Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Gemuruh mesin pesawat yang membawa mereka meninggalkan Paris terdengar stabil pada awalnya.
Di dalam kabin kelas satu, Rizal dan Aisyah yang sedang berada di pesawat Paris terbang pulang ke tanah air tampak sangat bahagia.
Tangan mereka bertautan, membayangkan wajah Intan yang akan mereka temui beberapa jam lagi.
"Kita akan langsung ke Kediri setelah mendarat, kan Mas?" tanya Aisyah lembut.
Rizal mengangguk pasti.
"Tentu, Sayang. Kita bawakan kejutan untuknya."
Tetapi tiba-tiba pesawat mengalami turbulensi parah.
Goncangan hebat menghantam badan pesawat, membuat lampu kabin berkedip dan barang-barang di kompartemen atas berderak keras.
Suasana tenang seketika berubah menjadi kepanikan luar biasa.
Pesawat seperti terjun bebas dari ketinggian ribuan kaki ke dalam gumpalan awan hitam yang pekat.
Dalam situasi darurat yang mencekam itu, seorang pramugari memberikan parasut kepada mereka berdua dengan gerakan yang tergesa-gesa namun terukur.
Tekanan udara di dalam kabin mulai berubah drastis seiring dengan peringatan evakuasi yang menggema.
"Mas, aku takut!" seru Aisyah dengan suara bergetar, air matanya mulai tumpah.
Ia mencengkeram lengan Rizal dengan sangat erat.
"Tenang, Sayang. Pakai ini! Apa pun yang terjadi, jangan lepaskan tanganku!" teriak Rizal di tengah kebisingan mesin yang mengerang.
Ia membantu memakaikan perlengkapan darurat itu ke tubuh istrinya dengan tangan yang juga gemetar.
"Apapun yang terjadi, kita akan tetap bersama," bisik Rizal tepat di telinga Aisyah.
Aisyah menganggukkan kepalanya dengan pasrah, memejamkan mata dalam pelukan suaminya di tengah badai yang mengamuk di angkasa.
Sementara itu, saat Intan menghadapi penguji dengan lancar di aula pesantren, suasana terasa sangat sakral.
Intan melantunkan ayat-ayat suci dengan tajwid yang sempurna, membuat para penguji berdecak kagum.
Senyum tipis tersungging di bibirnya; ia berhasil menaklukkan ujian itu. Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sesaat.
Pintu aula terbuka dengan kasar. Pengasuh pondok masuk dengan wajah pucat pasi, memegang ponsel yang masih menyala.
Ia berjalan mendekati Intan dengan langkah gontai.
"Intan, nak..." panggilnya lirih.
Intan mendongak, hatinya tiba-tiba berdegup tidak karuan.
"Ada apa, Ustadz? Apa saya lulus?"
"Intan, orang tuamu mengalami kecelakaan pesawat saat perjalanan dari Paris," ucap sang pengasuh dengan nada tercekat.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Intan. Suara riuh di sekitarnya mendadak hilang, digantikan oleh dengungan memekakkan di telinganya.
Oksigen di sekitarnya seolah habis. Intan yang mendengarnya langsung jatuh pingsan di atas sajadahnya, tak sanggup menahan beban kabar pahit yang menghantam tepat di saat ia ingin membuktikan perubahan dirinya.
Suasana di aula yang tadinya penuh dengan kekhusyukan seketika berubah menjadi kepanikan yang mencekam.
Tubuh Intan yang lunglai di atas sajadah menjadi pusat perhatian semua orang.
Ustadz Yudiz membopong tubuh Intan dan membawanya ke ruang kesehatan dengan langkah seribu.
Wajah sang pengasuh tampak tegang, ia terus merapalkan doa dalam hati agar gadis malang itu kuat menerima cobaan yang begitu hebat di tengah usahanya memperbaiki diri.
Sesampainya di ruang kesehatan yang berbau antiseptik, Intan dibaringkan di atas ranjang putih yang sederhana.
Ustadzah Mina memberikan minyak kayu putih, mengusapkannya dengan lembut ke telapak tangan, pelipis, dan di bawah hidung Intan agar aromanya yang tajam dapat merangsang kesadarannya.
"Istighfar, Intan. Bangun, Nak," bisik Ustadzah Mina dengan mata yang berkaca-kaca.
Ia merasa sangat iba melihat gadis yang baru saja menyelesaikan hafalannya dengan indah itu kini harus terkulai tak berdaya.
Yuana, yang ikut menyusul ke ruang kesehatan, berdiri di sudut ruangan sambil terisak.
Ia terus memegang mushaf milik Intan yang terjatuh tadi, seolah-olah hanya itu satu-satunya pegangan yang tersisa dari sahabatnya.
Sementara itu, di luar ruangan, Ustadz Yudiz terus mencoba menghubungi pihak berwenang untuk mencari kepastian mengenai posisi jatuhnya pesawat yang ditumpangi Rizal dan Aisyah.
