Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Keheningan yang Menyayat
Pagi kembali menyapa Dharmawangsa, namun matahari yang terbit seolah tidak mampu menembus kabut dingin yang menyelimuti kediaman Danola. Di dalam kamar, Kathryn terbangun dengan tubuh yang kaku dan mata yang masih terasa pedas. Kejadian di jembatan kemarin masih membekas seperti tato yang disayat paksa di jiwanya. Namun, ada yang berbeda pagi ini. Tidak ada lagi tangis histeris. Tidak ada lagi teriakan. Kathryn bangkit dari tempat tidur dengan gerakan mekanis, seperti sebuah robot yang baru saja diprogram ulang.
Ia membasuh wajahnya, menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah itu tampak cantik, namun matanya kehilangan binar hidup yang selama ini menjadi ciri khasnya. Dengan tenang, ia mengenakan kemeja putih bersih dan celana bahan berwarna krem pakaian kuliah yang sangat rapi, seolah-olah ia sedang bersiap menghadapi hari yang paling normal dalam hidupnya.
Di bawah, Paul sudah terjaga sejak pukul lima subuh. Rasa bersalah yang membakar jantungnya membuat pria itu berubah menjadi sosok yang sangat protektif mungkin terlalu protektif. Ia sudah menyiapkan meja sarapan dengan segala jenis makanan kesukaan Kathryn, bubur ayam hangat, roti bakar dengan selai kacang, dan jus jeruk segar.
"Kathryn? Kamu sudah bangun?" suara Paul terdengar gemetar saat melihat adiknya menuruni tangga.
Paul segera menghampiri, tangannya terulur ingin menyentuh bahu Kathryn, namun ia segera menariknya kembali saat melihat sorot mata adiknya yang dingin. "Kakak sudah siapkan sarapan. Makan sedikit ya, Dek? Setelah itu... mungkin sebaiknya kamu istirahat saja di rumah. Kakak sudah izinkan ke kampusmu kalau kamu tidak enak badan."
Kathryn tidak menjawab. Ia bahkan tidak menoleh ke arah meja makan yang penuh dengan makanan itu. Ia terus berjalan menuju rak sepatu, mengambil tas kuliahnya, dan menyampirkannya di bahu.
"Kathryn, dengar Kakak," Paul menghalangi jalan adiknya di depan pintu utama. Wajahnya memelas, penuh dengan permohonan. "Kamu butuh istirahat. Kejadian kemarin... fisikmu belum kuat, Sayang. Tolong, tinggal di rumah hari ini. Kakak akan temani kamu, kita main sama Sean, ya?"
Hening. Kathryn tetap diam. Bibirnya terkatup rapat seolah-olah ia telah bersumpah untuk tidak lagi mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya untuk sang kakak. Ia hanya menatap dada Paul dengan pandangan kosong, menunggu kakaknya bergeser dari pintu.
"Kath... bicaralah pada Kakak. Marahi Kakak, pukul Kakak, tapi jangan diam seperti ini," rintih Paul. "Kakak tahu Kakak salah. Kakak minta maaf... Kakak sangat menyayangimu."
Mendengar kata "sayang", sudut bibir Kathryn berkedut sangat tipis bukan senyum, melainkan sebuah bentuk penghinaan batin. Ia masih ingat bagaimana "kasih sayang" itu hampir membuatnya melompat ke sungai kemarin karena Paul lebih percaya pada Dimas.
Tanpa suara, Kathryn mencoba melangkah ke samping untuk menghindari Paul. Namun Paul kembali menghalanginya.
"Tidak, Kathryn. Kamu tidak boleh pergi dalam kondisi seperti ini. Kakak takut... Kakak takut kamu ke jembatan itu lagi," suara Paul mulai meninggi karena panik.
Akhirnya, Kathryn mengangkat wajahnya. Ia menatap langsung ke mata Paul. Tidak ada kemarahan di sana, hanya kekosongan yang sangat mengerikan. Ia tetap tidak bersuara, namun ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah catatan kecil yang sudah ia tulis sebelumnya,
"Biarkan aku pergi kuliah, atau aku akan memastikan kali ini tidak ada yang bisa menarikku kembali dari jembatan itu."
Membaca tulisan itu, tangan Paul bergetar hebat. Kertas kecil itu terasa lebih tajam dari sembilu. Ia menyadari bahwa Kathryn tidak sedang bercanda. Diamnya Kathryn adalah ancaman yang paling nyata. Adiknya sedang membangun benteng yang tidak bisa ditembus oleh air mata atau permohonan.
