NovelToon NovelToon
Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mukaram Umamit

Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".

Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.

"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.

Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Menuju Kematian

Kuda perang hitam raksasa yang ditumpangi Utusan Kota itu tiba-tiba meringkik panik. Hewan buas itu merasakan tekanan fisik yang mengerikan dari arah Zian. Kuda itu mundur beberapa langkah dengan gelisah, hampir menjatuhkan penunggangnya ke tanah.

Wajah Utusan Kota memerah karena malu sekaligus marah. Dia menarik tali kekang kudanya kuat-kuat untuk menenangkannya.

"Kau berani mengancam Penegak Hukum Kota?!" bentak Utusan itu. Tapi suaranya tidak selantang saat pertama kali datang. Matanya melirik tumpukan mayat Kapten Sekte Api Emas yang tengkoraknya hancur lebur di sudut halaman. Keringat dingin mulai menetes perlahan di pelipisnya.

Zian melangkah maju satu langkah lagi.

Krak!

Batu jalanan di bawah telapak kaki Zian retak menyebar seperti jaring laba-laba. Tidak ada ledakan energi sihir, hanya tenaga otot murni yang membuat udara di sekitar mereka terasa sangat berat dan mencekik.

"Aku tidak mengancam. Aku memberi tahu masa depanmu kalau kau berani maju satu langkah lagi," jawab Zian dengan nada sedingin es. "Di mana hukum kota kalian saat anjing-anjing ini mendobrak gerbangku? Di mana pasukanmu saat ayahku ditebas pedang di rumahnya sendiri? Kalian semua buta, atau sengaja menutup mata karena dompet kalian sudah diisi penuh oleh Tian Ao?"

Utusan Kota menggertakkan giginya menahan emosi. Dia mengepalkan tangan di gagang cambuk besinya, tapi insting bertarungnya berteriak keras menahan tubuhnya. Pria ini berada di tingkat Perwira tinggi, tapi dia tahu betul, berhadapan langsung dengan monster yang bisa meremukkan puluhan orang dalam lima menit murni dengan tangan kosong adalah tindakan bunuh diri.

"Zian, jangan sombong!" Utusan itu menelan ludah, mencoba menjaga harga dirinya di depan pasukannya. "Bahkan jika kau tiba-tiba mendapat kekuatan iblis entah dari mana, kau tetap sendirian. Kau tidak bisa melawan seluruh pasukan kota dan sekte besar sekaligus!"

Zian hanya mengangkat bahu pelan. "Bawa saja seluruh pasukanmu kemari. Aku tidak keberatan meratakan sekalian kantor pusat penegak hukum kalian malam ini."

Keheningan yang tegang kembali mencekam. Ratusan prajurit berbaju zirah di belakang Utusan itu saling pandang dengan wajah pucat pasi. Tidak ada satupun dari mereka yang berani maju atau mengangkat senjata. Aura kematian yang memancar dari tubuh Zian terlalu buas.

Utusan Kota menarik napas panjang. Dia tiba-tiba tersenyum licik. Taktik kekerasan langsung jelas tidak akan berhasil di sini. Dia tiba-tiba teringat pesan cadangan yang dititipkan Tian Ao sebelum penyerangan ini terjadi.

"Bagus. Kau memang punya nyali sekarang, Zian," kata Utusan itu sambil perlahan menurunkan cambuknya. "Sebagai Penegak Hukum, aku bisa saja menyeretmu ke penjara bawah tanah sekarang. Tapi, aku orang yang adil. Aku akan memberimu satu jalan keluar dari kekacauan berdarah ini."

"Jalan keluar?" Zian mendengus pelan meremehkan. "Atau jalan mati yang sudah majikan anjingmu siapkan?"

"Tiga hari lagi, Kota Daun akan mengadakan Turnamen Berburu Kota di Hutan Hitam. Ini acara resmi tahunan," jelas Utusan itu dengan nada menantang. "Di dalam area turnamen itu, tidak ada hukum kota yang berlaku. Membunuh sesama peserta untuk berebut poin adalah hal yang sangat sah."

Utusan itu merogoh sakunya dan melempar sebuah kepingan kayu berukir emas ke arah Zian.