Informasi masih sangat simpang siur, namun doa terus mengalir dari seluruh santri di pesantren itu, memohon keajaiban bagi kedua orang tua Intan yang saat ini tengah bertaruh nyawa di antah berantah.
Perlahan, kelopak mata Intan bergerak gelisah. Aroma tajam minyak kayu putih mulai menembus kesadarannya, membawa kembali ingatan pahit yang membuatnya tak sadarkan diri tadi.
Begitu matanya terbuka sempurna, bayangan wajah Ustadzah Mina dan Ustadz Yudiz yang cemas menyambutnya.
Intan yang mulai siuman dan histeris menanyakan keadaan orang tuanya.
Ia langsung terduduk dengan napas tersengal-sengal.
"Ayah! Mama! Ustadz, di mana mereka sekarang? Pesawatnya jatuh di mana?" teriak Intan dengan suara parau.
Air matanya mengalir deras, membasahi wajahnya yang pucat pasi.
Ia mencoba turun dari ranjang dengan kaki yang masih lemas, seolah ingin berlari saat itu juga untuk mencari orang tuanya.
Ustadz Yudiz menenangkan Intan dengan memegang pundaknya dengan lembut namun tegas agar Intan tidak jatuh.
"Tenang, Intan. Istighfar, Nak. Kita harus tetap berkepala dingin agar bisa bertindak," ujar Ustadz Yudiz dengan suara berat yang menenangkan.
"Pihak maskapai sedang melakukan pencarian. Informasi paling akurat hanya bisa kita dapatkan langsung di posko darurat."
Beliau kemudian menatap Intan dalam-dalam. "Sekarang kita ke bandara untuk mencari tahu. Apakah kamu kuat?" tanya Ustadz Yudiz memastikan kondisi mental santrinya itu.
Intan menganggukkan kepalanya dengan cepat sambil menghapus air matanya kasar.
Meski tubuhnya masih gemetar, tekadnya untuk mengetahui nasib Rizal dan Aisyah memberinya kekuatan mendadak.
Ia tidak peduli seberapa lelah atau hancurnya perasaannya saat ini; ia harus ada di sana.
Segera mereka menuju ke bandara menggunakan mobil operasional pesantren.
Di dalam mobil yang melaju kencang menembus jalanan menuju Surabaya, suasana begitu hening dan berat.
Yuana duduk di belakang menemani Intan, merangkul bahu sahabatnya itu erat-erat.
Intan hanya bisa menatap kosong ke luar jendela, mulutnya tak henti-henti merapalkan doa-doa yang baru saja ia hafalkan, berharap mukjizat Tuhan akan melindungi kedua orang tuanya yang tengah berjuang di tengah reruntuhan pesawat.
Pemandangan indah Paris kini berganti menjadi kengerian yang mencekam.
Alih-alih mendarat di daratan, parasut mereka terseret oleh angin kencang menuju samudera yang sedang mengamuk.
Suara deburan ombak yang memekak telinga menyambut kepulangan mereka dengan sangat kejam.
Rizal yang berusaha menarik Aisyah keluar dari ombak besar tempat mereka mendarat berjuang dengan sisa tenaga yang ada.
Air laut yang dingin menusuk tulang, sementara kain parasut yang basah menjadi beban berat yang hampir menenggelamkan mereka.
"Aisyah, bertahanlah!!" teriak Rizal sambil terbatuk-batuk karena hantaman air garam.
Ia melihat istrinya sudah sangat lemas, matanya terpejam dan tubuhnya mulai mendingin karena syok.
Dengan cekatan dan penuh kepanikan yang terukur, Rizal melepaskan parasutnya yang melilit tubuhnya.
Matanya liar mencari sesuatu yang bisa membantu mereka bertahan di tengah laut lepas.
Tak jauh dari sana, sepotong puing besar dari sayap pesawat tampak terapung di antara buih ombak.
Rizal mengerahkan seluruh kekuatannya untuk berenang sambil menarik tubuh Aisyah, hingga akhirnya ia berhasil meraih tepi potongan logam itu.
Ia mendorong tubuh Aisyah ke atas puing tersebut agar tidak lagi terendam air laut.
Setelah itu, ia mengambil sayap pesawat untuk mereka mengapung, menjadikannya rakit darurat di tengah kegelapan yang mulai menyergap.
Melihat Aisyah yang sudah tidak bernapas secara teratur dan bibirnya yang mulai membiru, Rizal panik.
Ia segera menekan dada istrinya dan memposisikan kepala Aisyah dengan benar.
"Jangan tinggalkan aku, Aisyah! Intan menunggumu!"
Rizal memberikan napas bantuan untuk istrinya, berulang kali meniupkan udara ke paru-paru Aisyah sambil terus berdoa dengan suara parau.
Ia tidak peduli dengan luka-luka di tubuhnya sendiri; bagi Rizal, nyawa Aisyah adalah segalanya.
Setelah beberapa kali usaha yang menegangkan, tiba-tiba Aisyah terbatuk dan memuntahkan air laut dari paru-parunya, membuat Rizal menangis lega di tengah badai yang belum reda.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya" Dialah sang pewaris" terimakasih