Dengan tangan yang lemas, Paul perlahan bergeser dari depan pintu. "Baik... baik, kamu boleh pergi. Tapi Kakak antar, ya?"
Kathryn menggelengkan kepalanya pelan. Ia tetap diam. Ia melangkah keluar rumah, mengabaikan Sean yang berlari kecil ke arahnya sambil memanggil, "Onty... Onty..."
Kathryn sempat berhenti sejenak melihat keponakannya. Ia berjongkok, mengusap pipi Sean sebentar dengan tangan dinginnya, lalu mencium kening balita itu. Itu adalah satu-satunya gerakan manusiawi yang ia lakukan pagi itu. Setelah itu, ia berdiri kembali dan berjalan lurus menuju gerbang tanpa menoleh sedikit pun ke arah Paul yang berdiri mematung di teras.
Di luar pagar, sebuah mobil hitam sudah terparkir. Dimas ada di dalamnya. Ia melihat seluruh adegan itu dari balik kaca film yang gelap. Jantungnya berdenyut nyeri melihat Kathryn yang berjalan seperti raga tanpa jiwa.
Begitu Kathryn keluar dari gerbang, Dimas segera turun dari mobil. "Kathryn..." panggilnya dengan suara lembut yang sarat akan kerinduan.
Kathryn berhenti tepat di depan Dimas. Pria yang dulu ia puja sebagai dokter penyelamat, kini hanya tampak seperti orang asing yang mengganggu jalannya. Dimas menatap wajah pucat Kathryn, matanya menelusuri setiap inci wajah gadis itu, mencari sisa-sisa Kathryn yang dulu.
"Izinkan aku mengantarmu ke kampus. Setidaknya biarkan aku memastikan kamu sampai dengan selamat," mohon Dimas. "Aku tidak akan bicara, aku tidak akan meminta apa pun. Hanya biarkan aku menjagamu."
Namun, respon Kathryn tetap sama. Ia diam seribu bahasa. Ia tidak menatap mata Dimas. Ia hanya berjalan melewati Dimas seolah-olah pria itu adalah udara hampa. Ia terus melangkah menuju pangkalan ojek di ujung jalan.
Dimas terpaku. Ia menoleh ke arah teras rumah di mana Paul juga sedang menatapnya dengan wajah hancur. Kedua pria itu, yang satu memiliki kekuasaan ekonomi yang luar biasa dan yang satu adalah kakak kandung yang dulunya pahlawan, kini sama-sama tidak berdaya di hadapan keheningan seorang gadis muda.
"Dia benar-benar menutup dirinya, Dim..." bisik Paul yang kini sudah berjalan mendekat ke arah Dimas. "Dia tidak bicara sepatah kata pun sejak aku membawanya pulang kemarin."
Dimas mengepalkan tangannya. "Ini lebih buruk daripada dia memaki kita, Paul. Dia sedang mematikan perasaannya. Jika kita tidak bisa menembus diamnya, kita akan benar-benar kehilangannya selamanya."
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Paul putus asa.
Dimas menatap punggung Kathryn yang semakin menjauh. "Kita harus terus menjaganya, meski dia membenci keberadaan kita. Aku akan menyuruh timku mengikutinya ke kampus secara rahasia. Dan Paul... tolong, jangan pernah paksa dia bicara. Biarkan dia menemukan suaranya kembali dengan sendirinya."
Di dalam hatinya, Dimas bersumpah. Ia akan melakukan apa saja menghancurkan hartanya, melepaskan gelarnya hanya untuk mendengar Kathryn memanggil namanya sekali saja dengan nada yang sama seperti dulu. Namun ia tahu, perjalanan menuju maaf itu kini terasa sejauh bintang di langit.
Sementara itu, Kathryn duduk di atas motor ojek, membiarkan angin pagi menerpa wajahnya. Di balik diamnya, otaknya sedang bekerja keras. Ia menyadari bahwa selama ia diam, mereka akan ketakutan. Diam adalah senjatanya. Diam adalah cara terbaik untuk menunjukkan bahwa Kathryn Danola yang lama sudah mati di sungai kemarin, dan yang tersisa hanyalah bayangan yang siap menghancurkan siapa saja yang mencoba mengaturnya kembali.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