Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Jika Luna adalah sang putri yang penuh drama dan keanggunan, maka Hera adalah badai yang tak terduga. Di balik sikapnya yang suportif terhadap hubungan Zayn dan Luna, Hera menyimpan sebuah luka lama yang telah membeku menjadi kebencian yang mendarah daging.
Luka itu bernama Arlo.
Dulu, saat Hera masih mengenakan seragam putih abu-abu, ia adalah gadis yang jatuh cinta pada deru mesin dan aroma aspal. Di sebuah sirkuit balap liar, ia bertemu Arlo. Saat itu, Arlo adalah pemuda dengan senyum miring yang sanggup meruntuhkan pertahanan Hera yang masih labil. Mereka menjadi pasangan legendaris di dunia motor; Hera dengan kegarangannya dan Arlo dengan kepemimpinannya. Namun, cinta remaja yang meledak-ledak itu hancur berkeping-keping saat Hera memergoki Arlo sedang beradu mesra dengan gadis lain di belakangnya.
Sejak saat itu, Hera bersumpah, Tidak ada lagi ruang untuk cinta. Ia mengunci hatinya serapat mungkin. Baginya, laki-laki hanyalah makhluk visual yang bosan dengan satu objek dan selalu mencari mangsa baru.
Setelah melihat kebahagiaan Luna dengan kehamilannya, ada sesuatu yang berdenyut aneh di hati Hera. Ia mendambakan kehadiran seorang anak, seorang manusia kecil yang akan mencintainya tanpa syarat tanpa perlu ada drama pengkhianatan dari seorang pria.
Ia duduk di sofa apartemennya, menatap brosur dari sebuah klinik fertilitas ternama di California. Pikirannya sudah bulat.
"Aku akan melakukan inseminasi buatan," gumam Hera dengan mata yang berkilat penuh tekad. "Aku hanya butuh benih yang cerdas dan sehat. Setelah itu, anak ini akan menjadi milikku sepenuhnya. Tanpa ayah, tanpa pengkhianatan, dan tanpa sakit hati."
Hera tidak sadar bahwa rencana gilanya ini telah sampai ke telinga pria yang selama bertahun-tahun ia coba hapus dari memorinya.
Sore itu, saat Hera baru saja keluar dari rumah sakit untuk konsultasi awal, sebuah motor besar menghalangi jalan mobilnya. Arlo turun dengan napas memburu, helmnya dilempar ke kursi motor dengan kasar.
"Hera! Turun!" teriak Arlo, menggedor kaca jendela mobil Hera.
Hera menghela napas panjang, emosinya langsung tersulut. Ia keluar dari mobil dengan wajah yang siap untuk berperang. "Apa lagi, Arlo? Tidak puas merusak masa remajaku, sekarang kau mau merusak hari kerjaku juga?"
"Apa kau gila, Hera?!" Arlo maju satu langkah, menatap Hera dengan tatapan yang sangat terluka. "Aku baru dengar dari Zayn soal rencanamu ke klinik fertilitas itu. Kau mau melakukan inseminasi? Kau mau hamil dengan benih donor yang bahkan kau tidak tahu siapa orangnya?!"
Hera menyilangkan tangan di dada, memberikan senyum sinis yang paling tajam. "Lalu apa urusanmu? Itu rahimku, itu hidupku. Aku ingin anak, tapi aku tidak butuh pria. Terutama pria sepertimu."
"Aku sudah meminta maaf beribu kali, Hera! Beribu kali!" suara Arlo naik satu oktav, membuat beberapa orang di parkiran menoleh. "Aku memang salah, aku berengsek saat SMA. Aku labil, aku bodoh! Tapi itu bertahun-tahun yang lalu! Sekarang lihat aku, aku bahkan tidak pernah membiarkan wanita mana pun naik ke boncengan motorku karena aku menunggumu!"
Hera tertawa hambar, sebuah tawa yang penuh dengan luka lama yang belum sembuh. "Menungguku? Jangan membuatku tertawa, Arlo. Pria sepertimu tidak tahu cara menunggu. Kau hanya tahu cara mencari mangsa saat pasanganmu tidak melihat."
"Aku serius, Hera!" Arlo mencengkeram bahu Hera, memaksa gadis itu menatap matanya. "Bisa-bisanya kamu ingin mengisi rahimmu dengan benih pria lain secara acak? Oh shit... itu artinya kamu juga mengkhianatiku secara tidak langsung!"
Hera tertegun, lalu ia mendorong dada Arlo sekuat tenaga. "Mengkhianatimu? Kau pikir kau siapa? Kita sudah putus bertahun-tahun yang lalu! Tidak ada lagi hubungan di antara kita!"
"Masih ada bagiku!" Arlo berteriak frustrasi. "Selama aku belum melihatmu menikah, kau masih milikku di kepalaku! Aku tidak akan membiarkanmu membawa darah pria asing di dalam tubuhmu. Jika kau sangat ingin punya anak, kenapa bukan aku? Setidaknya kau tahu siapa aku, kau tahu sejarahku, kau tahu aku mencintaimu sampai mati!"
"Karena aku tidak percaya padamu, Arlo!" air mata yang selama ini Hera simpan akhirnya jatuh juga. "Aku lebih percaya pada tabung reaksi laboratorium daripada janji manis pria sepertimu! Aku tidak mau anakku nanti punya ayah yang akan meninggalkannya demi wanita lain seperti kau meninggalkan aku dulu!"
Arlo membeku. Ia melihat kehancuran di mata Hera, kehancuran yang ternyata ia buat sendiri bertahun-tahun yang lalu dan belum pernah membaik. Arlo perlahan menurunkan tangannya, wajahnya tampak sangat menyesal.
"Hera... aku tidak akan pernah melakukan itu lagi. Aku sudah belajar..."
"Terlambat, Arlo," bisik Hera sambil menyeka air matanya. "Rencanaku sudah tetap. Aku akan punya bayi, dan bayi itu tidak akan pernah mengenal pria bernama Arlo."
Hera masuk kembali ke dalam mobilnya dan memacu kendaraannya pergi, meninggalkan Arlo yang berdiri mematung di tengah parkiran. Arlo mengepalkan tangannya, menatap kepergian mobil Hera dengan tekad yang baru. Jika Hera ingin anak, maka ia harus memastikan bahwa benih yang masuk ke rahim Hera adalah miliknya, atau ia harus memenangkan hati Hera kembali sebelum jarum suntik klinik itu menyentuh kulit Hera.
Pertarungan antara pengkhianatan masa lalu dan keinginan gila masa depan baru saja dimulai. Hera menganggap ini sebagai jalan menuju kebebasan, sementara Arlo menganggap ini sebagai misi terakhirnya untuk menebus kesalahan masa lalunya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