Zian menangkap kepingan kayu itu dengan santai menggunakan dua jarinya. Matanya menatap datar tulisan "Peserta Khusus" yang terukir di atas kayu tersebut.

"Tuan Muda Tian Ao dan Nona Lin Yue secara khusus memasukkan namamu sebagai peserta," Utusan itu menyeringai lebar, merasa menang. "Kalau kau memang punya keberanian, datanglah. Buktikan kekuatan besarmu di sana. Jika kau bisa bertahan hidup dan memenangkan turnamen, semua tuduhan pembantaian hari ini akan dihapus bersih secara hukum."

Zian Hao yang berdiri tertatih di belakang langsung berteriak cemas. "Jangan terima, Zian! Itu jelas jebakan! Tian Ao pasti sudah menyewa ratusan pembunuh bayaran elit untuk mengepungmu di dalam hutan!"

Mei Yin menangis terisak sambil memegang lengan putranya erat-erat. "Benar, Nak. Jangan pergi ke sana. Kita tinggalkan saja kota ini sekarang. Kita cari tempat yang aman untuk hidup."

Zian menepuk punggung tangan ibunya dengan sangat lembut untuk menenangkannya. Dia lalu berbalik menatap Utusan Kota itu dengan senyum kejam yang membuat bulu kuduk semua prajurit berdiri tegak.

Zian meremas kepingan kayu emas itu kuat-kuat.

Krak!

Kayu tebal itu langsung hancur menjadi serpihan kecil dan debu di sela-sela jarinya.

"Kau sebut ini jebakan? Bagiku ini undangan pesta," ucap Zian dingin. "Katakan pada Tian Ao, aku menerima undangannya. Suruh dia kumpulkan semua anjing peliharaannya di hutan itu tanpa sisa. Jangan sampai ada yang tertinggal."

"Kau sangat sombong! Kita lihat saja apakah mulut besarmu ini masih bisa bicara tiga hari lagi," Utusan Kota itu mencibir kesal, menutupi rasa lega di hatinya karena dia tidak perlu bertarung mempertaruhkan nyawa hari ini. Dia memutar arah kudanya dengan kasar. "Pasukan! Kita mundur! Biarkan mayat-mayat kotor ini mengurus diri mereka sendiri!"

Ratusan prajurit itu langsung berbalik arah dan pergi dengan tergesa-gesa. Langkah mereka yang berantakan lebih terlihat seperti orang yang sedang kabur ketimbang pasukan elit yang sedang mundur.

Setelah rombongan pasukan kota benar-benar hilang dari pandangan, Zian membuang napas panjang. Otot-otot leher dan bahunya yang tadi menegang keras bagai batu kini perlahan mengendur. Dia berbalik menatap keluarganya.

"Zian... apa yang kau pikirkan?" Zian Hao melangkah maju. Wajah ayah paruh baya itu penuh dengan kekhawatiran yang mendalam. "Tian Ao bukan orang bodoh. Dia pewaris Sekte Api Emas. Dia pasti akan membawa senjata pusaka tingkat tinggi dan tetua sekte ke turnamen itu!"

Zian memegang kedua bahu ayahnya. Dia tidak menggunakan tenaga sama sekali, tapi Zian Hao bisa merasakan tangan putranya seberat dan sekokoh besi pejal.

"Ayah, lihat aku," kata Zian menatap lurus ke dalam mata ayahnya. "Apa Ayah masih melihat Zian yang lemah dan cacat?"

Zian Hao menelan ludah. Dia menggeleng pelan dengan mata berkaca-kaca. "Tubuhmu... Ayah tidak pernah melihat fisik sekuat ini seumur hidup Ayah. Tidak ada aura kultivasi di nadimu, tapi kulit dan ototmu terasa lebih keras dari baju zirah kelas satu."

"Itu karena aku menemukan jalan yang murni. Tanpa sihir. Tanpa energi yang bertele-tele," jelas Zian singkat dan padat. "Tian Ao mau memakai pusaka andalannya? Aku akan patahkan pusakanya dengan sikutku. Dia mau bawa tetua sekte kebanggaannya? Aku akan remukkan kepala tetuanya dengan lututku. Selama tiga hari ini, aku janji tidak akan ada satu orang pun yang berani mendekati rumah ini lagi."

