, tapi cukup membuat Ae Ra membeku.

“Kau belum terbiasa,” katanya pelan.

Ae Ra menarik tangannya cepat. “Aku akan belajar.”

Jae Hyuk menatapnya beberapa detik sebelum mengangguk.

“Aku tidak mempekerjakanmu untuk gagal.” Kalimat itu terdengar keras… namun anehnya memberi dorongan.

 Siang hari berlalu lebih cepat dari yang ia kira. Namun tekanan tidak berhenti.

Beberapa staf mulai terang-terangan menguji dirinya—memberikan dokumen mendadak, meminta konfirmasi berulang, bahkan sengaja berbicara terlalu cepat saat menjelaskan sesuatu.

Ae Ra tahu. Mereka ingin melihat kapan ia menyerah.

Menjelang sore, ia akhirnya menghela napas panjang. Hari ini terasa seperti ujian tanpa akhir.

 Malam datang, dan seperti refleks, langkahnya kembali menuju toserba. Bel pintu berbunyi lembut.

*Klining…*

Seo Jun sedang duduk di balik kasir, membaca buku kecil. Ia mengangkat kepala.

“Kau terlihat lebih hidup daripada kemarin.”

Ae Ra tertawa lemah.

“Kalau hidup berarti hampir pingsan, mungkin benar.”

Seo Jun menutup bukunya.

“Kopi?”

Ae Ra mengangguk. Ia memperhatikan bagaimana pria itu menyiapkan minuman dengan gerakan tenang. Tidak terburu-buru. Tidak menekan. Berbeda sekali dengan dunia kantor.

“Aku merasa seperti orang lain di sana,” kata Ae Ra pelan.

Seo Jun menyerahkan kopi hangat.

“Bukan kau yang berubah terlalu cepat,” jawabnya. “Lingkungannya saja yang belum mengenalmu.”

Ae Ra terdiam.

Kalimat itu sederhana, tapi menenangkan. Ponsel Seo Jun kembali bergetar. Ia melirik layar sebentar, lalu mematikannya tanpa membaca.

Ae Ra memperhatikan sekilas.

“Kau sering dapat telepon akhir-akhir ini.”

“Hanya spam,” jawabnya santai.

Ia mengganti topik dengan cepat.

“Besok shift pagi?”

Ae Ra mengangguk. “Iya.”

“Kalau begitu pulang lebih cepat.” Nada suaranya lembut, hampir seperti perintah halus.

Ae Ra tersenyum kecil tanpa sadar.

Di tempat lain, Hyun Jae Hyuk duduk sendirian di mobilnya yang berhenti di lampu merah. Pikirannya kembali pada satu hal. Ekspresi Ae Ra saat tersenyum melihat ponsel kemarin. Ia mengerutkan kening. Kenapa hal kecil itu mengganggunya? Ia bahkan tidak tahu siapa orang yang mengirim pesan itu.

Lampu berubah hijau, tapi mobilnya tetap diam beberapa detik sebelum akhirnya melaju. Tanpa sadar, arah yang ia ambil… menuju area tempat Ae Ra tinggal.

 Di kediaman Hyun Jin Suk, laporan baru kembali masuk.

“Grup Haesung bergerak lebih cepat dari prediksi,” ujar Do Hyun melalui panggilan.

Jin Suk tersenyum tipis.

“Menarik.”

Ia menatap layar tablet yang menampilkan foto-foto aktivitas perusahaan. Salah satunya memperlihatkan Ae Ra berjalan keluar gedung Aegis sore tadi.

“Kadang,” gumamnya pelan, “perubahan besar selalu dimulai dari orang yang tampak paling biasa.” Ia menutup layar.

Permainan yang awalnya sederhana kini mulai melibatkan lebih banyak pihak.

Malam semakin larut. Di depan toserba, Ae Ra melambaikan tangan sebelum pulang. Seo Jun berdiri memperhatikannya sampai sosok itu menghilang di tikungan.

Beberapa detik kemudian, sebuah mobil hitam melintas pelan di jalan yang sama. Seo Jun menatapnya tanpa ekspresi. Tatapannya berubah—tajam, waspada. Seolah ia mengenali sesuatu.

Namun detik berikutnya, ia kembali masuk ke dalam toko, mengambil lap kain, dan melanjutkan pekerjaannya seperti biasa.

Di bawah lampu neon yang sederhana, ia terlihat tidak berbeda dari pekerja paruh waktu lainnya.

Padahal, tanpa disadari siapa pun… garis antara tiga kehidupan kini mulai saling bersilangan.

1
Lisa
Amin..kalian berdua harus kuat yaa..
Lisa
Senangnya akhirnya Jae Hyuk & Ae Ra sudah mengetahui masa lalu itu dan membuat hubungan mereka makin dekat 👍👍
Lisa
Semangat y Ae Ra..💪👍
Lisa
Kmu harus kuat Ae Ra..ada Jae Hyuk yg selalu mendampingimu..
Lisa
Wah gimana ya suasananya pertemuan bisnis itu..makin seru aj nih ceritanya
Lisa
Ceritanya menarik jg nih ternyata Ae Ra adalah anak dr org yg dibunuh oleh papa dr direktur tmptnya bekerja saat ini..moga aj kebenaran itu dapat terungkap.
Lisa
Wah gmn y acara rapat besarnya..jadi penasaran nih 😊
Lisa
Ae Ra punya masa lalu yg berhubungan dgn CEO
Lisa
Tetap semangat y Ae Ra 💪👍
Lisa
Seo Jun sebenarnya siapa y..apakah dia org penting.
zhafira: hayoo siapa ya?🤭
masih 'Rahasia' 🧐
total 1 replies
Lisa
Wah berarti ada mata² di toserba itu
zhafira: wahh hayoo ada siapa?? 😁
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!