Zian Yan berlari memeluk pinggang kakaknya erat-erat. Gadis kecil itu masih menangis pelan. "Kakak berjanji akan pulang, kan? Kakak tidak akan membiarkan mereka melukaimu di hutan itu?"

Zian mengelus rambut adiknya dengan penuh kasih sayang. Matanya menyiratkan kelembutan yang sangat tulus. "Kakak janji. Kakak hanya akan pergi sebentar untuk membersihkan tumpukan sampah."

Mei Yin mengusap air matanya yang jatuh. Dia melihat sekeliling halaman yang penuh dengan pemandangan mengerikan. "Lalu... apa yang harus kita lakukan dengan semua mayat ini, Nak?"

"Biar aku yang bereskan," jawab Zian. "Ibu bawa Ayah masuk ke dalam sisa rumah. Obati lukanya segera. Aku akan membuang bangkai-bangkai ini ke luar kota dan merapikan halaman kita."

Keluarga Zian akhirnya masuk perlahan ke dalam sisa bangunan yang tidak tersentuh api. Zian mulai bekerja sendirian di halaman. Dengan kekuatan fisik Tulang Asura, mengangkat mayat pria dewasa yang beratnya puluhan kilo terasa seringan mengangkat setumpuk jerami kering. Dia menumpuk puluhan mayat itu ke dalam beberapa gerobak dorong yang tersisa, lalu membuangnya ke dasar jurang di luar perbatasan kota tanpa kesulitan.

Menjelang tengah malam, halaman rumahnya sudah benar-benar bersih dari mayat. Hanya menyisakan bau anyir darah yang menusuk hidung dan tumpukan abu sisa kebakaran.

Zian duduk bersila di tengah halaman yang kosong dan sunyi. Cahaya bulan purnama menyinari tubuhnya yang penuh bekas goresan pertarungan. Dia tidak sedang bermeditasi menyerap energi alam seperti para kultivator biasa. Dia sedang fokus merasakan detak jantungnya sendiri. Memompa darahnya lebih cepat untuk menyatukan diri dengan kekuatan kuno yang tertidur di dalam tulangnya.

"Kau terlalu banyak bicara hari ini, Bocah," suara serak leluhur Asura tiba-tiba bergema berat dan sombong di dalam kepalanya. "Kenapa kau biarkan Utusan bodoh itu hidup? Seharusnya kau patahkan saja tulang leher kudanya dan jadikan kepalanya pajangan di gerbang depan rumahmu!"

"Kalau aku membunuhnya sekarang, Tian Ao akan lari bersembunyi seperti tikus ke markas sektenya," jawab Zian pelan di dalam hati. Matanya tetap tertutup rapat. "Aku ingin dia mengumpulkan semua pasukan terbaiknya di satu tempat. Aku mau meremukkan semua kebanggaan dan harapannya di dalam hutan itu sekaligus. Aku ingin dia merasakan putus asa yang menyiksa sebelum dia benar-benar mati."

Leluhur Asura tertawa terbahak-bahak di dalam tengkoraknya. Tawanya sangat buas dan liar. "Hahaha! Pemikiran iblis yang sangat manis! Aku suka gayamu! Balas dendam memang paling enak disajikan di atas piring keputusasaan musuh."

Zian membuka matanya perlahan. "Tapi kekuatan fisikku yang sekarang masih sebatas level Ranah Jelata. Mengalahkan Perwira biasa memang sangat mudah. Tapi kalau Tian Ao benar-benar membawa tetua sekte di tingkat Jenderal, tulang lenganku mungkin bisa retak saat membentur sihir elemen terkuat mereka."

"Tentu saja!" ejek suara kuno itu mencemooh. "Kau baru menggores kulit paling luar dari Tulang Asura. Kau pikir warisan darahku cuma bisa membuat kulitmu tebal seperti badak? Kekuatan sejati dari darahku adalah tahap 'Kebangkitan Brutal'. Itu akan melipatgandakan kecepatan dan bobot pukulanmu sampai bisa membelah aliran sungai dengan tangan kosong!"

"Bagaimana cara membangkitkannya malam ini juga?" tanya Zian cepat. Niat bertarungnya semakin menggebu-gebu tak terbendung.

"Sangat mudah. Kau hanya perlu menahan rasa sakit," suara leluhur itu berubah menjadi seringai jahat yang menakutkan. "Tulangmu sekarang sudah padat, tapi belum dipanaskan dalam api penderitaan. Aku akan membakar tulang sumsummu dari dalam selama tiga malam berturut-turut. Setiap malam, rasa sakitnya akan sepuluh kali lipat lebih parah dari saat kau berada di kuil leluhur kemarin. Kalau kau gila, kau akan hidup dan mendapatkannya. Kalau mentalmu hancur, otakmu akan meledak saat ini juga."

Zian tersenyum sangat dingin. "Lakukan sekarang."

"Bagus. Bersiaplah menjerit, Bocah."

Detik berikutnya, sebuah gelombang panas yang luar biasa mengerikan meledak ganas dari pusat dada Zian. Rasanya seperti ada lautan lahar mendidih yang disuntikkan secara paksa langsung ke dalam sumsum tulang belakangnya.

Zian membelalakkan matanya sangat lebar. Urat-urat di seluruh leher, wajah, dan lengannya menonjol keluar dan berdenyut kasar seakan mau pecah. Kulitnya langsung berubah merah padam seperti besi yang sedang dipanggang di dalam tungku pandai besi.

"ARGHH!"

Zian menggigit bibirnya keras-keras sampai darah segar mengalir deras. Dia meninju tanah halaman di depannya dengan kepalan tangannya untuk mengalihkan siksaan itu.

Brak!

Tanah langsung amblas membentuk kawah kecil yang retak dalam.

Rasa sakitnya seribu kali lebih gila dari bayangannya. Setiap inci tulangnya seperti dikuliti, dihancurkan, dan dibakar berulang-ulang tanpa ampun. Napas Zian memburu sangat kasar. Asap putih tipis mulai mengepul keluar dari permukaan kulitnya yang mendidih kepanasan.

Dia terus meninju tanah berulang kali dengan brutal, membuat halaman rumahnya bergetar hebat layaknya terkena gempa bumi.

"Tahan! Tahan rasa sakitnya, lalu ubah jadi tenaga pukulanmu!" teriak leluhur Asura di dalam kepalanya dengan nada penuh kemenangan.

Zian mengangkat kepalanya menatap bulan purnama dengan mata yang merah menyala menyala. Gigi taringnya bergemeretak menahan siksaan yang rasanya sanggup merobek kewarasan manusia mana pun di dunia ini. Dia tidak akan menyerah sedikit pun. Dia akan menelan semua penderitaan neraka ini mentah-mentah.

Tiga hari.

Dia hanya punya waktu tiga hari sebelum Turnamen Berburu Kota dimulai. Saat dia melangkahkan kakinya keluar dari halaman ini nanti, dia bersumpah akan mengubah Hutan Hitam itu menjadi danau darah murni bagi semua orang yang berani memandang rendah nama keluarganya.

1
Dian Pravita Sari
hal fa satupun cerita yg tamat ini novel toon penipu aplikasinya abal. abal
Dian Pravita Sari
tolong pats pembaca kasih tshi says no yelp lembaga konsumen Indonesia brp mau laporkan len pulsanya dimakan to. penyajian ceritanya smbirsgdul gak da tanggung jawab hu least konyrsk
Bucek John
wadauuu.. kantong penyimpanan musuh.. sia sia gak dipunggut, harta buat mdp..
M. Zayden: hahaha iya bosku😅
total 1 replies
Joe Maggot Curvanord
ga adapake jurus apaaa tu thor
cuma tinju asal ajaaa
M. Zayden: iya bosku🙏
total 1 replies
Nanik S
Lasaanjuuuuut
M. Zayden: siap bosku kami akan up setiap hari 2 bab terimakasih🙏
total 2 replies
Nanik S
Hadir
M. Zayden
​"Halo semuanya! Terima kasih banyak ya buat yang sudah antusias minta update. Biar kualitas ceritanya tetap terjaga dan aku bisa rutin nemenin kalian, jadwal update-nya adalah 2 bab setiap hari. Selamat membaca dan jangan lupa dukungannya! ❤️"
Gege
mantabb
Gege
gasss thoor 10k kata tiap update
M. Zayden: siap bosku😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!